
"Masak?" ledek Mbak Puji sambil cengengesan menatap Satrio yang pura- pura cuek sambil mengunyah nugget.
"Masak apa?" tanya Satrio setelah dirasanya kecuekannya nggak ngefek sama tatapan meledek Mbak Puji.
"Masak nggak lagi PDKT." kata Mbak Puji.
"Kok kamu bisa nuduh aku PDKT?" tanya Satrio nggak ngerti.
"Lha tadi udah modus tukeran motor." kata Mbak Puji.
"Kok tahu aku tukeran motor sama Adis?" tanya Satrio heran.
"Yanti yang bilang." kata Mbak Puji sambil mengucurkan air minum dari dispenser kemudian dia letakkan di depan Satrio.
"Makasih, Mbak." kata Satrio sebelum meminum tandas satu gelas kecil air putih itu.
"Kalian berdua kurang kerjaan bener ya.....jadi mata- mata...." omel Satrio.
"Bukan mata- mata! Dibilangin kami ini suporter. Tim suksesnya ASa." kata Mbak Puji ngegas. Membuat Satrio mengernyit.
"Apaan ASa?" tanya Satrio bingung.
"Adis Satrio." kata Mbak Puji sambil tertawa.
"Hadyeh!" kata Satrio menepuk dahinya keras dengan kelakuan dua ART itu.
"Nggak papa lagi, Mas kalau kalian masih sama- sama sendiri. Mbak Adis baik kok. Cocok kalau sama Mas Satrio." kata Mbak Puji mulai dengan misinya.
"Cocok apanya?" tanya Satrio ketus.
"Ganteng sama cantik. Sama- sama baik. Sama- sama kaya. Kan udah klop itu." kata Mbak Puji.
Satrio hanya tersenyum kecut.
Apa orang kalau mau berjodoh harus seideal itu?
"Adis tinggal sama siapa di rumah itu? Aku nggak liat ada orang lain tadi pas mampir." tanya Satrio mulai kepo.
"Cuma berdua sama Yanti. Ada kakaknya juga, cowok, udah punya anak satu, tapi nggak tinggal bareng. Kakaknya punya usaha di Bantul sana katanya." jawab Mbak Puji.
"Orangtuanya dimana?" tanya Satrio makin penasaran.
"Orangtuanya di Kalimantan katanya. Bapaknya bertugas disana." kata Mbak Puji lagi.
"Bapaknya tentara? Atau polisi?" tanya Satrio makin kepo.
"Kurang tahu aku kalau itu, Mas. Yanti nggak pernah cerita detail e. Lagian Mbak Adis juga belum lama disini. Nggak jauh jaraknya sama Mas Satrio datangnya. Duluan Mbak Adis." kata Mbak Puji lagi.
"Tapi kok kayaknya mbak- mbak disini udah pada kenal baik sama Adis." kata Satrio.
"Ya kan karena kami sering ngerumpi di depan rumahnya Mbak Adis sama nunggu tukang sayur. Mbak Adis dari pertama datang suka ikut ngobrol, Mas. Trus nanti beli jajanan banyak buat kami. Kan seneng kami " kata Mbak Puji sambil tertawa.
"Kamu dibayar papaku ternyata cuma ngerumpi kerjaannya." omel Satrio nggak jelas.
Mbak Puji hanya terkikik mendengarnya.
"Emangnya Adis kerja dimana sih?" tanya Satrio lagi. Nggak sadar makin kepo soal Adis.
"Nggak tahu juga aku,Mas. Tapi Mbak Adis seringnya di rumah kok, Mas. Perginya nggak tiap hari. Kata Yanti kerjanya di rumah." kata Mbak Puji.
Mungkin freelance.....tapi freelance apa ya? Kok ada klien juga....
"Aku tak pulang dulu ya, Mas. Udah datang yang jemput." pamit Mbak Puji kemudian bergegas keluar.
"Mas!" Satrio mengurungkan langkahnya saat dilihatnya kepala Mbak Puji menyembul dari pintu ruang tengah.
"Apa? Ngagetin aja. Kirain udah bablas." kata Satrio galak.
"Barusan Yanti WA aku, besok pagi- pagi kamu mau dikasih sarapan sama Mbak Adis." kata Mbak Puji sambil tertawa- tawa.
Satrio tak tahan untuk tak tersenyum.
Jangan- jangan dalam rangka menukar uang servis motor nih.
"Cie.....cieeeee...." ledek Mbak Puji sambil memeluk gawang pintu saat melihat senyum Satrio.
"Pulang sana!" usir Satrio sambil berbalik meninggalkan Mbak Puji yang masih berteriak meledeknya.
__ADS_1
Dasar !!!
"Jangan bangun kesiangan besok. Ntar kelewat kiriman makanannya." teriak Mbak Puji yang sangat jelas terdengar penuh dengan ledekan.
"Brisiiiik!" teriak Satrio dari depan pintu kamarnya, walau bibirnya tersenyum sempurna.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
"Bawa apa kamu, Sat?" tanya Pak Cahyo saat Satrio mengeluarkan kotak bekal dari tasnya kemudian membukanya di meja.
Jam sepuluhan lebih begini, biasanya beberapa penghuni kantor sudah mulai gentayangan dari satu meja ke meja lain untuk cari cemilan.
"Nugget pisang, ambil aja Pak. Banyak kok ini." kata Satrio sambil melihat Widuri yang masih kaku menatap layar laptopnya di depan wajahnya.
Wajah gadis itu sangat serius dan seperti tak perduli dengan sekitarnya.
Selalu seperti itu bila sedang bekerja.
Kebocoran pemakaian bahan finishing yang ditemukan Satrio cukup membuat Widuri sakit kepala karena harus check and recheck BoM ( Budget of Material) yang selama ini dia pakai landasan untuk pembuatan MRP.
Itu bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam sehari karena BoM dibuat untuk per item barang. Padahal barang produksi pabrik ini ratusan.
Otomatis Widuri harus turun dulu ke bagian finishing. Untuk recheck apakah angka yang ada di BoM selama ini sesuai dengan pemakaian real bahan di bagian produksi.
Tiga hari di produksi, sekarang Widuri mulai memasukkan data ke BoM sebelum besok mereka akan meeting kecil soal itu dengan purchase, logistik, dan kepala produksi.
Sebenarnya belum selesai BoM semua item. Tapi setidaknya sudah ada setengah lebih item yang bisa di cek ulang oleh Widuri.
Untuk barang- barang yang sudah sangat jarang di produksi - atas arahan Pak Cahyo dan saran Satrio- Widuri mengesampingkan dulu perbaikan datanya.
Ini baru bahan finishing yang ketahuan kebocorannya.
Widuri khawatir akan ada lagi kebocoran untuk bahan- bahan lainnya.
Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila bagian produksi dan logistik proaktif. Terutama bagian logistik yang mengeluarkan material.
Harusnya bagian logistik langsung notice ke MRP yang tidak sesuai dengan pemakaian real agar bisa segera dilakukan koreksi pada BoM secepatnya.
"Tom, minum dulu. Matamu nggak pegel melototi kompi dari pagi?" kata Satrio sambil menimpuk lengan Widuri dengan kertas yang diremasnya.
"Kamu sih kejelian jadi orang, bikin kerjaanku nambah kan? Coba kamu nggak berisik masalah bahan finishing yang bocor, aku bisa kelayapan ke keuangan kalau jam segini." omel Widuri tanpa menoleh sedikitpun pada Satrio.
Ritme kepalanya hanya menunduk melihat tulisan tangannya di buku dan menatap lurus untuk memasukkan angka di data baru BoM di komputernya dari tadi pagi, sejak ia menyalakan komputernya.
"Aku melihat banyak kejanggalan di BoM sebenarnya. Tapi karena aku pikir material yang harganya paling mahal adalah material finishing, aku check itu dulu. Kalau itu udah beres, aku mau check bagian packing. Aku lihat banyak material yang terbuang hanya karena pola potong bahan dan pola bungkus yang nggak simple." kata Satrio yang membuat Widuri menghela nafas pasrah.
"Aku bakal ada kerjaan lagi dong, Bang." rengek Widuri.
Pak Cahyo tertawa melihat wajah Widuri yang mewek.
"Aku sebenarnya sudah tahu soal bahan bantu yang terbuang percuma sejak awal memegang PPIC. Dulu aku juga sudah check ulang semua budget barang. Catatannya semuanya ada disini." kata Pak Cahyo sambil menunjukkan buku tebal bersampul motif batik berwarna biru ditangannya.
"Pas aku maju ke bagian planning untuk minta rekomendasi ganti BoM agar bisa kita laporkan ke direktur, ( bagian) planning nggak mau ngasih. Katanya dikhawatirkan bikin heboh dan takut nanti direktur mikir selama ini kita kerja nggak bener." kata Pak Cahyo dengan wajah datar.
"Ngapain planning mikir gitu? BoM kan ngefeknya ke harga jual produk. Kalau ternyata pengeluaran biaya kita lebih banyak dari harga jual kan yang ada kita sedekah, bukannya jualan nyari untung." kata Satrio serius.
"Aku juga sudah kemukakan itu, anak muda. Planning nggak bergeming." kata Pak Cahyo.
"Takut ketahuan go blok nya dia." kata Widuri sambil terkikik.
"Dari dulu planning si Dicky itu, Pak?" tanya Satrio.
"Bukan. Sebelum Dicky ada namanya Pak Joko. Masih kerabatnya Dicky. Trus Dicky itu dulu asistennya Joko. Begitu Joko out, planning dipegang Dicky. Pola pikirnya plek ketiplek sama Joko. Nggak mau nerima masukan sama sekali. Buntu kalau urusan sama dia. Bikin capek ati. Pengen nempeleng aja kalau ngomong serius sama Dicky tuh." kata Pak sambil menggelegas.
"Udah pernah nyoba nempeleng dia belum, Pak njenengan?" tanya Satrio sambil meringis.
"Belum. Aku nggak mau mencoreng nama baikku dengan mengotori tanganku menempeleng orang be bal macam dia." kata Pak Cahyo sambil menggeleng- geleng.
Satrio terdiam.
Kalau pada akhirnya semua mentok di planning, percuma juga PPIC berusaha menyajikan data valid.
Tapi kalau dibiarkan terus menerus kebocoran bahan bantu produksi, bisa jadi gunung es.
"Kita nggak bisa potong kompas langsung lapor ke direktur kah, Pak?" tanya Satrio pelan.
"Bisa. Tapi nggak etis dong. Yang ada nanti nggak cuma planning yang kena tegur, tapi bisa kita semua kena semprot karena baru lapor sekarang setelah kebocoran terjadi setelah sekian tahun." kata Pak Cahyo.
__ADS_1
"Nanti aku coba bandingin perbedaan per item sama totalnya pemakaian bahan finishing dulu deh, Pak. Pasti ada celah yang bisa buat kita memperbaiki BoM ini." kata Satrio akhirnya.
"Ya. Semoga. Aku senang punya anak- anak seperti kalian. Rajin, dan teliti. Tapi harus tetap hati- hati ya. Jangan grubak- grubuk. Kita nggak kerja sendirian. Ada banyak teman yang harus kita perhatikan juga kepentingan hidupnya." kata Pak Cahyo kemudian menggigit nugget pisang yang tadi diambilnya dari meja Satrio.
"Enak banget ini nugget nya, Sat." kata Pak Cahyo dengan wajah gembira.
"Ambil lagi, Pak " kata Satrio sambil menyodorkan wadah nugget ke depan Pak Cahyo yang kemudian dengan tersenyum senang mengambil dua biji lagi.
"Makasih, Sat. Sekali- sekali makan makanan kekinian. Nggak cuma jajan cilok." kata Pak Cahyo sambil tertawa.
"Aku mau dong." akhirnya Widuri tergoda setelah melihat wajah nikmat Pak Cahyo yang sedang mengunyah nugget.
"Nih." kata Satrio meletakkan wadah seisinya di meja Widuri.
"Semuanya buat aku?" tanya Widuri riang.
"Dih, maruk jadi orang. Ambil, sisain diwadahnya buat aku sama Lukas." kata Satrio membuat Widuri tersenyum malu.
"Aku ambil berapa, Bang?" tanya Widuri setelah menghitung nugget masih ada tiga belas potong.
"Terserah. Yang penting sisain buat aku sama Lukas." kata Satrio sambil menulis pesan pada Lukas agar melipir naik ke PPIC sekarang sehubungan dengan jatah nugget pisang.
Lukas menjawab cepat dan nggak ada satu menit sudah tersenyum lebar mendekati meja Lukas.
"Kalau soal makanan cepet banget responnya." kata Satrio.
"Apalagi kalau yang ngundang kamu. Pasti enak soalnya." kata Lukas sambil mencomot satu nugget kemudian duduk di kursi yang ada di seberang meja Pak Cahyo.
"Nugget nya enak banget ya, Mas?" kata Widuri sambil menatap Lukas.
"Iya. Nugget Sang Siang kalah nih rasanya." kata Lukas memuji.
Satrio tersenyum senang.
"Beli dimana, Sat?" tanya Lukas.
"Di kasih." jawab Satrio sambil tersenyum lebar.
"Cewek nih pasti yang ngasih." kata Widuri yakin.
Satrio hanya tersenyum semakin lebar.
"Pacarmu?" tanya Lukas.
Satrio hanya kembali tersenyum.
"Yang punya motor kemarin ya?" tebak Pak Cahyo ikut nimbrung.
Satrio masih tetap bungkam.
"Tolong bilangin ke mbaknya, nugget nya enak. Minta dibikinin lagi." kata Widuri sambil terkikik.
"Dih, ngarep !" kata Satrio sambil mencomot satu nugget yang sedang jadi bintang di ruangan itu.
"Divideo aja, Bang. Kirim ke cewekmu kalau kita semua sangat menikmati nuggetnya. Dia pasti seneng." usul Widuri kocak.
"Yang ada nanti ceweknya marah, karena harusnya makanan ini khusus buat Satrio." kata Lukas menukas.
"Nggak kok. Aku tadi udah nanya, katanya boleh aku makan sama kalian." kata Satrio sambil mulai mencari aplikasi video di ponselnya.
"Aku rekam kalian ya. Buruan bilang terimakasih sama yang bikin nugget." kata Satrio sambil mengarahkan kamera ponselnya pada wajah ketiga temannya yang langsung memasang senyum senang.
"Makasih nuggetnya, Mbak. Enak banget." kata Pak Cahyo yang sedang mengunyah sambil mengacungkan jempolnya.
"Kirim lagi boleh lho, Mbak. Kami menerima dengan sangat terbuka." sahut Widuri kemudian sambil tersenyum riang memamerkan nugget yang telah tergigit di tangannya.
Satrio hanya nyengir kuda mendengarnya.
"Mbak cantik, kalau belum di tembak Satrio jangan mau kalau diminta ngasih makanan. Tekor nanti." kata Lukas membuat Satrio menendang pelan tulang keringnya lalu mematikan mode video di ponselnya.
"Sakit Bang Sat." keluh Lukas sambil mengelus- elus cepat tulang keringnya.
"Dih, nggak kena juga." sangkal Satrio sambil menekan tombol send di ponselnya.
Dia mengirim video tadi pada Adis sambil tersenyum.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1