
Satrio tengah tersenyum- senyum riang sambil mengelus- elus secara bergantian beberapa kucing yang sedang asik makan di sekelilingnya saat pandangan matanya tertumbuk pada satu pasang sneaker warna toska lembut berdiri di depannya.
Dengan reflek pandangannya menelusur semakin ke atas, ke celana warna cream yang dilipat kecil di ujungnya, lalu ke tunik selutut berwarna biru muda, semakin ke atas ada lambaian ujung jilbab motif berwarna biru tua, lalu berakhir di satu wajah tertutup masker.
Hanya terlihat alisnya yang bak lengkungan burung camar dan sorot mata tenang nyaris dingin namun terasa tajam menusuk.
Sorot mata khas milik jenis orang pemikir dan tidak grusa- grusu ( grabak- grubuk).
"Maaf, itu kucing saya." kata cewek itu sambil menunjuk satu kucing kampung namun sangat bersih berwarna kembang telon (campuran warna coklat, hitam dan putih) dengan ekor belang menyerupai cincin berwarna selang seling hitam dan putih.
Kucing kampung yang sangat keren, yang kini sedang di pegang oleh Satrio.
"Oh ya, maaf. Aku cuma ngasih makan aja." kata Satrio sambil bergegas berdiri.
Perjalanannya berdiri tegak dari jongkoknya tadi di iringi sebuah wangi yang sangat lembut dan sangat samar tercium di hidungnya.
Wangi dari cewek yang masih mematung memandangnya dengan tatapan yang terlihat jengkel.
Hei, kenapa memandangnya jengkel seperti itu?
Dia kan nggak nyuri kucing cewek itu.
Kucingnya sendiri yang datang ikut gabung sama kucing- kucing lainnya di taman kompleks ini. Cuma ikut makan doang.
"Tolong ya, Mas, lain kali kucing saya jangan dikasih makan dengan makanan itu." kata cewek itu sambil menatap toples berisi makanan kucing kiloan di tangan Satrio.
Cewek itu sudah menggendong kucingnya yang nampak tenang menyandarkan kepalanya di belahan dada cewek itu.
Buseeet.....pikiran Satrio tiba- tiba travelling aja melihat pemandangan itu.
Dasar piktor!
"Ke....kenapa?" tanya Satrio bingung. Entah beneran bingung, atau karena tiba- tiba nggak bisa mikir gegara galfok sama kelakuan kucing itu, yang kini malah menatapnya dengan menjulur- julurkan lidahnya seakan ngeledek Satrio.
"Beberapa hari ini dia suka ikut makan disini ya?" tanya cewek itu lagi dengan suara datar dan tatapan datar pula. Jelas nggak ada senyum yang menyertai pertanyaan yang keluar dari sela bibir yang tertutup masker itu.
"Kayaknya sih iya. Aku nggak terlalu merhatiin satu per satu kucing yang ku kasih makan." jawab Satrio dengan nada ragu.
"Mulai sekarang tolong perhatikan kucing saya. Kalau dia kesini tolong jangan kasih makan dia. Tristan diare karena makanan itu." kata cewek itu sambil menunjukkan sebuah plat kecil yang ada dikalung yang melingkari leher kucing itu.
Reflek tangan Satrio terulur meraih plat itu dan mendekatkan wajahnya agar bisa membaca guratan nama di plat mungil itu.
"Namanya Tristan?" tanya Satrio masih dengan posisi muka di depan dada cewek itu yang kini langsung mundur dua langkah.
Satrio yang baru menyadari posisi awkward nya bergegas menegakkan tubuhnya.
"Ma...maaf kalau begitu." kata Satrio kembali gugup.
Dilihatnya anggukan pelan cewek itu.
"Permisi." pamit cewek itu kemudian tanpa basa basi dan langsung melenggang pergi meninggalkan Satrio yang masih terpana melihat siluet cewek itu diantara sinar matahari yang nyaris terbenam.
Kibaran ujung jilbab bagian belakangnya melambai indah seperti dadah- dadah pada Satrio.
Dan dada Satrio kembali berdebar saat dia mengingat wangi lembut dan manis tapi amat sangat samar yang tadi mampir di Indra penciumannya.
Dengan lemas Satrio menuju ke arah sepedanya kemudian mulai mengayuhnya pelan menuju arah pulang sebelum adzan magrib berkumandang.
Kaleng wadah makanan kucing yang telah kosong terombang- ambing di dalam tas kecil yang ada di stang sepedanya.
Pikirannya kembali melayang ke sosok cewek tadi.
Apa cewek itu juga salah satu warga kompleks ini?
Kenapa dia baru ngeliat sekarang?
__ADS_1
Padahal hampir semua cewek penghuni kompleks ini sudah dia tahu karena seringnya dia nampang di taman kompleks tiap pagi di hari libur ,atau kadang sore- sore begini.
Atau mungkin dia warga baru.
"Maaas! Heiiii, Maaaaaas! Mas Satrioooo!" suara teriakan Mbak Puji membuat Satrio reflek menekan tuas rem sepedanya.
Kepalanya celingukan mencari dimana gerangan keberadaan mbak Puji yang tadi didengar teriakannya.
"Mau kemana, Mas?!" Satrio memutar setengah badannya saat di dengarnya suara mbak Puji ada di belakangnya.
Perempuan itu melambai- lambaikan tangannya pada Satrio yang terlihat linglung lalu bergegas membalikkan arah sepedanya menuju ke posisi mbak Puji yang sudah bersiap mau pulang.
"Kok aku bisa kelewatan ya?" gumam Satrio kebingungan sambil nyengir nggak jelas. Membuat mbak Puji khawatir.
"Ngelamun kamu tadi, Mas. Keliatan banget." kata mbak Puji sambil menatap Satrio khawatir.
"Masak sih aku ngelamun, Mbak?" sanggah Satrio salah tingkah.
"Jangan suka ngelamun magrib- magrib gini. Ntar kesambet." kata mbak Puji sambil kembali mengikuti Satrio masuk melewati pintu kecil di samping gerbang.
"Kok masuk lagi? Nggak jadi pulang?" tanya Satrio.
"Ya jadilah! Tapi kamu harus janji jangan ngelamun sendirian lagi ya, Mas." pinta mbak Puji sungguh- sungguh.
"Iyaaaaa. Lagian ya, Mbak, yang namanya ngelamun itu afdolnya pas sendirian. Kalau rame- rame namanya arisan." kata Satrio, membuat mbak Puji tertawa.
"Aku pulang dulu ya, Mas." pamit mbak Puji saat dia melihat suaminya sudah datang dan msnunggu di depan.
"Yoi. Mas, mampir dulu!" seru Satrio pada Mas Dayat, suami mbak Puji.
"Makasih, Mas. Anaknya nunggu ngajak jalan- jalan." jawab Mas Dayat sambil tersenyum ramah seperti biasanya tanpa turun dari motor.
"Nih, Mbak, buat jajan anakmu." kata Satrio mengulurkan selembar uang merah yang tadi di sakunya pada mbak Puji yang melintasinya.
"Ini sih buat jajan serumah juga masih ada kembaliannya, Mas." kata mbak Puji sambil tertawa girang.
"Kembaliannya besok balikin aku." kata Satrio datar yang dibalas kekehan mbak Puji karena tahu itu hanya bercanda.
"Makasih, Mas. Aku pulang dulu." kata mbak Puji setengah berlari keluar karena nggak mau suaminya terlalu lama menunggu.
Satrio masuk ke rumahnya dengan santai setelah menutup pintu depan.
Saatnya mandi lalu keluar nyari makan malam, mumpung nggak mager, begitu pikirnya.
Satrio menjalani life style nya anak kost, yang nyaris nggak pernah minta dimasakin oleh mbak Puji walau mbak Puji suka nawarin mau masakin Satrio.
Dia mencari makan diluar saja kalau ingin makan.
Tapi kadang mbak Puji baik hati.
Kadang pagi- pagi sebelum Satrio berangkat dia sudah datang dengan membawa bungkusan nasi kuning atau nasi uduk, kadang juga @sego wiwit yang bisa dia bawa untuk dia sarapan sesampai di kantor nanti.
Dering ponsel yang baru saja diletakkan sang empunya menarik lagi langkah kakinya mendekati benda pipih itu.
Dari Widuri.
Satrio mengerutkan keningnya.
Tumben bocah itu nelpon.
"Hallo...." sapa Satrio santai.
"Lagi di rumah nggak, Bang?" suara Widuri tanpa basa- basi.
"Ada. Kenapa?" tanya Satrio.
__ADS_1
"Aku ada di bengkel tambal ban sebelah gerbang kompleks mu. Motorku pecah ban. Bengkelnya mau tutup setelah ngerjain motorku." kata Widuri membuat Satrio agak nge blank.
"Tapi aku nggak bisa nungguin masnya nambal ban. Aku ada pertandingan lima belas menit lagi." kata Widuri lagi
"Trus?" tanya Satrio belum ngeh apa maksud Widuri nelpon dia. Cuma mau curhat? Kan bisa besok kalau cuma mau ngomongin ini.
"Terus kamu tolong kesini lah, Bang. Tungguin motorku terus nanti kamu titipin di pos satpam mu.. Nanti habis tanding aku ambil di pos satpam kompleks mu. Oke?" pinta Widuri.
"OK." jawab Satrio ringan.
"Buruan ya, Bang." pinta Widuri dengan suara panik.
"Iya! Langsung cus nih." jawab Satrio langsung menutup panggilan telpon dan bergegas menyambar kunci motornya untuk membawanya menemui Widuri dalam hitungan tak lebih dua menit.
"Alhamdulillah.....makasih ya, Bang." kata Widuri lega saat melihat Satrio sudah ada di depannya.
"Kamu mau tanding kemana?" tanya Satrio.
"UNY." jawab Widuri sambil menotak- atik ponselnya resah.
"Ngapain begitu?" tanya Satrio dengan wajah datar.
"Nyari ojol dari tadi nggak nyantol- nyantol. Aplikasinya error deh kayaknya." jawab Widuri gelisah.
"Penting banget ya pertandingannya?" tanya Satrio mulai iba melihat tingkah resah Widuri.
"Iya. Pertandingan persahabatan, Bang. Nggak enak kalau aku nggak bisa dateng. Tadi temenku yang satu lagi harus mendadak mudik karena istrinya mau lahiran." terang Widuri.
"Aku anter mau nggak?" tawar Satrio.
Widuri langsung mengangguk cepat.
"Makasih, Abangku yang kereeeen." kata Widuri sambil melompat cepat meraih helmnya.
"Mas, tolong motornya nanti di titipin di pos satpam kompleks ya. Tadi saya sudah bilang ke Pak satpamnya.." pinta Satrio sambil mengulurkan uang untuk membayar biaya ganti ban.
"Aku aja harusnya yang bayar, Bang. Kan itu motorku." kata Widuri setelah motor mulai melaju menuju gelanggang olahraga UNY.
"Kan bisa kamu ganti besok." jawab Satrio santai.
"Oke." jawab Widuri sambil tersenyum riang.
Tapi keriangan wajahnya langsung berubah saat motor Satrio berhenti di traffic light dan Widuri menoleh ke mobil yang berhenti di sampingnya kanannya yang membuka setengah jendelanya.
Dia lihat cowok idamannya sedang berbincang santai dengan seorang gadis yang sangat cantik dengan hijabnya.
Gadis itu nampak sedang bercerita dengan riang, yang hanya mendapat balasan anggukan dan sesekali senyum cowok itu.
Itu jelas bukan adiknya, karena Widuri tahu adik cowok itu.
Apakah itu kekasihmu?
Mood Widuri langsung hancur berantakan seketika itu juga.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Coba tebak siapa cowok first love nya Widuri....😁
Jangan lupa jempol dan komennya ya, buibu, dikadik,kakakak, dan semuanyah....💖💕
Happy reading.....💕💕💕
@sego wiwit adalah nasi yang biasanya di buat untuk acara sebelum petani melakukan petik/panen padi.
Budaya wiwit dilakukan oleh petani dan dilaksanakan di pinggir sawah yang akan di panen padinya.
__ADS_1
Satu 'porsi' Sego Wiwit asli ( maksudnya yang dibagi di sawah) terdiri dari nasi putih, sambel gepeng ( dibuat dari kedelai goreng dan kerupuk nasi yang ditumbuk halus diberi cabe), teri asin ( satu teri bisa di cuil kecil- kecil 😅), telur ayam ( satu butir bisa dibagi jadi delapan bahkan enam belas 😅), buah ( sebiji buah dipotong jadi beberapa iris biar rata) dan semuanya di pincuk/ bungkus dengan daun pisang.