KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Trauma


__ADS_3

"Bini gue nih." bisik Satrio riang di samping kepala Adis yang masih Satrio rasa kaku dalam rengkuhan kedua lengan Satrio.


Kedua tangannya hanya memegang sedikit baju di kedua sisi pinggang Satrio.


"Kenapa nggak mau peluk aku?" tanya Satrio setelah ditunggunya Adis tak juga memindah tangannya dari sisi pinggangnya.


"Malu." jawab Adis teredam di dada Satrio.


"Sama Reta? Kan dia lagi tidur." bisik Satrio lagi.


Hhhhh, kalau nggak inget dunia disekitarnya saat ini suasananya kurang mendukung, pengen banget dia 'habisin' nih cewek sekarang juga.


Tapi gimana dia bisa gitu saat ini kalau 'arena utama' mereka saja sudah dikuasai Reta.


Bahkan diluar kamar orangtua dan mertuanya masih ngobrol dengan asiknya seolah tidak mengerti kalau ada sepasang anak manusia yang butuh suasana lebih intim saat ini.


Belum lagi Wira dan Mas Didit yang sedari tadi kasak- kusuk nggak jelas obrolannya.


Kan nggak lucu banget vibes romantis yang sangat sungguh- sungguh dia ciptakan akan terancam bubar di tengah jalan.


Lebih apes lagi kalau dia sedang on trus diinterupsi, pasti efek pusingnya bisa sampai seharian besok.


Jadi dia memutuskan hanya akan 'menyapa' sejenak tubuh istrinya saja dulu. Dengan berpelukan seperti ini.


Hal yang selebihnya dari itu nunggu situasi dan kondisi lebih kondusif saja.


Toh besok malam suasana rumah sudah kembali normal.


Semuanya akan balik ke tempat asal kecuali Bian dan mbak susternya.


Suster yang mengasuh Bian bernama Mbak Novi. Dia suster yang sudah profesional.


Berumur tiga puluh lima tahun, asal Sragen. Begitu hasil wawancara singkat Satrio tadi.


"Peluk aku, please..." bisik Satrio memohon.


"Mas, aku lagi..."


"Iya...Udah dikabarin sama Mbak Yanti tadi. Nggak papa. Aku sabar kok nunggunya." potong Satrio sok pengertian.


"Di kasih tau apa?" tanya Adis bingung sambil melepaskan tubuhnya dari dekapan Satrio.


"Kalau kamu lagi palang merah. Pasang portal." jawab Satrio sambil nyengir.


"Ih, nyebelin!" sungut Adis sambil memukul lengan Satrio tanpa tenaga.


"Kok jadi aku yang nyebelin? Mbak Yanti dong yang nyebelin. Dia yang nyebar berita menyedihkan ini di hari bahagiaku." sanggah Satrio nggak terima.


Adis tertawa malu.


"Aku tadi bukan mau bilang soal itu. Tapi ya Alhamdulillah kalau kamu sudah tahu kalau kamu sedang kehadang portal." kata Adis sambil terkikik pelan seakan nyukurin Satrio.


"Eh malah nyukurin kamu nih." kata Satrio kembali meraih tubuh Adis dan memeluknya kencang.


Adis tiba- tiba memukul- mukul punggung Satrio panik dan nafasnya langsung tersengal- sengal.


Satrio bergegas melepaskan pelukannya dan kaget saat melihat Adis bergegas menjauh darinya dan menatapnya dengan sorot mata benci dan sedih serta ketakutan yang berusaha disembunyikan.


"Dis....Sayang....Kamu kenapa?" tanya Satrio lembut sambil berusaha meraih tangan Adis yang mencegahnya mendekat dengan memajukan satu tangannya ke depan.


Wajahnya dia sembunyikan di balik satu tangannya yang lain.


Astagfirullahaladzim...Adis kenapa?


"Tolong Mas pergi dulu." kata Adis dengan suara gemetar.


Satrio kaget mendengarnya.


"Please..." sambung Adis lagi saat Satrio baru akan kembali membuka mulutnya.


"Tapi kamu kenapa?" tanya Satrio bandel.


"Aku takut sama kamu. Tolong pergi dulu." pinta Adis memelas.


Satrio terlonjak mendengar kata- kata Adis barusan.


Takut padanya?! Memangnya dia ngelakuin apa barusan sampai Adis ketakutan dan gemetar gitu?


Dia kan cuma meluk Adis dengan kencang barusan...Trus Adis panik dan keliatan sesak...


OMG !!!


Dada Satrio berdetak kencang saat menyadari kemungkinan Adis mengalami trauma.


Panjul gila!!!

__ADS_1


"Ya,... ya...aku keluar dulu. Maafkan aku, Sayang. Aku nggak maksud gitu. Aku diluar kalau nanti kamu nyari ya." kata Satrio lembut sebelum bergegas keluar dengan berat hati.


Dia menyesal luar biasa membuat Adis kembali merasakan ketakutan bahkan saat baru beberapa jam menjadi istrinya.


Gue bodoh banget sih....Nggak mikir kemungkinan Adis masih trauma.


Yang penting Adis tenang dulu. Nanti akan dia bicarakan masalah trauma itu kalau kondisi Adis sudah normal.


Satrio memijit pelipisnya yang tiba- tiba berdenyut.


"Lho, kok keluar lagi?" tanya Wira dengan wajah tengil.


Satrio mendengus kesal dengan tatapan meledek Wira dan Mas Didit.


"Emang kenapa? Nggak boleh?!" sungut Satrio Satrio sambil membanting tubuhnya di atas karpet ruang tamu.


"Kirain mau unboxing." kekeh Wira sambil terkekeh.


"Otak lu tu dicuci sono! Gue yang kawin lu yang ngeres mulu!" omel Satrio sambil menendang kaki Wira yang ada di sebelah kakinya. Wira meringis kesakitan.


"Adis udah tidur?" tanya Mas Didit dengan wajah penasaran.


"Belum.Barusan selesai mandi." jawab Satrio santai.


Matanya menatap langit- langit dengan tatapan hampa.


Kebisuan sejenak melingkupi ruangan itu.


"Jangan bilang kamar kalian di sabotase Reta?!" kata Mas Didit setengah berseru.


Wira menatap Satrio dengan menahan tawa.


"Reta emang tidur di kamar mamanya.' kata Satrio santai.


"Waduh, tu anak! Bentar aku ambil dia dulu." kata Mas Didit sambil beranjak berdiri.


"Nggak usah, Mas!" cegah Satrio sambil bangkit dari tidurannya.


Dia menatap memohon pada Mas Didit yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Mas Didit curiga.


Satrio hanya tersenyum.


Mas Didit kembali duduk di depan Satrio.


"Beneran cuma itu alasannya?" tanya Mas Didit menatap Satrio menyelidik.


"Iya. Apalagi?" tanya Satrio sambil tertawa palsu.


"Ada yang mau kamu sembunyikan kan? Iya kan?" tanya Mas Didit semakin tajam menatap Satrio.


Satrio menunduk.


Wira menepuk lengan Satrio pelan.


"Lu berantem sama Mbak Adis? Nggak lucu banget deh!" tebak Wira.


"Nggak! Jangan ngarang lu!" sangkal Satrio cepat.


"Trus ada apa?" tanya Mas Didit kemudian dengan tatapan menuntut jawaban.


Satrio menarik nafas berat.


"Adis ternyata punya trauma sama 'tindakan yang sedikit berlebihan'. Aku tadi nggak sengaja bikin dia shock." kata Satrio sambil menatap Mas Didit penuh rasa bersalah.


Wira dan Mas Didit beringsut mendekat ke arah Satrio.


"Maksudnya gimana nih? 'Tindakan yang sedikit berlebihan' itu yang gimana?" tanya Mas Didit mulai khawatir.


"Nggak tahu kekerasan fisik macam apa saja yang sebenarnya telah Adis terima dari Panjul dulu sampai bikin dia trauma...."


"Hah? Trauma? Gimana sih ceritanya?" tanya Wira mulai kepo.


Dia memang belum pernah diberi cerita soal masalah Adis dan Panji dulu.


"Ba ji ngan itu harusnya dulu kita habisin aja kok, Sat." geram Mas Didit dengan wajah kesal.


Wira hanya menatap ke arah Mas Didit yang nampak menahan emosi dan beralih menatap Satrio yang hanya menghela nafas berat.


Ada story' apa sih ini?


"Yang jadi pikiranku sekarang adalah gimana cara nyembuhin trauma itu dulu, Mas." kata Satrio.


Mas Didit menunduk sedih.

__ADS_1


Hatinya pilu membayangkan kesedihan dan rasa sakit yang ditahan Adis selama bersama Panji dulu.


Dia merasa bersalah karena tidak ngotot membantu Adis meyakinkan orangtuanya kalau Panji itu itu sangat brengsek.


Dan dia sangat yakin, kedua orangtuanya pasti akan sangat menyesal dan sedih kalau tahu keadaan jiwa Adis sekarang.


Mereka pasti akan menyesal karena dulu memaksa Adis tetap bertahan menjalani hubungan dengan Panji.


Maafin Mas ya Dis, nggak bisa jagain kamu dengan baik selama ini.


"Tadi Mbak Adis lu apain sampai traumanya muncul?" tanya Wira setelah suasana sejenak kembali hening.


"Tadinya gue peluk pertama dia diem aja. Kayak kaget gitu. Gue ajak ngobrol masih nyambung, masih biasa. Giliran gue gemes kan, gue peluk dia lagi dan gue kencengin pelukan gue, dia yang terus kayak panik dan sesak nafas gitu. Gue kan kaget tuh. Gue lepasin, dia langsung yang ngejauh ketakutan gemetar gitu. Nggak mau liat gue." cerita Satrio sedih.


Mas Didit menutup wajahnya sedih.


"Trus kenapa malah lu tinggalin?! Harusnya lu tenangin dia." protes Wira kesal.


"Dia yang minta gue pergi dulu. Dia bilang dia takut sama gue. Ya udah gue pergi aja dari depannya, biar dia tenang." kata Satrio bingung.


"Biar aku tengok dia dulu." kata Mas Didit sambil tergesa berdiri kemudian berjalan cepat ke arah kamar Adis.


Para orang tua yang sudah berdiri hendak membubarkan diri nampak keheranan melihat Didit yang berjalan cepat ke arah kamar Adis dengan wajah khawatir tanpa menghiraukan keberadaan mereka.


"Dit...Didit...Ada apa?" tanya Pak Hendarwan yang tak mendapat sahutan dari Mas Didit.


Satrio dan Wira muncul ke ruangan dan mencegah para orang tua yang bermaksud akan menyusul Mas Didit.


"Lhoh...kok kamu malah disini, Sat? Itu Didit kenapa keliatan panik gitu? Adis kenapa?" tanya mamanya sambil menatap Satrio kebingungan.


"Kalian udah ribut, Sat?" tanya Pak Susilo dengan tatapan kesal pada Satrio.


"Enggak! Aku nggak ribut kok." jawab Satrio cepat.


"Trus kenapa itu Didit ke kamar Adis? Ada kejadian apa sih? Didit nggak biasa- biasanya lho cemas kayak gitu." tanya Bu Hendarwan nampak mulai khawatir.


Satrio menunduk tak berani menjawab.


Sebab bila dia menjawab kalau Adis sedang meredakan traumanya, pasti mertuanya itu akan sedih, seperti yang di dibilang Mas Didit tadi.


"Tadi Adis bilang pengen ketemu Mas Didit segera. Karena keheranan makanya Mas Didit kayak gitu." dusta Satrio pada mertuanya.


Para orangtua hanya mengangguk walau Satrio tau mereka tidak sepenuhnya percaya dengan ucapannya.


"Kita tunggu Didit keluar dulu deh. Kok aku agak khawatir ya." gumam Pak Hendarwan kembali duduk diikuti yang lain.


"Tapi Adis nggak sakit kan,Sat? Beneran nggak kenapa- napa kan?" tanya Bu Katarina khawatir.


"Pastilah nggak kenapa- napa. Kalau kenapa- napa pasti Satrio nggak bengong disini lah, wong dia suaminya." sahut Pak Susilo cepat.


Satrio mengangguk meyakinkan, membenarkan ucapan papanya.


"Tapi kalau cuma pengen ngobrol sama Didit kenapa harus banget sekarang? Ini kan udah malem. Udah waktunya kita tidur." kata Bu Hendarwan tetap keheranan.


"Sat, ada apa sebenarnya dengan Adis? Kalian berantem?" tanya Pak Hendarwan kembali mengulang sangkaan Pak Susilo.


"Enggak Pa. Swear...Kami nggak berantem." jawab Satrio serius.


"Trus Adis kenapa sampai Didit panik gitu?" cecar Bu Hendarwan.


Satrio menunduk.


"Udah bilang terus terang aja, biar nanti kita cari solusinya sama- sama." bisik Wira pada Satrio namun samar- samar terdengar oleh Pak Susilo.


"Solusi? Ada masalah apa sih?!" tanya Pak Susilo mulai kesal.


Satrio menabok punggung Wira karena mulut embernya barusan.


Kalau udah gini kayaknya udah percuma juga berkelit.


"Adis kenapa, Sat? Ada masalah apa sama anak Mama?" tanya Bu Hendarwan sudah mulai berkaca- kaca.


Bu Katarina memeluk lengan besannya untuk menenangkan.


"Kita tunggu Mas Didit dulu ya. Biar bisa sekalian kita obrolin semuanya bareng- bareng." kata Satrio akhirnya.


Para orangtua kemudian saling pandang dengan tatapan bingung dan gelisah.


"Kasih clue dikit bisa nggak sih, Sat? Biar kami nggak cemas gini?" pinta Pak Susilo dengan wajah yang tidak bisa menutupi penasarannya.


Sabar sebentar, Pa. Nunggu Mas Didit aja dulu ya." kata Satrio membujuk.


Wajah keempat orangtua itu semakin menegang.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2