KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Aksi Wira


__ADS_3

Satrio celingukan mencari keberadaan Wira yang sudah sedari tadi menghilang dari kamar.


Wira bahkan sudah mandi jam lima pagi tadi.


Nggak mungkin anak itu pergi jogging kalau sudah mandi.


"Wira kemana, Ma?" tanya Satrio saat menikmati sarapannya.


Papanya sudah asik dengan secangkir teh dan gethuk yang tadi dibawa oleh Mbak Puji.


"Udah pergi dari tadi. Mau ke rumahnya Widuri katanya." jawab Bu Katarina santai.


Satrio langsung tersedak nasi yang baru setengah jalan dia kunyah.


"Ngapain dia kesana sepagi ini?!" seru Satrio.


Pak Susilo yang duduk di depan Satrio menatap Satrio keheranan.


"Memangnya ada yang salah?" tanya Bu Katarina sambil beranjak duduk.


Satrio tersenyum salah tingkah.


"Ya nggak ada yang salah sih. Aneh aja ujug- ujug dia ke rumah Widuri. Memangnya dia tahu dimana rumah Widuri?" tanya Satrio kemudian.


"Kan ada yang namanya google map. Itu bisa nuntun kita ke alamat yang kita cari. Di HP mu nggak ada ya?" ledek Pak Susilo sambil melirik menghina.


Satrio mendengus kesal.


"Widuri udah punya pacar belum sih,Mas?" tanya Bu Katarina kemudian.


"Belum. Tapi udah ada yang dia suka." jawab Satrio di sela kunyahannya.


"Anak mana? Temen kerja juga?" tanya Bu Katarina sudah mulai dengan mode keponya.


"Bukan. Tetangganya. Temen sekolahnya dulu." jawab Satrio kemudian.


Bu Katarina mengangguk- angguk mengerti.


"Tapi belum pacaran kan?" tanya Bu Katarina lagi.


"Kayaknya sih belum. Aku nggak tahu pastinya." jawab Satrio ragu.


"Wira kayaknya suka sama Widuri." kata Bu Katarina kemudian.


"Itu sih keliatan banget. Dari awal dia liat photonya Widuri, dia langsung kepoin terus." kata Satrio nggak kaget.


"Kita jodohin aja gimana, Pa?" usul Bu Katarina pada Pak Susilo yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Satrio dan mamanya.


"Nggak dijodohin aja anakmu udah gerak kok. Udah biarin aja natural gitu. Apalagi katanya Widuri ada yang di suka. Biar jadi perjuangannya Wira aja.Biar ada greget hidupnya." kata Pak Susilo tenang.


"Kita nggak bantuin, Pa?" tanya Bu Katarina nampak kecewa.


"Nggak usah lah. Anakmu itu udah dewasa. Biar dia menjalani dan menikmati manis pahitnya hidup dengan tenaga dan nalarnya sendiri. Kita ini cuma boleh jadi penonton dan pengingat saja. Kita tolong kalau dia memang butuh di tolong. Masalah hati, nggak perlu lah kita ikut campur." kata Pak Susilo yang mendapat acungan dua jempol dari Satrio.


"Oleh- oleh buat temen- temenmu nanti jangan lupa dibawa, Mas." kata Bu Katarina saat Satrio berdiri untuk meletakkan piring kotornya ke bak cucian piring.


"Iya." jawab Satrio sebelum menghabiskan segelas air putihnya.


Satrio berangkat ke kantor dengan tas punggung yang penuh oleh bawaan buah tangan mamanya untuk teman- temannya plus jajan pasar yang tadi terlalu banyak di beli.


Daripada nggak habis di makan orang rumah, Bu Katarina membungkusnya sekalian agar dibawa Satrio.

__ADS_1


"Pindah makan ini sih." kekeh Satrio saat melihat tasnya nyaris nggak muat.


Satrio berangkat bekerja dengan riang setelah mencium tangan kedua orangtuanya.


Dia nggak tahu, sepeninggalnya mamanya menangis terharu di meja makan.


"Rasanya begini ya, Pa kalau dipamitin anak berangkat kerja?" kata Bu Katarina sambil menyusut airmatanya.


Pak Susilo hanya tersenyum.


"Wira juga tiap hari kerja. Pamit juga." kata Pak Susilo kemudian.


"Iya sih. Tapi Wira kerjanya kan kayak santai. Perginya kayak mau main aja. Si Mas berangkat kerja rapi gitu walau nggak pakai jas kayak Papa sih. Rasanya tetap beda." kata Bu Katarina.


"Ya beda lah rasanya. Mungkin tanpa sadar selama ini kita terlalu under istimate sama Satrio. Nggak pernah berpikir dia mau bekerja. Beda sama Wira yang selalu punya greget untuk bekerja. Tapi Alhamdulillah dia berubah gara- gara kita hukum kesini." kata Pak Susilo sambil tersenyum lega.


"Iya juga sih, Pa. Alhamdulillah...Gara- gara mau jajanin apartemen 2 M pacarnya dulu ya...." kekeh Bu Katarina kemudian.


"Iya. Itu si Dea apa kabar ya? Dapat cowok kaya mana lagi dia sekarang?" tiba- tiba Pak Susilo malah mengajak ghibah istrinya.


"Coba aku stalking medsosnya." kata Bu Katarina penuh semangat.


"Kamu tahu medsosnya?!" tanya Pak Susilo keheranan.


"Ya Taulah! Kan dulu suka di mention sama si Mas." jawab Bu Katarina sudah mulai serius menatap layar ponselnya.


Dan jadilah pagi itu pasangan Buwono asik menjadi stalker mantan pacar sang putra mahkota.


Wakakakak....


🧚🧚🧚🧚🧚


Kelakuan si Sableng. Ngapain dia sepagi ini sampai sini? Nganterin Widuri kerja?


Satrio sengaja berhenti di depan mobil yang berhenti di samping gerbang.


Beberapa kali Satrio menjawab sapaan beberapa karyawan pabrik yang akan masuk.


Dihampirinya mobil Wira dimana adiknya itu sudah cengar- cengir bersama Widuri yang nampak berusaha menyembunyikan wajah malu- malunya.


"Kelakuan lu!" semprot Satrio kesal pada Wira yang masih saja tersenyum- senyum mengesalkan.


"Emang gue ngapain?" tanya Wira dengan wajah tak berdosa.


"Kalau tahu lu mau kesini, gue kan bisa numpang,Bambiaaangg! Nih bawaan gue segini banyaknya!" omel Satrio sambil menunjukkan punggungnya yang menggendong tas ransel penuh.


"Lhah tadi nggak ngomong kalau mau bareng." sanggah Wira.


"Ngomong pale lu! Gue mandi lu nya udah pergi. Sengaja lu ya?! Mau dua- duaan sama nih bocah tomboy?" kata Satrio kesal sambil menunjuk Widuri yang sudah cengar-cengir berdiri di sebelahnya.


"Yeee...suka- suka gue dong!" sahut Wira sambil menatap Widuri.


Dari tatapan sepersekian detik Wira ke arah Widuri saja Satrio sudah yakin adiknya itu jatuh cinta beneran pada Widuri.


Kalau Lukas tahu gimana ya reaksinya?


"Udah...udah! Pagi- pagi ribut nggak jelas. Lagian ngapain sih Bang kamu ngamuk- ngamuk gini sama Mas Wira? Cuma jemput aku doang sambil jalan- jalan pagi katanya." lerai Widuri.


"Jalan- jalan pagi apaan?! Ngapain juga jalan- jalan paginya harus jauh banget sampai ke rumah lu? Modus iya! Awas lu kalau bikin adik gue patah hati!" kini omelan Satrio beralih kepada Widuri.


"Hadyeeeeh!!! Kamu tadi di kasih sarapan petasan cabe ya sama Mama? Semua- semua diomelin! Nyebelin!" kata Widuri kemudian bergegas balik kanan meninggalkan Satrio yang berkacak pinggang.

__ADS_1


"See you, Dek!" seru Wira sambil melambaikan tangan pada Widuri yang kembali menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya untuk membalas lambaian tangan Wira.


"Jijik gue liat tingkah lu!" kata Satrio sambil terkekeh geli melihat kedua adiknya itu saling melambaikan tangan.


"Ngiri bilang Boss!" kata Wira meledek.


"Idih! Ngiri apanya? Gue udah jelas dua langkah lebih maju dari lu." ejek Satrio balik.


"Ya wajar lu duluan. Lu Abang gue." bela diri Wira.


"Serius lu naksir Widuri?" tanya Satrio kini sudah berwajah serius.


Wira tersenyum- senyum sendiri.


"Sepertinya iya. Anaknya asik banget. Nggak rese', nggak jaim, mandiri, manis pula." puji Wira tanpa meninggalkan senyumnya.


"Saingan lu akhi- akhi." kekeh Satrio membuat Wira kaget.


"Dia udah punya pacar? Kerja disini juga ya?" tanya Wira serius.


"Nggak. Cinta pertamanya belum kesampaian dari jaman dia SMP dulu. Pastikan cintanya itu dulu, udah kelar belum. Baru lu bisa maju dengan tenang." kata Satrio sambil menepuk bahu Wira memberi semangat.


Wira mengangguk- angguk mengerti.


"Dah, pulang sono! Gue mau kerja." kata Satrio kemudian bergegas menuju motornya.


Sepuluh menit lagi jam kerja akan mulai.


"Sombongnya yang mau kerja." gumam Wira sebelum kembali melajukan mobilnya untuk pulang.


"Widuri tadi dianter siapa, Sat?" tanya Lukas yang sengaja menunggunya di parkiran karena penasaran dengan pemandangan yang dia lihat tadi di dekat gerbang.


"Cowok." jawab Satrio sekenanya.


"Iya tahu kalau cowok. Kamu kenal kan sama cowok itu?" tanya Lukas masih berusaha kepo sambil menjajari langkah lebar Satrio.


"Ya kenal. Adik gue tadi." jawab Satrio dengan nada di santai- santaikan.


Satrio tahu, sedikit banyak pasti Lukas sedih.


"Mobilnya bagus." kata Lukas setelah mengangguk tadi.


"Mobil punya bapaknya." sahut Satrio sambil terkekeh.


"Ya bapakmu juga dong." kata Lukas ikut terkekeh.


"Aku seneng kalau Widuri dapat cowok yang lebih baik dan lebih mapan dari aku." kata Lukas setelah menghela napasnya berkali- kali.


"Move on, Bro....Move on..." kata Satrio sambil tersenyum.


Hatinya ikut sedih melihat Lukas yang dia tahu pura- pura rela seperti ini.


"Pasti aku bisa move on..." kata Lukas sambil menggelegas.


"Yang rajin lu ke gereja. Siapa tahu ketemu jodoh." kata Satrio kemudian.


"Iya. Semoga aku ketemu jodoh di gereja, biar nggak salah jatuh cinta lagi." kata Lukas sungguh- sungguh.


"Gue doain, Bro. Segera ketemu sama tulang rusuk lu." kata Satrio sambil meninju pelan lengan Lukas yang mengaminkan ucapan Satrio.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2