KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Pilu


__ADS_3

Dengan pembawaannya yang tenang namun menyenangkan, di tambah dengan wajah yang sedap di pandang mata, teman- teman pria Adis di kampus banyak yang berusaha mendekat padanya.


Tapi semuanya langsung mundur teratur saat Adis bilang dia sudah memiliki satu anak.


Di kampusnya, Adis tidak pernah menyembunyikan statusnya sebagai seorang ibu. Sengaja dia 'umumkan' status itu agar tak perlu repot menanggapi cowok- cowok iseng yang berniat mendekatinya.


Cintanya pada Beni masih utuh dan tak ingin memiliki cinta lain selain cintanya pada Beni.


Dan kehidupan cintanya selama masa kuliah hingga lulus akhirnya berjalan dengan sunyi dan aman dari romansa hati.


Tak ada masa jatuh cinta lagi di masa itu.


Hidupnya mengalir tenang hanya dengan berisi melewati jadwal kuliah dan melewati hari demi hari menikmati pertumbuhan Reta yang semakin hari semakin mirip papanya. Membuat Adis semakin sulit menepikan rindunya pada Beni.


Dan ketenangan hidupnya baru mulai terusik saat suatu hari dia dan keluarganya pergi makan di luar untuk merayakan ulang tahun Reta sekalian merayakan hari wisudanya.


Ini adalah pertama kali Adis mau merayakan ulang tahun Reta.


Tiga kali ulang tahun Reta sebelumnya Adis tak pernah mau merayakan karena dia selalu ingat pada hari kematian Beni.


Tapi karena sejak jauh- jauh hari Reta sudah memohon- mohon minta merayakan ulang tahun walau hanya tiup lilin di atas kue kecil, Adis tak tega menolaknya.


Adis nyatanya kini sangat terharu saat anaknya itu nyaris berteriak histeris saking senangnya mendapatkan kejutan sebuah kue ulang tahun dari kakek neneknya.


Sebuah kue kecil bertingkat empat dengan patung pesawat terbang di atasnya.


"Mama, aku seneng banget!" seru Reta sambil memeluk mamanya sambil menangis.


Reta menangis saking bahagianya karena bisa punya kue ulang tahun dan bisa tiup lilin seperti teman- temannya yang pernah mengundangnya ke pesta ulang tahun mereka.


Walaupun ulang tahunnya tak dirayakan dengan kehadiran teman- temannya, tapi kue ulang tahun dengan pesawat di atasnya sudah sangat membuatnya senang bukan kepalang.


"Bilang makasih sama Oma Opa dan Uti juga Kakung. Kuenya yang ngasih mereka semua." kata Adis.


Reta bergegas menghambur ke pelukan kakek neneknya sambil berterimakasih berulang kali.


"Sebelum tiup lilin, berdoa dulu dalam hati apa yang Reta inginkan. Jangan lupa doakan Papa juga." kata Adis saat Reta sudah dengan wajah bersemangat hendak meniup lilin.


Anak itu bergegas memejamkan mata sambil berkomat- kamit mengucapkan impiannya lalu dengan sekuat tenaga meniup lilin berbentuk angka empat itu.


"Reta tadi berdoa apa?" tanya Opanya.


"Berdoa biar di kasih Papa baru. Yang kayak papaku." jawab Reta tenang, namun membuat senyum yang tadi tersungging di bibir semua orang dewasa di sekitarnya perlahan meluruh.


"Memangnya papamu kayak apa?" tanya Kakungnya dengan menunjukkan raut wajah penasaran agar Reta merasa di perhatikan.


"Tinggi, dan keren. Kayak yang di HP Mama itu. Wajahnya kayak aku. Tapi wanginya beda. Nggak kayak aku wanginya. Wanginya enak. Kalau meluk, aku rasanya nyamaaan banget. Aku suka kalau di peluk Papa. Tapi sayangnya Papa kalau peluk aku nggak pernah lama. Padahal aku pengennya di peluk lama sama Papa. Kenapa Papa harus meninggal? Bikin aku nggak punya Papa kayak yang lain. Aku ke mana mana kalau nggak sama Opa, ya sama Kakung, atau sama Papi Didit. Papa nggak bisa nemenin aku." kata Reta panjang dengan suara tenang tapi membuat Oma, Uti, dan Mamanya tak bisa menahan tangis mereka


"Reta suka ketemu Papa di mimpi?" tanya Opanya lembut.


"Iya. Tapi aku kadang sebel, Opa." kata Reta dengan wajah merajuk namun menggemaskan.


"Kenapa?" tanya Opanya lagi.


"Aku lagi asik- asik main sama Papa, tiba- tiba di peluk Mama, bikin Papa ilang deh karena aku kebangun." kaya Reta sambil cemberut ke arah mamanya namun membuat semua yang mendengarnya ingin tersenyum dalam pilu.

__ADS_1


"Maaf....Mama nggak tahu kalau Reta lagi sama Papa. Maaf ya, Sayang." kata Adis kemudian membawa tubuh Reta ke dalam pelukannya.


Adis tak perduli lagi dengan airmata yang terus menetes di pipinya.


"Papa suka nanyain Mama nggak? Suruh Papa mimpiin Mama dong." kata Adis kemudian dengan suara berharap dan bergetar melawan tangisnya.


Oma dan Uti Reta menundukkan kepala mereka agar tangisnya tak terlalu terlihat.


Mereka sangat mengerti seberapa besar kehilangan dan kerinduan Adis pada Beni.


"Papa bilang Mama cantik dan baik. Makanya aku kalau udah gede harus bisa sebaik dan secantik Mama. Papa bilang kalau sayaaaaaang banget sama Mama. Aku juga harus sayangi Mama seperti Papa sayang sama Mama. Kung, aku mau belajar silat." kata Reta tiba- tiba beralih menatap Kakung nya dan mengganti topik pembicaraan tiba- tiba.


"Haaa...?!" membuat semua terperanjat dengan perkataan Reta barusan.


"Biar bisa jaga diri sendiri dan jagain Mama juga. Aku mau belajar silat kayak Kakung dan Papa." kata Reta dengan wajah santainya.


Kini di benak lima orang dewasa yang bersama Reta kali ini hanya muncul satu pertanyaan yang sama.


Seintens apa Reta ' bertemu' papanya selama ini sampai tahu papanya bisa silat secara nggak ada satupun yang pernah menceritakan hal itu pada Reta.


"Siapa yang bilang kalau Kakung dan Papa bisa silat?" tanya Adis pada Reta dengan wajah keheranan.


"Papa.Papa yang cerita pas kami makan es krim." jawab Reta santai.


"Haaaaah?!" tak urung semuanya melongo dengan wajah shock campur takut.


"Pas aku mimpi makan es krim sama Papa maksudnya." sambung Reta kemudian.


"Ooooo....." koor pun terdengar kemudian. Membuat Reta keheranan.


Adis menepuk- nepuk dadanya sendiri dengan gerakan pelan.


Tatapan matanya penuh haru menatap Reta yang tengah asik mengusap- usap pesawat di atas kue ulang tahunnya.


Peri kecil peninggalan Beni itu tak tahu bahwa setiap celotehan yang keluar dari bibirnya tentang papanya membuat dada Adis sakit tertikam rindu dan pilu.


"Ma, aku kapan punya Papanya?" tanya Reta kini dengan merapat ke pelukan Adis.


"Kan Reta udah punya Papa Beni." jawab Adis gamang. Dia yakin Reta tak akan puas dengan jawaban darinya barusan.


"Bukan Papa Beni. Tapi Papa yang bisa ada sama kita. Yang bisa ajak aku jalan- jalan. Yang bisa nganterin aku sekolah. Yang bisa ajarin aku naik sepeda. Papa Beni kan nggak bisa." kata Reta dengan wajah muram.


"Nanti Kakung dan Opa bisa ajarin Reta naik sepeda. Bisa nganter sekolah juga." kata Opanya menghibur.


"Kakung dan Opa kan sudah tua. Aku mau Papa yang keren kayak Papa Beni." sanggah Reta sambil cemberut.


Kakung dan Opanya meringis sedih.


"Kapan, Ma?" kejar Reta lagi pada mamanya.


"Reta berdoa saja sama Allah. Minta sama Allah ya. Semoga Reta di kasih Papa yang keren dan baik kayak Papa Beni." kata Omanya.


Reta mengangguk pasrah.


"Harus berdoa dulu ya, Oma?" gumam Reta sedih.

__ADS_1


"Semua hal yang kita ingin harus kita minta sama Allah biar kita di beri yang terbaik sama Allah.Dan semua yang terbaik harus kita tunggu dengan sabar. Sabar ya,Nak. Opa,Oma, Uti dan Kakung selalu mendoakan Reta segera di kasih Papa yang baik." kata Omanya sambil mengelus kepala cucu cantiknya itu.


"Nunggunya lama nggak Oma? Aku pengen kalau sekolah di anterin Papa baruku.Pasti seneng deh." kata Reta dengan mata menerawang dan wajah berseri- seri.


"Semoga nggak lama lagi. Yang penting Reta sabar dulu." jawab Omanya lagi.


Adis yang sudah menangis sedari tadi hanya sibuk menghapus airmatanya.


Kini bukan hanya mertuanya yang 'memaksa' dia harus segera melanjutkan kehidupannya. Tapi Reta sudah mulai juga ikut 'memaksanya' beranjak dari kenangannya bersama Beni.


Ya Allah, tolonglah hamba- Mu ini. Aku harus bagaimana?


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Pertemuan pertama Adis dan Panji sengaja di rancang oleh kedua orang tua masing- masing berselubung acara makan siang bertemu teman lama kedua orang tuanya.


Sejak awal dikenalkan Adis merasa Panji menyukainya walau Adis nggak begitu suka dengan pembawaan Panji yang menurutnya tidak pernah natural dalam bersikap.


Tapi entah mengapa kedua orangtuanya sangat menyukai lelaki itu.


Panji adalah seorang pebisnis muda. Dia memiliki usaha advertising yang lumayan besar.


Berdasarkan penuturan yang Adis dapat dari mamanya, Panji adalah duda cerai tanpa anak setelah mereka menikah selama hampir tiga tahun.


Istri Panji melakukan gugatan cerai sebelum pergi ke Belanda dan kini menetap di sana.


Apa penyebab perceraian itu, Adis dan keluarganya tidak tahu.


Apalagi Adis. Dia sama sekali nggak mau tahu apapun soal Panji.


Rasa simpatinya pada Panji langsung hilang sejak pertama kali mereka dating atas paksaan kedua orang tua mereka.


Panji tentu saja senang. Tapi Adis tidak suka sama sekali dengan ide itu walau tetap melakukannya.


Di kencan pertama mereka saja Adis sudah dibuat sakit hati dengan perkataan- perkataan Panji.


"Jadi kamu married by accident ya?"


"Berapa kali ngelakuin sampai bisa hamil gitu?"


"Enak dong ya bisa melepas keperawanan sama perjaka juga....Eh, pacarmu perjaka kan pas pertama kalian begituan? Atau kamu begituan nggak cuma sama pacarmu aja?"


Huuuuuuuhhhh.....Adis rasanya ingin menjejali mulut comberan Panji itu dengan cor- coran aspal.


Sayangnya Adis hanya mampu diam dengan tubuh gemetar menahan amarah.


Serendah itu dia di mata Panji sejak awal.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Kita kembali ke Bang Sat hari Senin ya.....😀


Happy reading cemuanyaaaahhh....💖💕


Terimakasih juga sudah menyempatkan waktu untuk membaca marathon cerita ini....🙏💖💕

__ADS_1



__ADS_2