
Didit dan Desi terdiam melihat interaksi Adis dan Satrio barusan.
Adis yang masih saja suka jutek membuat kakaknya geleng kepala.
"Kamu kalau jutek terus kayak gitu bakal abadi jomblomu, Dis." kata Didit sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Siapa yang jutek? Aku kan ngomong realistis dari sudut pandang perempuan. Paham kan maksud omonganku tadi, Mbak?" tanya Adis sambil menoleh menatap Desi yang duduk di sampingnya.
"Paham...paham...." jawab Desi mengerti sambil mengangguk- angguk.
"Aku juga paham. Tapi cara ngomongmu nggak perlu ketus gitu. Bikin orang ilfell aja." sahut Didit.
Adis hanya memonyongkan bibirnya.
Dari dulu kakaknya ini paling suka complain soal cara bicaranya yang sering terdengar ketus dan ngegas.
Adis memang suka ngomong tanpa tedeng aling- aling ( ngomong tanpa ditutup- tutupi/ ngomong blak- blakan tanpa filter).
"Kamu yakin sanggup ngemong (ngasuh) dia, Sat?" tanya Didit menoleh pada Satrio dan menunjuk Adis dengan tusuk sate.
Satrio hanya tersenyum.
"Let's see." jawab Satrio sambil menatap Adis lembut.
Yang ditatap nggak tahu karena pandangannya tertunduk, malah Mbak Desi yang blingsatan seperti cacing kena garam.
"Aduh Mas, tatapannya adem banget gituuuu...." kata Desi gemas sambil menatap Didit gemas.
"Kok malah kamu yang pecicilan sih, Mi!" dengus Didit sebel pada istrinya.
Satrio dan Desi terbahak- bahak mendengarnya.
"Yang diliatin siapa, yang blingsatan siapa. Aneh." gumam Didit kemudian menyuap sate terakhirnya.
Saat menelan suapan terakhir makan malamnya, Satrio kembali menerima telpon dari Lukas.
Setelah meminta ijin pada Didit, Desi, dan Adis untuk menerima telpon, Satrio melangkah keluar, menjauhi ruang makan.
"Sopan ya dia?" kata Desi sambil menatap Adis yang menjawab dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Udah pernah digombalin apa sama dia?" tanya Didit sambil tertawa meledek menatap Adis.
"Nggak pernah." jawab Adis pura- pura cuek.
"Nggak pernah atau kamu nggak perduli..?" ledek Desi.
"Ini pada ngapain sih?! Kalian punya kerjaan baru? Nyomblangin orang?" ketus Adis kemudian beranjak berdiri dari duduknya dan merapikan semua piring kotor lalu membawanya ke dapur sekalian mencucinya.
Deket- Deket sama kedua kakaknya bikin Adis pengen malu terus.
Satrio yang belum selesai bertelepon dengan Lukas sambil berdiri di sudut teras nampak kaget saat menoleh dan melihat Didit sudah duduk di kursi teras.
Didit lumayan bisa menangkap pembicaraan Satrio di telpon saat ini.
"Sorry Mas, lama nelponnya." kata Satrio sambil ikut duduk di seberang Didit, berbatas meja kecil.
"Bisnis mobil atau mau beli mobil?" tanya Didit kemudian.
"Nyari armada murah- murahan aja, buat memperlancar distribusi." kata Satrio malu.
"Distribusi apa?" tanya Didit mulai penasaran.
"Batako." jawab Satrio sambil meringis.
"Punya usaha bikin batako?" tanya Didit surprise.
"Baru merintis, Mas. Usaha sama temen. Ya lumayanlah bisa buat nambah uang jajan." kata Satrio merendah.
__ADS_1
"Dalam bisnis, jangan merendah dalam menghargai pencapaian walau masih sedikit. Jangan bilang cuma buat nambah uang jajan. Tapi bilang bisa buat nambah tabungan untuk beli mobil, atau beli rumah, atau naik haji,atau beli pesawat. Biar kita semangat terus membesarkan usaha kita." kata Didit sambil tersenyum. Satrio mengangguk mengerti.
"Udah lama usahamu?" tanya Didit kemudian.
"Belum ada setengah tahun. Tapi Alhamdulillah modal bisa balik dalam waktu kurang dari empat bulan. Punya temen joint yang udah punya nama baik di sekitarnya, jadi marketingnya nggak susah sama sekitar." kata Satrio sambil tersenyum.
"Alhamdulillah.....Mudah- mudahan jadi jalan rejeki kalian ke depannya." kata Didit bijak.
"Aamiin....Sambil belajar pelan- pelan membaca medan." kata Satrio lagi. Didit mengangguk setuju.
"Trus tadi mau beli mobil buat apa?" tanya Didit kemudian.
"Buat alat transportasi kalau ada yang pesen batako, Mas. Selama ini kalau ada yang beli batako kami nyewa mobil orang, atau pembeli ambil sendiri. Kalau dihitung-hitung laba kita jadi mepet. Kalau ada armada kan kami bisa menambah jenis bahan yang di jual. Bisa pasir, batu kali, kerikil,bahkan jasa angkut barang. Seadanya uang dulu, yang penting bisa jalan semuanya." kata Satrio. Didit mengangguk setuju.
"Ini kebetulan ada yang mau jual L300, katanya mesinnya masih sehat, tapi mau transaksi malam ini juga kalau bisa karena barusan anaknya kecelakaan dan harus operasi. Uangnya mau buat biaya operasi." kata Satrio.
"Udah yakin di cek kondisi mesinnya OK? Kalau belum aku bantu cek mesinnya sekalian taksir harga sekalian." tawar Didit.
"Boleh Mas kalau mau bantu. Aku lupa kalau njenengan boss bengkel. Pasti ngerti banget soal mesin." kata Satrio senang. Didit hanya terkekeh.
"Ya udah. Aku panggil Adis sekalian biar kita bisa sekalian jalan biar nggak kemaleman." kata Didit kemudian bergegas masuk.
Sambil menunggu Adis keluar, Satrio kembali mengabari Lukas kalau akan segera otw ke lokasi.
Kemudian tak lupa dia mengirim pesan ke papanya kalau malam ini akan memakai uang tabungannya dalam jumlah agak besar untuk membayar mobil.
"Ayo." kata Didit yang diiringi Adis di belakangnya.
"Kamu bonceng siapa, Dis?" tanya Didit pada adiknya.
"Bonceng Mas aja." jawab Adis sambil menerima helm yang diulurkan Satrio padanya.
"Mas siapa? Mas aku atau Mas Satrio?" tanya Didit sengaja meledek.
Satrio menahan tawanya saat melihat melihat wajah keruh Adis.
Dia heran, kenapa kakaknya jadi jahilnya makin nambah kayak gini.
"Ya udah. Kamu yang bawa motorku Sat." kata Didit kemudian mendekat ke arah matic milik Adis, berganti posisi dengan Satrio.
"Emang kenapa harus tukeran motor?" tanya Adis keheranan. Ribet amat kayaknya cuma mau boncengin dia.
"Sayang kamu, Cantik." jawab Didit sambil tersenyum.
Adis masih melongo tak mengerti.
"Jelaskan Sat. Kayaknya bakal nggak bisa tidur dia nanti kalau masih ada yang mengganjal di pikirannya soal tukeran motor ini." kata Didit sambil terkekeh.
"Kalau kamu bonceng pakai motor ini, kamu bakal pegel. Kalaupun nggak pegel karena kamu 'minta gendong', posisi dudukmu saat membonceng nanti akan sangat mengganggu pemandangan mata- mata yang tetap ingin sholeh.di jalan" kata Satrio sambil tersenyum simpul.
Adis melongo, lalu tersipu malu membayangkan ucapan Satrio.
"Ya udah aku bonceng matic aja! Ngapain juga pada punya motor kayak gitu sih? Bikin ribet aja. Nggak fleksibel. Mending punya motor bebek atau matic kayak gini." omel Adis sambil cemberut.
"See.....tetap kita yang salah, Sat. Perempuan memang selalu benaaaaaarrrr." kata Didit sambil tertawa. Satrio ikut tertawa.
"Ayo cepet jalan! Pidato terus nggak jalan- jalan ini." sungut Adis sambil menepuk punggung Didit.
Satrio mendahului jalan menuju rumah Lukas.
Kebetulan pemilik mobil sudah menyuruh orang untuk membawa mobil ke rumah Lukas.
"Keren ya?" tanya Didit sambil menoleh ke belakang agar Adis mendengar suaranya.
Mereka sedang berhenti di depan traffic light yang berwarna merah.
"Apa?" tanya Adis tak mengerti.
__ADS_1
"Satrio kalau pakai motor sport keren." kata Didit sambil menunjuk Satrio yang berhenti di depan mereka.
"Dia biasanya juga pakai motor kayak gitu kalau kerja. Tapi punya dia warnanya putih." kata Adis santai sambil menatap punggung berjaket hitam di depan motornya.
Memang keren. Nggak bisa di bantah oleh mata sehat.
Tapi mana mau Adis mengakui terang- terangan soal itu. Yang ada dia nanti makin diledekin sama kakaknya ini.
"O ya? Keren dong! Kamu pernah bonceng dia naik motornya?" tanya Didit kemudian.
"Pernah. Pas kejadian dia kelahi sama Panji kemarin." jawab Adis jujur.
"Nyaman nggak boncengnya?" tanya Didit.
"Nggak! Pegel!" jawab Adis cepat.
Didit tertawa membayangkan Adis membonceng Satrio dengan punggung tegak.
"Makanya dia tadi jemputnya pakai motormu, biar kamu nyaman boncengnya nanti. Itu salah satu bentuk kalau dia care sama kenyamanan kamu. Kalau kamu nggak paham." kata Didit sebelum melajukan lagi motornya.
Adis terdiam.
Apa benar seperti itu? Apa bukan karena si Bapak kucing itu ingin irit bensin?
Kenapa dia nggak bawa mobilnya yang kemarin kalau ingin membuat dia nyaman?
Entah sudah berapa lama Adis melamun di boncengan Didit sebelum dia kembali tersadar dan sudah mendapati motornya berhenti di halaman sebuah rumah sederhana namun terlihat asri.
Adis segera turun dari boncengan dan bergegas melepas helmnya saat dilihatnya Satrio dan Didit juga melepas helm yang mereka pakai.
Satrio uluk salam ( mengucap salam untuk memanggil pemilik rumah) kemudian mendekat ke sebuah L300 yang terparkir di satu sisi halaman rumah.
Cowok itu memutari mobil sambil memeriksa detail luar mobil.
Mas Didit ikut- ikutan mendekati mobil bahkan ikut memutarinya seperti yang dilakukan Satrio.
"Monggo...." sebuah suara ramah seorang perempuan paruh baya mengurungkan langkah Adis yang akan mengikuti kelakuan Satrio dan kakaknya.
Adis salah tingkah menerima tatapan keheranan dari perempuan yang tersenyum ramah padanya itu.
"Saya bareng mereka, Bu." kata Adis malu- malu sambil menunjuk Satrio dan Didit yang belum menyadari keberadaan ibunya Lukas.
"Oalah...ada Mas Satrio sama temennya....." kata Bu Tri, ibu Lukas itu.
Satrio menoleh ke arah suara yang barusan menyebut namanya, kemudian bergegas mendekat ke arah Bu Tri dan menyalaminya.
"Lukas baru mandi. Mari masuk dulu." kata Bu Tri setelah menerima jabat tangan dari Didit dan Adis.
"Barusan yang nganterin mobil itu pulang, Lukas langsung mandi. Jadi beli mobil itu, Mas?" tanya Bu Tri pemasaran.
Satrio menatap Didit yang mengangkat bahunya pelan.
"Mau liat mesinnya dulu, Bu. Kebetulan Mas ku ini tahu mesin." kata Satrio santai. Bu Tri mengangguk mengerti sambil menatap Didit sekilas.
Pandangannya kemudian menatap Adis dengan tatapan penasaran.
"Dia adiknya Mas Didit, Bu." kata Satrio menjelaskan.
"Kirain pacarnya Mas Satrio yang sering dibicarain sama Lukas." kata Bu Tri sambil tersenyum.
Deg!
Adis menatap Satrio yang nampak salah tingkah menatapnya dan Mas Didit.
"Kamu udah punya pacar, Sat?" tanya Didit kaget.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1
.