KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Tak Mau Yang Lain


__ADS_3

Kesedihan Adis atas kepergian Beni berangsur- angsur mereda seiring kesibukannya mengurus Reta kecil dan dorongan orangtuanya untuk mempersiapkan diri untuk pendaftaran kuliahnya nanti.


Orangtuanya sepakat tak memberi bantuan baby sitter pada Adis agar Adis sibuk dan menghabiskan waktu untuk mengurus Reta dan tak punya banyak waktu untuk melamun dan bersedih.


Dan Adis menerima itu dengan lapang dada sebagai bentuk konsekuensi atas kesalahan yang telah dia lakukan.


Walau sesungguhnya iba karena anak perempuan satu- satunya harus menjadi single mother di usia yang masih muda, orang tua Adis tak pernah menunjukkan perasaan itu pada Adis karena tak ingin Adis kepikiran dan semakin bersedih.


Biarlah Adis seperti itu dulu. Yang penting dia tetap bisa merawat anaknya dengan benar dan bisa tersenyum di hari- harinya menanti pendaftaran mahasiswi baru nanti.


Orang tua Beni juga hampir setiap hari menengok Reta.


Bahkan kadang mereka memboyong Adis dan Reta ke rumah mereka untuk beberapa hari.


Hal yang berat sesungguhnya bagi Adis tiap kali harus berada di rumah mertuanya itu.


Harum tubuh Beni seakan menempel lekat di penciumannya tiap kali dia menginjakkan kakinya di rumah orang tua suaminya itu.


Apalagi bila sudah masuk ke kamar Beni yang selalu dia pakai bila menginap di rumah mertuanya.


Tapi dia tahu, dia harus bersahabat dengan perasaan sedihnya agar tak merusak hatinya sendiri.


Dia tak ingin melawan kesedihannya lagi. Lelah rasanya.


Dia memilih menjalani semua kehilangannya dengan perasaan apa adanya.


Dia akan menangis bila memang ingin menangis karena capek mengurusi Reta atau rindu pada Beni.


Nanti, setelah dia selesai menangis, semuanya akan terasa lebih ringan dan rasional untuk di jalaninya lagi. Selalu seperti itu.


Dia sudah mulai belajar menerima takdirnya dengan berusaha mengikhlaskan kepergian Beni, dengan menerima kenyataan bahwa ada Reta yang harus dijaganya sebagai peninggalan Beni yang paling berharga, yang akan mengganti keberadaan Beni di sampingnya.


"Bu, Ibu suka dimimpiin papanya Reta nggak?" tanya Adis suatu pagi sambil menemani mertuanya itu di dapur.p


Reta sedang di ajak jalan- jalan Kakung nya keluar rumah.


Semalam mereka baru saja mengadakan tahlilan untuk memperingati setahun kepergian Beni.


"Kenapa? Kamu kangen Beni?" tanya Ibunya sambil menatap sayang.


Adis mengangguk sedih.

__ADS_1


"Mama, Papa, Ayah, pernah cerita kalau dimimpiin Beni dan bercerita hal yang sama. Kalau Beni happy disana, senyum terus, tambah keren. Aku sekalipun belum pernah ketemu dia di mimpi." kata Adis dengan wajah memelas.


"Ibu juga belum pernah ketemu Beni di mimpi. Mungkin biar kita tetap mengingat semua hal manis tentang dia di hati dan pikiran kita, Nak. Nggak papa. Kita kan masih tetap bisa terus mencintai kenangan manisnya." kata Ibunya sambil mengelus bahunya lembut.


"Ibu suka kangen Beni nggak?" tanya Adis sambil mendongak menatap wajah mertuanya yang menatapnya sayang.


"Selalu. Ibu selalu kangen dia. Kadang Ibu masih lupa kalau dia udah nggak sama kita lagi. Masih suka pengen nelponin dia." kata Ibu sambil tertawa sedih.


Adis memeluk perut Ibunya dan menyembunyikan wajahnya di perut perempuan yang telah melahirkan suaminya itu.


"Aku kangen dia banget. Kenapa dia nggak mau mimpiin aku sekali aja?" gumam Adis sedih.


Adis nggak tahu airmata mertuanya sudah meleleh melewati pipi.


"Sabar ya Sayang. Mungkin Beni pengen kamu nggak terus- terusan mikirin dia. Kalau dia sering mimpiin kamu, kamu akan susah move on nantinya. Kamu harus meneruskan hidup kamu, Nak. Reta kan juga butuh sosok seorang ayah nantinya." kata Ibunya lembut.


Sesungguhnya dia tak ingin mengucapkan itu.


Dia ingin egois agar Adis dan Reta tetap jadi milik mereka selamanya, sebagai ganti Beni.


Tapi ia sadar sepenuhnya, Adis masih punya kehidupan di dunia ini. Berhak mencari kebahagiaannya lagi.


"Sudah setahun, Nak."


"Baru setahun, Bu. Perasaanku masih utuh buat dia. Dan aku nggak mau berusaha mengubahnya." sergah Adis.


"Kamu harus meneruskan hidup kamu, Nak. Masih ada orangtuamu yang harus kamu bahagiakan. Juga dirimu sendiri. Kamu dan Reta harus bahagia, agar Beni lebih tenang meninggalkan kalian." kata Ibunya lembut sambil memeluk bahunya.


"Aku janji akan bahagia, Bu. Tapi aku nggak mau lupakan Beni. Dia kan suamiku, papanya Reta." kata Adis dengan nada protes.


"Tentu saja kamu nggak harus melupakan Beni. Dan memang nggak akan bisa. Tapi kamu harus memberi ruang untuk orang lain juga agar bisa menggantikan tugas Beni menyayangi dan menjagamu dan Reta di dunia ini. Simpan Beni di satu ruang hatimu, jaga dengan semua kenangan manisnya, lalu kunci. Dia akan abadi disana tanpa harus mengikuti langkahmu di masa depan." kata Ibunya lembut.


"Aku nggak bisa....." kata Adis lirih dengan linangan airmata.


Membayangkan dia harus berhenti memikirkan Beni saja dia tak bisa, apalagi bila harus bersama pria lain. Tentu saja Adis nggak bisa membayangkannya.


"Tidak harus sekarang, Nak.Tapi kamu harus mulai selalu menyadari, Beni sudah nggak bisa menjaga kalian di dunia ini. Dia sudah pulang lebih dulu."


"Aku bisa hidup berdua saja dengan Reta. Aku akan kuliah dengan baik, bekerja dengan baik agar bisa menghidupi Reta dengan layak. Aku janji akan merawat dan mendidik Reta dengan baik." kata Adis masih membandel.


"Ibu percaya kamu bisa merawat dan mendidik Reta dengan baik. Tapi kamu harus ingat juga, Reta butuh sosok seorang ayah. Reta butuh seorang pria dewasa yang akan membuat Reta merasa dilindungi dan disayangi dan akan jadi cinta pertamanya. Anak perempuan kan selalu menjadikan ayahnya sebagai superhero dan cinta pertamanya, seperti kamu pada Papamu." kata Ibu sambil tersenyum bijaksana.

__ADS_1


"Ada Papa dan Ayah, juga Mas Didit yang akan jadi cinta pertama Reta." kata Adis masih tetap membantah.


Ibunya memilih tak meneruskan obrolan itu.


Bukan hal mudah memang bagi Adis membuka hatinya secepat itu.


Beni adalah cinta pertama dan pacar pertama sekaligus suaminya.


Hatinya telah dimiliki sepenuhnya oleh lelaki itu.


Membayangkan bisa mencintai orang lain saja dia nggak bisa.


Dan memang butuh waktu cukup lama untuk Adis 'mengalah' dan menerima kenyataan bahwa ada orang tua juga yang harus dia bahagiakan dan dia buat tenang.


Selama ini orang tuanya tak pernah mengusiknya dengan pertanyaan tentang pendamping hidup, pengganti Beni.


Beda dengan mertuanya yang sudah menunjukkan sikap legowo bila Adis akan menikah lagi suatu hari nanti.


Bahkan kalau boleh dibilang, mertuanya sudah


'berisik' dengan pertanyaan siapa yang tengah dekat dengannya setelah seribu hari kepergian Beni.


Mereka ingin berkenalan katanya.


"Ayah Ibu udah nggak mau aku jadi mantunya ya?" tanya Adis dengan wajah merajuk pada mertuanya karena lagi- lagi dia ditanya soal pacar.


"Ya iya. Kami udah nggak ada anak lelaki. Kamu hanya bisa jadi anak kami sekarang." jawab Ayah sambil tersenyum.


Adis hanya meringis sedih.


"Apa beneran aku harus nikah lagi?" tanya Adis pelan dan putus asa.


"Kayaknya sih iya. Biar orangtuamu punya menantu lelaki. Dan kecantikanmu ada yang memiliki." kata Ibu sambil mengelus lengannya lembut.


"Aku cuma cinta sama Beni." lirih Adis sambil menunduk.


"Terimakasih sudah mencintai Beni sampai akhir hayatnya. Bahkan sampai sekarang. Itu berarti kamu cewek setia. Ayah Ibu doakan semoga kamu akan berjodoh dengan orang yang lebih baik dari Beni." kata Ayah sambil tersenyum.


"Aku mau Beni aja. Aku nggak perlu pria lain yang lebih baik dari Beni."


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2