KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
BATA KOO


__ADS_3

Baru saja selesai melipat mukenanya seusai sholat subuh, dan ada panggilan masuk di ponsel Adis.


Dari nomor milik mamanya.


Adis dengan enggan menerima panggilan telpon dari mamanya itu.


Bisa dipastikan beliau akan menanyakan soal kandasnya hubungan antara dirinya dan Panji.


Pasti si Panjul itu sudah ngomong ke orang tuanya juga.


Mungkin mencari dukungan, seperti biasanya, saat dulu dia sering minta putus pada lelaki itu.


Dan mamanya akan segera menelponnya agar mau memikirkan kembali keputusannya untuk berpisah dengan Panji.


Dan akhirnya Adis akan mengalah, kembali menerima Panji lagi


Dan sekarang apa iya akan seperti itu lagi?


Yang benar saja.....


"Assalamualaikum, Ma....." sapa Adis malas begitu mengangkat telpon mamanya.


"Wa'alaikumussalam, Nak.....kamu baik- baik saja?" tanya mamanya dengan nada yang sangat khawatir.


Adis jadi trenyuh mendengarnya, seperti biasanya.


"Baik, Ma. Semuanya disitu sehat kan, Ma?" tanya Adis basa- basi.


Ya, basa- basi saja untuk kali ini karena Adis yakin ucapan mamanya setelah ini adalah membujuknya untuk memperbaiki hubungannya dengan Panji dengan memaparkan semua kebaikan sikap Panji pada orangtuanya. Seperti sebelum- sebelumnya.


"Kemarin Panji telpon ke Mama dan Papa. Dia bilang nggak bisa meneruskan hubungan kalian karena dia mencintai perempuan lain. Apa bener begitu?" tanya Mama membuat Adis melongo.


Oh, itu alasannya Panji mutusin dia kemarin....


"Aku nggak tahu alasan tepatnya, Ma. Dia kemarin memang mutusin aku tiba- tiba gitu....Tapi aku seneng sih kalau dia sudah menemukan perempuan yang dia cintai. Semoga nggak dia jadiin sandsack aja." kata Adis santai namun membuat Mamanya terlonjak.


"Maksudnya gimana dijadiin sandsack?" tanya Mama dengan nada nggak percaya.


"Nggak....nggak papa, Ma. Nggak usah di anggap aja apa yang barusan ku bilang." kata Adis pelan.


Lagian mau menjelaskanpun Adis malas.Palingan juga mamanya nggak bakalan percaya dengan ceritanya soal keberingasan Panji.


Dulu aja di kasih lihat bekas kekerasan Panji padanya saja Mamanya nggak percaya kan?


"Reta nggak nakal kan, Ma?" tanya Adis mengalihkan bahan pembicaraan.


Nggak penting juga ngobrolin si Panjul kan?


"Enggak lah. Dia anak manis banget. Persis kayak kamu pas kecil dulu. Tapi beneran dia nanti SD nya mau sama kamu disitu? Kamu nggak kerepotan ngurus dia?" tanya Mama dengan nada khawatir.


"Astagfirullah Ma....masak ngurus anak sendiri kerepotan sih, Ma? Aku udah biasa kali ngurus dia sendirian." kata Adis sambil terkekeh, berharap mamanya ingat kalau selama ini Adis mengurus sendiri bayinya walau dia hidup bareng orang tuanya.


"Sebenarnya mama sedih mau jauh dari Reta. Pasti rumah ini sepi kalau dia sama kamu lagi. Kamu kenapa sih nggak disini aja, Dis? Nyari kerja disini kan bisa." kata Mamanya mulai merajuk.


"Aku nyaman tinggal disini, Ma. Lagian bentar lagi kan Papa juga pensiun. Katanya pengen menghabiskan masa tua di Jogja...." kata Adis berusaha menenangkan mamanya.


"Iya sih....Dua tahun lagi Papa pensiun. Semoga saat kami menetap di Jogja, kami udah tambah cucu. Biar bisa buat temen main kami." kata Mama dengan suara riang.


"Aamiin....Mudah- mudahan Mas Didit lancar produksi anaknya." kata Adis dengan tertawa.


"Kok cuma Didit? Kamu juga Mama doakan semoga cepat dapat jodoh dan punya anak lagi, biar Reta punya adik." kata Mama sambil tersenyum.


Adis meringis diam- diam.


Tetep aja di push buat nikah lagi... Hadeeeeeeh.


"Nggak mau ngaminin doa Mama nih?" suara Mama terdengar bersungut.


Adis tersenyum kecut.


"Aamiin....Doakan ya Ma.....Aku dapat jodoh lagi yang sebaik Beni. Yang sayang sama Reta dan aku lahir batin. Yang nggak suka bohongin keluarganya." kata Adis.


"Kok doanya pakai yang nggak suka bohongin keluarganya segala?" tanya Mama keheranan.


"Ya boleh dong aku pengen suami yang selalu jujur?" kata Adis menjawab.

__ADS_1


"Kamu yang kayak pernah dibohongin lelaki aja, doanya kayak gitu." kekeh Mama.


Adis hanya nyengir.


Aku memang nggak pernah dibohongin, Ma....Tapi kalian para orang tua tuh yang udah kena kadalan si Panjul tapi nggak nyadar- nyadar juga....


"Ehmmm...Dis...." suara Mama kini terdengar mau bicara serius


"Ya, Ma...?"


"Kamu nggak ingin berusaha mendapatkan Panji lagi?" tanya Mama dengan nada berharap.


Astagfirullah Mamaku.....Masih aja ngebahas si Panjul!!!


"Enggaklah, Ma. Ngapain juga?! Aku sih seneng banget dia suka sama cewek lain." kata Adis terus terang.


"Kenapa? Kamu nggak sakit hati dia selingkuh?" tanya Mama provokatif.


"Ngapain juga Ma dipakai sakit hati? Buang- buang energi aja. Aku ikut seneng aja kalau dia nemu yang cocok sama keinginan dia." kata Adis terdengar santai dan bijak, padahal dia ngomong sambil mau muntah.


"Tapi dia kan mengkhianati kamu..... Atau dia selingkuh karena nggak nyaman sama kamu ya? Kamu nggak bisa bikin dia nyaman sama kamu?"


Ya Allah, aku lagi yang disalahin......


"Anggap saja begitu juga nggak papa, Ma. Tapi aku seneng, alhamdulillah dia mengaku berkhianat sebelum kami menikah. Jadi anak mama ini nggak harus jadi janda dua kali." kata Adis sambil terkekeh.


"Astagfirullah Adiiiiis !!! Ngomong yang baik- baik kenapa sih?!" seru Mama kesal.


"Iya....Maaf,Ma...Udah, pokoknya ya, Ma...ini terakhir kalinya kita ngomongin apapun yang berhubungan sama Panji. Setelah ini aku nggak mau denger lagi Mama ngomongin dia. OK, Ma?" pinta Adis.


"Baiklah. Yang penting kamu nggak papa. Jangan sedih ya. Mama doakan kamu dapat yang seperti kamu idam- idamkan, yang lebih baik dari Panji." kata Mama dengan nada menghibur.


Dih, sedih karena putus dari Panjul? Amit- amit deh!


Yang ada dia harus syukuran karena lepas dari lelaki brutal itu.


"Iyaaaa...Makasih ya,Ma doanya." kata Adis tenang.


Tentu saja dia akan mengharap diberi jodoh yang jauuuuuh lebih baik dari Panji. Jodoh yang mampu menyamai kebaikan Beni.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Satrio membaca dengan khusyuk pesan yang diterimanya dari Wira soal hasil penyelidikan tentang keluarga Widuri.


Entah bagaimana caranya adiknya itu bisa menggali dan mendapatkan fakta- fakta yang terasa semakin mendekat ke orang yang dicari.


Yang cukup membuatnya kaget adalah adanya keterangan kalau almarhum Pak Bagus Adipati juga mengenal Pak Susilo Buwono, Papanya.


Apa mereka dulu teman bisnis? Atau teman di masa muda aja?


Dan mata Satrio semakin membulat saat mengetahui fakta kalau photo anak Pak Bagus Adipati di masa kecil yang dulu pernah didapatkan Wira, wajahnya nampak sama dengan salah satu photo yang dimiliki keluarga mereka.


Satrio mengamati photo masa kecilnya bersama seorang gadis kecil bergaun pesta dan juga Wira.


Photo gadis kecil itu sangat jelas dan mirip dengan photo yang diberi Wira padanya tempo hari.


Ya Tuhan....Widuri ini siapa sebenarnya?


Satrio masih tetap meminta Wira merahasiakan misi mereka dan meminta Wira mengobrolkan photo masa kecil mereka bertiga itu pada mamanya tanpa boleh menimbulkan kecurigaan mamanya.


Minimal mereka harus tahu soal gadis kecil yang berphoto bersama mereka itu.


Dan Satrio yakin, tugas mengobrol bersama mamanya itu bukan tugas susah buat Wira karena bocah itu sangat betah menemani mamanya ngobrol setiap harinya.


"Tegang amat mukamu, Bang? Ditagih utang ya?" celetukan Widuri sambil terkikik membuyarkan keseriusan Satrio berkirim pesan dengan Wira.


"Lambemu....( bibirmu...)" sergah Satrio dengan nada kesal.


"Lha aku liat dari tadi tegang banget wajahmu. Lagi chattingan sama siapa sih? Lagi berantem sama Bu Adis?" tebak Widuri dengan wajah penasaran.


"Jangan sotoy deeeeeh!" kata Satrio masih dengan wajah kesal.


"Dih galaknya.....Kayak gadis baru PMS aja kelakuannya." kata Widuri sambil cemberut.


Pak Cahyo hanya terkekeh sambil menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar gerutuan Widuri.

__ADS_1


"Bang...." panggil Widuri setelah agak lama mereka dalam kesunyian.


"Hmmmm....'


"Ada warung steak murmer baru buka seminggu yang lalu. Besok habis gajian kita cobain yuk!" ajak Widuri.


"Enak nggak? Murah taunya nggak enak...." kata Satrio.


"Kapan aku rekomendasi tempat nggak layak makan?" tanya Widuri balik.


Satrio meringis.


Kayaknya sih belum pernah salah sih tu bocah ngasih rekomendasi tempat makan murmer.


"Sabtu pulang kerja kita coba deh! Pak, bisa ikut kan? Aku yang traktir kali ini." kata Satrio sambil menatap Pak Cahyo yang langsung sumringah sambil mengacungkan dua jempolnya.


Senang sekali hati Pak Cahyo tiap kali Satrio mengajaknya ikut serta makan bareng Widuri dan Lukas.


Minimal akan memberinya pengalaman baru dan pastinya gratis.


Nanti dia bisa cerita ke anak istrinya soal suasana, rasa, dan harga di tempat makan itu.


"Nraktir dalam rangka apa lagi ini, Bang?" tanya Widuri penasaran.


"Dapat orderan batako sepuluh ribu, langsung cash. Lumayanlah...." kata Satrio sambil tersenyum senang.


"Alhamdulillah.....lancar banget kayaknya jualan batakomu, Bang." kata Widuri takjub.


"Sepenuhnya karena jasa Lukas. Pergaulannya yang luas benar- benar keren efeknya." puji Satrio tulus.


Ya, bisa dibilang selama usahanya bersama Lukas, semua konsumen adalah kenalan Lukas semua.


Bisa dibilang Satrio hanya penanam modal saja walau semua transaksi masuknya ke rekening Satrio.


Ke depannya Satrio berpikir untuk membuat satu rekening khiusus untuk usahanya itu agar lebih rapi lagi arus keluar masuk uangnya.


"Perlu dikasih tanda jasa selayaknya dong itu Mas Lukas." kata Widuri.


"Pastinya.... Dia kan udah jadi direktur sekarang." kata Satrio sambil terkekeh.


Widuri dan Pak Cahyo melongo.


"Direktur?" tanya Pak Cahyo penasaran.


"Direktur USAHA MAJU." kata Satrio sambil tertawa.


Widuri tertawa terbahak- bahak sampai bertepuk tangan saking gelinya dengan nama USAHA MAJU yang disebut Satrio barusan.


"Namanya kerenan dikit dong, Bang! Pasaran banget nama usahanya." protes Widuri.


"Betul! Walaupun usahanya umum, bikin batako. Tapi namanya yang kekinian juga boleh, secara yang bikin usaha anak muda." timpal Pak Cahyo.


Satrio berpikir sejenak dengan usulan itu.


"KARYA MUDA gimana?" tanya Satrio.sambil menatap Widuri dan Pak Cahyo bergantian.


Widuri dan Pak Cahyo menggeleng kompak setelah saling pandang.


"Masih terlalu umum." kata Widuri.


"BATA KOO?." tanya Satrio sambil menunjukkan tulisan dengan kertas ke arah kedua rekannya.


"Boleh...boleh..." jawab Adis dan Pak Cahyo setelah saling menatap.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Mulai campur- campur ya penyajiannya....😀


Pemanasan untuk boom soal identitas Widuri, dan kelanjutan kehidupan asmara Adis dan Satrio, juga kehidupan Satrio lainnya.


Jangan bosen ya.....🙏


Terimakasih banyak ya untuk beberapa orang komentator tetap di KPK ini....💖💕 Udah kayak yang mbaurekso ( penunggu) aja....🙈😂


Happy reading and keep healthy ya semuanyaaaa......😘💖💕

__ADS_1


__ADS_2