
Lukas menatap prihatin Satrio yang hanya goler- goleran di gazebo depan kantor mereka siang itu.
Sedang dia sendiri masih menikmati nasi padangnya.
Sudah seminggu, sejak Satrio pulang dari Jakarta, sahabatnya itu nggak pernah mau makan siang.
Satrio banyak diam dan melamun, seperti hasilnya bergosip dengan Widuri soal sikap Satrio seminggu ini.
"Makan, Bro. Ngelamun aja dari kemarin. Ada apa?" tanya Lukas sambil meremas kertas bekas bungkus nasi padangnya.
Satrio hanya melirik seplastik bakso bakar pedas hasil inisiatif Lukas agar perutnya tetap terisi siang ini.
Biasanya dia akan lahap makan bakso bakar yang mangkal di sebelah gerbang pabriknya itu.
Tapi kali ini dia nggak selera sama sekali walau bau enaknya sudah memenuhi hidungnya sedari tadi.
"Di makan. Biarpun nggak selera, tetap makan walau sedikit. Nanti kamu sakit. Nggak punya pacar, kalau sakit itu tambah nelongso rasanya. Percaya sama aku." kata Lukas serius tapi malah membuat Satrio menggelegas pilu.
"Curhat lu?" tanya Satrio sambil beranjak duduk dan meraih plastik wadah bakso bakar lalu menarik satu tusuk bakaran bakso berwarna coklat kehitaman itu.
"Pedes banget anjir!" omel Satrio begitu menggigit satu bakso.
Di rampasnya botol minum yang di genggam Lukas lalu menenggaknya sampai tuntas.
Lukas terkekeh- kekeh penuh kemenangan.
Akhirnya Satrio yang tukang ngomel ada lagi.
"Lu mau bikin gue diare?" salak Satrio dengan mata berkaca- kaca karena kepedesan.
"Emangnya pedes banget?" tanya Lukas keheranan karena melihat mata Satrio sampai berkaca- kaca begitu.
Direbutnya satu tusuk bakso yang masih berada di tangan Satrio lalu menggigitnya.
"Bang sat! Pedes banget!" seru Lukas setelah meludahkan bakso yang sudah digigitnya.
"Minta di hajar si Darwis." omel Lukas sambil menyebut nama penjual bakso bakar yang tadi di pesannya.
Pasti ngelamun tuh si Darwis tadi. Biasanya kalau dipesenin pedes nggak sepedes ini juga.
Dia bergegas berlari ke dalam kantor untuk mengambil minum.
Agak lama Satrio menunggu Lukas kembali ke gazebo kekuasaan mereka itu.
"Nih, minum ini aja. Manis." kata Lukas sambil mengulurkan satu mug berisi susu coklat hangat.
"Lu pikir gue bayi, siang bolong di kasih susu?" sungut Satrio walau tetap menerima susu itu lalu meneguknya.
"Harusnya seumuranmu susunya udah nggak yang di dalam gelas." kata Lukas sambil mengerling nakal.
"Lagakmu. Kalau yang itu, lu juga harusnya udah punya. Dasar jomblo garing." kata Satrio kemudian menghabiskan susu di gelasnya dengan muka keruhnya.
Lumayan kenyang untuk mengganjal perutnya siang ini.
"Besok masih rencana mogok maksi nggak?" tanya Lukas kemudian.
"Emang kenapa?" tanya Satrio kemudian kembali berbaring telentang di tengah gazebo.
Kedua tangannya bertumpu untuk jadi bantalnya.
"Kucariin infus biar nggak usah repot- repot buka mulut." jawab Lukas yang langsung meringis karena mendapat tendangan di bokongnya.
__ADS_1
"Kamu ada masalah apa sebenarnya? Habis mudik bukannya happy, malah terus BT. Berantem sama keluargamu?" tanya Lukas dengan wajah serius.
Satrio nggak segera menjawab.
Malu rasanya kalau harus ngaku dia gelisah karena masalah Adis.
"Enggak. Aku lagi iri sama adikku." kata Satrio dengan tatapan menerawang.
"Iri kenapa? Adikmu mau kawin dulu?" tebak Lukas.
"Nggak lah. Kalau Maslaah itu aku nggak bakalan iri." kata Satrio.
"Terus iri kenapa? Adikmu di kasih warisan lebih banyak dari kamu?" tebak Lukas lagi semakin ngasal.
"Ngawur." sergah Satrio.
"Terus kamu iri kenapa?" tanya Lukas dengan nada nggak lagi santai.
"Adikku udah bisa punya usaha sendiri. Aku masih gini- gini aja. Mikir banget mau bikin usaha apa gitu." kata Satrio sambil menatap Lukas.
"Oalaaaah....Usaha ya?"
"Ada ide nggak lu?" tanya Satrio masih dengan telentang.
"Ada. Ada banget bahkan. Cita- citaku sejak lama sih. Tapi buat merealisasikannya nunggu keajaiban. Dan kayaknya kamu keajaibannya, Sat." kata Lukas sambil membenarkan duduknya, yang tadinya bersandar di tiang gazebo dengan satu kaki ditekuk dan satu kali berselonjor, kini dia bersila, lebih mendekat ke arah Satrio.
"Emangnya pengen usaha apa sih? Dananya buat modal harus gede banget?" tanya Satrio yang kini beringsut untuk duduk.
"Sebenarnya sih dua juta juga udah bisa jalan." kata Lukas dengan mimik serius.
Satrio mendengus kesal.
"Jualan cilok sih limapuluh ribu juga udah bisa jadi modal, Sat." kata Lukas masih dengan mimik serius.
Satrio kembali mendengus.
Semangat yang tadi sudah terpantik, langsung padam kembali.
Ide Lukas nggak sesuai ekspektasinya.
"Aku pengen bisa nyetak batako, Sat." kata Lukas tiba- tiba.
"Hah?"
"Aku pengen punya usaha sampingan yang prospek jangka panjangnya jelas. Ya bikin batako itu. Orang bikin rumah kan selalu ada, dan butuh batako. Bersaingnya juga nggak sulit. Cukup mempertahankan kualitas dan harga bersaing, pasti bisa berumur panjang usahanya." jelas Lukas.
Satrio kembali tertarik dengan jabaran sekilas dari Lukas barusan.
Di luar pemikirannya sih.
"Emang modal dua juta doang bisa buat apa kalau mau bikin batako?" tanya Satrio mulai penasaran.
"Namanya kan usaha dari nol, Sat. Dua juta itu buat beli cetakan batakonya, aku udah tanya di bengkel las harganya tujuh ratus ribu. Sisanya buat beli pasirnya satu ritnya tigaratus limapuluh ribu dan semennya satu sak paling mahal limapuluh ribu. Udah. Bisa jalan itu bikin batako." kata Lukas dengan lugunya.
"Tempatnya lu nggak nyewa? Nggak bikin buat berteduhnya batako? Kamu mikir nggak, kamu baru selesai bikin batako, masih pada basah, tiba- tiba hujan gede? Ambyar nggak batako lu yang masih basah itu ketiban hujan? Trus kalau ada yang mau beli batakonya mau lu anter pake motor lu atau mobil lu yang biasa buat ngojek?" cecar Satrio.
Lukas meringis.
"Kalo transportasi buat nganter kan ada jasa angkut." kata Lukas santai.
"Udah lu hitung belum, laba lu dikurangi lagi buat bayar transportasi nutup nggak?" tanya Satrio.
__ADS_1
Lukas kembali meringis.
"Ya udah, aku layani buat yang bisa ngambil sendiri aja. Dengan menurunkan harga jual." kata Lukas bersolusi cepat.
"Lu pikir yang butuh batako lu punya alat transportasi sendiri? Lu pikir mereka mau repot juga nyari alat transportasi sendiri cuma buat beli batako lu? Mending mereka nyari ke toko bahan bangunan sekalian aja. Sekalian mereka beli bahan lainnya." kata Satrio dengan wajah sebel.
Nggak punya otak bisnis, pengen bisnis. Mana bisa?!
"Oalah..... Ternyata nggak semudah di pikiranku cuma pengen bikin batako aja." gumam Lukas sedih.
Satrio mencibir.
"Ternyata aku cuma punya modal semangat dan tempat doang." kata Lukas lemas.
"Tapi prospeknya beneran bagus nggak?" tanya Satrio seolah nggak perduli dengan kekecewaan Lukas.
"Bagus. Di kalurahanku baru ada dua usaha bikin batako. Dan mereka sangat kewalahan. Aku tahu pasti soal itu." kata Lukas.
Satrio langsung tersenyum lebar.
"Aku tertarik untuk merealisasikan idemu itu. Lu cari tahu sedetail mungkin soal perbatakoan. Komposisi terbaik. Kalau ada mesin pendukung buat cetak, lu cari tahu juga. Semuanya. Nanti kita bicarakan secara lebih detail dan serius." kata Satrio dengan mimik seserius mungkin.
Lukas terpana.
"Soal rumus campuran bahan batako yang bagus aku udah tahu, Sat. Soal mesin pencetak batako aku juga ada beberapa alternatif pembuat. Soal mesin molen buat nyampur adonan juga aku bisa nanya- nanya. Tapi itu mahal, Sat."
"Sekalian lu cari kalau ada yang jual mobil L300 yang masih layak jalan. Kalau kita punya itu, kita bisa lebih murah beli pasirnya dari depo , dan daya jangkau penjualan kita bisa lebih maksimal karena punya alat transportasi sendiri." kata Satrio cepat namun terarah.
"Sat....." panggil Lukas dengan wajah mulai cemas.
"Lu udah ada tempat kan? Berarti tinggal nyari penjual seng yang harganya miring untuk bikin barak." Satrio masih saja nyerocos.
"Sat..." panggil Lukas lagi.
Kali ini dengan menepuk pundak Satrio.
Wajahnya terlihat sangat cemas.
"Apa sih?!" sungut Satrio kesal.
"Jangan bikin aku cemas." kata Lukas dengan wajah yang khawatir.
"Ngapain harus bikin lu cemas?" tanya Satrio keheranan.
"Kamu ngomong nyerocos soal pabrik batako barusan. Bukan lagi home industry. Mesin cetakan batako, L300, seng.....duitnya harus sampai ratusan juta modalnya Sat kalau begitu." kata Lukas pelan seolah takut kalau dia bersuara keras akan membuat Satrio pingsan karena tersadar dari halunya.
Satrio baru tersadar.
Dia sejenak lupa kalau dia disini hanya terlihat sebagai seorang karyawan biasa.
Dan modal ratusan juta pasti hal besar untuk sekelas karyawan yang gajinya hanya cukup untuk makan dan sesekali jajan.
"Yang penting kita bicarakan dulu. Kita hitung dulu dengan benar kita butuh modal awal berapa. Mumpung kita punya peluang dan semangat, Kas. Soal modalnya dari mana, bisa kita usahakan dan doakan." kata Satrio serius.
Kalau perlu, uang nganggur di rekeningnya bisa dia gunakan dengan mudah.
Satrio menarik nafasnya pelan.
Semua gara- gara Adis.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1