
Sayang sekali. Satrio kali ini kurang waspada dengan 'bahaya' yang akan menyerang pertahanan dirinya sendiri.
Sentuhan lembut di pipi halus yang merona, sambil menatap mata sayu yang seolah merayunya malam itu ternyata membuat porak poranda ketangguhan pertahanannya.
Ada keinginan yang dengan pelan namun pasti mulai menggeliat terjaga dan menendang- nendang tanpa ampun sisi pertahanan yang dia bangun dengan susah payah sendiri tadi.
Apalagi kini jemari Adis telah meraup jemari Satrio yang berada dipipinya lalu mengecupnya lembut.
Percikan kecil hasrat yang telah muncul -dan sedang ingin Satrio padamkan saat ini- kini telah menjadi letupan yang kian menghangatkan jiwanya yang sudah mulai hendak melayang.
"Jangan mengujiku, please ...Aku yakin nggak akan kuat melewati malam ini dengan tenang kalau kamu bergerak lagi." bisik Satrio memelas.
Adis menatap Satrio iba namun tetap menempelkan telapak tangan Satrio di pipinya.
Keberadaan Reta diantara mereka malam ini jelas bukan hal yang tepat waktunya.
Namun mereka juga nggak sampai hati dan malu juga kalau harus mengeluarkan Reta dari kamar mereka.
"Maaf ya..." bisik Adis penuh sesal karena situasi tidak mendukung mereka untuk lebih bisa menikmati keintiman layaknya pasangan baru.
"Malam- malam kita akan hectic terus kayaknya . Walau nanti nggak ada kakaknya ini, ada bayi yang siap sedia akan mengacau saat romantis kita." kata Satrio sambil menerawang membayangkan bagaimana rasanya kalau dia lagi 'setengah jalan' tiba- tiba Bian bangun dan nangis.
Hadyeeeeh, sengsara deh....
Adis hanya tersenyum menahan tawa. Tak terbayangkan bagaimana reaksi kesal Satrio kalau nanti hal itu terjadi.
Adis juga penasaran bagaimana rasanya bila saat intim mereka terjeda oleh rengekan Bian.
"Resiko jadi orang tua. Nikmati aja. Pasti nanti kita bisa nemu celahnya." kata Adis sambil menatap Satrio jenaka.
Satrio tersenyum geli.
Apa memang begini rasanya susahnya pasangan yang memiliki anak kecil saat ingin menikmati waktu intim berdua saja dengan pasangannya?
Tapi bagi Satrio itu cukup memacu adrenalin juga sih.
Harus bisa segera dilaksanakan sesegera mungkin agar tahu bagaimana sensasinya.
Bagaimana kalau sekarang saja?! , batin Satrio sambil menyeringai serigala.
Otak Satrio bekerja dengan cepat dan hanya menemukan satu tempat yang aman untuk 'sembunyi'. Kamar mandi!
*Tapi gimana cara ngajak Adisnya ke kamar mandi?
Masak kudu ngejelasin kalau dia pengen merasakan sensasi bermesraan tapi rasa nikung lingkungan*?
"Kamu kenapa?" tanya Adis sambil menyapukan tangannya di wajah Satrio yang tanpa sadar menatap Adis namun melamun.
Reflek Satrio merangkum tangan Adis yang tadi mengusap wajahnya.
Saatnya mengeluarkan jurus 'menggiring mangsa dalam senyap' akhirnya tiba tanpa terduga....Rejeki memang nggak kemana....
Dengan gerakan lembut tak terduga, Satrio sudah bisa menguasai tangan Adis dan kini mulai mengecupi punggung tangannya.
Adis tak bereaksi menolak.
Setelah diliriknya Reta yang anteng tak terusik dengan pergerakan tangan orang tanya di atas kepalanya, Satrio melanjutkan aksi kecup- mengecupnya.
Apa yang ada di genggamannya harus dimaksimalkan potensinya.
Telapak tangan Adis mulai diciuminya dengan intens tanpa seincipun yang terlewat dari bibirnya.
__ADS_1
Bahkan ujung- ujung jemari ramping dengan kuku terpotong pendek rapi milik Adis tak terlewat dari sesapan bibir Satrio.
Adis yang tak pernah merasakan perlakuan itu sebelumnya tentu saja blingsatan dalam hati merasakan tubuhnya yang bisa- bisanya memanas saat kedua bibir Satrio mengecup lalu menjepit jemarinya dengan tatapan sensual.
Perutnya langsung merasa di aduk Nggak beraturan.
Tanpa sadar Adis mengatupkan bibirnya erat agar tak mengeluarkan suara ******* yang sangat ingin lolos dari mulutnya.
Matanya semakin sayu menatap Satrio yang juga kerap menatapnya seolah bertanya 'gimana? Suka?'.
"Kita terusin yuk! Suka kan?" bisik Satrio dengan suara yang aneh. Terasa sangat mengganggu ketenangan jiwanya yang entah mengapa mulai merasa tak terima bila apa yang baru saja dirasakannya selesai secepat ini.
"Tapi gimana?" tanya Adis bingung.
"Come on." kata Satrio sambil perlahan bangkit, mengitari ranjang lalu mengulurkan tangannya pada Adis yang menatapnya bingung.
"Ayo. Kita nyari tempat yang aman." kata Satrio lirih sambil mengerling.
"Kemana?" tanya Adis bingung walau kini telah mengikuti langkah Satrio yang masih menggenggam tangannya.
"Kok...?" Adis menatap Satrio kebingungan yang membawanya berhenti di depan pintu kamar mandi.
"Tempat sembunyi yang paling aman adalah yang paling dekat dengan musuh." kekeh Satrio sambil membuka pintu kamar mandi lalu meraih pinggang Adis dan menghilang bersama di balik pintu kamar mandi.
Satrio mengecup lembut pipi mulus Adis yang nampak masih shock dengan pilihan tempat persembunyian mereka ini.
"Jangan perdulikan tempatnya. Tapi lihat siapa yang bersamamu dan apa yang bisa dia beri untuk membuatmu bahagia." bisik Satrio di depan bibir Adis yang kembali terlihat bergetar.
Kedua tangan Adis- tanpa disadari yang punya- telah dituntun Satrio untuk melingkari pinggang Satrio. Tangan Adis sudah memeluk erat pinggang suaminya itu.
Adis tak menolak sama sekali saat bibir Satrio bersilaturahmi kembali ke bibirnya.
Ya, harus diakui,dia suka bibir Satrio yang membelai lembut namun mampu menumbuhkan sayap tak kasat mata di hasratnya.
Adis tak rela semua kenikmatan ini cepat berakhir.
Dan dia tahu, Satrio juga tak hanya menginginkan bibirnya saja.
Tak apa. Adis rela memberi apa saja pada lelaki yang kini tengah menatapnya dengan sendu berkalang hasrat diantara kegiatan mereka yang tengah sejenak mengisi rongga dada dengan oksigen yang nyaris kosong.
"Boleh ku lepas ini?" tanya Satrio sambil memegang ujung jilbab instantnya.
Adis mengangguk malu.
Dia bahkan lupa masih memakai penutup kepala padahal tadi sudah beranjak akan tidur tapi malah berakhir saling bertukar saliva sejak tadi dengan suaminya.
Ah Dis...Dis...begitu mudahnya kamu lupa diri hanya karena sentuhan lelaki ini.
Satrio mengerjapkan matanya berulangkali saat ditangannya telah tergenggam kain yang tadi menutupi ujung rambut sampai dada Adis.
Di depan wajahnya telah muncul sosok lain kini.
Wajah Adis terlihat sangat imut- imut dengan rambut berwarna coklat yang dikuncir kuda.
Leher jenjangnya putih mulus. Bahkan Satrio bisa melihat sedikit tulang selangka yang sedikit mengintip di balik baju tidur Adis.
Sangat menggoda untuk disinggahi bibirnya.
Satrio jadi keder sendiri saat ini.
This is not my girl. It's a fairy who lost her wings.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanya Satrio sambil mundur selangkah dari hadapan Adis walau kedua tangannya tetap memegang lengan Adis.
"Ap....apa maksudnya?" tanya Adis bingung. Tiba- tiba saja dia berpikir kalau Satrio tengah kerasukan.
"Kamu beneran Adisty istriku kan??" tanya Satrio sambil menggerakkan tatapannya ke atas ke bawah berkali- kali.
"Ma....maaf kalau mengecewakanmu. Harusnya kemarin sebelum kita menikah kamu minta mama kamu untuk melihat fisikku seutuhnya dulu biar kamu nggak kecewa seperti ini. Kalau udah terlanjur nikah gini gimana?" tanya Adis sedih.
Dia sudah hampir menangis karena berpikir Satrio pasti kecewa dengan keadaan fisiknya.
Walaupun selama ini banyak yang bilang kalau dia cantik, tapi belum tentu cantiknya masuk kategori cantik versinya Satrio kan?
Lalu bagaimana nanti dengan nasib pernikahan mereka yang baru berumur beberapa jam ini?
"Kamu sangat cantik Saaangat cantik. Terimakasih sudah menutupi kecantikanmu dan hanya aku yang melihatnya. Aku merasa sangat tersanjung mendapatkan semua ini." kata Satrio sambil membelai wajah Adisty yang menunduk.
Airmata yang sudah mengumpul di pelupuk mata Adis akhirnya jebol menyusuri pipinya saat Satrio mengangkat dagunya lembut.
"Hei...kenapa nangis?" tanya Satrio sambil menghapus airmata Adis yang masih saja mengalir.
"Aku kira kamu kaget karena aku nggak sesuai ekspektasimu." kata Adis malu masih sambil sedikit terisak.
"Kamu jauh melebihi ekspektasi ku. Aku heran sumpah, kenapa selembar jilbab saja bisa membuat sesuatu jadi sangat berbeda?" tanya Satrio keheranan.
"Kamu imut- imut banget. Persis kayak Reta. Jangan- jangan kamu kembarannya ya?" tanya Satrio meledek.
"Bukan! Aku emaknya!" sungut Adis sambil merengut namun juga tersipu. Menggemaskan sekali.
"Rambut kamu ternyata panjang dan bagus." kata Satrio sambil mengelus kunciran rambut Adis.
"Leher kamu ini kissable banget, Sayang." bisik Satrio sudah mengarahkan wajahnya ke leher depan Adis.l
Bulu halus di dagu Satrio yang dua hari ini tak dicukur, menusuk- nusuk tulang selangka dengan tanpa sengaja
Sekujur tubuh Adis langsung meremang saat hembusan nafas Satrio mengusik area sensitifnya itu.
"Biarkan aku berkenalan sebentar dengannya ya..." gumam Satrio sudah sambil mulai menempelkan bibirnya di leher Adis yang langsung mendongak pasrah dan ikut larut dalam kesenangan yang diciptakan Satrio.
Tak ada lagi sekat. Tak ada lagi sungkan.
Dengan lembut Satrio telah menyeret Adis ikut hanyut dalam kenikmatan dinihari itu.
"Mas, aku..." suara tertahan Adis tak menghentikan bibir dan tangan Satrio yang semakin jauh bermain.
"I know baby..." gumam Satrio tanpa melepaskan bibirnya yang kini sudah menguasai telinga bagian belakang Adis.
Adis semakin bergerak gelisah karena hasrat nya sendiri sudah mulai tak mampu dia kendalikan.
Pusaran hasrat yang diciptakan Satrio telah mengurung dan menyeretnya terlalu dalam.
Adis tak sanggup menahan semuanya.
Bagaimana ini....
"Mas,ak ku nggak bi sa..." gumam Adis sambil mencoba menahan lengan Satrio yang entah sejak kapan sudah pindah alamat ke bagian dalam kaosnya dan mengobrak- abrik ketenangan penghuni lama bagian dalam kaos Adis.
"Just follow me. I will guide you." bisik Satrio sambil membimbing jemari Adis ke area bawahnya yang sudah sangat ingin berkenalan dengan sang nyonya pemilik sah tubuh tuannya.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Kipas mana kipaaaaaasss 🥵🥵🥵🥵🥵
__ADS_1
Puyer bintang- bintang mana iniiiii....🤯🤯🤯🤯