
Satrio membuka notifikasi yang masuk dari mobile banking di ponselnya.
Senyuman kecilnya mengembang melihat nominal tujuh digit yang barusan masuk ke nomor rekeningnya hampir dinihari di awal bulan baru.
Dengan masih tersenyum, dia kirim tangkapan layar dari notifikasi itu ke nomor ponsel mamanya dengan caption 'Gajian pertama, mau Mas jajanin apa, Ma? 😅😀🙈"
Satrio yakin, saat besok mamanya membaca pesan itu pasti akan heboh tanya kondisinya dan bisa- bisa dia diminta pulang ke Jakarta.
Satrio pun gamang dengan nominal yang dia terima setelah sebulan menjadi budak korporat.
Nggak sampai lima juta sebulan. Dan dia harus bisa hidup dengan uang segitu- gitunya.
Namun setelah sejenak termenung, senyum lebar terbit di wajahnya.
Dia bergegas membuka amplop panjang berwarna putih berisi uang yang ada di laci meja kamarnya..
Dihitungnya sisa uang yang ada di amplop itu.
Satu juta enam ratus ribu.
Satrio menganga tak percaya dengan sisa uang di amplop itu.
"Gila! Aku bisa juga hidup irit." gumamnya senang tak terkira.
Dia bagai baru saja memenangkan sebuah perlombaan. Riang dan lega.
Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Jogja sebulan lalu, Satrio sengaja menyimpan uang masing-masing sejumlah lima juta di dua amplop.
Dia akan bereksperimen dengan uang sepuluh juta itu dalam kehidupan sebulan ke depan.
Dia ingin tahu akan habis berapa dia selama sebulan dengan life style sebagai karyawan biasa yang agenda hidupnya hanya kerja dan kadang nongkrong di warung burjo atau warung mie instant dengan Lukas sepulang kerja.
Nggak ada agenda nge mall dan ngafe sama sekali.
Dan itu tentu saja menjadi sebuah capaian hebat dalam reformasi life style nya.
Dan lebih hebatnya lagi, dua amplop berisi lima jutaan hanya terpakai satu amplop, dan masih sisa satu koma enam juta.
"Woooowww!" seru Satrio kegirangan.
Mungkin seumur hidupnya, baru sekarang ini dia hidup dengan menghabiskan uang hanya tiga koma empat juta sebulan.
Amazing.
Satrio tersenyum senang.
Berarti dia bisa hidup dengan uang gajinya.
"Bisa!" gumam Satrio optimis, menyemangati dirinya sendiri.
Tapi optimisme itu menyurut saat dia menikmati mie ayam - yang di pesan via online karena siang itu hujan- sebagai menu makan siangnya bersama Pak Cahyo dan Widuri di meja kerja mereka masing- masing.
Obrolan ringan Pak Cahyo dan Widuri membuatnya seolah baru tersadar bahwa kebutuhan hidup bukan hanya makan saja.
"Tanggal muda nih, menunya sama aja. Menu sejuta umat. Mie ayam punya." seloroh Widuri sambil membuka kantong plastik pembungkus mie ayamnya kemudian menuang isinya ke piring.
Pak Cahyo hanya terkekeh.
"Buatku sih tanggalan adanya tanggal tua terus, Wid." kata Pak Cahyo sambil meringis.
"Gaji langsung ke nyonya ya, Pak?" kata Widuri sambil tersenyum lebar kemudian menyuap mie ayamnya.
Pak Cahyo mengangguk cepat.
"Tinggal membagi uang gaji tuh. Bayar SPP anak, uang saku anak, uang bensin, bayar listrik, bayar iuran kampung, belum lagi kalau ada sumbangan ( orang hajatan). Aku cuma dapat jatah buat beli bensin dan jatah makan siang sehari cemban." kata Pak Cahyo sambil tertawa tanpa beban.
Satrio langsung tersedak mendengarnya.
Jatah maksi sepuluh ribu sehari? Ya ampun !!!
"Sebulan dapat jatah berapa dari gaji, Pak?" tanya Satrio sambil cengengesan.
Dia sengaja begitu untuk menghindari Pak Cahyo tersinggung dengan kekepoannya.
"Hitung sendiri aja, cemban kali duapuluh hari kerja, dua ratus ribu. Jatah bensin dan uang saku buat pegangan kalau ban bocor atau lampu motor mati, dua ratus ribu. Empat ratus ribu sebulan." jawab Pak Cahyo santuy.
Satrio nyeri dalam hati mendengarnya.
__ADS_1
Pengorbanan seorang kepala keluarga sampai segitunya......
Kerja sebulan penuh dan hanya punya 'hak' dari penghasilannya empat ratus ribu sebulan.
Ya Allah.....
"Sebulan njenengan pegang uang segitu doang?" tanya Satrio keheranan.
"Lha dapatnya sisa anggaran negara segitu dari gaji, mau gimana lagi? Yang penting kebutuhan rumah dan anak- anak aman. Segitu juga kadang masih bisa sisa seratus, kadang limapuluh ribu kok. Lumayan buat nunggu dompet." kata Pak Cahyo sambil meringis.
Tak ada beban di wajahnya saat bercerita tentang keadaan ekonominya.
Satrio malu sekali rasanya bila mengingat selama ini begitu mudahnya menghamburkan uang papanya.
Bisa jadi pengeluaran orangtuanya tak sebanyak pengeluarannya setiap bulannya.
Pengeluaran yang lebih sering untuk memanjakan cewek- cewek nggak jelas.
"Tapi njenengan kan sering sangu nasi ( bawa bekal nasi), Pak." kata Widuri.
"Iya. Dalam rangka pengiritan dan juga menghargai hasil dari istri yang rela selalu bangun pagi- pagi buat masak." jawab Pak Cahyo sambil tersenyum
"Sip!" kata Widuri sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Kalau aku rajin sangu kan jatah maksi bisa nyisih tuh di dompet. Nanti akhir bulan, di tanggal- tanggal sekarat, uang itu kita kasihkan lagi ke istri, dia udah senengnya nggak ketulungan." kata Pak Cahyo dengan wajah cerah, mengingat gimana senangnya istrinya kalau di akhir bulan tiba- tiba dia mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan padanya.
Hanya selembar lima puluh ribuan, tapi dia bisa melihat mata istrinya berbinar- binar bahagia.
Mata perempuan itu pasti langsung penuh dengan cinta, eaaaaaaa.......
Itu saja sudah sangat membuatnya ikut bahagia.
"Kereeeeen!!! Bisa buat contoh itu,Bang." puji Widuri lagi pada Pak Cahyo tapi dia menatap Satrio.
"Contoh apa?" tanya Satrio nge blank.
"Cara babe menyiasati keadaan. Dengan bawa bekal maksi dari rumah kan irit dia, nggak perlu keluar uang cemban buat beli maksi. Udah gitu istrinya juga seneng, masakannya dinikmati terus sama suami tercinta. Udah gitu masih bisa jadi superhero di akhir bulan. Jadi sekali dayung tiga pulau terlampaui. Irit duit dan bikin istri bahagia." terang Widuri yang ganti mendapat acungan jempol dari Pak Cahyo yang sering di panggil Babe oleh anak- anak kantor.
Satrio tercenung.
Harus mikir ekonomi sedetail mungkin, masih harus mikirin perasaan pasangan juga.
Selama ini tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran Satrio hal- hal seperti ini.
Ya, secara umur dia jelas sudah dewasa. Sudah hampir 25 tahun.
Tapi kehidupannya sejak lahir tak pernah mengajarinya harus berpikir serumit dan seteliti itu dalam masalah uang.
Ternyata aku benar- benar nol, batinnya prihatin dengan dirinya sendiri.
"Pak Cahyo ada sambilan nggak diluar kerjaan?" tanya Satrio penasaran.
"Sambilan paling cuma nerima servis kompor, atau setrika rusak milik tetangga." jawab Pak Cahyo sambil terkekeh.
"Lumayan bisa buat beliin pop es anak- anak." sambungnya lagi.
Satrio ikut tersenyum sambil berpikir, pop es minuman apaan sih?
"Merendaaah...." sahut Widuri sambil menatap Pak Cahyo meledek.
"Enggak!" sahut Pak Cahyo cepat sambil terkekeh.
"Makelaran juga dia, Bang. Motor, mobil, rumah, tanah, kost- kostan.Belum lama habis dapat fee gede dari makelaran tanah. Ya Be?" cerita Widuri sambil menatap Pak Cahyo meminta pembenaran.
"Nggak gede lah. Lumayan tapi. Bisa jajanin bocah berisik nasi Padang pakai rendang." kata Pak Cahyo sambil tertawa meledek Widuri.
"Sepuluh juta lho! Lumayan kan?" cetus Widuri bersemangat.
Pak Cahyo hanya tertawa- tawa saja.
"Kalau hasil sampingan gitu masuk ke istri juga, Pak?" tanya Satrio kepo.
"Sesuai kesepakatan, hasil sampingan masuk ke istri separo. Yang separo buat aku. Katanya biar aku juga bahagia, bisa menikmati hasil jerih payahku sendiri. Nggak cuma berpayah- payah doang ngidupin anak istri." jawab Pak Cahyo sambil tergelak mengingat ucapan istrinya.
Satrio kembali tersenyum.
"Jadi kalau dapat cepek gitu ya tetap bagi dua?" tanya Satrio lagi.
__ADS_1
"Iya! Duapuluh ribu pun, harus tetap bagi dua. Sesuai kesepakatan.Harus konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat biar negara aman tentram." kata Pak Cahyo sebelum melakukan suapan terakhir mie ayam nya.
"Perlu di contoh itu,Bang kalau kamu besok nikah." celetuk Widuri sambil menatap Satrio.
"Tiap rumah tangga punya role sendiri- sendiri juga kali, Wid." sahut Pak Cahyo kemudian.
"Iya juga sih. Yang penting nggak boleh menelantarkan anak istri." kata Widuri tegas.
"Jadi istri juga jangan kebanyakan nuntut sama suami." celetuk Satrio saat ingat sinetron yang sekilas pernah dilihatnya tengah di tonton mbak Puji.
"Kalo lakinya tahu tanggung jawab juga istri nggak bakalan nuntut." sahut Widuri galak.
"Nggak selalu gitu juga. Nyatanya di sinetron ikan terbang itu, suaminya udah mati- matian menafkahi, istrinya masih aja nuntuuuut terus, kuraaaang terus." sangkal Satrio.
"Itu bukan istri namanya.Tapi iblis dandan cewek." kata Widuri nggak mau ngalah.
"Eh, aku kasih tahu ya, Bang. Perempuan baik- baik itu adalah perempuan yang tidak ingin membebani siapapun, suaminya sekalipun. Tapi ya suaminya modelan kayak apa dulu juga. Kalau lakinya punya duit banyak tapi istrinya di kasih seuprit juga minta digampar." kata Widuri sudah dengan campuran emosi yang mendapat tawa Satrio dan Pak Cahyo.
"Ya udah, besok kalau kamu nikahin Widuri, gajimu setorin semua sama dia, Sat. Daripada kamu di gampar." seloroh Pak Cahyo.
"Eh ! No way !!! Bukan dia tipe ku, Be." kata Widuri cepat sambil menunjuk Satrio yang masih menggelegas.
"Tahu.....tipemu kan yang model- model Vin Diesel gitu kan? Bukan yang kayak oppa- oppa macam Satrio." kata Pak Cahyo dengan senyum meledek mereka berdua.
"Yaaaa.....minimal setangkas dan setampan Tom Cruise lah,Be." kata Widuri sambil matanya menatap jauh entah kemana.
"Udah ketemu yang kayak gitu?" tanya Satrio meledek.
"Udah dong!" jawab Widuri cepat dengan senyum yang sangat lebar dan wajah yang berbinar- binar.
"Dia mau pacaran sama cewek pethakilan kayak kamu?" ledek Satrio lagi.
"Enggak." jawab Widuri pelan dengan menggelengkan kepalanya lemah, membuat Satrio dan Pak Cahyo terbahak- bahak.
"Ya mana ada cowok ngelirik cewek kayak kamu gini." kata Satrio sambil menatap tampilan Widuri yang jauh dari kesan feminin.
Tapi kemudian dia menyesali ucapannya sendiri.
Mamanya juga tomboy tapi papanya cinta mati sama beliau, hehehe.....dia nyaris saja lupa.
"Maksudnya apa nih, cewek macam gini?" tanya Widuri nggak terima.
"Nggak.....Aku cabut omonganku barusan. Kamu pasti akan dapatkan cowok yang bisa menerima ketomboianmu apa adanya. Kalau kamu sudah mendapatkan cowok yang nerima kamu apa adanya, jangan dilepaskan." kata Satrio serius, sambil mengingat gimana hangatnya hubungan papa dan mamanya selama ini.
"Ya iyalah! Sebelum janur kuning melengkung di depan rumah dia, aku akan terus berusaha dan berdoa, semoga dia jadi jodohku Aamiin.....Aminin dong, Bang, Be !" pinta Widuri maksa.
"Aamiin...." sahut Satrio dan Pak Cahyo kemudian sambil tertawa.
"Yang serius amininnya! Mumpung lagi hujan ini lho! Doa yang dipanjatkan pas hujan kan bakal dikabulin." kata Widuri dengan wajah masih maksa.
"Lebih bagus lagi kalau berdoanya setelah sholat, Cah ayuuuu...." sahut Pak Cahyo cepat.
"O iya, aku belum sholat. Ayo pada sholat dulu! " ajak Widuri kemudian bergegas melesat turun menuju mushola kantor.
"Kelakuan kayak kutu loncat gitu, naksirnya akhi- akhi...." gumam Pak Cahyo sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Akhi- akhi....anak sholeh?" tanya Satrio nggak percaya.
"He em...." jawab Pak Cahyo santai.
"Kerja disini juga?" tanya Satrio jadi kepo.
"Enggak. Tetangganya. Temen SMP nya dulu katanya." jawab Pak Cahyo sambil mengedikkan bahunya.
"Waaah...first love dia?" tanya Satrio setengah berbisik, semakin kayak emak- emak keponya.
"Maybe...." jawab Pak Cahyo.
"Setia banget dia." gumam Satrio tanpa sadar.
"Kamu naksir dia ya?" tanya Pak Cahyo bisik- bisik padahal ruangan itu hanya berisi mereka berdua.
"Alhamdulillah enggak." jawab Satrio dengan nada lega begitu dia membayangkan bagaimana kalau mereka jadi pasangan dan Widuri nanti memanggilnya Bang Sat.
Ah, dasar ide Lukas kurang a jar.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1