KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Ulang Tahun Mama


__ADS_3

Satrio baru selesai mandi saat ponselnya berdering.


Widuri menelpon.


Anak itu pasti sudah sangat penasaran dengan hasilnya menjadi detektif hari ini.


"Ganggu nggak, Bang?" tanya Widuri dengan nada ragu- ragu.


"Kalau sebentar nggak ganggu." jawab Satrio sambil meringis.


Ya, dia di kejar waktu agar cepat rapi karena akan pergi untuk ulang tahun mamanya.


"Tadi jadi nyari info soal alamat itu, Bang?" tanya Widuri to the point.


"Jadi. Udah bisa nemu nama orang yang bisa ditanyain soal orang tuamu. Tapi orangnya tadi lagi nengokin anaknya di Purwokerto. Sayangnya nggak ada yang tahu nomer telpon yang bisa dihubungin di Purwokerto itu. Terpaksa kita nunggu dia balik ke Jakarta dulu. Tetangganya tadi udah janji mau ngabari kalau orang itu udah balik." jelas Satrio sambil memakai celana panjang.


"Ya udah kalau gitu. Nggak papa. Bisa mengulur waktu lagi untuk menyiapkan hatiku." kata Widuri sambil terkekeh.


"Besok kamu nggak perlu sendirian kalau nggak PD ketemu orang tuamu. Bisa ngajak Ibumu atau siapa gitu." saran Satrio. Kali ini matanya memilih blazer warna apa yang akan dia gunakan untuk melengkapi kemeja biru tua yang dia pakai.


"Iya, Bang. Makasih ya, Bang mau aku repotin." kata Widuri pelan.


"Santai saja." jawab Satrio ringan sambil melepas blazer warna biru langit dari hanger lalu memakainya.


"Aku tutup ya, Bang. Salam buat Mamamu yang ulang tahun." kata Widuri.


"Ogah!" jawab Satrio cepat. Tangannya menyambar sepatu putih kesayangannya lalu melangkah ke bibir ranjang untuk duduk dan memakai sepatunya.


"Kenapa?" tanya Widuri heran.


"Ntar dikira calon mantu yang kirim salam. Bisa abis aku." jawab Satrio sambil merengut. Dia sudah berdiri di depan cermin untuk melihat tampilannya sendiri.


Widuri tertawa.


"Ya udah kalau nggak mau dititipin salam. Minta oleh- oleh aja kalau gitu." kata Widuri sambil terkikik.


"Dih! Ngelunjak lu!" sungut Satrio kini meraih parfum dan menyemprotkannya ke belakang telinga dan ke pergelangan tangannya.


Widuri kembali terkikik.


"Ya udah deh. Gitu aja dulu. Jangan lupa hadiahnya buat Ibumu." kata Widuri mengingatkan.


"OK. Dah aku siapin." kata Satrio sambil menuju laci meja di mana cincin untuk Mamanya dia simpan lalu memindahkan cincin itu ke saku blazernya.


"Udah belum, Mas?" terdengar panggilan di barengi ketukan disusul kepala Wira yang nongol di balik pintu kamarnya.


"Bentar." jawab Satrio sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.


"Ngasih hadiah apa ke mama?" tanya Wira setelah keduanya beriringan menuju tangga yang akan menuju ke lantai bawah.


"Ada deh....." jawab Satrio sambil meringis.


"Nggak asik lu!" sungut Wira keki.


"Mama udah punya semua. Bingung mau ngasih apa." kata Wira lagi.


"Biasanya ngasih bunga lu." kata Satrio hapal dengan kebiasaan adiknya tiap ulang tahun mamanya.


"Bosen gue ngasihnya itu- itu melulu." kata Wira.


"Lu kasih mantu aja kalau gitu." kata Satrio begitu mereka menjejakkan kaki di lantai satu rumah mereka.


"Bukannya itu tugas lu?! Lu kan yang sulung." sergah Wira sambil tersenyum mengejek namun menatap iba pada kakaknya itu.


Satrio baru hendak menyangkal saat suara Mamanya sudah terdengar dari belakang mereka.

__ADS_1


"Yuk berangkat yuk." ajak Bu Katarina bersemangat.


"Waaaaaawwwww......cantik amat mamaku ini." seru Wira sambil mengapit lengan mamanya menuju mobil.


Wanita yang hari ini berumur lima puluh dua tahun itu tersenyum malu.


Bu Katarina nampak ayu dengan dress selutut berwarna hijau daun dengan leher berpotongan Sabrina dan berlengan tiga per empat.


Leher jenjangnya berhias kalung mutiara mungil yang cantik.


"Kalian ada ngajak cewek nggak nih?" tanya Pak Susilo saat mobil sudah meninggalkan rumah mereka.


Kali ini Satrio yang memegang kemudi dan Wira duduk di sebelahnya.


Pak Susilo duduk manis di belakang dengan Bu Katarina yang selalu dia genggam tangannya.


Satrio melirik Wira yang ternyata tengah menatapnya.


"Nggak ada." jawab keduanya kompak.


"Hadeeeeeeh......Formasi kita masih berempat lagi nih ulang tahunnya?" tanya Pak Susilo prihatin.


Wira dan Satrio pura- pura tak mendengar.


"Tiba- tiba langsung bisu tuli kalian." kata Pak Susilo kemudian dengan nada mengejek dan menjitak bagian belakang kepala kedua anaknya dengan kedua tangannya berbarengan.


Satrio dan Wira memilih tetap membisu walau meringis menahan hasil jitakan.


"Keren cafenya...." puji Satrio saat mobil baru masuk ke area parkir yang cukup luas.


Cafe SEJATI dimana Wira punya enam puluh persen sahamnya berada di pinggiran kota.


Mengusung tema ruang keluarga yang hangat, begitu memasuki cafe kita serasa masuk ke ruang tengah keluarga.


Tidak ada fasilitas WiFi gratis disana.


Ruangan cafe tersekat- sekat dengan partisi- partisi berbagai motif hingga membentuk seperti satu ruangan.


Satu 'ruangan' ada yang berkursi empat, ada yang berkursi enam, ada juga yang berkursi delapan dengan mejja yang menyesuaikan dengan banyaknya kursi.


Keunikan lain di cafe itu adalah di tiap ruangan tersedia radio dan televisi mungil dengan volume yang sudah di setel sedemikian rupa hingga hanya bisa terdengar oleh satu 'ruangan' itu saja agar tidak menganggu 'penghuni' ruangan lainnya.


"Idenya gokil!" kata Satrio sambil menghidupkan radio kemudian terdengar lagu Hurt miliknya Cristina Aguilera sedang diputar.


"Tetap ngafe, tetap hangout tapi tetap inget rumah." kata Wira bergaya promo.


"Atau malah karena disini homy jadi nggak mau pulang." kekeh Pak Susilo sambil mengedarkan pandangannya ke seisi cafe.


Dalam hati dia mengakui bagusnya cafe ini.


"Doakan saja ya Ma, Pa, ini lancar biar bisa buat salah satu modal cari calon mantu." kata Wira sambil terkekeh.


"Aamiin. Pasti kami doakan, Mas Kecil. Sekarang mana menunya, Mama mau order." kata Bu Katarina dengan gaya anggun pelanggan kafe.


"Udah aku siapin dong." kata Wira kemudian dengan ponselnya meminta orang dapur untuk segera menyajikan hidangan untuk keluarganya.


"Karena pemegang sahamnya penyuka ayam semua, jadi menunya kebanyakan berbahan ayam, Ma." kata Wira sambil terkekeh saat melihat tiga orang berseragam waitress beriringan berjalan ke arah tempatnya duduk.


Mereka semua tak ada yang berbicara dan lebih asik mengamati makanan yang sedang ditata oleh waitress muda yang ramah.


Ada chicken Cordon bleu dan ayam goreng serundeng yang bisa langsung dikenali oleh semuanya lalu berturut- turut Wira menyebutkan nama- nama menu lainnya yang tersaji yaitu charsiu ayam dan nasi Hainan, Shoyu ramen, phak cam kee, dan menu non ayamnya adalah palumara bandeng dan backed salmon.


"Ini acara ulang tahun atau tes makanan sih, Wir sebenarnya? Kenapa kita nggak dikasih liat list menu cafe? Mana ini ngasih menunya cuma seporsi- seporsi semua." omel Satrio protes.


"Ini namanya sekali dayung dua pulau terlewati. Sekalian merayakan ulang tahun mama, sekalian juga ngenalin menu yang akan jadi andalan disini. Ntar lu kasih komen yang bener sama makanan gue. Kalau pulang ntar lu gue kasih gratis take away apa yang lu suka." kata Wira sambil nyengir.

__ADS_1


"Pelitnyaaaa...." sungut Satrio sambil mengamati menu di depannya untuk mulai memilih akan mencoba yang mana dulu.


Pak Susilo jelas langsung mencoba palumara bandeng yang membuatnya ngiler karena penasaran dengan rasa dari penampakan bandeng yang berenang di kuah berwarna merah.


Bu Katarina mengambil charsiu ayam yang ditata rapi mengelilingi nasi hainan,


Satrio kemudian meraih *s*hoyu ramen


Sedang Wira menghadapi seporsi phak cam kee.


Setelah beberapa suapan di masing- masing menu, keempatnya akhirnya saling memindahkan sendok ke menu satu sama lain hingga ke empat tangan itu bersliweran tak ada henti untuk mencicipi semua menu yang tersaji sambil berkomentar tentang rasa dan tampilan sebagai masukan bagi Wira.


Sebagai dessert, Wira mengeluarkan sorbet buah dan Oreo truffles yang mendapatkan pujian enak dari keluarganya.


Untuk minumnya? Mereka semua selalu memesan jus, apapun makanannya.


"Jadi nanti apa saja yang mau di take away?" tanya Wira setelah mereka kenyang dengan semua menu yang tandas tak tersisa.


"Aku mau yang tadi semua kecuali ayam serundeng. Udah terlalu biasa itu." kata Satrio ringan.


"Banyak amat, Mas. Habis itu semua nanti?" tanya Wira dengan terkekeh tak percaya.


"Buat orang rumah. Biar mereka ngicipin masakan cafe Mas Kecilnya.Lagian nggak mungkin kan kamu bakal ngajakin mereka kesini?" kata Satrio sambil tertawa meledek.


" Bener itu...." kata Bu Katarina mendukung Satrio.


"Oke....oke....aku pesenin dulu. Papa mau bawa apa nanti?" tanya Wira sambil menatap papanya.


"Bawa istri aja udah." jawab Pak Susilo kalem yang membuat Bu Katarina tersenyum- senyum malu.


"Istri baru maksudnya , Pa?" tanya Satrio dengan gaya berbisik tapi sangat jelas terdengar oleh Wira dan mamanya.


"Mulutmuuuu, Satriooo!" geram Bu Katarina.


Pak Susilo hanya terkekeh- kekeh sombong saat Wira menabok bahu kakaknya sebelum beranjak ke bagian dapur.


Cowok tampan berkulit sawo matang dengan lesung pipi di pipi kanannya dan dagu yang terbelah itu kembali ke meja keluarganya dengan satu kue ulangtahun yang cantik dengan tujuh lilin kecil memenuhi atas kue yang hanya berdiameter duapuluh centimeter.


"Happy birthday, Mama." kata Wira sambil mengulurkan kue di tangannya yang disambut wajah berbinar mamanya yang langsung berdiri menerima kue itu.


Satrio dan Pak Susilo ikut berdiri sambil ikut mengagumi kue bertema perhiasan itu.


"Aku nggak ngasih kado apa- apa sama Mama kali ini. Aku bingung mau ngasih apa lagi." kata Wira jujur sambil tersenyum malu.


"Makasih Sayang. Dinner di cafe ini aja udah jadi hadiah buat Mama. Mama doakan cafenya lancar dan bisa terus berkembang." kata Bu Katarina sambil memeluk Wira dengan sayang.


Setitik airmata haru sudah terbit di sudut kedua matanya.


"Aku mau ngasih ini aja buat Mama. Aku sisihin dari gajiku selama enam bulan ini. Semoga Mama suka walau ini murah." kata Satrio sambil malu- malu menyerahkan kotak cincin yang sedari tadi menghuni saku blazernya.


Bu Katarina menatap tak percaya pada benda yang diulurkan Satrio padanya.


"Ini apa? Cincin, Mas?" tanya Bu Katarina penasaran sambil membuka wadah.


"Papaaaa....anakmu so sweet banget." seru tertahan Bu Katarina saat melihat sebuah cincin emas putih yang berpotongan simple namun terlihat cantik itu.


Perempuan paruh baya itu kini bahkan menangis di pelukan suaminya yang ikut tersenyum haru.


Ini adalah hadiah pertama dari uang hasil kerja anaknya.


Sungguh bukan dari nilai benda yang diterimanya, tapi kenyataan bahwa anak lelakinya tak melupakan untuk menyisihkan sebagian gajinya karena mengingat keberadaannya, itu tak ternilai harganya.


"Terimakasih, Sayang. Terimakasih banyak." kata Bu Katarina dengan senyum yang mengembang walau airmatanya terus berderai saat Pak Susilo membantu memakaikan cincin itu di jari manis tangan kirinya.


Satrio tertunduk haru saat matanya menangkap tatapan memuji dari Wira dan papanya.

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2