KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
The Hidden


__ADS_3

Satrio menciumi tangan Adis yang ada di genggamannya.


Bian nampak tertidur pulas di pangkuan Adis.


Walau ada box bayi portable yang sudah disiapkan di jok belakang, tapi Anin berkeras memilih memangku Bian yang terlelap itu.


"Kasihan." katanya.


Mereka baru saja pulang mengantarkan orangtua Adis dan Reta ke bandara.


Sedang orangtua Satrio akan berangkat dari pusat kota nanti dengan helikopter mereka setelah Pak Susilo bertemu dengan teman bisnisnya di salah satu hotel di pusat kota Jogja.


Wira juga tadi ikut bersama berangkat ke bandara tapi dia akan ke Bali, mengurusi bisnis resort yang sedang dirintisnya disana.


"Malu, Mas! Iiiiiihhhh!" kata Adis sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Satrio.


Satrio tersenyum- senyum saja tanpa mau melepaskan genggaman tangannya.


Dia malah dengan sengaja mengecupi ujung jari- jari Adis itu.


"Mas..." Adis kembali bersuara dengan masih mencoba menarik tangannya.


Satrio menghentikan kecupannya.


Dalam hati dia tersenyum penuh kemenangan.


Mendengar suara Adis menyebutnya tadi, Satrio bisa menangkap getaran suara yang mulai 'tergoda'.


Seperti dugaannya semalam, ternyata ujung jemari Adis juga jadi salah satu titik rangsang nya.


Diluar ekspektasinya sih...tapi cukup unik juga.


"Kenapa masih jauh sih sampai rumahnya...." gumam Satrio mengeluh kesal.


"Kenapa? Kebelet pipis?" tanya Adis dengan lugunya.


"Iya." jawab Satrio sambil mengu lum senyumnya.


"Ya tinggal nyari pom bensin kan. Nggak harus di rumah juga pipisnya." kata Adis sok solutip.


"Masalahnya aku bukan kebelet pipis." kata Satrio pelan.


"Trus kebelet apa?" tanya Adis heran.


"Kebelet ke kamar mandi yang di kamar." jawab Satrio sambil tertawa mesum.


"Namanya kebelet ya nggak harus di kamar mandi dalam kamar juga kali, Mas ngeluarinnya." sergah Adis.


Satrio hampir tersedak salivanya sendiri saat Adis ngomong seperti itu dengan santainya.


Maksudnya dia mau kalau di ajak ngeluarin dimana aja? Wuuuuiiiih....


"Trus kamu punya ide dimana sekarang? Di mobil?" tanya Satrio dengan semangat.


Pikiran Satrio sudah mencari- cari dimana letak tisu, tisu basah dan air mineral di mobilnya.


"Masak di mobil sih, Mas?! Kamu pernah ya?" tanya Adis sambil menatap meledeknya.


Satrio melebarkan senyumnya.


"Ya pernah lah." jawab Satrio dengan wajah merona.


Satrio gitu lhoh. Masak ngeluarin di mobil belum pernah? Yang benar saja.


Di tangga darurat aja dia pernah...


"Ih, nggak malu ngakuinnya!" sergah Adis dengan wajah keheranan.


"Namanya juga jujur..." kata Satrio sambil tertawa.


"Udah mampir ke pom bensin aja. Keluarin disana aja." kata Adis kemudian.

__ADS_1


Satrio menatap Adis kaget.


"Ya nggak mungkin dong kita keluarin di kamar mandi pom,Sayang. Kan kamar mandinya kepisah cowok ceweknya. Nggak mungkin kita masuk barengan ke kamar mandinya.Lagian pasti rame. Ya nggak bisa enjoy nanti. Malah nggak jadi keluar." kata Satrio membuat Adis menggeleng heran.


Ribet amat Mas hidupmu...Timbang mau ngeluarin pipis aja harus pakai enjoy segala...


Eh, tunggu...tunggu....


Yang kebelet kan dia aja. Kenapa tadi dia bilang kita? Pakai ngomongin kamar mandi cowok dan cewek kepisah? Memangnya dia pengen barengan masuk kamar mandinya? Idih! Aneh amat.


"Ya udah. Terserah kamu aja maumu dikeluarin dimana. Kamu juga yang ngerasain nggak enaknya nahan.Ngeganjel kan?" tanya Adis akhirnya.


Satrio mengangguk sedih.


"Iya. Ngeganjel banget." kata Satrio dengan wajah memelas.


"Aku nggak bisa bantu apa- apa selain ngasih saran tadi, Mas." kata Adis akhirnya pasrah.


"Tapi masak kita begituan di kamar mandi pom bensin sih, Sayang..." kata Satrio seperti rengekan.


"Begituan apa sih? Pipis di pom bensin kan umum dilakuin orang yang lagi di perjalanan, Mas. Kenapa sih?!" tanya Adis mulai kesal.


"Tapi aku kan bukan mau pipis yang itu..." kata Satrio setengah kesal.


"Kok bukan pipis yang itu? Maksudnya gimana sih?" tanya Adis bingung.


Dia semakin bingung saat dilihatnya wajah putus asa Satrio.


"Aku mau pipis yang kayak pas sama kamu di kamar mandi. Pas kita ngumpet." kata Satrio setelah sejenak terdiam.


Adis melongo sesaat untuk menelaah omongan Satrio barusan.


Pipis yang lain. Yang sama dia. Di kamar mandi pas ngumpet.


"Astagfirullahaladzim, Maaaaas!!!" seru Adis tertahan sambil tangan kanannya menutup mulutnya sendiri, saat akhirnya dia memahami apa yang dimaksud Satrio.


Matanya setengah melotot menatap Satrio tak percaya dengan dugaannya sendiri.


Adis melemparkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Di tepuk- tepuknya lembut paha Bian yang baru saja menggeliat di dekapannya agar kembali terlelap.


Dia masih ingat jelas kejadian dini hari tadi di kamar mandi.


Flashback on


*************


Satrio pelan- pelan menuntun jemari Adis menelusuri area pusar Satrio. Membawanya mengelus berputar beberapa kali di sana sebelum akhirnya menuntunnya melewati karet yang melingkari pinggang Satrio, dan terus semakin turun memasukinya hingga jemari tangannya bertemu dengan tongkat sakti yang berdiam disana.


"Kenalin. Namanya Hidden Paijo." bisik Satrio sambil mengecupi area telinga Adis. Membuat Adis bergerak gelisah tak menentu.


Adis sudah kacau saat ini.


Serangan Satrio yang memang sudah piawai mengeksplore segala lekuk tubuh perempuan, membuat Adis benar- benar kalah telak bahkan sebelum ke acara inti.


"Help me, please..." pinta Satrio sambil menatap mata Adis dengan tatapan yang telah dikuasai hasrat.


Adis tak menjawab. Dia hanya menurut saat jemarinya yang di genggam tangan Satrio mulai di bimbing untuk bergerak naik turun dengan ritme yang beraturan.


De sa han tertahan Satrio di telinganya membuat Adis seperti terbakar seketika dan semakin bersemangat mempekerjakan tangannya di wilayah hidden Paijo.


Satrio semakin merasa di tarik terbang ke angkasa oleh bidadari di dekapannya ini.


Satrio sudah tak ingat posisi. Dia sedang berlari menuju ujung surga dunianya dibantu oleh Adis yang memanjakan perjalanan indahnya dengan sepenuh hati.


Hingga akhirnya e ra ngan panjang sebagai tanda perjalanan indahnya telah sampai, diredam oleh bibir Adis yang menyambar bibirnya cepat.


Adis mengantarkannya hingga dia benar- benar telah sampai dan tenang di tujuannya.


"Thank you so much,Baby....." bisik Satrio yang bersandar lelah di pundak Adis. Bibirnya tersenyum lega dan puas.

__ADS_1


Dikecupnya lembut pundak putih yang penutupnya sudah terlempar ke sudut pintu bersama penutup dadanya.


Adis hanya mengangguk sambil membelai lembut rahang Satrio.


"Hidden Paijonya badung banget. Tanganku sampai pegel." kata Adis dengan wajah cemberut.


Satrio terkekeh.


Mereka sedang jadi sepasang penunggu toilet duduk sekarang.


Satrio duduk di atas tutup toilet sambil memangku Adis yang melingkarkan satu lengannya di bahu Satrio.


"Udah, Mas....Kan udah tenang Paijonya...jangan ngusel- usel lagi dong." protes Adis sambil menahan dahi Satrio agar wajahnya tak lagi menempel ke dada Adis.


"Sebentar lagi aja." bisik Satrio ngeyel kemudian kembali membawa bibirnya ke dua pucuk indah milik Adis yang sedang memamerkan kemolekannya tanpa penghalang sedikitpun.


Adis sudah tak berdaya bila miliknya itu sudah dikuasai.


Dia langsung ikut hanyut dalam telaga kesenangan yang Satrio bawa untuknya.


Satrio akhirnya mau berhenti setelah dia yakin Adis juga sudah selesai di hempas badai hasratnya.


"Kamu bisa ikut menikmatinya?" tanya Satrio sambil memeluk erat Adis.


"Ya." jawab Adis lirih.


"Aku suka hidden apple ini." kata Satrio sambil menutupi ke dua aset depan Adis dengan telapak tangannya.


Adis meringis geli.


Tadi hidden Paijo, trus hidden apple....nanti ada nama apa lagi...?


"Hidden Juminten kapan bisa ketemu sama hidden Paijo?" tanya Satrio sambil menangkupkan telapak tangan kirinya ke area bawah Adis.


Ya ampun orang ini...bener- bener deh nggak ada sopan- sopannya....


Dan apa tadi? Hidden Juminten dia sebut? Astagaaa!!!


"Sebulan lagi." jawab Adis sambil terkikik.


Satrio mendongak kaget.


"Kamu mens atau nifas sih?" tanya Satrio dengan wajah cemberut dan gemas.


"Anggep aja nifas. Kan barusan punya bayi." jawab Adis sambil tertawa pelan.


"Ya udah. Berarti kamu harus selalu siapin tangan halus kamu itu untuk bisa sering- sering silaturahmi sama hidden paijo." kata Satrio dengan wajah menahan senyum.


"Gak mau kalau sering- sering! Pegeeeelll." rengek Adis.


Satrio tertawa- tawa tanpa suara.


"Makanya jawab yang bener. Kapan si Paijo dan Juminten bisa ketemuan?" tanya Satrio lagi.


"Tiga hari lagi." jawab Adis akhirnya.


"Hiks, masih lamaaaa..." rengek Satrio.


"Cuma tiga hari, Maaaas. Bukan tiga tahun." kata Adis gemas.


"Ya kali tiga tahun. Tiga tahun mah aku udah jadi penjual batu akik karena ' muatanku' udah jadi batu, nggak kental lagi." kata Satrio dengan wajah memelas.


Adis tertawa sambil membekap mulutnya sendiri.


Flashback off


**************


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Panas panas deh.....😛😛😛🙈🙈🙈

__ADS_1


Dah ya....lunas...😄


__ADS_2