KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Stop atau maju?


__ADS_3

Satrio menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang di depan tv.


Diregangkannya seluruh persendiannya dengan menggeliat semaksimal mungkin.


Malam ini jelas malam yang tidak biasa buatnya.


Tentu saja!


Dia heran sendiri dengan mulut manisnya tadi, saat dengan yakin dan mantapnya ingin jadi suami Adis.


Ya Tuhan.....apa iya Adis akan menganggap serius ucapannya tadi secara bisa dibilang selama ini mereka nggak dekat yang special.


Kedekatan mereka selama lebih lebih sebagai musuh berdebat daripada sebagai orang yang saling menaruh hati.


Trus tadi ngapain coba mulut lemesnya ujug- ujug ngomong pengen jadi suaminya Adis?


Kan gokil itu!


"Dasar mulut kebanyakan minum oli." gumam Satrio merutuki dirinya sendiri.


Satrio mengacak- acak rambutnya kesal.


Dia deg- degan kini.


"Buseeet.....seumur- umur jadi orang ganteng, baru kali ini nembak cewek deg- degannya sampai di bawa pulang." gumam Satrio sambil meringis geli pada dirinya sendiri.


Ya iyalah deg- degan. Secara tembakannya tadi nggak langsung dapat jawaban.


Eh, bukannya tadi Adis udah jawab ya?


Menjawab untuk nggak nunggu dia....


Satrio tiba- tiba menegakkan duduknya dengan wajah yang tiba- tiba tegang.


"HAH? Dia nolak gue?!" seru Satrio seperti baru sadar.


"Astagaaaa.....Beneran gue barusan ditolak?" tanya Satrio lagi pada tembok di depan sana dengan nada tak percaya.


"Nggak usah nunggu tuh penolakan secara halus bukan sih?" gumam Satrio kemudian dengan wajah bingung.


Ya. Dalam urusan di tolak cewek, Satrio belum pernah punya pengalaman sama sekali.


Selama ini yang ada dia nembak dan pasti langsung di terima dengan suka cita sama cewek- ceweknya.


Jadi kalimat ' jangan nunggu aku' adalah kalimat membingungkan buatnya.


Apa perlu tanya Lukas ya soal ini? Lukas kan udah beberapa kali di tolak cewek. Dia pasti tahu arti kalimat 'jangan nunggu aku'.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Pak Susilo sedikit tercenung melihat notifikasi penarikan dana oleh Satrio.


Setelah sekian lama anaknya itu tak mau menggunakan uang darinya, sekarang ada tiga kali pergerakan ( lagi ) di rekening anak itu dengan penggunaan yang terakhir sampai puluhan juta.


Bukan jumlah uang yang keluar yang membuatnya penasaran, tapi penggunaan uangnya yang membuat Pak Susilo keheranan.


Pria tengah baya itu tersenyum simpul saat kembali membaca beberapa pesan dari Satrio sebelum kembali mau mengusik rekening jatah bulanannya itu.


Dulu, Boro- boro minta ijin dulu ke papanya kalau mau memakai kartu kredit. Satrio mah main gesek aja,nggak perduli jumlah nominal yang dia keluarkan lewat kartu kaku dan tipis itu.


Tapi sejak jadi wong Jogja, anak itu bersikap lebih benar.

__ADS_1


Tiga kali penarikan, selalu dia dahului dengan mengirim pesan pada Papanya kalau akan mengambil uang dalam jumlah sekian untuk membeli ini. Jelas penggunaannya.


"Benar- benar sudah bukan bocah lagi anak itu." gumam Pak Susilo dengan selipan rasa bangga di hatinya.


"Siapa?" tanya Bu Katarina yang tiba- tiba duduk di sebelahnya dengan rambut berbalut handuk.


"Pagi- pagi ngapain keramas, Ma? Kayaknya semalam aku nggak nakalin kamu deh." tanya Pak Susilo sambil menatap heran lilitan handuk di kepala istrinya.


"Lupa kalau nggak ngapa- ngapain sama kamu. Main keramas aja pagi- pagi. Udah kebiasaan sih." jawab Bu Katarina ngasal.


"Kebiasaan apa? Kebiasaan ngapa- ngapain?" tanya Pak Susilo sambil cengengesan.


"Bukaaaan. Kebiasaan keramas pagi- pagi karena habis di apa- apain." jawab Bu Katarina membuat suaminya melongo.


Belibet amat ngobrol pagi ini.


"Anakmu barusan beli mobil bekas." kata Pak Susilo mengalihkan pembicaraan nggak jelas itu ke pembicaraan yang lebih berbobot.


"Siapa? Mas? Atau Wira?" tanya Bu Katarina.


"Satrio. Beli L300 bekas buat akomodasi jualan batakonya sama mau jualan pasir." kata Pak Susilo sambil terkekeh menganggap usaha kecil yang dirintis Satrio semacam acara anak kecil sedang main jual- jualan.


"Dia mau serius jualan batako,Pa?!" tanya Bu Katarina keheranan.


"Nggak tahu. Kita liat aja bisa tumbuh nggak. Alhamdulillah kalau dia bisa mengembangkan itu. Minimal ilmu dia bisa dia praktekkan walau dari nol. Setidaknya jiwa Bisnisku jatuh juga ke dia." kata Pak Susilo dengan wajah tenang.


"Kalau dia serius mau ngembangin usaha recehannya dia itu, terus perusahaan kita gimana, Pa? Siapa yang mau ngurusin? Wira ke usaha kuliner. Satrio malah ke usaha material." kata Bu Katarina gusar.


"Nanti kita bicarakan sama mereka berdua. Siapa tahu mereka ada rencana lain. Atau punya cara lain untuk tetap bisa memegang perusahaan kita tanpa melepaskan passion mereka di pilihan bisnis mereka sendiri." kata Pak Susilo menenangkan.


Ada sedikit kesenduan di hati kecilnya saat menyadari kedua anaknya tak ada yang meminta 'jatah' posisi di perusahaan keluarga selepas mereka berdua wisuda kuliah bisnisnya.


Anak itu lebih memilih rebahan dan keluyuran dengan bermain saham.


Dan Wira, sejak awal sudah bilang pada orang tuanya hanya akan masuk ke perusahaan keluarga kalau dia sudah tidak bisa lagi membuka usahanya sendiri.


"Harusnya dulu kita punya satu anak lagi ya, Pa." kata Bu Katarina sedih.


"Kenapa?" tanya Pak Susilo keheranan.


"Biar kita didik dari kecil megang perusahaan kita." jawab Bu Katarina menggebu.


Pak Susilo tertawa mendengarnya.


"Kamu kira anak itu robot? Bisa kita program semau kita untuk menuruti semua mau kita?" tanya Pak Susilo sambil menatap istrinya.


"Habis punya anak dua aja nggak ada yang mau megang usaha keluarga. Padahal nggak usah merintis, nggak perlu bersusah payah membangun. Hanya tinggal menjalankan, menjaga, dan mengembangkan perusahaan. Ini nggak ada yang mau." keluh Bu Katarina sedih.


"Anak punya hak atas dirinya sendiri mau jadi apa. Kita nggak boleh maksain mau kita sama anak, sekalipun kemauan kita kemauan yang baik. Batas maksimal hak kita ke anak hanya menawarkan, memfasilitasi, dan menunjukkan jalan yang benar. Memaksa anak harus menuruti kita hanya boleh kita lakukan kalau itu membahayakan nyawa dan kehormatannya sebagai manusia. Selain itu kita nggak boleh melanggar pilihan hidup mereka. Dengan catatan mereka hidup dengan benar." kata Pak Susilo bijaksana.


"Menyedihkan sekali hidup kita ini, Pa." keluh Bu Katarina sedih.


Dipeluknya lengan suaminya kemudian membenamkan wajahnya disana dengan sedih.


"Menyedihkan kenapa? Kita sekeluarga sehat wal afiat, kita berdua saling mencintai, hidup nggak kekurangan, punya anak. Bagian mananya yang menyedihkan?" tanya Pak Susilo sambil membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


Nampaknya sang permaisuri sedang kurang bagus mood nya.


"Kita punyanya anak cowok. Nanti kalau mereka nikah,mereka pasti nggak sempet mikirin kita. Sibuk sama kerjaan dan keluarga mereka." kata Bu Katarina sedih.


"Mau anak lelaki atau perempuan sama saja. Kalau mereka beranjak dewasa pasti mereka akan membangun kehidupan mereka sendiri.Siklus manusia pada umumnya kan memang begitu itu. Kita juga begitu kan dulu? Kita melepaskan diri dari orang tua kita untuk membangun dunia kita sendiri. Tapi nyatanya kita tetap tak pernah meninggalkan orang tua kita. Kita tetap jadi anak- anak mereka." kata Pak Susilo sambil menciumi pipi istrinya yang sedang memasang wajah galau.

__ADS_1


"Ternyata kita jadi orang tua hanya sampai mereka berseragam SD ya, Pa. Setelah itu mereka udah nggak mau kita uyel- uyel lagi." kata Bu Katarina sambil menatap wajah suaminya.


"Makanya kita dikasih pasangan, biar bisa kita uyel- uyel sampai tua." kata Pak Susilo kemudian memeluk erat tubuh istrinya.


"Papa iiiiiihhhh!!!" seru Bu Katarina sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.


"Mau diuyel- uyel nggak?" tanya Pak Susilo sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.


"NGGAK!!!" jawab Bu Katarina sambil bergegas keluar kamar.


"Selalu menggemaskan cewek tomboy itu." kekeh Pak Susilo sambil beranjak ke kamar mandi.


Dia hampir saja lupa kalau ada meeting pagi ini.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


"Seriusan dia ngomong gitu, Sat?" tanya Lukas kaget.


Satrio hanya mengangguk lemah sambil menyedot es jeruknya.


"Itu penolakan atau ngasih kode buat nunggu sih?" tanya Satrio penasaran.


"Itu penolakan yang terpaksa dilakukan." kata Lukas.


"Maksudnya? Dia nggak pengen nolak tapi terpaksa nolak gitu?" tanya Satrio kemudian.


Lukas mengangguk.


"Kenapa harus gitu?" tanya Satrio penasaran.


"Mungkin dia mencintai, tapi ada sesuatu yang menahan dia meneruskan cintanya padamu. Makanya dia nggak ingin kamu nunggu karena dia nggak pengen menyiksa perasaanmu." kata Lukas menyajikan sebuah penelaahan.


"Atau mungkin juga dia memang nggak cinta sama kamu. Jadi dia nggak pengen kamu berharap padanya." kata Lukas lagi, menyajikan satu kemungkinan lain.


"Masak sih dia nggak cinta sama aku?" kata Satrio tak percaya.


"Kalau aku liat dari cara dia menatapmu sih kayaknya dia juga ada rasa sama kamu...." kata Lukas seperti gumaman.


"Aaahhhh plin plan lu! Bikin tambah pusing palaku aja." dengus Satrio kesal.


"Plin plan apaan?! Aku kan menyajikan analisa dan kemungkinan yang mungkin terjadi." sergah Lukas tak terima dengan sebutan Satrio padanya barusan.


"Jadi aku harus gimana? Maju terus atau berhenti aja nih? " tanya Satrio bingung.


"Ikutin kata hatimu aja. Nanti kalau harus berhenti, pasti ada tandanya." kata Lukas santai.


"Tandanya apa?" tanya Satrio bingung.


" "Meneketehe!!!" jawab Lukas yang langsung di sambit sendok oleh Satrio.


"Gue pecat lu jadi direktur pabrik batako!" seru Satrio kesal.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Minta ijin nggak up di hari Jum' at besok ya......


Mudah- mudahan bisa ku ganti up di hari Minggunya....


Happy reading semuanyaaaaa....💖💕


.

__ADS_1


__ADS_2