KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Tentang Jejak Dosa


__ADS_3

"Sukma itu mantanmu juga?" tanya Adis saat mereka memulai makan malam mereka.


"Bukan.Temen main aja. Dulu temen SMA." jawab Satrio santai.


Adis mengangguk percaya.


"Kenal sama mantan mu juga ya? Tadi yang ditanyain mantanmu kan?" tanya Adis lagi.


"Kenal.Kan kami suka nongkrong bareng." jawab Satrio lagi dengan santai.


"Beneran kamu nggak pernah kontak- kontakan lagi sama mantanmu? Kenapa?" tanya Adis penasaran.


"Ya ngapain kontak- kontakan lagi? Berdalih menjaga tali silaturahmi? Yang ada ribet silaturahmi sama dia mah. Lagian memangnya kamu yakin aku boleh tetap bersilaturahmi sama mantan- mantanku? Banyak lho." tanya Satrio sambil tersenyum meledek.


"Kalau mantanmu banyak, bikin paguyuban aja, Mas. Mantan terindah yang jadi ketuanya. Paguyuban para mantan gitu." usul Adis dengan wajah sadis.


Satrio tertawa.


"Baru gitu aja kamu udah cemburu, sok- sokan nanyain mantan- mantanku. Udah, nggak usah bahas mantan- mantan kalau lagi berdua. Merusak suasana nanti. Lagian lebih baik masa lalu kita biar buat kita masing- masing aja. Milik kita sekarang adalah masa kini dan masa depan. Masa lalu biar jadi pengalaman untuk jadi pembelajaran aja." kata Satrio bijaksana.


"Tapi aku akan lebih tenang kalau tahu mantan- mantanmu. Kalau suatu saat ketemu dan ada yang masih mau aneh- aneh kan aku nggak harus salah paham sama kamu." kata Adis ngeyel.


"Ya udah gini aja deh...Aku akan jawab kalau kamu nanya. Tapi aku nggak akan cerita soal mantan. Nggak penting lagi buatku, Dis." kata Satrio kemudian.


"Tapi janji jawabnya harus jujur ya." kata Adis menekan.


"Iya. Aku akan jujur. Tapi kamu jangan kaget kalau aku jujur." kata Satrio sambil tertawa, seperti menyembunyikan sesuatu Bikin Adis malah semakin penasaran.


"Kenapa harus kaget?"


"Dunia pergaulanku yang dulu, jauh dari yang sekarang ku jalani. Bahkan mungkin jauh dari apa yang ada di pikiranmu. Aku ini bad boy. Kalau tahu kelakuanku dulu, mungkin kamu nyesel jatuh cinta sama aku." kata Satrio sambil tersenyum sedih.


Adis tercenung.


Seburuk apa kelakuan lelaki di depannya ini di masa lalunya?


Apa lebih dari tidur dengan kekasih- kekasihnya?


Adis meringis dalam hatinya sendiri.


Kenapa hatinya bisa maklum, menerima, dan 'memaafkan' saat tahu Satrio melakukan free s*x di masa lalunya?


Apa semua ini ulah cinta di hatinya?


Karena cinta dia bisa menerima kenakalan Satrio di masa lalunya?


Lalu apakah nanti ada jaminan Satrio tidak akan seperti itu lagi bila mereka telah menikah?


Akankah Satrio bisa setia hanya padanya saja? Pada dirinya yang jelas tidak sempurna dan paripurna?


Tak perlu menunggu nanti. Sekarang saja. Apa sekarang benar Satrio hanya bersamanya saja? Tak ada perempuan lain di dalam keseharian hatinya saat ini?


Tanpa Adis sadari dia menghela napas beratnya. Menarik perhatian Satrio yang tadi agak terlena dengan makanannya.


Satrio melihat wajah resah yang tak mampu disembunyikan oleh Adis.


"Kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" tanya Satrio sengaja menghentikan sejenak makannya.


Adis menggeleng pelan kemudian menyuap makanannya.

__ADS_1


Wajahnya belum berubah. Masih terlihat sedang memikirkan sesuatu dan menahannya.


"Kalau pengen tanya, tanya aja. Ngomong aja.Daripada nanti cuma nebak- nebak nggak jelas. Bikin nggak tenang." kata Satrio.


Adis masih diam.Terlihat ragu dan kembali menghela nafasnya.


"Ada kemungkinan kamu punya anak di luar nikah nggak? Yang kamu nggak tahu selama ini." tanya Adis tiba- tiba. Membuat Satrio yang sedang akan minum urung mempertemukan bibirnya dengan sedotan.


Untung saja belum jadi minum, jadi nggak keselek karena kaget.


Satrio nampak bingung harus menjawab apa.


Terus terang saja dia nggak pernah berpikir sejauh itu selama ini.


""Aku nggak pernah kepikiran sampai sejauh itu, Dis." jawab Satrio jujur.


"Ya mulai sekarang kamu harus mulai mikir itu. Aku nggak mau suatu hari nanti tiba- tiba ada anak datang ke rumah nyari bapaknya." kata Adis.


"Trus aku harus nyari?" tanya Satrio dengan nada nggak percaya.


Adis mengangguk.


"Perempuan yang kamu tidurin nggak sampai beratus- ratus kan jumlahnya?" tanya Adis menebak.


"Ya nggak ada lah! Aku begituan juga cuma sama pacarku. Atau sama friend with benefit. Nggak pernah sama cewek yang sengaja open BO." jawab Satrio lugas.


"Nah, berarti kan bisa kamu selidiki mereka. Jangan- jangan mereka punya anak sama kamu yang kamu nggak tahu." kata Adis tenang.


"Trus kalau umpama ada yang punya anak sama aku gimana?" tanya Satrio mulai merasa terintimidasi.


"Setidaknya kamu bisa bertanggungjawab sama anak itu. Jangan bikin anak itu sengsara. Yang nakal kan orangtuanya. Jangan anaknya yang harus menanggung susahnya." kata Adis kemudian.


"Kalau seumpamanya nggak mau di kasih tanggung jawab gimana?" tanya Satrio lagi.


Satrio tertegun.


"Mau ya?" bujuk Adis.


Satrio mengangguk pelan.


Ya, setidaknya dia harus tahu kalau memang ada seorang anak yang harus masuk ke dalam daftar doa- doanya.


"Makasih." kata Adis setelah melihat anggukan Satrio.


"Kok malah kamu yang makasih?" tanya Satrio keheranan.


"Karena kamu akan membuatku lebih tenang dan lebih siap bila memang nanti harus menerima keadaan kamu ternyata punya anak juga." kata Adis sambil tersenyum.


"Kalau ternyata aku punya anak banyak diluaran sana gimana, Dis?" tanya Satrio khawatir.


"Ya itu resiko dari kelakuanmu dulu. Kamu harus kerja lebih keras biar punya uang banyak untuk bisa memberi nafkah anak- anak itu." kata Adis santai namun serius


"Trus kamu?" tanya Satrio cemas


"Aku ya nggak harus gimana- gimana kan?" tanya Adis kemudian.


"Kamu masih tetap mau jadi istriku kalau kenyataannya seperti itu?" tanya Satrio cemas.


"Kayaknya enggak kalau kamu nggak nyari penghasilan lainnya. Kamu pasti akan pusing mikir biaya hidup anak- anakmu. Kalau nanti masih ketambahan aku dan Reta, pasti kamu tambah pusing. Aku nggak tega." kata Adis sambil meringis.

__ADS_1


Satrio tersenyum miris. Ngeri pada bayangan kemungkinan di depannya.


Ternyata jadi bapak yang bertanggung jawab itu nggak gampang. Pantes ada cowok yang memilih nggak bertanggungjawab.


"Semoga kenakalanku dulu nggak sampai menghasilkan junior." kata Satrio dengan khawatir.


"Aamiin..." sahut Adis kemudian.


🧚🧚🧚🧚🧚


Wira terbahak- bahak mendengar keluh kesah kakaknya yang sedang membicarakan soal permintaan Adis yang memintanya mencari jejak- jejak dosanya di masa lalu.


" Ya udah, lu kirim aja daftar nama, alamat, dan photo cewek- cewek itu. Biar gue selidiki." kata Wira kemudian.


"Gini amat ya syaratnya mau kawin aja." kata Satrio mengeluh.


"Nikah woi...nikah! Bukan kawin. Kawin mulu otak lu." kata Wira sambil tergelak. Satrio hanya meringis keki.


"Gue takut tahu nggak sih. Ntar tau- tau Adis mundur. Mampus gue." kata Satrio sedih.


"Mikir yang baik- baik aja lah. Jangan mikir gitu. Anggap aja ini ujian buat hubungan kalian. Udah, kencengin doanya aja." kata Wira menyemangati.


Satrio hanya mengangguk pasrah.


"Emangnya kapan kalian mau nikah?" tanya Wira kemudian.


"Lamaran dulu. Sebelum lamaran harus khatam Qur'an dulu dong gue. Mudah- mudahan nggak sampai lebih setengah tahun gue udah punya nyonya." kata Satrio dengan wajah menerawang


"Wah, mama udah harus siap- siap buat bikin pesta dong ini." kata Wira dengan semangat.


"Nggak usah pesta- pesta lah. Yang penting sah aja. Adis juga bilang nggak mau pesta- pesta." kata Satrio santai.


"Kamu kan putra mahkota keluarga Buwono. Masak nggak ada pesta sih?" kata Wira mengingatkan.


"Mahkotanya buat lu aja deh kalau gitu." kata Satrio sambil terkekeh.


"Gue mah jadi pangeran aja udah cukup. Makasih tawarannya." kata Wira sambil ikut tertawa.


"Malu gue kalau kawinannya rame- rame." kata Satrio.


"Kenapa? Karena lu dapat janda?" tanya Wira ngasal.


"Pale lu! Bukan itu. Malu aja jadi pajangan." kata Satrio kemudian.


"Ntar pas hari H nggak bakalan malu deh. Udah nggak sempet malu saking happy nya." kata Wira mencoba meyakinkan.


"Liat nanti aja lah. Yang penting misinya kelar dulu. Masalah kawin ntar aja mikirnya." pungkas Satrio.


"Kawin mulu monyong lu! Nikaaaaahhh!!!" geram Wira.


"Udah sering kawin, jadi kagok mau ngomong nikah." kekeh Satrio tengil.


"Lelaki luck nut lu!" seru Wira kesal


"Enak tau kawin tu..." kata Satrio sengaja meledek perjaka tingting itu.


"Ba cot lu!" sungut Wira kesa. Satrio hanya tergelak saat Wira langsung mematikan telpon.


"Hari gini masih main segel aja." kekeh Satrio sambil bergumam geli.

__ADS_1


Dalam hati dia kagum pada ketabahan Wira menjaga keperjakaannya.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2