KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Malam Bersama Bian


__ADS_3

Selesai melakukan VC dengan kedua orangtuanya dan bersama Mas Didit, Adis keluar dari kamar Mas Didit nyaris jam satu dinihari.


Hatinya sudah menyimpan jawaban untuk esok pagi.


Baru akan memasuki kamar tamu lain di sebelah kamar yang ditempati Mas Didit, telinga Adis samar- samar mendengar rengekan suara bayi.


Bian terjaga kayaknya.


Sengaja dihentikannya langkahnya di depan pintu kamar untuk beberapa saat, menunggu kalau- kalau Bian terdengar menangis lagi.


Tapi ternyata tak di dengarnya lagi rengekan Bian.


Adis masuk ke kamarnya dengan tersenyum kecil.


Bisa jadi bapak siaga juga ternyata si Bapak kucing itu.


Tanpa menunggu lama Adis terlelap begitu badannya bertemu dengan kasur.


Walau hatinya senang karena punya 'mainan' baru, tapi tubuhnya ternyata lelah juga karena nyaris selalu seharian penuh selalu bersama Bian selama dua hari ini.


🧚🧚🧚🧚🧚


Satrio kaget saat dirasanya wajahnya di tepuk- tepuk oleh benda lembut.


Dia kaget saat matanya terbuka dan mendapati sebuah tangan mungil bertengger di wajahnya.


"Astagfirullahaladzim..." gumam Satrio sambil memegang dadanya.


Dia lalu tersenyum setelah menyadari bahwa Bian sudah tengkurap di atas bantal.


"Anak Ayah bangun nih...Jam berapa ini?" gumam Satrio sambil menatap jam di dinding sampingnya.


"Jam satu. Mau susu?" tanya Satrio sambil pelan- pelan mengambil tubuh Bian yang asik menatapnya dengan tertawa- tawa.


" Kenapa ketawa- tawa gini? Ayah cakep ya? Cakep kayak kamu ya?" tanya Satrio kemudian membaringkan Bian di atas kedua pahanya yang dia rapatkan di bibir ranjang.


"Ma...ma...Brrrtt..." celoteh Bian membuat Satrio terpana.


Anak ini umur berapa bulan udah bisa tengkurep dan mulai ngomong?


"A...yah...Ini ayah, bukan ma...ma..." kata Satrio masih sambil menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Bian.


Bahkan mata anak itu saja sama dengan warna matanya.


Satrio merasa benar- benar tertampar oleh dosanya di waktu lalu.


Ya Allah,ampunilah hamba. Ampunilah almarhumah Dea...


Tangan Bian menggapai- gapai wajah Satrio.


"Ya....ya..." celoteh Bian lagi.


"Anak pinter. Mau ngomong ayah ya? A....yah..." kata Satrio sambil tersenyum haru.


Tiba- tiba saja airmatanya terbit.


Dia berpikir bagaimana dulu Dea menjalani kehamilannya hingga melahirkan anak yang setampan ini?


Apa dia sendirian melewati masa itu?


Atau ada keluarganya yang mendampinginya?


Bagaimanapun itu Satrio sangat berterima kasih Dea memilih untuk tetap menjaga kehamilannya dan tak menggugurkannya.


"Maafin Ayah ya,Sayang...Ayah baru datang sekarang...Maafin Ayah ya..." kata Satrio dengan airmata yang menitik, jatuh di dada Bian.


Bayi itu tertawa- tawa sambil menggapai- gapai wajah Satrio.


Tiba- tiba Bian merengek.


Mulutnya sibuk seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


"Mau minum ya? Bian haus ya?" tanya Satrio kemudian menyusut airmatanya.


"Anak ganteng disini dulu, Ayah bikinin susu. Tadi sudah di kasih tau caranya sama Mama Adis. Sekarang kita praktekkan ya..." kata Satrio kemudian meletakkan Bian di tengah ranjang dan memagarinya dengan guling dan bantal kemudian bergegas membuat susu sesuai arahan Adis tadi.


Setelah mengetes kepanasan susu di punggung tangannya dan merasa pas hangatnya, Satrio bergegas mendekat ke arah Bian yang sedang tengkurap dan berputar- putar.


Mata coklat anak itu nampak berbinar terang sambil mulutnya berceloteh tak jelas.


"Minumnya udah jadi nih. Mau main atau minum nih?" tanya Satrio sambil ikut tengkurap di depan Bian yang kembali menggapai- gapai wajah Satrio.


Satrio tertawa- tawa merasakan tepukan-tepukan lembut di wajahnya.


Menyenangkan sekali rasanya.


Semenyenangkan ini ternyata main sama anak.


Satrio jadi ingat dulu dia sering ikut gemas kalau melihat unggahan ada orang tua anak yang mengunggah kegiatan sedang main sama anaknya.


Ternyata senangnya memang nggak ada tandingnya.


Tiba- tiba Bian menjatuhkan kepalanya ke atas kasur.


"Astagfirullahaladzim, Bi...Bikin kaget aja." kata Satrio gemas karena dengan cepat Bian sudah kembali mengangkat kepalanya namun sambil merengek.


"Udah capek nih. Ngantuk lagi ya? Yuk sini yuk. Bobok lagi sambil minum susu." kata Satrio kembali mengangkat Bian dan membaringkan Bian di atas bantal mungilnya lalu menempatkan dot ke bibir Bian yang langsung lahap menyedotnya sambil kembali terpejam.


Satrio tersenyum- senyum melihatnya.


"Memang paling enak kok kalau tidur sambil nyusu..." kekehnya tengil.


Jangan ditanya otaknya main sampai mana, wkwkwk....


Tapi kemudian dia meringis malu sendiri.


"Otakmu Sat...Sat...Dasar jablai..." gumamnya sambil meringis keki.


Botol susu langsung terlepas dari mulut mungil Bian begitu isinya sudah tandas.


"Kamu cakepan telentang kalau tidur." bisik Satrio sambil mengubah posisi tidur Bian menjadi telentang.


"Nah, cakep kan? Ketampananmu jelas terekspose kalau kayak gini." kata Satrio sambil menatap bangga pada bayi di depannya.


Dia kembali ikut membaringkan tubuhnya setelah mengitari Bian dengan bantal dan guling.


Jam tiga dinihari Satrio terjaga dan kaget saat menatap ke tengah ranjang dan tak ada anaknya di sana.


Dengan gerakan secepat kilat dia bergegas melihat kesisi ranjang.


"Duh, jatuh ni anak." gumamnya cemas.


Nggak ada.


Tak di temukannya Bian di lantai.


Hilang!


"Anakku!" seru Satrio panik bergegas mengarah ke kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat.


Nggak ada.


Ya iyalah nggak ada.


Mana mungkin Bian jalan sendiri ke kamar mandi.


Satrio bergegas berlari keluar kamarnya, hendak ke kamar mamanya.


Namun di sudut jendela diujung ruangan di seberang tangga, di atas sofa bed dilihatnya Adis duduk memangku Bian yang nampak asik mengoceh.


Ada Mas Didit nampak terbaring tidur di sampingnya.


Satrio bergegas mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Aduh,aku bingung nyariinnya." kata Satrio dengan wajah masih tegang.


Adis mendongakkan kepalanya sambil mencibir.


"Tidur kayak kebo,sok- sokan mau jagain anak." ledek Adis sambil mencibir.


"Aku nggak denger dia nangis kok. Memangnya dia nangis?" tanya Satrio salah tingkah.


"Dia nangis kejer. Makanya aku ambil sama Mas Didit." kata Adis sambil menggoyang- goyangkan badannya pelan agar Bian kembali tidur.


"Masak sih aku sampai nggak denger?" elak Satrio.


"Nyatanya emang nggak denger kok. Memangnya kamu tahu kalau Bian aku ambil?" tanya Adis galak.


Satrio menggeleng malu.


"Itu artinya kamu emang ngebo tidurnya." kata Adis mencibir.


"Ya maaf...belum berpengalaman begadang jagain anak." kata Satrio kemudian.


"Udah tidur lagi tuh. Tidurin lagi aja biar nggak kebiasaan di timang mulu." kata Satrio sambil melongok ke arah Bian.


"Iya. Tolong susunya bawa kesini aja sama airnya. Nanti biar nggak repot." kata Adis sambil kembali duduk.


"Kalian mau tidur disini?" tanya Satrio kaget.


"Enggaklah. Terlalu dingin disini. Bian aku bawa ke kamarku aja. Mas bisa tidur lagi." kata Adis.


Satrio terpaku sesaat.


Harusnya kan gue yang ngomong gitu, secara dia anak gue. Kenapa malah Adis yang repot?


"Biar sama aku aja. Kamu bisa balik tidur." kata Satrio sambil mendekat untuk mengambil Bian dari gendongan Adis.


"Nanti Bian bangun lagi,kamu nggak denger lagi. Kasian dia malem- malem nangis sendirian. Udah biar sama aku aja." kata Adis berkeras.


Satrio diam tak lagi membantah.


"Ya udah,kamu tidur kamarku aja sana." kata Satrio kemudian.


"Eh..."


"Aku disini sama Mas Didit." kata Satrio sambil tersenyum.


"Kamu kunci pintunya kalau khawatir aku merayap kesana." kata Satrio sambil terkekeh melihat wajah keberatan Adis.


"Ya udah. Aku masuk dulu." kata Adis kemudian berlalu sambil mendekap Bian di gendongannya.


Satrio menatap pemandangan itu dengan terharu.


Please Dis, menikahlah denganku nanti...


"Tidur...tidur..." suara Mas Didit mengagetkan Satrio yang masih menatap lorong di depan kamarnya.


Adis sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Kirain tidur, Mas." kata Satrio sambil tertawa.


"Tadi tidur. Tapi denger keributan bapak- bapak dan ibu- ibu barusan bikin aku terjaga." kata Mas Didit masih dengan memejamkan matanya.


Satrio melengos malu.


Dilihatnya jam di dinding baru jam tiga lewat dua puluh menit.


"Aku turun aja, Mas." pamit Satrio sambil beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Mas Didit sambil membuka matanya.


"Ke mushola sebentar." jawab Satrio yang dibalas anggukan Mas Didit yang kembali terpejam.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2