KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
No barter- barter


__ADS_3

Didit memicingkan matanya dengan wajah kesal sambil meraih ponselnya di nakas.


"Lupa nggak kumatiin tadi." kata Didit saat Desi protes di pelukannya.


"Satrio." gumam Didit keheranan dan khawatir.


"Ya Sat, kenapa?" tanya Didit serius.


Desi yang mendengar nama Satrio digumamkan Didit langsung memasang kuping baik- baik


Sayangnya dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Satrio karena Didit nggak memperdulikan kodenya yang minta agar percakapan di speaker.


Yang dia lihat hanya wajah Didit yang sedikit menegang kemudian menyeringai sambil mengumpat pelan.


"Panji lagi ngamar sama cewek. Satrio lagi nyanggong di hotelnya. Aku kesana sekarang ya." kata Didit lalu bergegas memakai kaos dan jaketnya dengan gerakan secepat mungkin.


"Pakai celana panjang,Mas!" seru Desi karena Didit sudah hendak keluar kamar hanya memakai celana boxer.


Didit terkekeh malu kemudian bergegas memakai celana panjang.


"Aku bawa motor aja biar cepat." kata Didit sambil mengecup kening Desi cepat.


"Jangan bilang Adis dulu ya sampai aku pulang." pesan Didit sambil memakai sepatu.


"Hati- hati kalian. Jangan bikin keributan." kata Desi.


"Ya nggak bisa kalau nggak ribut." sergah Didit sambil nyengir.


"Aku nggak mau kamu pulang membawa luka ya, Mas!" seru Desi mengancam.


"Aku akan pulang hanya membawa cinta, Sayangku!" seru Didit tertawa sambil memutar tuas gas motornya dan segera melesat membelah udara malam menuju pusat kota Jogja.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Setelah berpikir ,Satrio memilih menyewa kamar yang berhadapan dengan kamar Panji.


Ide soal kamar itu di dapat setelah Satrio berada di toilet dan menelpon Mas Didit.


Satrio kembali mendekati meja resepsionis dan menanyakan kamar di sebelah kamar 1077 kosong nggak.


Dan semesta sepertinya mendukung dengan cara yang cantik.


Kedua kamar di kiri kanan kamar yang ditempati Panji sudah terisi. Tapi kamar di depan kamar Panji masih kosong.


"Tapi beda type, Pak." kata Mbak resepsionis ragu.


"Nggak apa- apa." jawab Satrio cepat.


Setelah membereskan urusan administrasi, Satrio memilih bergegas ke kamar yang disewanya sambil mengirimi pesan Mas Didit soal kamar yang disewanya.


Keluar dari lift di lantai 6 mata Satrio langsung di suguhi sebuah lukisan cantik.



Berbelok ke kiri, kamar kedua dari lift, disebelah kiri adalah kamar yang di sewa Panji, bernomor 1077 dan tepat di seberangnya adalah kamar yang disewa Satrio bernomor 1717.


Iseng Satrio menempelkan telinganya ke daun pintu kamar Panji.


Dan dia menutup mulutnya seerat mungkin saat samar- samar di dengarnya suara- suara erotis yang sepertinya menempel di pintu.


"Somplak! Panjul bang ke! Hasyuuuu!!!" umpat Satrio lirih namun sangat geram sambil bergegas menuju ke pintu kamarnya.


Semua sumpah serapah yang dia kenal dia ucapkan sambil membuka pintu, malah seperti semacam mantra saja sebelum dia memasuki kamarnya.


"Bisa- bisanya dia ya?! Dasar panjuuuuuulll!!!!!" geram Satrio sambil memukuli guling seolah- olah itu adalah muka Panji.


Sebenarnya dia pengen menerjang pintu di depan kamarnya itu sekarang juga.


Tapi tadi Mas Didit mengirim lpesan kalau dia nggak boleh berbuat apapun kalau Mas Didit belum sampai.


Dia sabar- sabarkan hatinya untuk menunggu Mas Didit. Tapi otak mesumnya malah tiba- tiba muncul.


"Ja bi ngaaan!!!" umpatnya kesal sambil meringis kesal.


Kenapa dia malah membayangkan hal- hal erotis yang mungkin sedang Panji lakukan di dalam.


"Bikin gue pengen aja si Panjul." kekeh Satrio sambil nyengir kuda.


Sebagai mantan penikmat tubuh haram, Satrio tahu pasti bagaimana nikmatnya surga dunia yang sedang dinikmati penghuni kamar di depannya.


Sedang Satrio sendiri terakhir menjamah perempuan ya pacar terakhirnya, si Dea. Setahun lalu.


Dua hari sebelum ketahuan Papanya dia membelikan apartemen Dea, mereka berdua menghabiskan sepanjang hari mereka di ranjang sebuah kamar hotel yang di sewanya.


Bahkan saking senangnya Dea dibelikan apartemen, cewek itu seperti tak ada lelahnya menguras peluh dengannya hari itu.


Very last hot moment.

__ADS_1


Semenjak hari itu, sampai hari ini, Satrio tidak pernah lagi menyentuh perempuan manapun.


Jelas bukan karena dia begitu patah hati karena kisahnya dengan Dea kandas. Bukan karena itu.


Tapi tekad kuatnya untuk menjadi the new Satrio membuatnya kuat tidak mencari tubuh mulus perempuan manapun untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.


Panggilan di ponselnya mengagetkan Satrio yang sedang membuka kembali memori mesumnya dengan gadis- gadis di masa lalunya.


Telpon dari Mas Didit.


"Aku udah sampai hotel, Sat. Langsung ke kamarmu ya." kata Mas Didit terdengar santai.


"OK,Mas. Ku tunggu." kata Satrio sambil bergegas beranjak bangkit dari ranjang.


Tadi Satrio sudah mengirim pesan ke Mas Didit nomor dan lantai kamar hotelnya.


Tak sampai tiga menit, bel kamarnya berbunyi.


"Kamar Panji itu?" tanya Mas Didit -sambil menunjuk pintu kamar di depannya- begitu Satrio membuka pintu.


"Iya. Lagi mandiin burung dia." kata Satrio sambil nyengir.


Didit terkekeh setelah sepersekian detik mencerna maksud dari kata ' mandiin burung'.


Keduanya malah bersandar di gawang pintu kamar sambil menatap pintu kamar di depannya.


"Tau darimana? Kamu ngintip apa nguping?" tanya Didit penasaran.


"Nguping lah! Ngintip darimana?" tanya Satrio sambil nyengir.


"Siapa tahu kamu masuk ke kamarnya karena kamarnya lupa di kunci." kata Didit sambil terkekeh lalu langsung terdiam.


Mereka berdua saling memandang, lalu tersenyum lebar.


Kayaknya pikiran mereka sama.


"Kamu tadi nguping di pintu?" tanya Mas Didit yang di balas anggukan Satrio.


Keduanya lalu tersenyum tengil.


"Kemungkinan lupa ngunci?" tanya Satrio yang dibalas anggukan Didit sambil terkekeh.


"Bagaimana kalau....."


"Kita rekam?" potong Satrio sambil terkikik.


Satrio ikut- ikutan menyiapkan kamera ponselnya untuk melakukan 'penggerebekan' si Panjul.


Keduanya mengendap- ngendap menuju pintu kamar Panji.


Nampak jelas wajah keduanya sama- sama tegang.


Setelah menghela nafas panjang, Didit memutar handle pintu dan tadaaaaa.....Pintu terbuka.


"Yessssss!!!" seru keduanya tertahan.


Sambil berjingkat- jingkat keduanya memasuki kamar dan setelah beberapa langkah mereka sudah menemukan pakaian laki- laki dan perempuan berceceran di lantai dan dilangkah ke sepuluh langsung di sambut suara erotis dari dua jenis suara. Suara laki- laki dan perempuan yang sedang menjelajahi surga dunia.


Didit dan Satrio langsung memposisikan diri masing- masing tanpa bersuara, mencari angle pengambilan video sebaik mungkin.


Satrio malah nyengir cekikikan dalam hati menyadari kelakuannya kali ini.


Dia yang dulu sukanya nonton film biru lewat dvd, sekarang nontonnya live. Sebuah peningkatan, hahaha.....


Dia sangat deg- degan sebenarnya. Tapi gedeg juga dengan kelakuan Panjul ini.


Baru tadi sore melakukan kekasaran sama kekasihnya, habis baku hantam pula sama dia, ini udah nyelup senjatanya sama cewek lain.


Mana berisiknya minta ampun tuh dua monyet.


Ngeliatin style bercintanya si Panjul itu, Satrio geleng kepala.


Bagusan gaya dia kemana- mana.


Menang berisik doang si Panjul mah.


Nggak ada syahdu- syahdunya.


Ih, nggak banget deh.


Satrio menahan nafas saat di dengarnya suara e ra ngan bersamaan sepasang makhluk kasat mata di depannya.


Satu babak sudah selesai rupanya.


Satrio dan Didit saling pandang untuk tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Aku enak kan, Mas?" si cewek yang tadi berbaju seksi berwarna putih mulai bersuara.

__ADS_1


"Hmmm....lumayan juga permainanmu. Masih kenceng juga cakramnya. Kalau aku kesini kamu saja yang menemaniku. Yang kemarin bersamaku kurang hot, nggak mau bersuara." kata Panji belum juga menyadari keberadaan dua makhluk di depan gawang pintu yang masih asik mengarahkan ponsel mereka berdua dengan kualitas gambar yang sangat mumpuni kejelasannya.


Dua makhluk di atas ranjang yang seperti kapal pecah itu tak menutupi tubuh polos mereka dengan apapun.


"Ini mau dua jam aja atau mau sampai besok? Katanya aku enak...." kata perempuan itu yang lebih mirip ******* daripada sebuah kalimat.


"Sampai lusa aja sekalian. Aku butuh pelepasan stress. Kamu harus bisa menuruti semua kemauanku dan memuaskanku." kata Panji sambil menguyel- uyel aset depan perempuan yang mon tok itu. Perempuan melenguh manja.


Satrio mengumpat dalam hati.


Panjul kampreeeet !!!!


Satrio menoleh saat kakinya di tendang pelan oleh Didit.


Dilihatnya Didit yang memberi kode seperti menggorok leher.


Satrio menjawabnya dengan menggoyangkan kepalanya meminta Didit yang mengeksekusi pasangan yang sedang beristirahat itu.


Didit mengangguk mengerti dan dalam sekedipan mata Didit langsung bersuara.


"Sorry, Bro ganggu sebentar nih." kata Didit santai namun mampu membuat sepasang manusia dewasa tanpa busana di atas ranjang berantakan itu melonjak kaget.


Si perempuan bergegas menutup tubuhnya dengan bantal sebelum tangannya berhasil meraih selimut.


Tak beda dengan Panji yang tadi langsung terlonjak berdiri langsung menutupi pusakanya dengan tangannya.


Satrio yang masih merekam dengan ponselnya mengait kandang burung Panji yang teronggok di depan kakinya dengan jempol kakinya lalu melemparnya ke arah Panji.


Sayangnya sandal jepitnya malah ikut terbang ingin bersilaturahmi dan nyaris mengenai muka Panji.


Panji bergegas memakai ********** dan duduk di bibir ranjang dengan wajah cengo nya.


Dia masih shock.


"Nggak usah ngomong apa- apa. Aku juga nggak mau denger apa- apa dari mulutmu. Yang pasti, adegan ranjangmu barusan sudah ada di aku. Itu akan aku kirim ke orangtuamu dan orangtuaku."


Jangan! Jangan!" kata Panji cepat dengan menggoyang- goyangkan telapak tangannya cepat.


"OK. Nggak akan aku keluarkan video itu, tapi ada syaratnya."kata Didit masih dengan wajah dan suara santai


"Apa? Apa syaratnya?" tanya Panji cepat. Apapun akan dia lakukan asal video itu nggak sampai beredar.


"Kamu putusin adikku dan jangan pernah muncul dan mengusik hidupnya lagi." kata Didit mantap sambil menatap Panji tajam.


"Tapi gimana aku ngomongnya sama orangtua?" tanya Panji berkilah.


"Terserah gimana caramu. Yang penting kamu nggak memfitnah adikku dan keluargaku." balas Didit serius.


"Kalau mereka tetap ngotot kami harus nikah gimana?" tanya Panji dengan suara memelas tapi membuat kesal yang mendengar.


"Kamu kalau habis muncrat emang jadi go block gitu ya?! Nggak bisa kepakai otakmu?!" semprot Mas Didit gemas. Panji menunduk bingung.


"Kalau kamu tetap nekad mau nikahin adikku.... OK! Fine! Tapi sebelum ijab qobul aku akan pastikan semua hadirin akan aku suguhi tontonan gratis dulu. Nonton calon mempelai laki- laki olahraga dengan gaya monoton dan berisik." ancam Didit tegas.


Satrio terkikik mendengar ucapan Mas Didit yang sangat persis dengan pikirannya.


Panji menatap Didit putus asa.


Setelah sesaat berpikir,Panji mengangguk.


"Ya udah. Aku nyerah. Nanti aku bilang ke orangtuaku kalau aku nggak bisa cinta sama adikmu. Kita barter." kata Panji pelan.


"Barter apa maksudnya?" tanya Didit dengan nada nggak suka.


"Ya kamu hapus video itu, aku putusin adikmu." jawab Panji dengan tatapan bingung.


"Nggak ada barter- barteran. Nanti yang ada video aku hapus, besok kamu satroni adikku lagi. Nggak! Nggak ada barter- barteran!" tolak Didit tegas.


"Kamu nggak bisa curang gitu dong, Dit....Apa jaminannya kalau aku lepasin Adis terus video itu nggak bakalan kesebar?" tanya Panji mulai bisa berlogika.


"Aku bukan jenis orang yang suka mengingkari janji. Kamu tahu dengan pasti soal itu. Lalu apa jaminannya kamu nggak akan menganggu hidup Adis lagi kalau video ini aku hapus? Nggak ada! Lagian kamu mau janji apapun aku juga nggak akan percaya. Kamu pasti sudah tahu dengan jelas kamu manusia jenis apa. Nggak pernah bisa dipercaya sama sekali." kata Didit sudah mulai bercampur emosi.


Panji berdecih kesal. Dia kesal dengan kesialannya ini.


Lebih kesal lagi karena apa yang Didit katakan barusan adalah benar adanya.


"Jadi gimana? Kamu lepasin Adis atau aku lepasin video ini ke orangtua?" desak Didit.


"Ayolah Dit....kita bisa obrolin ini dengan lebih santai." bujuk Panji kemudian.


"Aku lagi nggak butuh temen ngobrol apalagi sambil santai! Lepas Adis atau aku sebar video ini ke orangtua sekarang?" desak Didit sudah dengan ponsel di tangan dan jempol siap klik di kirim video.


"OK! Fine! Aku lepasin Adis. Tapi aku masih belum selesai berurusan sama dia." tunjuk Panji pada Satrio.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


DAH PADA PUAAAASSSSS ????? 😀😀😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2