KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Membuka


__ADS_3

Didit mengetuk pintu kamar Adis dengan pelan sambil memanggil nama adiknya itu.


Sengaja dia bersuara agar Adis tahu yang datang adalah dia, kakaknya, bukan Satrio yang tengah ditakuti Adis.


Adis yang duduk memeluk lututnya di balik pintu bergegas berdiri dan membuka pintu dengan cepat.


Dia langsung menghambur ke pelukan kakaknya itu lalu menumpahkan tangisnya dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.


Pilu hati Didit mendapati keadaan Adis yang seperti ini.


Sangat jelas terasa olehnya bagaimana Adis sangat ketakutan saat ini.


Dielusnya lembut kepala adiknya itu tanpa bersuara.


"Kamu takut?" tanya Mas Didit dengan suara lembut. Setengah mati dia menahan airmatanya yang nyaris menetes.


Adis mengangguk pelan.


"Satrio nggak tahu kalau cara dia menunjukkan gemasnya itu bikin kamu takut. Maafin dia ya..." bisik Mas Didit lembut.


Adis mengangguk lagi.


"Aku cuma belum bisa sepenuhnya lepas dari traumaku. Aku juga nyesel tadi nyuruh dia pergi.Tapi aku tadi takut banget." kata Adis penuh sesal.


Didit menepuk- nepuk lembut punggung Adis.


"Nggak papa. Dia ngerti kok. Dia juga nyesel karena bikin kamu nggak nyaman tadi." hibur Mas Didit.


"Dia nggak marah?" tanya Adis sambil mendongak menatap wajah kakaknya.


"Enggaklah. Dia malah sedih karena bikin kamu takut tadi. Makanya Mas yang kesini buat ngeliat kamu. Mau cerita nggak kenapa kamu takut di peluk?" tanya Didit lagi dengan lembut.


"Aku...aku nggak takut di peluk kok." kata Adis sambil melepaskan diri dari pelukan kakaknya.


"Aku nggak papa barusan Mas peluk. Malah merasa tenang dan aman." lanjut Adis sambil tersenyum.


Keduanya kini duduk bersila berhadapan di depan pintu kamar.


Didit sabar menunggu Adis untuk kembali melanjutkan ceritanya.


"Jadi harusnya kamu suka juga dong kalau di peluk Satrio?" tanya Mas Didit setelah tak juga Adis melanjutkan obrolannya.


Adis mengangguk malu.


"Tapi aku takut..." kata Adis kemudian.


"Takut kenapa?" tanya Didit sangat lembut agar Adis tak mendengar sedikitpun nada intimidasi dan menuntut dalam pertanyaannya.


Adis terdiam sesaat.


"Takut..takut...di...lempar ke dinding...sakit, Mas...." jawab Adis kemudian menangis sambil menyembunyikan wajahnya di atas lutut yang dipeluknya.


Jantung Didit rasanya copot saat itu juga.


Dilempar ke dinding Adis bilang?!


BA JI NGAN. !!!


"Terus kamu takut apalagi?" tanya Didit setelah dilihatnya Adis mulai tenang dengan tangisnya.

__ADS_1


"Takut di dorong...Di tarik ..Di tendang... Dicekik..." kata Adis sambil tangannya mencekik lehernya sendiri.


Didit bergegas meraih tangan Adis dan menggenggamnya. Dirasakannya tubuh Adis kembali gemetar.


"Mau di peluk Mas lagi?" tawar Didit kemudian dengan lembut sambil merentangkan tangannya.


Adis mengangguk sambil beringsut ke pelukan kakaknya.


Tangis Adis kembali pecah.


Didit menepuk- nepuk lembut lengan Adis.


Kepalanya mendongak menahan laju airmata penyesalannya.


Tak terbayangkan bagaimana perasaan takut yang harus Adis tahan saat harus sendirian menghadapi kebrutalan Panji selama hampir dua tahun.


Adikku yang malang...Maafkan Mas ya....Maafkan Mas....


"Nggak mungkin Satrio akan seperti itu sama kamu. Dia kan cinta sama kamu. Orang yang cinta dan sayang itu nggak mungkin tega nyakitin orang yang disayanginya." kata Mas Didit lembut sambil membelai kepala Adis.


Dadanya sesak tak terkira. Sakit hatinya pada Panji seakan semakin menggunung tinggi.


Adis mengangguk pelan sambil menyusut airmatanya.


"Tapi aku takut dia begitu." kata Adis lagi.


"Nggak bakalan, Sayang. Sekali saja dia sampai begitu,dia akan habis di tangan Mas. Mas janji sama kamu." kata Didit meyakinkan.


Adis hanya menunduk diam.


Didit menatap iba pada adik semata wayangnya itu.


Dia menyimpan sendiri ketakutan dan sakitnya karena keluarga yang harusnya jadi pelindung utamanya tak percaya pada keluhannya waktu itu.


Ya Allah...ampunilah kami semua...


"Selama kamu dekat sama Satrio apa pernah dia memaksa menyentuhmu? Maksud Mas memeluk atau mencuri menciummu mungkin?" tanya Mas Didit pelan- pelan dan dengan nada santai dengan harapan Adis tidak tersinggung atau malu dengan pertanyaannya.


Dia tahu apa yang ditanyakan pada Adis adalah masalah privacy bagi kedua sejoli itu, tapi dia memlih gambling dengan menanyakan itu dengan harapan mendapat satu jawaban yang dia harapkan nantinya bisa untuk menguatkan rasa percaya Adis pada Satrio yang kini telah memiliki hak penuh atas dirinya.


"Nggak pernah sama sekali. Dia cuma gandeng tangan aja, itupun ijin dulu." jawab Adis yakin.


Didit tersenyum lega.


"Itu artinya dia sayang sama kamu. Dia menghargai kamu. Dan dia ingin menjaga kamu. Seperti itulah yang dilakukan oleh orang yang mencintai. Dia nggak ingin membuat kamu nggak nyaman apalagi sampai takut. Karena dia cinta sama kamu. Karena dia ingin kamu merasa aman saat sama dia." kata Mas Didit lembut.


Kalimat demi kalimat itu pelan- pelan masuk ke dalam hati dan pikiran Adis.


Dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan kakaknya itu.


Ya,Satrio selalu berusaha membuatnya nyaman dan merasa aman di samping pria itu.


"Apakah dia sayang sama Reta?" tanya Mas Didit kembali.


Adis mengangguk mantap.


"Bahkan tempo hari dia keburu pengen dipanggil Ayah sama Reta. Jadi Reta manggilnya Om ayah sama dia." jawab Adis sambil tersenyum samar.


Dia juga ingat Satrio selalu melibatkan Reta dalam setiap pembicaraan mereka.

__ADS_1


Adis bisa merasakan tulusnya lelaki itu menyayangi Reta dan selalu menganggap Reta ada. Nggak seperti Panji dulu.


"Itu artinya dia menerima kamu apa adanya tanpa syarat. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang mencintai dengan tulus. Dan kamu sudah mendapatkan itu dari Satrio.Suamimu." kata Mas Didit lagi.


"Mas percaya penuh sama dia karena Mas yakin dia cinta sama kamu. Dia bisa menggantikan Papa dan Mas untuk melindungi kamu dan Reta. Dia bisa dipercaya." kata Mas Didit mulai mencoba meyakinkan Adis.


"Jangan sembunyikan ketakutanmu atas apapun itu dari suamimu. Dia yang akan menjagamu. Dia yang akan berusaha menyingkirkan semua rasa takutmu itu. Tugas kamu hanya percaya padanya. Percaya kalau dia akan menjagamu sepenuh jiwa raganya. Dia tak akan pernah dengan sengaja membuatmu takut akan hal apapun juga. Kamu mau berusaha percaya sama dia?" tanya Mas Didit lembut.


Adis menunduk diam.


"Tapi tadi dia bikin aku sesak nafas seperti kayak Panji." kata Adis pelan.


"Itu tadi Satrio nggak tahu kalau kamu takut dipeluk erat. Dia tadi menyesal sekali saat lihat kamu ketakutan." kata Mas Didit.


Adis terdiam.


Dia ingat Satrio tadi kelihatan sangat cemas dan bingung saat melihatnya ketakutan.


Beda dengan Panji yang selalu melihatnya dengan tatapan puas dan merendahkan tiap kali dia terlihat sedikit saja ketakutan.


"Makanya kalian harus ngobrol setelah ini. Kamu ngomong jujur sama dia soal semua ketakutan kamu. Biar dia bisa menjagamu. Agar kamu selalu merasa aman dan nyaman bersamanya. Gimana?" tawar Mas Didit.


Adis menunduk diam.


Dia ragu dan malu. Dan juga takut akan membuat Satrio merasa terbebani karena harus selalu menjaga semua sikapnya agar selalu membuatnya tenang.


Kasihan sekali Satrio.


"Kasihan dia, Mas kalau harus terus berkorban perasaan karena harus menjagaku. Kasihan dia nggak bisa jadi dirinya sendiri nanti karena takut membuatku nggak nyaman." kata Adis kemudian dengan nada sedih.


"Suami istri itu tidak boleh ada yang merasa berkorban atau dikorbankan dalam usaha menjaga kelangsungan rumah tangganya. Yang ada adalah usaha saling menyesuaikan. Dan saling menyesuaikan itu butuh jiwa besar dan keikhlasan dari keduanya. Bila kedua hal itu sudah ada, maka nggak ada lagi tuh yang namanya merasa berkorban atau merasa dikorbankan. Yang ada sama- sama saling menyesuaikan. Saling ngemong, Dis." kata Mas Didit sambil tersenyum.


"Aku sakit jiwa ya,Mas?" tanya Adis sambil berkaca- kaca.


Didit merangkul bahu Adis dengan lembut.


"Enggak, Dis. Kamu hanya takut saja. Tapi mulai sekarang kamu nggak perlu takut lagi. Kamu ada Satrio yang akan selalu jagain kamu dan juga Reta,, ada Mas, ada dua papa,ada Wira juga yang akan selalu ikut jagain kamu. Kamu nggak akan sendirian lagi sekarang." kata Mas Didit meyakinkan.


Adis tiba- tiba merasa sangat aman mendengar itu. Ia merasa begitu banyak orang yang akan selalu menjaganya. Selalu ada untuk dia.


"Aku mau ketemu Mas Satrio." kata Adis kemudian dengan terisak.


"Pengen peluk dia?" goda Mas Didit sambil tersenyum lega.


"Tapi nggak mau dipeluk kenceng. Aku masih takut." kata Adis sambil mengusap air matanya.


"Ya udah nanti Mas bilang ke dia, biar kamu yang peluk dia aja. Dia nggak boleh peluk kamu kalau kamu belum ijinin. Gimana?" tanya Mas Didit sambil tersenyum senang.


Adis mengangguk malu.


"Ya udah. Mas panggilin suamimu kesini ya?" tawar Didit.


"Jangan disini. Di taman belakang aja." kata Adis sambil tersenyum malu melirik Reta yang tertidur lelap.


"Baiklah...baiklah....I know..." kata Mas Didit sambil terkekeh kemudian meninggalkan Adis setelah yakin Adis sudah kembali tenang dan seperti biasanya.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Dah, kuhabiskan sekalian airmataku menulis hari ini...😅🙈

__ADS_1


Besok tinggal uwu- uwuannya....😂😂😂


__ADS_2