KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Berat


__ADS_3

"Aku sudah curiga sebenarnya dari dulu. Tapi karena kamu orang baik, ya aku diem aja. Nggak berusaha nyari tahu banget- banget soal background mu." kata Lukas setelah Satrio buka kartu habis- habisan di depannya sambil makan siang.


"Curiga apa?" tanya Satrio nggak paham.


"Curiga kalau kamu orang kaya." jawab Lukas setelah menelan kunyahannya.


"Gesture, pakaian, dan tingkah lakumu itu keliatan kalau kamu nggak pernah di kehidupan kelas kami sebelumnya." kata Lukas sambil terkekeh.


"Bohong lu..." sahut Satrio nggak percaya.


"Keliatan Sat...Aku heran tuh pas pertama ke mall sama Widuri trus di paksa dia buat beli celana barengan itu. Keliatan banget kamu kayak yang shock dan nggak percaya lihat harga segitu. Keliatan 'eh kok cuma segini harganya'. Keliatan banget di wajahmu." kekeh Lukas.


Satrio menggelegas malu.


"Aku kayaknya mau resign juga, Kas." kata Satrio sambil menunduk. Entah mengapa hatinya tiba- tiba sedih membayangkan meninggalkan pabrik ini dengan segala keramahan dan ketulusan orang- orangnya.


Lukas nampak terkejut meski kemudian mengangguk mengerti.


"Ngasih kehidupan yang layak buat anak istri rasanya berat banget kalau ngandelin gaji disini. Susu anak gue aja habis banyak. Kasian Adis kalau harus pusing terus bagi- bagi uang belanja cepak." kata Satrio sambil tersenyum kecut.


Lukas tentu saja mengerti. Dia yang pola hidupnya dari kecil sederhana aja suka mumet membagi gajinya untuk kebutuhan rumah tangga. Apalagi Satrio yang jelas dari bayi standard hidup layaknya jauh di atas standard hidupnya.


"Ya nggak apa- apa. Kerjaan tinggal megang juga kan? Nggak usah nyari. Memang sudah saatnya bertindak penuh pertimbangan karena sekarang sudah punya banyak tanggung jawab." kata Lukas bijaksana.


Andai saja ada cabang perusahaan Papa di kota ini, pasti seneng hati aku megangnya. Nggak harus ninggalin kota ini.


"Kapan rencana resign?" tanya Lukas kemudian.


"Dua bulan lagi pas dua tahun aku kerja. Tapi aku mau mengajukan resign besok, biar masih ada waktu buat perusahaan untuk mencari penggantiku." kata Satrio santai.


"Iya. Begitu juga bagus. Tapi kamu udah ngobrol sama Pak Cahyo dan Widuri belum soal rencana resign mu?" tanya Lukas. Satrio menggeleng.


"Nggak tega gue ngomongnya sama mereka." kata Satrio gemas dan bingung pada dirinya sendiri.


"Pasti mereka sedih. Yakin aku. Kamu itu di sayang banget disini. Kerasa nggak?" tanya Lukas sambil menatap Satrio yang kemudian mengangguk.


"Kerasa banget. Kekeluargaannya yang bikin gue kayak beraaaat banget buat mutusin resign. Suasana kerjanya juga asik banget. Solid banget. Tapi ya mau gimana lagi..." kata Satrio sendu.


Lukas mengangguk mengerti. Alasan itu pula yang membuatnya masih bertahan di sini walau dia sedikit keteteran harus berbagi konsentrasi dengan usahanya di rumah yang kini semakin pesat berkembang.


"Padahal aku baru mau ngobrolin masalah peluang usaha baru sama kamu, Sat. Bisa jadi usaha kamu sebenarnya. Tapi malah kamunya mau balik ke Jakarta." kata Lukas penuh sesal.


"Usaha apa?" tanya Satrio.


"Buka usaha material juga. Kamu kan modalnya punya banyak. Aku sudah survey- survey, pokoknya sudah matenglah. Buka usaha toko besi dan bangunan, di daerahku. Aku udah siap daftar semua link agen dan distributor. Nanti ke depannya akan bisa berkembang ke usaha alat- alat listrik dan mesin- mesin kecil untuk pertukangan." kata Lukas.


"Kenapa nggak lu aja yang bikin?" tanya Satrio.


"Aku nggak mau serakah, Sat. Harusnya usaha yang sekarang ku pegang itu milik kita berdua. Sekarang sudah jadi milikku semuanya karena kebaikanmu minjemin semua modal. Puji Tuhan, itu sudah merubah perekonomian keluargaku secara signifikan. Makanya aku merasa berhutang banget sama kamu. Kalau aku usul kamu bikin usaha yang sama, pasti kamu nggak mau juga nanti." kata Lukas sambil tertawa.


Satrio termenung memikirkan usul Lukas itu.


Bisa di pastikan kalau membuka usaha itu butuh dana lumayan besar. Untuk bisa langsung 'layak dilihat' minimal dia harus sedia dana setidaknya satu miliar.

__ADS_1


Ada sih uang segitu di rekening khususnya bermain saham. Tapi dia buta banget soal usaha itu...


"Aku obrolin sama Adis dulu deh." kata Satrio kemudian.


Terus terang saja dia nggak bisa mikir jernih sekarang.


Dia sedang setengah mati membujuk hatinya agar rela meninggalkan pekerjaannya ini dan kembali ke Jakarta demi kebahagiaan kelurganya.


Agar orangtuanya bahagia karena dia mau ikut bergabung mengurus perusahaan keluarga mereka.


Agar kesejahteraan keluarga kecilnya lebih terjamin.


Sekaranglah saatnya dia menunjukkan tanggungjawabnya.


Soal perasaan dan kenyamanannya sendiri tak boleh lagi dia prioritaskan lebih tinggi di banding kebahagiaan keluarganya.


🧚🧚🧚🧚🧚


Widuri dan Pak Cahyo tak mampu mengucapkan apapun saat Satrio dengan berat hati mengatakan niatnya untuk resign dan akan kerja di Jakarta.


Keduanya hanya menatap Satrio dengan tatapan sedih.


"Di Jakarta kamu langsung kerja kan?" tanya Pak Cahyo akhirnya.


"Iya, Pak. Udah ada kerjaan di sana." jawab Satrio cepat.


"Ya udah, nggak papa. Yang penting langsung kerja. Nggak bingung nyari kerja dulu. Dan aku yakin pasti lebih bagus dari sini dalam segala hal. Jadi ya....good luck!" kata Pak Cahyo sambil mengulurkan tangannya dengan tersenyum.


"Mumpung ada peluang lebih baik, nggak ada salahnya di gunakan. Tapi ya semoga kamu nggak melupakan teman- teman disini." kata Pak Cahyo berharap.


"Pastilah, Pak. Nggak mungkinlah aku lupa sama semuanya." sahut Satrio meyakinkan.


"Adikmu itu ajak sekalian biar jadi gadis kota." kekeh Pak Cahyo sambil menunjuk Widuri dengan dagunya.


"Segera menyusul kayaknya, Pak." kekeh Satrio sambil menatap meledek pada Widuri.


"Jangan ngaraaaaang!" sergah Widuri kesal.


"Mumpung masih muda, masih single, kalau pengen berkarir di maksimalkan nggak papa, Wid. Besok kalau sudah waktunya ketemu jodoh, udah mapan." kata Pak Cahyo memberi masukan.


"Siapa tahu jodohnya di Jakarta ya, Pak?" kata Satrio sengaja meledek Widuri.


"Iya! Bener itu! Daripada disini ngegantung kayak jemuran kering nggak d iangkat- angkat ya kan?" sahut Pak Cahyo sambil tertawa puas ikut meledek Widuri yang sudah manyun.


"Nanti kalau aku ikut pergi, njenengan nangis kehilangan kami berdua lho." kata Widuri membalik keadaan.


Pak Cahyo sesaat nampak bersedih, namun segera ditepisnya dengan senyuman.


"Kehilangan itu pasti. Kalian team yang paling solid yang pernah kerjasama denganku. Tapi namanya hidup, pasti akan berubah. Dan kebanyakan perubahan pasti menciptakan perpisahan. Tapi nggak papa. Harus ikhlas dan lapang dada." kata Pak Cahyo bijaksana.


Satrio menatap sedih pada Pak Cahyo.


Tak bisa dipungkiri, dari obrolan- obrolan bersama Pak Cahyo selama ini dia mendapat banyak pelajaran tentang hidup.

__ADS_1


Pak Cahyo bukan hanya sebagai atasan, tapi juga bisa berlaku sebagai bapak yang membimbing dengan sabar anak- anaknya.


Kesabaran, keikhlasan dan ketekunan Pak Cahyo menjalani kehidupan sederhananya membuat Satrio sadar betapa beruntungnya kehidupannya selama ini.


Dari Pak Cahyo juga dia belajar bagaimana menyiasati keadaan terbatas tanpa harus mengeluh berlebihan.


Dan bila kini dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan disini yang mulai dia cintai demi hasil yang lebih baik untuk kesejahteraan keluarganya, Satrio rasa itu tak perlu membuatnya harus bersedih apalagi tertekan.


"Kita tak akan pernah tahu kejutan apa yang telah Allah siapkan di balik pintu. Kalau kita tak mau membukanya, kita jelas kehilangan sebuah kesempatan yang mungkin lebih baik dari sekarang. Tapi kalau kita mau membukanya, sekalipun nanti kenyataannya nggak seperti yang kita harapkan, setidaknya kita sudah berani mencoba dan mencari tahu. Dan nilai plusnya adalah kita jadi manusia yang lebih berani. Dan pasti ada hikmah di dalamnya." kata Pak Cahyo suatu hari dulu.


Dan Satrio berharap, nanti dia akan menemukan hal baik lainnya selepas dia melepaskan pekerjaannya disini.


Niatku adalah untuk membahagiakan keluargaku. Semoga Allah memudahkan semuanya dan meringankan langkahku.


"Bang, kamu mau bantuin Papa ya?" tanya Widuri saat mereka kini hanya berdua.


Pak Cahyo tadi katanya di panggil ke ruangannya Bu Rista.


"Iya." jawab Satrio santai.


"Alhamdulillah...Pasti Papa seneng banget. deh sekarang." kata Widuri senang.


Satrio menatap Widuri cepat.


Apa iya Papanya akan sesenang itu kalau dia ikut gabung denngan perusahaannya?


"Sok tau lu." kata Satrio sambil nyengir.


"Beneran! Mama cerita ke aku kalau Papa tuh sebenarnya sedih tau, kamu sama Mas Wira nggak mau pegang perusahaan keluarga. Papa merasa sia- sia aja selama ini berjuang membesarkan perusahaan. Kan niatnya memang buat kalian. Tapi Papa nggak mau juga memaksa kalian karena Papa bilang kalian punya hak atas hidup kalian sendiri. Papa sebagai orangtua hanya punya kewajiban mengusahakan yang terbaik buat anak- anaknya." kata Widuri serius.


Satrio terpaku mendengarnya.


Papa hanya selalu mengedepankan kewajibannya atas anak- anaknya dan nggak pernah memaksakan haknya sebagai orangtua ke anak- anaknya.


Satrio merasa malu malu sekaligus trenyuh sekarang.


Bagaimana kelak kalau Bian bersikap seenak jidatnya seperti kelakuannya dulu? Apa dia bisa sesabar papanya kini?


"Aku merinding tahu, Bang saat Mama cerita itu. Papa sabar banget, pengertian banget sama anak- anaknya. Aku bahkan pengen rasanya bantuin biar Papa nggak sedih. Tapi aku malah ikut nyusahin Papa." kata Widuri sedih.


"Makanya lu ikut ke Jakarta aja. Pegang sendiri perusahaan lu." kata Satrio kemudian.


"Aku kan buta, Bang." kata Widuri ngeyel.


"Makanya belajar, bocah! Mumpung lu masih single, masih nggak ada yang ngerecokin dan ngatur- ngatur lu. Maksimalkan posisi lu. Kita ringankan beban Papa." kata Satrio mengompori.


Satrio melihat Widuri nampak terhenyak dengan ucapannya.


"Belajar dulu dari bawah. Pasti bisa. Lu pinter kok. Ntar kami back up deh. Wira juga pasti 24 hour ready for you." kata Satrio mulai meledek.


"Mas Wira lagiiiii ujung- ujungnya! Nyebelin!" sungut Waiduri sambil melempar Satrio dengan ballpoint.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2