KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Kamar Pengantin


__ADS_3

Satrio membuka pintu kamar Adis dengan pelan. Dilonggokannya kepalanya untuk melihat siapa saja yang menghuni kamar yang telah di hias sebagai kamar pengantin itu


Kosong.


Tak ada siapapun di dalamnya.


"Aman,Bro. Anak- anakmu sudah tidur di kamar lain sama anakku. Boleh kalau mau bergaya di kamar adikku semalam suntuk " suara Mas Didit di belakang tubuhnya mengagetkan Satrio.


"Ngagetin aja." kata Satrio setelah membalik badannya dan kini sudah berhadapan dengan Mas Didit yang tertawa meledeknya.


"Lha kamu malah kayak mau maling aja. Ngelongok kamar istrinya kayak mau nangkep orang selingkuh aja." cibir Mas Didit.


Satrio meringis.


"Repot kalau udah ada bocil duluan. Nggak jadi menikmati malam pengantin." bisik Satrio yang membuat tawa Mas Didit meledak.


"Pengantin blangsak! Pengantin anaknya udah dua. Capek deeeeh." ledek Mas Didit semakin menjadi.


Satrio hanya bisa nyengir kuda.


"Udah sana masuk. Adis paling udah selesai mandinya." kata Mas Didit sambil mendorong pelan lengan Satrio.


"Jangan malu- malu. Sama istri sendiri ini. Kayak yang belum pernah aja lagakmu." ledek Mas Didit belum selesai karena Satrio nampak salah tingkah.


"Selamat mengasah busi mu." kata Mas Didit lagi sebelum berlalu sambil terkikik- kikik nyaring.


"Dih, busi. Punya gue disamain ama busi. Enak aja. Segede gini disamain busi." gumam Satrio kesal sambil menunduk menatap ke arah rudalnya yang masih anteng dan rapi di tempatnya.


Satrio kaget saat pintu tiba- tiba terbuka dari dalam dan menampilkan Adis yang juga kaget di depannya.


"Astagfirullahaladzim....!" seru keduanya berbarengan.


"Kenapa berdiri di depan pintu gini?! Ngagetin aja!" kata Adis kesal sambil memukul dada Satrio pelan.


"Mau masuk, Yang. Keburu kamu buka pintu duluan. Kamu mau kemana?" tanya Satrio kemudian.


"Nyari anak- anak. Mereka tidur dimana?" tanya Adis sambil menatap Satrio.


"Udah tidur sama Maminya semua." jawab Satrio sambil tersenyum senang.


"Kenapa senyumnya girang banget gitu?" tanya Adis dengan tatapan menyelidik.


"Berarti malam ini aku menjadi penguasamu sampai besok pagi. Nggak diinterupsi sama Bian mulu." kata Satrio senang.


"Kamu tuh. Sama anaknya begitu." kata Adis dengan wajah kesal kemudian meninggalkan Satrio.


"Mau kemana, Yang?" tanya Satrio panik.


Kalau ngambek trus tidur di kamar lain kan berabe. Bisa rugi bandar dia. Kondisi yang sudah sangat kondusif untuk berduaan bisa- bisa lewat dengan percuma kalau begitu.


Mana ini di rumah orang tua Adis yang dia belum tahu seluk beluknya pula.


"Nengok anak- anak sebentar. Kamu ke kamar aja." kata Adis tanpa menoleh.


Satrio tersenyum gembira.


Udah dikomando suruh ke kamar aja, xixixi...


Tak lama Adis sudah masuk ke kamar lagi.


Satrio yang sudah menunggu Adis segera menyambutnya dengan senyuman lebar dan merentangkan kedua tangannya.


"Kok ikut- ikutan Bian gayamu, Mas? Tiap liat aku langsung begitu tangannya, minta gendong." kekeh Adis yang malah menuju meja rias untuk memakai serum kemudian krim malam.


"Aku juga mau minta gendong. Tapi di ranjang aja gendongnya. Biar kamu nggak capek." gombal Satrio yang dibalas cibiran Adis.

__ADS_1


"Nggak capek, cuma remuk." dengus Adis sambil melirik tajam pada suaminya.


"Remuk tapi bikin nagih kan?" sahut Satrio dengan senyum menggoda.


"Nggak!" jawab Adis cepat dengan malu- malu.


"Iya...nggak salah." sahut Satrio sambil menatap meledek pada Adis.


"Anak- anak udah aman kan?" tanya Satrio sambil kembali merentangkan sebelah tangannya karena Adis sudah mendekat padanya.


Adis langsung meringkuk di pelukan Satrio.


"Udah. Di kamar Mas Didit dihuni lima orang. Mas Didit tidur di lantai." jawab Adis sambil tersenyum geli.


"Pasti besok dia ngomel- ngomel sama aku." kekeh Satrio membayangkan muka Mas Didit yang ngomel padanya.


"Biarin aja. Udah biasa dia ngomel- ngomel gitu. Hobi dari kecil." kata Adis sambil menarikan jari telunjuknya di atas dada Satrio yang masih berbalut t- shirt. Matanya sendiri sudah setengah terpejam karena merasa ngantuk.


"Mau mencoba ranjang di kamar ini buat bikin adiknya Bian nggak?" tanya Satrio sambil mengelus pipi Adis lembut.


"Tapi aku ngantuk." jawab Adis setelah mengangguk kecil.


Melewati malam- malam bersama Satrio selama sebulan ini sudah membuat Adis tahu bagaimana dia tak pernah bisa menolak sensasi keindahan yang selalu ditawarkan Satrio di malam- malam mereka. Selalu melenakan dan memabukkannya.


"Kita tidur sebentar dulu. Nanti baru kita berantakin tempat ini." bisik Satrio lembut kemudian sedikit mengeratkan pelukannya pada Adis yang sudah bersandar nyaman di atas bahunya dengan mata yang semakin rapat terpejam.


Sejak kemarin keluarga Satrio sudah ada di kediaman Adis untuk merayakan pernikahan mereka secara hukum negara.


Adis dan keluarga menolak tawaran Pak Susilo untuk mengadakan pesta besar- besaran di hotel terbesar.


Pesta tetap di gelar di hotel namun di gelar cukup sederhana versi kekayaan keluarga Buwono walaupun kenyataannya semua dekorasi, menu dan souvernir tetap yang terbaik saat ini.


Pak Hendarwan hanya mengundang keluarga terdekat, tetangga, dan beberapa rekan kerjanya saja.


Tak lupa keluarga Beni juga ikut diundang dan menghadiri acara dengan senang hati.


Flashback on


**************


"Alhamdulillah...akhirnya Adis dan Reta memiliki pelindung segagah dan sebaik ini. Titip anak dan cucu Ibu ya, Nak. Adis anak yang baik. Tolong sayangi dia." kata Ibu Beni di sela tangisnya.


Satrio tersenyum dan mengangguk sopan.


"Pasti,Bu. Reta dan Adis akan Saya sayangi sepenuh hati. Mohon doakan pernikahan kami ya,Bu..." kata Satrio sambil mengusap- usap pundak mantan mertua Adis itu.


"Tentu saja, Nak. Tentu kami akan selalu mendoakan kalian. Terimakasih sudah mengundang kami di acara kalian ini. Terimakasih juga tadi kamu berkunjung ke makam Beni." kata Ibu Beni dengan wajah terharu.


Satrio sedikit terkejut saat ibu Beni tahu kalau tadi dia bersama Adis dan Reta mengunjungi makam Beni.


"Barusan Reta cerita kalau tadi ke makam Papanya dengan mama dan Ayahnya. Dia sangat bahagia punya Ayah kamu." kata ibu Beni sambil tersenyum bahagia.


Satrio hanya mampu tersenyum saja.


"Alhamdulillah kalau Reta bahagia dengan keberadaan Saya. Memang itu yang Saya harapkan. Semoga Bapak dan Ibu juga bisa menerima keberadaan Saya nantinya. Bukan untuk mengganti Beni, tapi sebagai anak ibu dan bapak juga, seperti Adis." kata Satrio yang membuat Ibu Beni kembali mengalirkan airmatanya.


"Tentu...tentu saja, Nak. Terimakasih sudah mau menganggap kami orangtuamu juga. Maka kalau kamu tengah berkunjung kemari, mampirlah ke rumah kami juga ya? Kami akan sangat senang menerima kalian semua." kata Ibu Beni penuh harap.


"Tentu Bu. Kami pasti akan mengunjungi Ibu dan Bapak juga nantinya." kata Satrio sambil tersenyum senang.


Flashback off


**************


Adis mengerjapkan matanya saat dirasanya ada serangan di area dadanya.

__ADS_1


Tanpa perlu berpikir pun dia tahu siapa yang tengah sibuk sendiri menguasai dadanya itu.


Dilihatnya sesaat jam besar yang menempel di dinding kamarnya. Jam setengah dua dinihari.


Ternyata hampir dua jam dia tertidur dan Satrio sudah tak sabar bertingkah lagi di tengah malam ini.


Tanpa sadar Adis merintih pelan saat Satrio menikmati puncak da danya dengan lembut. Tangannya sudah meremas pelan kepala belakang dengan rambut cepak suaminya itu.


Satrio bergegas mengangkat kepalanya saat merasakan ada reaksi dari kelakuannya itu.


"Kamu udah bangun?" tanya Satrio dengan suara parau tanpa menjauhkan mukanya dari puncak bukit indah milik istrinya itu.


"Hmmm..." jawab Adis sambil tersenyum.


"Kamu nggak tidur dari tadi?" tanya Adis lagi, kembali mengusik keasikan Satrio.


"Udah tadi sebentar. Trus nggak bisa tidur lagi. Ya udah deh, nyari kesibukan sendiri aja sambil nunggu kamu bangun." kata Satrio sambil tersenyum malu.


"Kesibukan sendiri yang menggangguku." gumam Adis gemas.


"Terganggu tapi sampai men de sah." ledek Satrio sebelum kembali menjalankan bibirnya sesuka hatinya di dada Adis.


"Men de sah apaan?!" sergah Adis tak mau mengakui.


"Men de sah tuh begini...." kata Satrio langsung menyerang da da Adis dengan tepat sasaran dan tepat hi sa pan hingga membuat Adis langsung mengeluarkan suara intimnya.


Tak mau berbasa- basi lebih lama lagi, Satrio melanjutkan serangan diniharinya dengan semangat empat lima walau tetap melakukan cum bu annya dengan lembut dan terarah agar Adis merasa nyaman dan senang dulu, agar nanti saat sudah merasa dimanjakan, istrinya itu pasti akan membalas perlakuan manisnya itu dengan perlakuan dan persembahan berkali- kali lipat manis dan nikmatnya.


Walau Adis tetap belum mengijinkannya menabur benihnya di dalam rahimnya dengan alasan karena Bian belum ada setahun dan kasihan kalau harus diduakan dwngan adiknya nanti, tapi Satrio tetap bisa merayakan kebahagiaannya di dini hari itu dengan suka cita dan kepuasan maksimal.


Niatnya memporak-porandakan ranjang pengantin sudah terlaksana dengan sukses besar.


Ranjang itu sudah berantakan tak karuan, dengan kondisi dirinya dan Adis yang sama- sama berantakannya.


Adis bahkan harus meraih selimut yang tadi diusir oleh sepakan kaki Satrio ke lantai.


"Berantakan banget sih." gumam Adis sambil menarik kaos Satrio dari bawah punggungnya.


Satrio sendiri tengah menaikkan inner lingerie -yang tadi dipakai Adis- dengan jempol kakinya yang tak berbalut apapun.


CD Satrio bahkan tengah jadi bantal pemiliknya.


"Itu outernya kamu buang kemana?" tanya Adis sambil tersenyum geli sambil merapatkan selimut -yang tadi diraihnya dari lantai - ke dadanya.


"Nggak tahu. Lupa aku buang kemana." jawab Satrio kembali merangsek kembali ke leher Adis.


"Udahan dulu,Mas. Udah mau subuh ini." cegah Adis saat dirasanya Satrio sudah memainkan lidahnya di belakang telinganya. Tangannya melempar CD Satrio ke lantai.


"Masih lima belas menit lagi adzannya." jawab Satrio lirih kemudian melanjutkan aksinya.


"Buat istirahat dulu sebelum mandi." kata Adis masih mencoba mencegah kelakuan Satrio lagi.


"Sekali lagi bisa. Ekspress aja. Ya?" pinta Satrio kemudian menggigit pelan telinga Adis dengan kedua bibirnya.


Tangannya sudah bergerilya di area inti milik Adis di bawah sana.


Adis tak mampu lagi menjawab karena Satrio sangat cepat menyeretnya kembali ke dalam hantaman ombak asmara diujung dinihari itu.


"Tetep keluarin diluar..." gumam Adis dengan nada gelisah karena jemari Satrio sedang melambungkannya menuju batas langit surga dunia.


"Iya, Sayang...Aku usahakan selalu. Sekarang boleh masuk ya?" ijin Satrio lembut.


...Belum...


...🧚🧚🧚 T A M A T 🧚🧚🧚...

__ADS_1


Sekian dan terima protes 🙊🙈


🏃🏃🏃🏃🏃.....💨💨💨


__ADS_2