
Adis mengelus lembut pundak Satrio yang nampak sedikit kesal saat bercerita.
Satrio kesal pada Wira yang lagi- lagi ngeyel dengan ucapannya agar berusaha move on dari Widuri.
Dia juga kesal pada Widuri yang seperti mau- mau saja menerima perhatian Wira namun tak mau memberi kejelasan pada hubungan mereka berdua.
"Gebleknya ya Allah anak satu itu...!" geram Satrio sambil mengacak rambutnya kesal.
"Kok kamu yang emosi gini sih, Mas?" tanya Adis sedikit merasa geli.
"Dua tahun lebih lho Yang digantungin macam cucian nggak bertuan. Terombang- ambing nggak jelas. Kasihan aku sama si Sableng itu. Widuri juga, nyebelin banget sih jadi cewek!" sungut Satrio dengan dengusan kesal.
"Jangan salahkan Widuri juga kali,Mas. Widuri kan udah tegas bilang, nggak bisa nerima Wira. Wiranya aja yang dableg, keukeuh aja nggak mau move on." kata Adis yang kini sudah jelas memihak Widuri.
"Nggak mau nerima tapi diperlakukan manis mau- mau aja..." sungut Satrio masih dengan kesal.
"Susah emang jadi cewek tu. Nanti kalau Widuri menolak semua perlakuan baik Wira dikiranya raja tega. Nggak punya hati. Nggak ngehargain. Hadeeehhh...." sahut Adis sambil menepuk dahinya pelan.
Satrio diam tak berusaha mendebat lagi.
"Lagian mereka sudah gede, Mas. Biarin mereka jalani urusan mereka. Kamu jangan mengintervensi dong. Nanti nggak adil jatuhnya. Gimanapun mereka kan adik- adik kamu juga." kata Adis sambil mengelus- elus lembut lengan atas Satrio.
Cara tokcer yang selama ini manjur untuk membujuk Satrio kalau sedang kesal.
"Widuri juga nggak enak hati sebenarnya dengan situasi ini. Tapi dia harus gimana lagi? Dia sudah melakukan apa yang bisa dia lakukan. Dia sudah jelas ngomong sama Wira soal perasaannya. Semua tergantung Wiranya." kata Adis lembut.
"Wira juga nggak bisa disalahkan. Dia meyakini perasaannya. Sedang berjuang memenangkan keyakinannya. Dia sedang berusaha jadi lelaki sejati versi terbaiknya." kata Adis lagi.
Satrio tetap masih diam tak hendak lagi mendebat karena apa yang dibilang Adis adalah benar adanya.
Keduanya akhirnya saling terdiam dengan pikiran masing- masing
"Sudah malam. Ayo tidur. Mikirin Wiranya kapan- kapan lagi aja." kata Adis setelah beberapa saat mereka membisu.
Adis sudah berdiri sambil menarik lengan Satrio untuk beranjak meninggalkan kursi di balkon kamar mereka.
Satrio yang tadinya malas- malasan bangkit berdiri tiba- tiba tersenyum cerah.
"Kamu inget nggak Yang kalau punya utang sama aku?" tanya Satrio sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Adis.
Adis meringis malu.
Kalau begituan aja nggak pernah akan lupa biar udah berhari- hari juga.
Mana ada aku ngutang?" kata Adis dengan wajah datar tanpa dosa.
"Ada...Masa lupa sih, Yang? Baru tadi pagi kamu janjinya..." kata Satrio sedikit kecewa.
"Oh...iya aku ingat." kata Adis sambil menyembunyikan cengirannya dengan membuang muka ke arah samping.
"Alhamdulillah nggak jadi lupa." kata Satrio dengan wajah lega.
"Aku janji masakin kamu ayam woku kan?" tanya Adis dengan wajah berbinar - yang tentu saja hanya acting- menatap Satrio yang langsung menyurutkan senyum gembiranya.
"Bukan yang itu..." kata Satrio langsung memasang wajah patah hati dan sedih.
"Utang apa ya?" tanya Adis sambil mematikan lampu utama kamar, lalu beranjak berbaring dan mematikan lampu tidur di sampingnya.
"Masak harus aku ingetin terus sih, Yang..." gerutu Satrio sambil menahan wajah kesal.
Dia sudah patah hati parah malam ini.
Dia sudah menahan diri dari pagi tadi demi dia tuntaskan malam ini seperti janji Adis tadi pagi.
Tapi ternyata Adis lupa pada janjinya sendiri kalau akan memanjakannya malam ini.
__ADS_1
Menyesakkan dada saja.
Satrio merebahkan dirinya dengan malas dan sedih.
Segera dia memejamkan mata dengan harapan bisa menyingkirkan kekesalan yang tiba- tiba memenuhi hatinya.
Tapi dia berusaha membujuk hatinya sendiri.
Pasti Adis sedang lelah karena hari ini mengurus anak- anak sendirian dan membuatnya lupa pada janjinya.
Nggak papa mengalah dulu malam ini.
Kasihan. Adis juga harus istirahat.
Ya. Dia harus mengerti juga kan?
"Utang yang ini?" sebuah bisikan lembut di telinga disusul gigitan lembut di ujung telinganya membuat mata Satrio yang terpejam langsung terbuka lebar.
Senyumnya langsung terukir dibibirnya yang sempat membeku tadi.
"Bayarnya double, Yang." de sah Satrio karena tengah menikmati buaian tangan istrinya di bawah sana.
"Ngelunjak." kata Adis sambil terkekeh.
"Sama kamu doang ngelunjaknya." desis Satrio di tengah rambatan nikmat yang mulai diciptakan Adis.
"Ya kali kamu minta beginian sama perempuan lain!" nada suara Adis naik satu oktaf sambil menyentil pusaka Satrio gemas.
Kontan saja Satrio mendelik kesakitan merasakan senjatanya teraniaya. Untung saja dia bisa menahan diri untuk tidak berteriak kesakitan.
"Sakit, Yang." rintih Satrio sambil meringis.
"Udah lunas utangku. Bye!" kata Adis sambil membalik badannya dan memunggungi Satrio sambil menahan senyum.
Satrio yang tahu kalau Adis hanya mengerjainya, sekarang ganti menyerang Adis dengan semangat.
Nggak mau tahu!
🧚🧚🧚🧚🧚
Satrio terlonjak dari duduknya begitu mengangkat panggilan telpon dari Wira dan mendengar suara teramat sedih dari adiknya itu yang bilang kalau hari ini Widuri akan pergi dan tinggal di Kanada untuk waktu yang tak pasti.
"Serius lu? Kok tiba- tiba banget sih? Dia nggak pernah ngomong kalau ada rencana ke sana. Apalagi mau tinggal disana. Ada apa sih sebenarnya anak itu?" tanya Satrio dengan suara gusar.
Adis yang sedang di dapur sedikit mengalihkan perhatiannya mendengar suara gusar Satrio yang kini melintas di belakangnya.
"Nggak ada omongan sama sekali sama kami. Adis juga nggak pernah ngomongin itu ke aku. Gila tuh bocah." kembali suara Satrio semakin menarik Adis untuk mendekati suaminya yang kini sedang berkacak pinggang sambil menyandarkan satu bahunya di pinggir jendela yang menghadap kolam ikan mini di samping ruang makan.
Adis bergegas merapat ke dekat suaminya begitu Satrio selesai dengan ponselnya.
"Siapa yang telpon?" tanya Adis dengan wajah kepo maksimal.
"Wira. Hampir nangis kayaknya barusan. Widuri hari akan ke Kanada dan akan tinggal disana katanya." kata Satrio sambil menghela nafasnya.
"Hah?! Kok mendadak gitu kayaknya? Ada apa sih?" tanya Adis dengan wajah bingung.
"Nggak ada yang dikasih tahu alasan pastinya sama Widuri.Cuma bilang mau kuliah lagi. Tapi aku yakin bukan itu alasan utamanya. Yakin aku." kata Satrio berapi- api.
"Katanya pagi ini Widuri datang ke rumah buat pamitan. Mama sampai nangis katanya.Bocah itu ya...pengen gue getok kepalanya." sungut Satrio dengan wajah gemas.
Satrio menoleh ke arah Adis yang tak menyahut.
Ternyata istrinya itu sedang asik membaca sebuah pesan di ponselnya dengan wajah serius.
"Dari siapa sih? Serius banget bacanya." tanya Satrio penasaran sambil mendekat.
__ADS_1
"Dari Widuri. Pamit. Dan menjelaskan alasan utamanya ke Kanada. Demi Wira. Dia ingin membantu Wira move on dengan pergi sejauh mungkin dari pandangan Wira. Dia juga mau ambil kuliah disana. Kasihan Widuri. Pasti dia selama ini sebenarnya nggak enak banget sama Wira yang selalu baik padanya." gumam Adis iba.
"Ckkk...." Satrio tak mampu berkata- kata lagi walau hatinya merasa sangat kesal dengan kelakuan Widuri yang menurutnya sedang dalam rangka melarikan diri saja.
"Dia titip salam buat kamu. Minta maaf juga sama kita karena nggak bisa nelpon. Takut nangis katanya." kata Adis sambil tersenyum sedih.
"Aku yakin, Wira dan kuliah cuma alasan lain. Bukan alasan utama dia ke Kanada." kata Satrio bergumam.
"Apapun alasan pastinya, setidaknya dia kesana ada sisi positifnya. Dia mau kuliah. Syukur- syukur Wira beneran bisa move on setelah jauh dari Widuri. Kita doakan saja dia baik- baik disana." kata Adis tenang.
Satrio menghela nafasnya pelan.
Diraihnya pinggang Adis untuk mendekat padanya.
"Kenapa?" tanya Adis lembut karena Satrio hanya diam saja padahal lengannya semakin erat memeluk pinggangnya hingga tubuh keduanya demikian rapat.
"Nggak papa. Cuma pengen peluk kamu aja." jawab Satrio sambil membawa tubuh Adis ke da depan dadanya.
Dengan lembut dipeluknya tubuh Adis dengan hangat.
"Aku kira kisah cinta kita yang paling absurd. Tapi sepertinya cinta Widuri lebih absurd lagi. Dia bahkan harus pergi jauh hanya untuk masalah hati. Entah beneran untuk kebaikan hati Wira atau sebenarnya untuk hatinya sendiri." kata Satrio pelan. Adis mengangguk kecil di dada Satrio.
Ya.Kadang kita terlalu fokus pada cerita sedih hidup kita sendiri sampai kita kadang tak menyadari kalau diluar sana ada yang lebih menyedihkan dari kisah hidup kita selama ini.
"Ayah sama Mama ngapain pelukan di situ?" suara Bian memecah kesyahduan yang baru saja tercipta di sudut ruang makan pagi itu.
Satrio dan Adis bergegas mengurai pelukan mereka seperti ABG yang ketangkep bapaknya sedang bermesraan di pojok rumah.
Selama ini memang Adis dan Satrio jarang menunjukkan sikap intim seperti itu bila di depan anak- anak.
"Mama tadi kedinginan. Makanya Ayah peluk sebentar biar hangat." dusta Satrio sambil tersenyum kikuk.
Dilihatnya sudut mata Adis meliriknya tajam sebagai tanda protes.
Bian menatap Mamanya dengan tatapan penuh selidik.
"Mama sakit? Kok kedinginan? Padahal di luar udah panas lho." tanya Bian sambil meraih telapak tangan Mamanya.
"Enggak sakit.Cuma agak dingin aja. Nanti sebentar lagi kalau Mama keluar ke halaman terus kena sinar matahari pasti udah nggak dingin." jawab Adis sambil tersenyum., menyempurnakan dusta Satrio.
"Kalau nanti masih dingin, nanti Mama dibawa ke dokter aja ya ,Yah. Jangan cuma dipeluk aja. Pelukan Ayah bukan obat, nggak bisa bikin sehat Mama." kata Bian sambil berlalu yang membuat Satrio mendelik keki.
"Tuh bocah mulutnya ya ampun deh pedesnya. Dia bilang pelukanku nggak bisa nyembuhin kamu, Yang? Astagfirullahaladzim...mulutnya kayak Opanya pedesnya." kata Satrio dengan wajah shock. Adis hanya tergelak melihat wajah tak terima Satrio atas ucapan anaknya sendiri.
...sekian dan beneran...
...🧚🧚🧚 T A M A T 🧚🧚🧚...
Alhamdulillah sudah sampai di akhir cerita 😊
Mohon maaf kalau alur cerita dan endingnya nggak sesuai ekspektasi reader semua 🙏🙏🙏
Terimakasih banyak untuk jempol, komen, hadiah, dan vote untuk karya ini. Semuanya sangat berarti dan membuat tulisan Saya yang memang ala kadarnya ini merasa dihargai 💖💕😘
Sebisa mungkin setiap komen saya balas sebagai penghargaan balik saya untuk waktu panjenengan semua 💖💕 walau kadang kalau waktu lagi agak ribet hanya mampu saya bales dengan 👍 saja 😅 Mohon dimaafkeun ya...
Untuk kisah cinta Widuri dan Wira sudah ada bayangan akan ada judul sendiri. Tapi baru bayangan aja 😄🙈 Realisasinya nggak tahu kapan 😛
Insyaa Allah dalam minggu ini juga novel selanjutnya akan muncul. Nanti ada pemberitahuan di sini. Semoga panjenengan semua masih berkenan mampir nantinya 😊.
Ini judul novel barunya.
Sekali lagi, terimakasiiiiih untuk semuanya...💖💕💕💕
__ADS_1
Sampai jumpa di novel selanjutnya. 🙏🙏🙏