KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Bertemu Pak CEO


__ADS_3

Satrio mengarahkan langkah tegapnya menuju bangunan joglo - dimana ruang CEO berada- dengan berbagai macam tatapan dari teman- temannya.


Sebagian besar menatapnya dengan tatapan ' turut prihatin'. Ada juga yang menatapnya dengan tatapan 'rasain lu. Lu sih belagu'.


Namun timnya tadi memberinya tepukan semangat dan solidaritas yang tulus.


Setelah memberi tahu Satrio kalau dia diminta menghadap Pak CEO yang sudah dua hari ini berkunjung ke kantor, Pak Cahyo bilang padanya kalau dia ada dibarisan terdepan pembela Satrio bila something wrong terjadi.


Widuri bahkan langsung berjanji akan ikut resign kalau Satrio sampai dikeluarkan.


"Aku kacaukan dulu semua data PPIC nya, baru aku keluar." bisik Widuri sambil berbisik dan terkekeh jahat pada Satrio yang langsung menjitaknya.


Ya, seperti sudah jadi pertanda buruk. Bila seorang staff dipanggil oleh CEO, kalau tidak akan naik posisi ya bakal di cut esok harinya.


Dan kalau melihat kinerja Satrio yang 'terlalu berani melawan arus' sepertinya Satrio akan terkena kemungkinan yang kedua karena bisa dianggap menyalahi sistem dan mengacaukan kenyamanan.


Joglo yang berhadapan dengan bangunan kantor tempat para staff bekerja yang dibatasi oleh halaman yang tertutup rumput gajah itu belum pernah Satrio masuki sebelumnya.


Bukan hanya Satrio. Staff yang bisa masuk kesana hanya kepala HRD dan orang- orang yang 'bermasalah' berat saja.


Jadi, untuk staff yang bekerjanya on track selama ini, belum pernah ada yang menginjakkan kaki ke ruangan Pak CEO itu.


Melewati pintu joglo yang penuh ukiran Jepara itu, pandangan Satrio langsung disambut oleh seperangkat meja kursi yang Satrio tahu juga produk perusahaan sendiri.


Nyaris semua perabotan di joglo ini adalah produk perusahaan sendiri.


Jadi Satrio melihat joglo ini seperti mini showroom saja.


"Sat, kemari." suara Bu Rista mengagetkan Satrio yang sedang celingukan mencari dimana gerangan ruangan Pak CEO berada.


Satrio segera menoleh ke arah samping, dimana Bu Rista muncul dari sebelah ruang tamu yang di sekat oleh slintru bermotif kontemporer lipat tiga.


"Ya, Bu." kata Satrio cepat lalu bergegas ke arah Bu Rista yang tersenyum menunggunya di depan sebuah pintu berukir tokoh wayang Werkudara.


Ya Satrio tahu itu Werkudara karena wayang kulit tokoh itu ada di dinding ruang kerja Papanya.


"Jangan tegang. Santai saja." bisik Bu Rista sambil menepuk bahunya sebelum beriringan memasuki ruangan yang cukup luas itu.


Ada seperangkat sofa kelas premium -yang juga produk perusahaan sendiri- ada di samping kanan pintu.


Sedang di sisi kiri pintu terdapat lemari setinggi dua setengah meter dengan lebar satu setengah meter, berisi buku- buku tebal di beberapa rak dan banyak file holder di rak lainnya.


Satrio mengikuti Bu Rista melangkah menuju sepasang kursi yang menghadap ke kursi kerja kelas premium produk perusahaan mereka sendiri.


Sebuah meja kerja berukuran 2 x 1,5 m dengan top setebal 5 cm nampak berwibawa dengan kayu yang disentuh dengan finishing warna salak brown.


Sang Pak CEO nggak keliatan di kursi mewah itu.


Baru saja menghela nafasnya untuk menenangkan diri, pintu di sudut ruangan terdengar terbuka dan muncullah Pak CEO yang selama ini cukup misterius di kalangan karyawan.


Seorang pria berwibawa, seumuran papa Satrio nampak melangkah cepat sambil sedikit tersenyum berjalan menuju satu- satunya meja kerja di ruangan itu.


"Sorry, ke toilet sebentar." kata pria itu dengan suara beratnya.


Satrio dan Bu Rista hanya mengangguk mengerti.


Dengan gerakan tangkas tangan Pak CEO membuka lembaran berkas di depannya.


Satrio melihat itu seperti sebuah CV. Mungkin miliknya dulu.


Setelah beberapa detik membaca dengan cepat, Pak CEO kini menatap Satrio.

__ADS_1


"O ya, kenalkan, saya Ardiansyah. Anak- anak biasanya manggil Saya Pak Ardi." kata Pak CEO itu sambil mengulurkan tangan pada Satrio.


Satrio bergegas berdiri untuk menerima uluran tangan dari boss besarnya itu.


"Saya Satrio, Pak. Dari divisi PPIC." kata Satrio mengenalkan diri.


Pak Ardi mengangguk sambil tersenyum.


"Senang kerja disini?" tanya Pak Ardi kemudian.


"Alhamdulillah senang, Pak." jawab Satrio sambil tersenyum.


"Kemarin Saya baru mempelajari laporan keuangan dan pemakaian bahan bantu beberapa bulan terakhir dan Saya menemukan kejanggalan di pembelian dan pemakaian bahan finishing." kata Pak Ardi langsung to the point.


HERE WE GO.....Kirain sudah nggak bakal ada masalah dengan caranya mengakali budget tanpa merubah BOM, ternyata ketahuan juga akhirnya.


"Sudah Saya tanyakan ke bagian keuangan dan purchasing dan juga bagian planning soal ini." kata Pak Ardi dengan tenang namun menatap tajam pada Satrio yang nampak tenang mendengarkan.


" Bagian planning mengaku tidak tahu kalau ada perubahan jenis item bahan. Bagian keuangan bilang tidak ada kebocoran dana, dengan kata lain, perubahan jenis item tidak merubah budget. Dari bagian purchase akhirnya kami tahu kalau perubahan itu atas rekomendasi PPIC." Satrio mengangguk tenang membenarkan kalimat itu.


Ada sedikit keheranan di tatapan Pak Ardi karena tak melihat kecemasan di wajah Satrio yang nyaris akan jadi 'tersangka'.


"Kemarin kepala PPIC sudah bilang siap bertanggungjawab bila perubahan itu merugikan perusahaan." kata Pak Ardi lagi.


Satrio kaget dalam hati.


Pak Cahyo bener- bener berjiwa leader, langsung pasang badan aja buat kelakuannya.


Jadi kemarin Pak Cahyo di panggil Bu Rista itu kemungkinan besar membahas masalah ini.


"Buat Saya bukan itu masalahnya. Kepala divisi bertanggungjawab atas anak buahnya itu memang sudah seharusnya. Tapi Saya juga nggak akan tega memberikan sanksi kepada pribadi yang tidak melakukan kesalahan sementara sang pembuat kesalahan malah aman- aman saja." kata Pak Ardi lagi.


Ya, dia juga nggak akan tega kalau sampai Pak Cahyo di pecat karena kesalahan yang seratus persen adalah ulahnya.


Pak Cahyo punya tanggungan anak istri. Dia pencari nafkah tunggal di keluarganya.


Keluarganya bergantung penuh pada gaji Pak Cahyo.


Satrio akan sangat merasa bersalah sekali bila sampai Pak Cahyo di pecat gara- gara dia.


"Pak Cahyo tidak mau bilang kalau yang melakukan perubahan item di budget itu adalah Anda, tapi Saya akhirnya bisa tahu kalau yang melakukan itu adalah Anda. Apakah Anda akan menyangkal?" tanya Pak Ardi sambil menatap Satrio tajam.


"Tidak, Pak.Saya tidak akan menyangkalnya. Semua perubahan di budget yang diajukan ke purchase memang Saya yang melakukannya. Tadinya Saya sendiri yang akan menandatangani perubahan itu sebagai satu- satunya pihak yang akan bertanggung jawab untuk hal itu. Tapi Pak Cahyo tidak mengijinkan Saya melakukan itu. Jadi, walaupun yang bertandatangan adalah Pak Cahyo,tapi Saya sendiri yang melakukannya, Pak." kata Satrio dengan wajah dan suara yang tenang.


Bu Rista cukup terkejut dengan performa Satrio ini.


Pak Ardi tak kalau keheranan juga dengan jawaban Satrio yang langsung mengakui 'kesalahannya' bahkan membela atasannya.


Dia pikir Satrio akan berbelit dan mencari kambing hitam agar ' selamat'.


"Kenapa Anda melakukan perubahan itu?" tanya Pak Ardi kemudian.


"Karena Saya menyayangi perusahaan ini. Saya menyayangi semua teman- teman Saya. Itu alasan utamanya." kata Satrio mantap.


"Maksudnya?" tanya Pak Ardi tidak mengerti maksud jawaban Satrio.


"Saya menyeyangi perusahaan ini sebagai tempat Saya mencari nafkah dan belajar banyak hal. Saya melihat beberapa kebocoran dan ketidaksinkronan di pemakaian beberapa bahan bantu. Kalau itu di biarkan berlarut- larut,akan ada penumpukan bahan bantu yang tidak berguna, yang akhirnya akan jadi stock mati. Mubadzir. Sayang budgetnya." kata Satrio mulai menjwlaskan.


"Sedang disisi lain kita harus selalu membeli tambahan bahan lain karena selalu kurang dari budget yang ada MRP karena ada kesalahan di di BOM ( Bugdet Of Material) yang sayangnya sangat sulit di ganti." kata Satrio lagi.


Kali ini Pak Ardi mulai mengangguk- angguk.

__ADS_1


"Padahal kalau kita ubah BOM nya, akan bisa sangat meminimalisir stock mati yang artinya akan lebih memaksimalkan bahan bantu yang tepat guna, yang jangka panjangnya akan berpengaruh kepada keuangan. Sayang sekali melihat stock mati yang kalau saja bisa diuangkan kembali, itu bisa untuk menyenangkan hati karyawan produksi." kata Satrio dengan wajah prihatin.


Pak Ardi nampak sedikit terkejut dengan penuturan Satrio.


"Memangnya banyak yang jadi stock mati,sampai bisa untuk menyenangkan karyawan?" tanya Pak Ardi penasaran.


Satrio tersenyum kecil.


"Satu pail ( ember isi 20 liter) bahan finishing saja sudah bisa buat beli gorengan untuk satu pabrik, Pak. Dan itu sudah bisa bikin senang orang produksi. Dan efek dari rasa senang itu adalah kinerja yang semakin maksimal. Perusahaan juga yang untung nantinya." kata Satrio sambil tersenyum.


Satrio jelas bisa melihat wajah kaget sekaligus keheranan di raut wajah Pak Ardi.


"Bayangkan kalau ternyata kita punya stock mati empat puluh sekian pail. Berapa uang perusahaan yang mubadzir?" sambung Satrio kemudian.


Semakin membuat wajah Pak Ardi tercenung.


"Dan itu baru satu item bahan. Padahal nyatanya ada beberapa item yang stocknya selalu melimpah ruah dan akhirnya nantinya hanya akan jadi stock mati. Yang akhirnya hanya akan masuk ke pembuangan sampah." sambung Satrio lagi.


Pak Ardi menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Dan semua itu bermuara pada susahnya merubah BOM?" tanya Pak Ardi sambil menatap lekat Satrio.


"Ya." jawab Satrio tegas.


"Kenapa susah mengubah BOM itu?" tanya Pak Ardi nampak mulai terbakar.


"Karena harus melalui persetujuan Anda, Pak." kata Satrio telak.


"Lalu apa susahnya meminta persetujuan Saya?" tanya Pak Ardi dengan suara yang sudah mulai agak meninggi.


Tatapannya sudah mengarah kepada Bu Rista yang menunduk bingung.


"Kalian ini....Bekerja bertahun- tahun ternyata nggak becus juga ngurusin hal beginian." omel Pak Ardi kemudian.


"Kami menghindari kalimat yang barusan Bapak ucapkan kalau kami mengajukan perubahan BOM, Pak." kata Satrio menohok.


Pak Ardi terlonjak di buatnya.


"Nggak mau di sebut nggak becus?" tanya Pak Ardi menegaskan.


"Kurang lebih seperti itu. Untuk seorang bawahan, kalimat seperti itu bisa membuat insecure, Pak. Merasa perjuangan kami tidak dihargai." kata Satrio lugas dengan wajah tanpa dosa.


"Astagaaaa!!!! Pikiran kalian itu gimana sih?!" omel Pak Ardi sambil menepuk mejanya geram.


Lama mereka bertiga membisu di ruangan itu. Bergelut dengan pikiran dan praduga masing- masing.


"Ya udah. Nanti jam dua kita meeting besar semua staff. Anda boleh kembali bekerja sekarang." kata Pak Ardi kemudian sambil menatap Satrio.


"Ya, Pak. Saya kembali bekerja. Mari Bu Rista." kata Satrio sambil beranjak berdiri sambil berpamitan pada Bu Rista yang masih berwajah tegang.


"Ya, Sat." jawab Bu Rista pelan.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Ganti suasana dulu ya....Biar nggak melulu ngurusin cinta 😀


Hidup isinya bukan cinta doang....ada kerja juga yang kadang bikin pusing kepala juga 😅


Happy reading gaeeesss....💖💕


Makasih buat kembang, kupi, like, dan vote nya.....🙏😍😘

__ADS_1


__ADS_2