KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Minta nikah


__ADS_3

Satrio mengetuk pintu ruang kerja Papanya sebelum akhirnya masuk begitu terdengar sahutan dari dalam.


Ternyata papanya sedang berbincang dengan Mas Didit.


"Udah ngeliat anakmu?" tanya Pak Susilo setelah Satrio duduk di samping Mas Didit yang tersenyum menatapnya.


"Udah. Mirip aku banget." kata Satrio sambil tersenyum.


Papanya hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ceritanya gimana sih, Pa?" tanya Satrio penasaran.


"Mamamu yang nggak sengaja liat postingan seseorang di aplikasi LOHA. Liat photo dan video anakmu. Mamamu penasaran kan, kok wajahnya mirip banget sama kamu pas bayi. Dan nama Dea juga disebut- sebut di deskripsi video itu. Akhirnya setelah bisa berkomunikasi, tiga hari lalu kami berdua ketemu orang yang memposting photo bayimu itu." terang Pak Susilo.


"Siapa? Dea?" tanya Satrio nggak sabar.


"Bukan Dea, tapi sepupunya Dea. Namanya Fitri. Dari dia akhirnya kami bisa ketemu sama orangtuanya Dea.dan bayimu." jawab Pak Susilo.


Satrio mengernyitkan dahinya.


"Nggak ketemu Dea langsung?" tanya Satrio tak mampu menutupi keheranannya.


Pak Susilo menggeleng pelan.


"Dea nggak mau ketemu?" tanya Satrio lagi.


"Bukan." jawab Pak Susilo kemudian menghela nafas berat.


"Terus kenapa? Dia pergi ninggalin anaknya?" tanya Satrio mulai sedikit emosi.


"Dea meninggal." kata Pak Susilo kemudian.


"WHAT?!" Satrio terlonjak tak percaya.


Mas Didit menepuk- nepuk punggungnya pelan.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun...Kenapa dia meninggal?" tanya Satrio kemudian.


"Kecelakaan dua bulan lalu, karena mabuk." jawab Pak Susilo pelan.


"Astagfirullahaladzim Dea..." bisik Satrio penuh sesal.


Sejak kapan Dea suka minum? Seingatnya dulu Dea nggak suka minum.


Kenakalan Dea setahunya 'hanya' matre saja.


"Tadinya orangtua Dea menghubungi seseorang yang setahu mereka adalah kekasih Dea. Tapi orang itu menolak mengakui bayi Dea. Dan memang hasil tes DNA sama sekali nggak ada kecocokan. Mereka lalu mencarimu. Mereka bilang mencoba berulang kali menelponmu tapi nggak pernah kamu angkat. Padahal mereka sudah mengirim pesan dan menyebut nama Dea." cerita Pak Susilo.


"Astaga....Aku emang pernah nerima beberapa kali panggilan telpon dari nomer yang ngaku Dea, karena itu nggak aku angkat karena aku udah nggak mau hubungan lagi sama dia. Kalau saja mereka mau menjelaskan di pesan apa maksud mereka menghubungiku waktu itu..." sesal Satrio.


"Udah...udah lewat ini." hibur Mas Didit.


"Orangtua Dea sepenuhnya menyerahkan semua keputusan pada kita. Akan mengasuh atau tidak anak itu. Tadinya Papa mau melakukan tes DNA untuk kepastiannya, tapi Mamamu sudah sangat yakin kalau itu anakmu. Dia bahkan akan mengasuh sendiri anak itu seandainyapun kamu menolak. Sekarang Papa tanya sama kamu, mau gimana?" tanya Papanya kalem.


"Aku dan Adis akan merawatnya. Tadi Adis juga bilang akan tetap merawat Bian sekalipun dia bukan anakku. Jadi ku pikir sudah nggak ada yang perlu kita cemaskan lagi soal Bian kan?" kata Satrio kemudian.


Pak Susilo dan Mas Adit mengangguk- angguk mengerti.


"Dan berhubung Bian nggak mau jauh dari Adis,maka aku minta Papa mengijinkan aku besok menikahi Adis." kata Satrio lugas, membuat Pak Susilo dan Mas Didit berjengit kaget dan saling pandang.


"Kamu itu mau nikah, bukan mau beli jajanan. Yang kamu pengen nikahin itu ada orangtuanya. Kita harus ngelamar dulu,Bocah!" kata Pak Susilo kesal sambil melempar Satrio dengan pulpen.


Satrio hanya meringis malu dan Mas Didit terkekeh- kekeh melihatnya.


"Utangmu khatam Qur'an memangnya sudah beres?" tanya Pak Susilo kemudian.


"Udah! Udah kemarin kan ya, Mas?" jawab Satrio mantap sambil menoleh pada Mas Didit mencari dukungan.


Pak Susilo menatap Mas Didit yang kemudian mengangguk.


"Yakin Adis mau dinikahin besok?" tanya Pak Susilo pada Satrio.


Satrio mengangguk ragu.


Dia tadi lupa belum tahu jawaban Adis atas ide gila menikah dadakan ini.


Dia keburu melesat menemui Papanya.


"Belum tau kan? Kebiasaan kamu itu." sergah Pak Susilo kesal.


"Bawa Adis kesini. Papa harus nanya dia langsung." perintah Pak Susilo tegas.


"Iya. Dia lagi mau makan tadi." kata Satrio yang kemudian ingat dengan rasa laparnya sendiri.


"Aku makan dulu juga sebentar ya, Pa. Nanti aku dan Adis kesini lagi." kata Satrio sambil berdiri.


"Mau ikut makan nggak, Mas?" tawar Satrio pada Mas Didit.

__ADS_1


"Nggak. Udah tadi." jawab Mas Didit.


Satrio kemudian melenggang menuju ruang makan. Berharap bertemu Adis disana.


Dan Adis memang disana.


Duduk termenung sendiri menghadapi segelas air putih.


"Dis..." sapa Satrio sedikit mengagetkan Adis.


"Nggak jadi makan?" tanya Satrio saat melihat tak ada piring kotor di dekat Adis.


"Belum." jawab Adis sambil tersenyum.


"Kenapa? Nunggu aku? Sweet nya...." kata Satrio GR.


"Bukan!" tukas Adis kesal.


"Trus kenapa?" tanya Satrio kecewa.


"Nggak enak gelatakan nyari makan di dapur orang." kata Adis pelan.


"Oh iya...lupa kalau kamu baru dua hari disini. Yuk sini." ajak Satrio mengajak Adis memasuki dapur.


Satrio kemudian menuju satu lemari di dekat kulkas empat pintu kemudian membukanya.


Dia kemudian mengeluarkan semangkuk rendang yang tinggal beberapa potong, juga semangkuk sup ayam.


"Mau dipanasin dulu nggak?" tanya Satrio.


"Nggak usah deh. Nasinya panas ini." jawab Adis yang sudah berjalan mendekati Magicom di dekat dispenser dengan dua piring di tangannya.


"Segini kurang nggak, Mas?" tanya Adis setelah memindah dua centong nasi ke piring untuk Satrio.


"Pas." jawab Satrio sambil tersenyum sebelum membawa mangkuk lauk ke meja makan.


Adis menyusul Satrio ke meja makan dengan dua piring di tangannya.


"Udah kayak berumahtangga rasanya." seloroh Satrio saat dia berpapasan dengan Adis di pintu dapur.


Dia akan mengambil air minum untuk mereka berdua.


Adis hanya melengos malu.


Keduanya kemudian asik makan tanpa banyak bicara.


Satu mangkuk kecil sop ayam di kuasai oleh Adis.


"Habis ini kita ketemu Papa ya?" pinta Satrio pada Adis yaang baru selesai dengan makannya.


"Ya. Mau ngomongin apa?" tanya Adis tenang.


"Pernikahan kita." jawab Satrio sambil tersenyum.


Adis membeku.


Apa harus secepat ini?


"Kamu...mau kan nikah sama aku?" tanya Satrio gamang.


"Ya mau. Tapi...apa harus besok banget?" tanya Adis kemudian.


"Ya kalau bisa besok kenapa harus ditunda lagi? Apalagi ada Bian sekarang. Nggak mungkin kan kamu bawa Bian ke rumahmu, kamu rawat sendirian, padahal aku bapaknya." kata Satrio memberi alasan.


Adis terdiam.


"Memangnya bisa nikahnya besok?" tanya Adis kemudian.


Satrio tersenyum lebar.


Ini bisa diartikan Adis yes.


"Bisa dong! Sekarang aja bisa kalau kamu mau." jawab Satrio riang.


"Ngarang!" sahut Adis kesal.


Satrio hanya terkekeh.


"Udah yuk, ke Papa sekarang." ajak Satrio.


"Sebentar." jawab Adis kemudian mengumpulkan peralatan makan yang kotor dan hendak membawanya ke belakang.


"Nggak usah dicuci ya, Dis. Biar Mbak Leli aja besok." kata Satrio setengah berseru.


"Iya." jawab Adis pelan.


"Yuk." ajak Satrio bergegas berdiri dari kursinya begitu Adis muncul dari dapur.

__ADS_1


Tanpa menjawab Adis mengikuti langkah Satrio yang berjalan menuju ruang kerja Papanya.


Setelah disuruh masuk oleh Papanya, Satrio dan Adis beriringan menuju kursi di seberang meja kerja Pak Susilo.


Mas Didit sudah tak bersama Papa rupanya.


"Papa dan Didit barusan bicara dengan orangtua Adis soal permintaanmu tadi..." kata Pak Susilo to the point.


"Trus? Boleh?" tanya Satrio tak sabar.


"Dis, gimana? Kamu keberatan nggak kalau kalian menikah mendadak gini?" tanya Pak Susilo pada Adis. Tak menghiraukan pertanyaan Satrio barusan.


"Apa bisa?" tanya Adis bimbang.


"Nikah agama dulu. Setelahnya langsung kita urus nikah secara negara. Bulan ini juga kalian sudah bisa pegang buku nikah." jawab Pak Susilo meyakinkan.


"Orangtua saya gimana?" tanya Adis lagi.


"Mereka nggak keberatan. Tinggal kamunya aja mau nggak." jawab Pak Susilo lagi.


Sumpah, Adis nggak bisa mikir apapun kali ini.


Semuanya serba mengejutkan.


"Kamu bisa ngobrol dulu sama kakakmu dan orangtuamu kalau masih ragu. Nggak perlu mikir Satrio dulu. Yang penting kamu sendiri yakin dulu." kata Pak Susilo saat melihat wajah gelisah Adis.


Satrio yang mendengar itu malah jadi deg- dega n dibuatnya.


"Kami tunggu jawaban kamu sampai besok pagi ya? Bisa?" tanya Pak Susilo kemudian.


Adis mengangguk.


Ada sedikit kelegaan di hatinya.


Setidaknya malam ini dia bisa ngobrol dulu dengan orangtua dan kakaknya.


"Ya udah kalau gitu. Kita bubar dulu. Papa udah pengen tidur." kata Pak Susilo sambil beranjak berdiri.


"Kalian mau berduaan disini?" tanya Pak Susilo saat dilihatnya Adis dan Satrio tak juga beranjak dari duduknya.


"Enggak!" jawab Satrio kemudian bergegas berdiri dan keluar diikuti Adis.


"Aku ambil Bian dulu ke kamar Mas." kata Adis mengikuti Satrio.


"Nggak usah." jawab Satrio pendek.


"Mas mau tidur sama Bian?" tanya Adis nggak percaya.


"Emang nggak boleh?" tanya Satrio balik.


Padahal maksudnya tadi nggak gitu.


Dia melarang Adis nggak usah ngambil Bian dari kamarnya maksudnya adalah biar Adis tetap tidur sama Bian di kamarnya,dia yang tidur di kamar lain.


Tapi omongan Adis barusan cukup menantang juga sih.


Tidur sama bayi? Siapa takut?!


"Ya... udah kalau memang mau gitu. Nanti mulai jam dua belas, satu jam sekali dia bangun minta minum. Susu dan air angetnya ada di meja kamarmu. Susunya tiga sendok ya." kata Adis kemudian.


"Oke!" jawab Satrio santai.


"Aku ke kamar Mas Didit dulu." pamit Adis kemudian berlalu dengan wajah ragu dan sedikit cemas.


Satrio kemudian bergegas ke kamarnya.


Di depan pintu kamar dia bertemu mamanya yang baru saja hendak keluar dari kamarnya.


"Adis mana?" tanya Bu Katarina kebingungan.


"Lagi sama Mas Didit." jawab Satrio santai.


"Kamu yang mau nemenin Bian?" tanya Bu Katarina dengan wajah nggak yakin.


"Iya! Aku akan tidur sama dia." jawab Satrio mantap.


"Serius?!" tanya Bu Katarina kaget.


"Iya." jawab Satrio meyakinkan.


"Jangan deket- deket tidurnya. Dikasih penghalang guling. Inget!" kata Bu Katarina tegas.


"Kenapa?" tanya Satrio keheranan.


"Nanti yang ada kamu nindihin anakmu!" sergah Bu Katarina kesal karena harus menjelaskan.


Satrio mengangguk- angguk mengerti.

__ADS_1


"Harusnya bener dibeliin boks bayi kok. Papa sih nggak nurut." gumam Bu Katarina kesal sambil berjalan ke kamarnya sendiri.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2