KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Mau


__ADS_3

Satrio ragu saat sudah akan mencapai musho la yang ada di taman samping rumahnya.


Bangunan yang dibuat lebih tinggi tiga anak tangga dari sekitarnya itu berbentuk seperti sebuah saung.


Suasananya cukup menenangkan karena berada di pojok samping depan rumah dengan gemericik air yang terus mengalir kecil lewat bilah bambu yang bisa digunakan sebagai tempat berwudhu juga.


Seumur hidup dia belum pernah sholat tahajud.


Gimana caranya sholat tahajud aja gue kagak ngerti, sok- sokan mau sholat tahajud.


"Eh, Mas. Mau tahajud?" tanya Pak Arif, sopir pribadi Papanya yang baru turun dari mushola.


"I..iya, Pak." jawab Satrio gugup.


"Ya udah,monggo. Saya balik ke kamar dulu." kata Pak Arif sebelum berlalu.


Satrio celingak- celinguk sendirian sepeninggal Pak Arif.


Setelah memutuskan tetap mengambil air wudhu, Satrio dengan harapan besar menuju rak buku di sudut mushola.


Dia berharap menemukan buku tuntunan sholat sunah.


Beberapa saat mencari- cari nggak juga nemu apa yang dia mau, dengan asal dia mengambil satu buku berjudul Surat Yasin namun lumayan tebal.


Iseng dia buka di halaman tengah dan menemukan tuntunan sholat sunah.


Wajahnya senang bukan main menemukan itu.


Dengan cepat dia membaca rukun sholat tahajud nya. Lalu membaca rukun sholat witir nya.


Berhubung doa seusai sholat tahajud lumayan panjang menurutnya, Satrio memutuskan membawa buku itu ke tempat dia sholat.


Kali ini dan beberapa hari ke depan saja ya Allah, aku berdoa sambil baca...Mohon dimaklumi hamba- Mu yang bodoh ini.


Sekhusyu' mungkin Satrio melakukan sholat tahajud pertamanya itu.


Dia tidak ingin minta apapun kali ini, karena dia malu pada Tuhannya.


Dia hanya ingin berterimakasih karena bisa bersama dengan anaknya, dan dia berjanji akan merawat dan mendidik Bian sebaik mungkin.


Terimakasih Engkau tempatkan hamba dalam keluarga ini. Memiliki orangtua dan saudara yang tak pernah menghakimi dan selalu mendukung hamba dalam niat hamba memperbaiki hidup hamba.


Terimakasih hamba dipertemukan dengan orang- orang baik yang menjadi guru dalam perjalanan hidup hamba.


Engkau Maha Tahu ya Rabb...Aku malu mengungkapkan keinginanku atas hidupku sekarang ini.


Bila apa yang di dalam hati hamba adalah hal yang akan membawa kebaikan bagi hidup hamba dan semuanya, tolong dengarkanlah suara hati hamba. Tolong kabulkanlah.


Satrio mengusap wajahnya kemudian tertunduk pasrah.


Hatinya tenang. Tak ada lagi kecemasan dan keresahan.


Yang dia tahu, mulai hari ini hidupnya adalah untuk menebus dan memperbaiki semua hal buruk yang dilakukannya di masa lalu.


Tolong mampukan hamba. Tolong kuatkan hamba.


🧚🧚🧚🧚🧚


Satrio mengerjapkan matanya yang terasa pedas saat tubuhnya di goyang- goyang cukup keras.


"Ngapain lu tidur disini?" tanya Wira penasaran.


"Nggak papa." jawab Satrio cuek.


"Buruan subuh lu." kata Wira sebelum berlalu.


"Lu udah sholat?" tanya Satrio setengah berseru karena Wira sudah menyeberangi taman di samping mushola.


"Udah semua. Tinggal lu doang yang belum." jawab Wira terdengar samar- samar.


"Aelah, kenapa pada sholat dari tadi pada nggak ngebangunin gue sih?" omel Satrio sambil beranjak menuju tempat wudhu berbentuk pancuran dari bambu yang ada di samping mushola.

__ADS_1


Selesai mengerjakan sholat subuh sendirian, Satrio bergegas masuk ke dalam rumah.


Dia ingin melihat tampilan Bian kalau habis bangun tidur.


Pasti lucu- lucu asem anak itu.


Memasuki ruang tengah ternyata bayi itu sudah jadi mainannya Wira dan Mas Didit di atas permadani empuk yang terhampar di lantai granite.


Sementara papanya nampak sedang memperbaiki sebuah mainan bayi.


"Tuh bapakmu tu..." kata Wira pada Bian yang sedang tengkurap sambil menunjuk Satrio.


"Weeiiih udah bangun anak Ayah nih...Nggak nakal kan sama Mama?" tanya Satrio yang langsung tengkurap di depan Bian yang sedang menatapnya sambil memainkan ludah di bibir mungilnya hingga ada yang mampir di wajah Satrio yang hanya berjarak setengah jengkal dari wajah Bian.


Wira mencibir geli dengan kalimat Satrio barusan.


"Luwes amat mulut lu bilang ayah sama mama." ledek yang mendapat senyuman Mas Didit namun dicuekin oleh Satrio.


"Aduuuh, pagi- pagi udah disembur aja wajahku." kata Satrio sambil meringis.


"Ma...ma...ma..." celoteh Bian sambil menepuk- nepukkan tangannya di permadani.


"Mama lagi kemana sih? Kok nggak keliatan?" tanya Satrio sambil tetap menatap Bian.


"Sekarang maknanya udah ambigu kalau bocah tua nakal ini nyebut kata mama, Wir." seloroh Pak Susilo sambil menendang pelan betis Satrio yang berada di dekat kakinya.


"Iya." kata Wira sambil tergelak di sertai senyum meledek dari Mas Didit.


Satrio pura- pura buta dan tuli saja dengan yang terjadi barusan.


Bian tiba- tiba merengek. walau sambil mbalikkan badnnya sendiri hingga kini telentang.


Jempolnya langsung masuk ke mulutnya dan menyedotnya dengan kuat hingga berbunyi.


"Kuat amat nyedotnya." gumam Satrio keheranan.


Wira meringis malu mendengarnya.


Pak Susilo menatap kesal pada Satrio tanpa bersuara.


Tiga pria dewasa itu sedang mengira otak Satrio sedang Travelling ke surga dunia.


Padahal dugaan itu emang nggak salah sih 😂😂😂


Bian kembali merengek. Kali ini dengan menjejak- jejakkan kakinya dengan kesal.


"Lhoh, dikomenin marah dia." kekeh Satrio dengan wajah gembira.


Pak Susilo berdecak kesal.


Wira tertawa melihat wajah kesal papanya itu.


"Dia haus... Pengen minum. Bukannya sensi, Bambang!" dengus Pak Susilo yang membuat Wira dan Mas Didit langsung meledakkan tawanya dan membuat Bian kaget.


Bayi itu langsung menjerit menangis.


"Heh kelakuan kalian nih. Anak gue nangis. Dasar dodol lu pade." kata Satrio panik kemudian menggendong Bian yang masih menangis.


"Bikinin minum sana!" perintah Pak Susilo sambil mengulurkan mainan yang tadi di pegangnya ke tangan mungil Bian yang langsung menggenggamnya erat lalu mengayun- ayunkannya dengan arah yang tak beraturan.


Suara gemerincingnya sedikit menarik perhatian Bian walau masih juga merengek.


"Yuk minta minum yuk...Mama...mama...Bian haus nih..." kata Satrio sambil berlalu membawa Bian ke arah dapur.


Dia mengira Adis pasti sedang di dapur bersama Mamanya.


"Kok aku geli ya liat Mas Satrio tingkahnya jadi kayak gitu..." kata Wira pada Mas Didit.


"Semua akan bertingkah seperti itu kalau jadi bapak. Otomatis. Ya nggak, Om?" tanya Mas Didit pada Pak Susilo yang mengangguk.


"Kamu juga bakalan kayak gitu nanti kalau punya mainan bayi." kata Pak Susilo pada Wira.

__ADS_1


"Masak alay gitu sih?" gumam Wira tetap nggak percaya.


"Makanya cepat nikah, punya anak. Coba bakal bilang alay lagi nggak." seloroh Mas Didit yang disambut cengiran Wira.


Satrio yang baru sampai di ruang makan sudah melihat Adis membawa botol susu di tangannya lalu mengulurkannya pada Satrio.


"Makasih,Mama." kata Satrio sambil menatap Adis dengan tatapan menggoda.


"Sama- sama..." jawab Adis tanpa menghiraukan tatapan Satrio.


Tangannya terulur mengelus pipi Bian.


"Ma...ma...ma..." Bian kembali mengoceh saat di dengarnya suara Adis.


"Kamu sama Ayah dulu ya...Mama masih sibuk." kata Satrio sambil menempelkan dot ke bibir Bian yang langsung menyambarnya cepat.


"Selamat pagi, Mama." kata Satrio sambil menatap Adis lembut.


Adis hanya terkekeh tanpa berkata apapun kemudian berbalik kembali menuju dapur.


"Mamamu sombong tuh." gumam Satrio dengan wajah di tekuk sambil membawa Bian ke taman samping.


Rupanya Pak Susilo sudah ada disana bersama istrinya.


"Kirain Mama di dapur sama Adis." kata Satrio sambil beranjak duduk di samping mamanya.


"Tadi iya. Terus Balum lama diusir sama Adis, suruh temenin Papa aja katanya." kekeh Bu Katarina senang.


"Waaaah, udah berani ngusir Ibu Suri dia?!" seru Satrio sambil tertawa.


"Alhamdulillah mantu Mama mau masuk dapur juga. Pinter masak beneran dia. Teh Lina aja minta berguru sama dia tadi." kata Bu Katarina sambil tertawa bangga.


"Beneran mantu nih?" tanya Satrio meledek.


"Ya iyalah! O ya...nanti kalian berdua sama Mama habis sarapan ke butiknya Tante Icha." kata Bu Katarina pada Satrio.


"Ngapain? Mau shopping sama Adis?" tanya Satrio.


"Nyari kebaya dan jas buat kalian nikah nanti malam." kata Bu Katarina dengan antusias.


Satrio langsung tersedak salivanya sendiri.


Bian yang sudah melepas dot nya tertawa terpingkal- pingkal melihat ayahnya terbatuk- batuk, membuat Bu Katarina dan Pak Susilo ikut tertawa.


"Nikah,Ma? Beneran?!" tanya Satrio dengan wajah yang tak bisa lagi menyembunyikan kegembiraannya.


"Ya beneran! Atau kamu berubah pikiran buat nggak jadi nikah sama Adis?" tanya Bu Katarina sengaja meledek.


"Nggak! Nggak! Aku nggak berubah pikiran, Ma. Aku mau nikah!" sahut Satrio cepat.


Dipeluknya erat Bian di dadanya untuk meluapkan kebahagiaannya pagi ini.


"Adis kapan ngomongnya kalau mau dinikahin Satrio?" tanya Pak Susilo kepo.


"Tadi pas di dapur waktu kami berdua.Mama tanya dia,trus dia bilang ikut aja kalau memang mau dinikahkan hari ini." cerita Bu Katarina.


"Waaah...calon bini gue emang te o pe pakai begete!" seru Satrio sambil tertawa gembira.


"Lebay!" kata Pak Susilo sambil tersenyum.


"Ngiri bilang, Boss!" kata Satrio sambil memutar- mutar tubuhnya.


"Aku udah duluan ngerasainnya, Bocah!" sahut Pak Susilo kesal.


"Siapa tahu pengen lagi." kata Satrio ngasal.


"Jangan sembarangan ngomong!" seru Bu Katarina sambil memukul pundak Satrio kesal.


"Aduh! Ada cewek cemburu nih,Bi...Kita kabur aja yuk! Kita nyari Mama aja yuk!" kata Satrio kemudian setengah berlari menuju dapur.


Dia ingin sekali mendengar dengan telinganya sendiri kalau Adis mau dia nikahin malam nanti.

__ADS_1


"Ayah akan punya istri,Nak." bisik Satrio pada Bian yang berceloteh di dekapannya.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2