
2 tahun kemudian.
"Salim, Ma..." pinta Bian sambil mengulurkan tangan mungilnya mengajak salim pada Mamanya yang sedang menyusui adik bayinya yang cantik.
Adis menerima salim Bian sambil tersenyum kemudian mencium pipi anaknya itu.
"Mau kemana sih udah ganteng gini pagi- pagi?" tanya Adis sambil tersenyum.
"Kelja..." jawab Bian dengan nada bangga.
Adis tertawa.
"Kerja?"
"Iya. Sama Ayah." jawab Bian mantap.
Satrio yang sudah menggendong tas ranselnya mendekat ke arah anak- anak dan istrinya itu.
"Aku berangkat dulu ya." pamit Satrio sambil menerima salim dari Adis. Dia mencium kening Adis dan gadis kecilnya dengan lembut.
"Udah mau bobok lagi jam segini, cantiknya Ayah." gumam Satrio sambil mengelus pipi montok bayi yang belum genap dua bulan itu.
"Dek Pica bobok?" tanya Bian sambil mendekat ke arah adiknya.
Bayi perempuan mungil berkulit bersih itu diberi nama PRISHA ARINDRA AZKADINA dan Bian dengan cadelnya memanggil adiknya itu dengan panggilan Pica.
"Iya. Udah nen, udah mandi tadi. Sekarang bobok lagi." jawab Adis sambil tersenyum.
"Adek bobok telus." kata Bian dengan wajah cemberut.
"Kalau bayi memang banyak tidurnya, Bang. Kamu dulu juga begitu." kata Satrio menjelaskan.
Bian nggak mau dipanggil dengan sebutan Mas atau kak.
Karena menurutnya Mas adalah panggilan untuk ayahnya karena sering mendengar orang- orang dewasa disekitarnya memanggil ayahnya dengan sebutan Mas.
Dan Kak adalah panggilan untuk Kak Retanya.
"Aku sekalang sudah gede. Sudah keja sama Ayah." kata Bian bangga.
Adis dan Satrio tertawa kecil dibuatnya.
"Tapi harusnya Abang sekolah dulu kayak Kak Reta, baru kerja." kata Satrio meluruskan.
"Aku kan sekolahnya libul,Yah. Jadi kelja deh." sahut Bian senang.
"Iya. Yang rajin ya bantuin Ayahnya ya..." kata Adis menyenangkan Bian.
"Iya." jawab Bian sambil mengangguk.
"Aku belum pakai jaket, Yah." kata Bian tiba- tiba saat menatap Ayahnya sudah memakai blazer sedang dia hanya memakai kemeja.
"Udah ada tuh di kursi." jawab Satrio sambil menunjuk jaket ukuran kecil yang sama persis dengan miliknya.
Bian bergegas mengambilnya dan dengan sedikit kerepotan memakainya sendiri.
Jangan harap Bian mau keluar rumah kalau pakaiannya tak sama dengan yang dipakai ayahnya, baik model maupun warnanya.
Lihat saja tampilannya sekarang ini.
Keduanya memakai kemeja putih lengan panjang,celana bahan dan blazer berwarna biru muda dipadukan dengan sneaker berwarna putih.
Bian nenar- benar seperti Satrio versi mini. Semuanya mirip.
"Udah siap berangkat kerja,Bang?" tanya Satrio sambil menatap Bian.
"Udah." jawab Bian yang juga sudah menggendong tas ranselnya yang berisi iPad dan bekal makanannya.
"Let' s go!" ajak Satrio.
"Assalamualaikum Mama, Adek." pamit Satrio pada Adis dan bayinya.
"Wa'alaikumussalam...Hati- hati ya..." jawab Adis sambil meletakkan Prisha di box nya untuk kemudian menyusul dua lelakinya.
"Abang nanti jangan nyebur ke kolam ikan ya,Nak." pesan Adis saat dilihatnya mobil hampir bergerak meninggalkan garasi.
Dia ingat terakhir Bian ikut Ayahnya kerja, anak itu malah asik nyebur ke kolam ikan kecil di samping pos satpam dan berendam disitu sampai menjelang siang karena Satrio tak memberi mandat pada siapapun di kantor untuk mengawasi anaknya itu selama dia bekerja.
"Iya..." jawab Bian patuh.
"Anaknya jangan dilepaskan sendiri gitu aja,Mas kalau di kantor." kata Adis memperingatkan Satrio.
"Siap, Nyonya. Nanti biar diawasin satpam. Aku juga cuma sebentar kok ke kantornya." jawab Satrio sambil menghormat pada istrinya.
"Sip!" kata Adis sambil mengacungkan jempolnya.
"Ayo Ayah...nanti kita telat keljanya." seru Bian tak sabar. Adis dan Satrio terkekeh mendengarnya.
"Oke Boss...! Kita berangkat...Dadah Mama..." pamit Satrio sambil melambaikan tangannya pada Adis yang tersenyum membalas lambaian tangan anak dan suaminya.
__ADS_1
Senyum terus saja tersemat dibibirnya walau dia sudah memasuki rumah kembali.
Begitulah Adis sehari- hari kini, banyak senyum dan riang.
Kehidupan rumah tangganya bersama Satrio yang di awal pernikahannya sempat membuatnya takut semakin hari semakin menentramkannya.
Tiga anaknya adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan rumah tangganya.
Satrio bermetamorfosa sangat baik dari hari ke hari.
Setahun memegang perusahaan charcoal, dia sudah bisa menunjukkan kecerdasan berbisnisnya.
Kini sudah hampir setahun dia mulai bersedia ikut masuk ke perusahaan utama keluarganya dan menjadi salah satu petinggi perusahaan untuk terus belajar memahami seluk beluk perusahaan yang akan ia dan Wira warisi dari Papanya.
Satrio dan keluarga memilih tetap tinggal di Jogja. Menempati rumah yang lebih luas agar dia dan kwluarga kecilnya lebih nyaman.
Dan seminggu dua atau tiga kali dia harus terbang ke Jakarta untuk ke perusahaan keluarga.
Waktu kerjanya kini terbagi dua untuk mengurusi perusahaannya sendiri dan perusahaan keluarga.
Tak apa. Nyatanya kian hari Satrio mulai mendapatkan kenyamanan dari yang dijalaninya.
Apalagi dia punya tanggung jawab harus mampu mensejahterakan keluarga kecilnya.
Itulah semangatnya untuk terus bergerak dan berkembang dalam bekerja.
Wira sendiri berjanji akan mau masuk ke perusahaan keluarga setelah nanti berumahtangga, namun entah kapan dia akan berumahtangga.
🧚🧚🧚🧚🧚
"Abang ikut Ayah apa mau disini?" tanya Satrio setelah mereka turun dari mobil yang terparkir tak jauh dari pos satpam.
Pak Ripto, satpam yang kebetulan bertugas pagi itu bergegas mendekat ke mobil Satrio saat tahu ada Bian di dalam mobil.
Dia segera membuka pintu mobil disisi Bian agar anak itu bisa cepat turun.
"Makasih,Pak." kata Bian setelah berhasil mendarat di tanah dengan bantuan Pak Ripto.
Bian bergegas mengulurkan tangannya untuk mengajak salim satpam yang hampir seumuran dengan Opanya itu.
"Barakallah anak baik..." ucap Pak Ripto sambil mengelus pundak mungil Bian.
"Selamat pagi Pak Satrio." sapa Pak Ripto sopan pada Satrio.
"Pagi,Pak Ripto. Aman,Pak?" tanya Satrio sambil tersenyum.
"Alhamdulillah aman, Pak." jawab Pak Ripto sopan.
"Ayah, aku belum jempol." kata Bian saat melihat mesin absen finger print.
Jangan salah, Bian juga masuk dalam daftar absen finger print karena ayahnya sudah mengantisipasi setelah pertama datang dulu anak itu ngotot pengen absen juga seperti karyawan lainnya yang selalu absen dulu di dekat pos satpam.
Maka setiap ikut Satrio ke kantor, Bian akan selalu minta absen di mesin itu dulu.
"Ya. Sini kita absen dulu." kata Satrio kemudian menggendong Bian agar bisa menyentuhkan jempolnya ke layar sensor.
Anak itu tersenyum senang saat mesin mengucapkan terimakasih padanya.
"Ayo kita kelja, Yah." ajak Bian dengan semangat sambil meraih jemari ayahnya setelah kembali berdiri di samping Ayahnya.
"Beneran mau ikut masuk Ayah? Kalau ikut masuk nggak boleh berisik,bisa?" pinta Satrio.
"Bisa. Nanti aku bisik- bisik ngomongnya sama Ayah." kata Bian sambil setengah berbisik.
"Good boy...Let's come in." ajak Satrio dengan riang.
"Kami masuk dulu, Pak." pamit Satrio pada Pak Ripto yang masih berdiri memperhatikan tak jauh dari mereka.
"Ya, Pak. Silakan. Dadah Abang Bian..." kata Pak Ripto sambil melambaikan tangannya pada Bian yang membalas dengan melambaikan tangan mungilnya.
Kedatangan Satrio yang membawa Bian selalu saja membuat kantor staff langsung ceria.
Bian yang ramah selalu jadi pusat perhatian para staff perempuan.
Anak itu pasti selalu ditawari berbagai snack cemilan mereka.
"Ayah meeting dulu. Bian boleh disini tapi nggak boleh gangguin tante- tante yang lagi kerja ya..." kata Satrio setelah Bian asik mendapatkan berbagai makanan ringan.
"Iya. Aku duduk sini aja. Nanti kalau aku mau main kelual, aku pamit sama siapa, Yah?" tanya Bian kemudian.
"Pamit sama tante Lita ya..." jawab Satrio sambil menatap Lita, karyawan terbaru dan termuda di kantor itu.
Lita mengangguk mengerti sambil tersenyum.
"Iya." jawab Bian kemudian menyuap roti pisang di tangannya.
"Titip ya, Lit. Banyak kerjaan nggak kamu?" tanya Satrio.
"Nggak kok,Pak. Aman." jawab Lita sopan.
__ADS_1
"Makasih ya..." kata Satrio kemudian bergegas ke ruang meeting.
Dia harus membicarakan soal permintaan buyer langganan mereka yang minta kiriman barang lebih banyak lagi.
Satrio harus memastikan SDM nya bisa memenuhi target itu.
Meeting yang dikiranya akan selesai tak lebih dari satu jam ternyata melebar sampai dua jam.
Saat keluar ruangan meeting Satrio sudah di hadang Lita yang mengabari kalau Bian main di kebun yang ada di bagian belakang bagian produksi.
"Ngapain disana?" tanya Satrio kaget.
"Mainan anak ayam, Pak." jawab Lita sambil tertawa.
"Astagfirullahaladzim....Ini pabrik bisa jadi kebun binatang lama- lama." gumam Satrio sambil bergegas ke depan dan meminjam motor inventaris untuk menyusul anaknya yang ada di bagian belakang bagian produksi.
Kalau jalan kaki bisa lima menitan menuju sana, dan Satrio sedang malas jalan kaki karena cuaca sedang sangat panas.
Satrio menahan tawanya saat dilihatnya Bian sedang memberi makan anak kambing dengan wajah takut- takut.
"Jangan gigit Abang ya...makan ini aja ya..." kata Bian sambil mengulurkan dahan pohon nangka yang banyak daunnya.
"Bang Bian ngajak kesini tadi,Pak." kata Pak Kusno. Salah satu OB di kantor.
"Ya, nggak papa. Maaf ya Pak, ngrepotin." kata Satrio sambil tersenyum.
"Nggak repot sama sekali, Pak. Nurut kok anaknya." kata Pak Kusno sambil menatap kagum pada Bian.
Semua karyawan Satrio sangat menghormati dan menyayangi Satrio karena dia sangat sopan dan baik kepada karyawannya.
Demikian pula anak- anak Satrio. Mereka berlaku sopan pada semua karyawan karena mereka tahu harus berlaku sopan pada yang lebih tua, siapapun mereka.
"Beranak berapa, Pak kambingnya?" tanya Satrio sambil mendekat ke tempat Bian.
"Kemarin beranak dua,Pak. Masih di dalam kandang sana. Kalau yang dikasih makan Abang ini udah umur tiga minggu." jawab Pak Kusno. Pak Kusno memang yang diberi tanggung jawab hewan- hewan yang ada di kebun belakang ini.
Ada kambing, ayam, menthok, juga ikan di dua kolam yang ada di dekat gudang belakang.
Satrio mengangguk- angguk mengerti sambil mengedarkan pandangannya ke kandang kambing.
Ada delapan kambing dewasa.
"Nyari rumputnya susah nggak, Pak buat ngasih makannya?" tanya Satrio kemudian.
"Enggak, Pak. Keluar dari gerbang belakang banyak rumput dan pohon yang bisa di ambil dahannya." jawab Pak Kusno sopan.
"Kalau kebanyakan kambingnya dan susah nyari rumputnya, mending di sembelih aja,disisain dua aja. Bisa pesta daging kambing kita." kata Satrio sambil tertawa.
"Beneran nih,Pak? Boleh disembelih?" tanya Pak Kusno riang.
"Iya. Sembelih aja. Trus kita makan bareng. Cukup nggak buat satu perusahaan kambingnya?" tanya Satrio.
"Cukup,Pak." jawab Pak Kusno cepat.
"Ya udah. Nanti aku bilang ke anak kantor buat bikin acara pesta kambing." kata Satrio sambil tertawa.
"Siap,Pak. Ditunggu perintahnya." sahut Pak Kusno dengan wajah riang.
"Kambingnya mau disembelih,Yah?" tanya Bian yang sedari tadi menguping.
"Iya." jawab Satrio kalem.
"Nanti kalau mati anaknya kasihan,Ayah. Dia nggak punya Ayah dan mama...." kata Bian sudah sambil menangis.
Satrio sejenak terpaku.
"Jangan Ayah...nanti anaknya sama siapa...?" rengek Bian sedih.
Satrio menatap Pak Kusno bingung.
"Yang disembelih yang nggak punya anak kok,Bang. Yang betina nggak disembelih." kata Pak Kusno kemudian.
"Betina itu apa?" tanya Bian sambil menyeka airmatanya.
"Betina itu yang bisa punya anak. Mamanya kambing." jawab Pak Kusno sambil tersenyum.
"Yang disembelih ayahnya aja?" tanya Bian kemudian.
"Iya. Yang jantan." jawab Pak Kusno dengan wajah lega.
"Kalau ayahnya mati siapa yang kerja? Yang nyari uang? Huaaaaaaa....Ayah...jangan disembelih ayahnya kambing. Kasihan...nanti anaknya nggak bisa sekolah, nggak bisa jajan, nggak diajak jalan- jalan karena ayahnya mati....huaaaaa...."
Satrio ingin tertawa keras- keras mendengar ucapan Bian.
Ya kali anak kambing sekolah. Jajan pula.....
Trus ayah kambing kerja dimane, Tong?!
Kayaknya Bian sangat mengingat ucapan- ucapannya dan Adis yang selalu bilang Ayah kerja biar punya uang untuk sekolah, jajan, jalan- jalan dan beli susu....
__ADS_1
...hampir...
...🧚🧚🧚 T A M A T 🧚🧚🧚...