KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Surprise....!!!


__ADS_3

Keluar dari kamar mandi seusai mandi sore,Satrio mendapati ponselnya bersenandung Your body ia a Wonderland milik John Mayer.


Widuri calling.


"Hallo Tom. Ada apa?" tanya Satrio dengan nada penasaran.


Sejak pulang dari Jakarta, ponsel cewek itu lebih sibuk terkoneksi dengan Wira dibanding dengan siapapun di daftar kontak Widuri.


Melihat gelagatnya sih kayaknya ada sesuatu diantara dua bocah itu.


Tanpa sadar Satrio tersenyum sendiri.


"Mas Wira ada nelpon atau ngubungin kamu nggak hari ini?" tanya Widuri dengan nada khawatir.


See...Nelpon dia pun cuma buat nanyain Wira.


"Nggak ada. Kenapa? Kangen dia nggak nyariin kamu seharian ini?" ledek Satrio sambil mencibir.


"Nggak!" sangkal Widuri dengan nada kesal.


"Trus ngapain nanyain Si Sableng itu kalau nggak kangen?" tanya Satrio kemudian.


"Ada yang mau aku tanyain, tapi dia nggak bisa dihubungin. Dari siang tadi ponselnya nggak aktif." jawab Widuri


"Palingan juga lagi enak- enakan sama cewek." dusta Satrio.


Tentu saja dia berdusta. Dia tahu dengan pasti adiknya itu cowok yang sangat sopan dan sangat menjaga ketimurannya.


Jadi soal nakal sama cewek dan nakal- nakal yang kelewatan,Wira nggak akan berani melakukannya.


Beda jauh dengan Satrio yang sangat kekinian dalam bergaul dimasa mudanya.


Sekarang sih sudah calm nyaris tobat, wkwkwk...


"Bohong! Mas Wira nggak kayak kamu." sergah Widuri dengan mantap.


"Sok tau lu!" sahut Satrio sambil terkikik tanpa suara.


"Taulah! Dari bau- baunya aja keliatan,mana yang cowok baik- baik, mana yang cowok celamitan." kata Widuri sambil tertawa.


"Heh, bocah! Lu ngatain gue celamitan?!" seru Satrio nggak terima.


"Enggaaaak! Emangnya aku nyebut nama?" sergah Widuri ngeles.


"Awas lu ya.Begitu lu minta restu gue buat pacaran sama Si Sableng, nggak bakalan keluar restu gue! Apaan...adik nggak ada sopan- sopannya sama Abang." omel Satrio nggak karuan.


"Heh, Paijan! Siapa juga yang butuh restumu?!" seru Widuri kesal.


"Lagian aku nggak pacaran sama Mas Wira. Aku masih setia sama akhi- akhi dalam hatiku. Klik!" telpon langsung diputus begitu saja oleh Widuri.


Satrio tertawa- tawa senang.


Nggak tahu kenapa, rasanya ada kepuasan tersendiri saat bisa membuat cewek- cewek kesal padanya.


Satrio kemudian meneruskan ritual selesai mandinya,yaitu berpakaian, bercermin sambil menyisir rambutnya, mengoleskan body lotion di tangan dan kakinya, dan terakhir memberi efek wangi di tubuhnya dengan sedikit parfum.


Saat baru saja tangannya hendak menggapai handle pintu kamarnya, bel rumah berbunyi sangat berisik.


"Kurang ajar! Siapa sih berisik banget mainan bel?!" omel Satrio setengah berlari menuruni tangga kemudian berlari melintasi ruang tengah, ruang tamu, halaman kecil, dan bergegas membuka gerbang.


Wajah kesalnya semakin kesal saat dilihatnya wajah Wira nyengir di depan mukanya.


"Lu ngapain kesini?" tanya Satrio kesal.


"Abang nggak ada akhlak lu. Adiknya datang bukannya di peluk, di ajak masuk, malah ditanyain mau ngapain. Lagian gue dateng ke rumah gue sendiri, for your information, man." jawab Wira dengan wajah kesal.


Satrio nyengir kuda.


"Bokap sama nyokap lu tuh!" tunjuk Wira ke belakang Satrio yang membelakangi sebuah taksi online.

__ADS_1


"Hah?!" Satrio langsung membalikkan badannya dengan kaget dan mendapati mama dan papanya sedikit bercakap dengan sopir taksi online.


"Lhoh, kok pada kesini nggak bilang- bilang dulu sih?" tanya Satrio bergegas mengambil bawaan di tangan papanya. Sepertinya oleh- oleh.


"Memangnya kenapa? Kamu nggak sedang nyimpen perempuan di rumah kan?" tanya Papanya sambil melenggang masuk.


"Ya nggak lah.Mana berani aku begitu. Pacarnya aja rumahnya cuma disitu." jawab Satrio sambil menunjuk dengan dagunya ke arah rumah Adis.


"Kamu habis mandi ya? Ganteng gini." tanya mamanya sambil memeluk lengan Satrio dan mengikuti langkah Pak Susilo memasuki rumah.


"Nggak mandi pun aku tetap ganteng." kata Satrio congkak.


Wira yang berjalan di belakangnya langsung mendaratkan telapak sepatunya ke pan tat Satrio mendengar kesombongan kakaknya itu.


"Aduh!" seru Satrio terdorong ke depan karena tendangan Wira barusan.


"Ini anak dua, baru berapa menit ketemu udah kayak gini!" seru Bu Katarina kesal.


"Biasa, kelakuan bujang lapuk emang selalu absurd kayak gitu, Ma." seloroh Pak Susilo yang berjalan di barisan paling depan.


"Dih! Bujang lapuk apaan?!" sergah Satrio dan Wira bersamaan. Nggak terima dengan sebutan yang disematkan oleh papa mereka barusan.


Bu Katarina bergegas menuju dapur untuk membuat minum setelah meletakkan tasnya di kamar tamu.


Pak Susilo duduk santai di temani Satrio di depan tv. Sedang Wira langsung mendekam di kamar mandi.


"Ada acara apa, Pa, kok serumah ke sini semua?" tanya Satrio tak bisa lagi menahan kekepoannya.


"Mau ketemu orangtuanya Widuri yang disini.Pengen silaturahmi aja. Sebenarnya pengen bareng sama Widuri pas balik kemarin, tapi Papa udah terlanjur ada janji meeting dan Wira juga kebetulan bisa ikut hari ini, jadi ya udah kita rame- rame kesininya. Paling besok sore juga kami balik." kata Pak Susilo santai.


Satrio mengangguk mengerti.


Sejak kepulangan Widuri dari ketemu mama kandungnya, Satrio belum bisa ngobrol berdua sama Widuri.


Kerjaan di kantor banyak dan sangat nggak memungkinkan mereka ngobrol di tengah jam kerja untuk membicarakan masalah pribadi Widuri itu.


Saat jam istirahat keduanya sudah sibuk dengan ponselnya masing- masing untuk ngobrol dengan pujaan hatinya.


"Sehat." jawab Satrio sambil mengambil satu kembang goyang kemudian mengunyahnya santai.


"Besok mama mau ajak Adis jalan ah." tiba- tiba Bu Katarina mengeluarkan idenya.


"Besok hari kerja. Adis kerja,Ma." sergah Pak Susilo datar.


"Oiya...Kenapa kita kesininya nggak pas weekend aja sih, Pa? Kalau workday gini aku gabut dong disini sendiri." keluh Bu Katarina dengan wajah sedih.


"Kalau disini yang kerja cuma Satrio sama Adis. Kita bertiga holiday disini, jadi kamu nggak gabut karena ada aku dan Wira." jelas Pak Susilo sambil menatap Bu Katarina dengan wajah prihatin.


"Oh iya juga ya...." kata Bu Katarina kemudian tertawa malu.


"Adis nggak tiap hari kok kerjanya.Nanti aku tanyain ke dia, besok bisa off nggak buat nemenin Mama jalan." kata Satrio menghibur mamanya.


Wajah Bu Katarina langsung sumringah mendengarnya.


"Iya!Tanyain ya, Mas. Mama pengen ngerasain jalan bareng sama calon mantu. Ngiri tahu liat temen- temen Mama suka cerita kalau habis jalan atau mau jalan sama menantu atau calon mantunya." kata Bu Katarina dengan wajah sedih.


Pak Susilo terkekeh geli.


"Jadi intinya,Sat...mamamu pengen jalan sama Adis itu bukan karena sayang sama Adis, tapi cuma biar bisa sama kayak temen- temennya." kata Pak Susilo sambil mengerling.


"Ya nggak gitu juga,Papa! Ih Papa mah sukanya under etimate sama Mama." sergah Bu Katarina kesal.


"Hape lu, lu jual ya?" tanya Satrio begitu Wira muncul dengan wajah fresh sehabis mandi dan duduk di samping papanya.


"Kenapa?" tanya Wira kemudian menyesap minumannya.


"Si Tomboy nyariin lu. Barusan nelpon gue, katanya seharian lu nggak ngehubungin dia. Kalian pacaran ya?" tembak Satrio sambil menatap Wira penasaran.


Pak Susilo menolehkan pandangannya menatap Wira yang senyum- senyum.

__ADS_1


"Kenapa senyum- senyum gitu lu? Kesambet?" tanya Satrio dengan wajah kesal.


"Kamu nembak Widuri?" tanya Pak Susilo menatap Wira dengan wajah penasaran.


"Belum, Pa. Baru PDKT lebih intens." jawab Wira sambil tersenyum malu.


"Lagak lu, PDKT lebih intens. Buruan di tembak kalau naksir.Keburu keduluan sama akhi- akhi yang disini ntar. Nangis lu yang ada." kata Satrio dengan wajah serius.


"Jodoh nggak akan ketukar. Santai saja, Mas brow." kata Wira sambil tersenyum.


"Jodoh emang nggak akan ketuker. Tapi jodoh lu bisa digasak orang duluan baru lu kemudian." kata Satrio sambil terkekeh meledek.


"Itu mah story' lu!" sergah Wira sambil terbahak.


Satrio hanya nyengir kuda.


"Kamu serius mau sama Adis, Sat?" tanya Pak Susilo kemudian sambil menatap Satrio serius.


"Serius lah,Pa. Nggak papa kan,Pa?" tanya Satrio yang langsung deg- degan parah mendengar tembakan pertanyaan mendadak dari papanya barusan.


"Ya nggak masalah sih buat Papa. Hidup- hidup kamu juga. Yang penting kamu bertanggung jawab dengan apapun yang kamu putuskan." jawab Pak Susilo masih dengan serius.


.


Satrio mengangguk mengerti.


Kembali Satrio bersyukur dalam hati karena terlahir dari orangtua hebat di hadapannya ini.


Mereka orang tua yang sangat asik dari dulu.


Tak pernah mendikte hidupnya harus begini atau begitu menuruti semua kemauan mereka.


Semua mereka serahkan kepada masing- masing dengan catatan harus mau bertanggung jawab dengan apapun yang telah mereka putuskan.


Papanya baru akan menyentilnya bila sudah dianggap kelewatan dan membahayakan diri dan keluarganya.


"Makasih Pa." jawab Satrio dengan rasa haru.


Pak Susilo hanya mengangguk- angguk saja bersama Bu Katarina yang tersenyum bahagia menatap Satrio.


Wira diam- diam ikut bangga dengan orangtuanya itu. Semakin kagum pada Papanya yang selama ini jadi role modelnya.


Keintiman percakapan sore itu terusik dengan bunyi bel dan teriakan suara anak kecil dari depan.


Samar- samar Satrio seperti mendengar namanya dipanggil.


Dengan langkah tergesa dia bergegas ke depan untuk melihat siapa tamunya senja ini.


Dan dia tersenyum lebar saat membuka pintu gerbang dan langsung mendapat pelukan di pinggangnya.


"Om Riooo!" seru Reta dengan riang.


"Dia nangis maksa banget harus ketemu kamu sekarang juga. Maaf." kata Adis dengan salah tingkah dengan tatapan penuh tanya dari Satrio.


"Masuk yuk!" ajak Satrio sambil menggendong Reta yang memeluk erat lehernya sambil menatap mamanya penuh kemenangan.


"Aku pulang aja,Mas. Nggak enak kalo cuma kita berdua." kata Adis belum beranjak dari tempat berdirinya di samping motor.


"Nanti Reta aku jemput lagi aja." kata Adis lagi.


"Masuk aja ....Di dalam...."


"Siapa Mas?" suara Bu Katarina memotong kalimat Satrio.


"Se...selamat sore, Tante...." Adis tergeragap begitu wajah Bu Katarina muncul dalam rumah dan menatap mereka bertiga.


"Wow....surprise!" gumam Satrio sambil tersenyum lebar.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


Wow....wow...wow.....😀😀😀


__ADS_2