
Hanya membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit dari tempat mereka makan, Satrio sudah menghentikan mobilnya di halaman samping sebuah ruko yang lumayan panjang ke belakang.
"Mas Didit ada di rumah juga." gumam Adis saat melihat motor sport persis seperti milik Satrio tapi berwarna hitam.
"Biasanya jam segini dia nggak di rumah?" tanya Satrio menanggapi ucapan Adis sambil mengiringi langkah perempuan itu menuju sebuah pintu yang setengah terbuka.
"Kadang suka ketemuan sama temen- temennya." kata Adis sambil menatap wajah Satrio dari samping dan harus agak mendongak.
Baru kali ini mereka berjalan bersisian. Dan ternyata Satrio setinggi ini.
Puncak kepala Adis hanya sepundak Satrio.
"Weeeih, sampai juga akhirnya!" seru seorang perempuan muda yang tiba- tiba muncul dari balik pintu yang tadi setengah terbuka.
Satrio menangkap tatapan memindai ke arahnya dari mata perempuan yang dia duga adalah kakak ipar Adis.
"Kemaleman ya, Mbak?" tanya Adis basa- basi sambil terus melangkah mendekat ke arah pintu yang kini dibuka lebar- lebar.
"Enggak juga sih. Belum jam sembilan." jawab perempuan berkulit sawo matang dengan rambut yang di jepit asal di leher belakangnya.
"Sama siapa nih?" tanya Desi, kakak ipar Adis itu sambil tersenyum ramah pada Satrio.
"Kenalkan, Saya Satrio, Mbak. Tetanggaan sama Adis di kompleks." kata Satrio sambil mengulurkan tangannya.
"Oh ya....Aku Desi, kakaknya Adis." jawab Desi sambil tersenyum ramah.
"Ini yang diceritain Reta tempo hari bukan?" bisik Desi pada Adis seusai melepas genggaman tangannya setelah berkenalan dengan Satrio.
Satrio mulai menajamkan mata dan telinga saat dilihatnya acara kasak- kusuk khas perempuan sepertinya langsung dimulai di depan matanya.
Adis hanya mengangguk kecil namun dapat dilihat oleh mata Satrio.
"Waaaah...!" terdengar seruan tertahan Desi yang kini mengikuti langkah Adis masuk ke ruangan dalam setelah mempersilakannya duduk di kursi tamu.
Satrio hanya meringis dalam hati.
Kayaknya namanya sudah pernah di sebut di keluarga ini sebelumnya. Entah ada dalam cerita bab apa.
Tak lama Adis dan Desi meninggalkan Satrio sendirian.
Keduanya kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi empat gelas minuman dan dua toples cemilan yang langsung di sajikan di meja depan Satrio.
"Kita ngobrol bertiga dulu nggak papa ya, Om." kata Desi pada Satrio yang mengangguk sambil tersenyum.
"Sorry, aku panggilnya Om aja nggak papa ya? Mbasakke ( mengajari memanggil) Reta dan anakku." kata Desi sambil tertawa ringan.
"Iya. Santai saja, Mbak." sahut Satrio ringan.
"Papinya lagi ngelonin Cleo.Dari pagi rewel, nggak mau di pegang selain sama papinya. Udah aku kasih tahu kok kalau ada temennya Adis yang mau ketemu. Tapi harus bikin Cleo tidur pules dulu dianya." kata Desi santai.
"OK." jawab Satrio ikut bersikap santai.
"Memangnya kapan aku bilang kalau Mas Satrio mau ketemu Mas Didit?" protes Adis pada Desi.
"Dia kan cuma nganterin aku doang." sambung Adis kemudian.
__ADS_1
Satrio dan Desi saling lirik kemudian sama- sama tersenyum tipis.
"Aku inisiatif sendiri aja. Ya nggak papa kan Mas Didit ketemu sama Om Satrio. Lagian Mas Didit kan juga penasaran sejak Reta cerita kalau punya teman namanya Om Rio. Seseneng itu dia cerita ke Papinya waktu itu.Inget kan kamu?" kata Desi sambil menatap Adis riang.
Desi masih ingat betul bagaimana Reta bercerita padanya dan suaminya dengan suara sangat riang dan wajah penuh kekaguman soal Satrio.
Adis melirik Satrio malu- malu.
Sudah bisa dipastikan si Bapak kucing itu pasti udah besar kepala karena sudah pernah jadi tema cerita di keluarganya.
Satrio hanya tersenyum tipis menanggapi 'pujian' Desi pada arti kehadirannya buat Reta.
"Reta mah biasa gitu kalau habis ketemu sama orang baru." dusta Adis sambil deg- degan.
"Nggak juga ah. Nyatanya sama Panji, dari awal tau Panji dia udah nethink aja. Boro- boro cerita, ngeliatin Panji aja keliatan banget males." sanggah Desi yang membuat Satrio senyum semakin lebar.
Adis menatap Satrio dengan tatapan APA LU SENYUM- SENYUM? PUAS LU??
Suara deheman kecil beberapa kali dari arah dalam yang terdengar semakin mendekat membuat perhatian mereka beralih ke pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang dalam.
Seorang lelaki berkaos hitam bergambar motor Harley dan bercelana chinos pendek muncul di sana.
Rambutnya yang di potong plontos menambah seram penampilannya.
"Sorry, ngeloni anak wedok ( anak perempuan) dulu. Lagi manja sama bapaknya dari pagi." kata Mas Didit sambil mengulurkan tangannya pada Satrio yang langsung sigap berdiri menyambut uluran tangan Mas Didit.
"Santai saja." kata Mas Didit sambil tersenyum lalu duduk di samping istrinya.
"Tumben kamu kesininya malem, Dis." kata Mas Didit sambil menatap Adis penasaran.
Satrio meminta ijin pada Adis untuk menjelaskan dengan tatapan matanya yang disambut anggukan Adis.
"Ada apa sih? Kok pakai kode- kodean gitu?" tanya Desi karena bisa menangkap acara saling lempar pandang antara Adis dan Satrio.
Satrio kemudian menegakkan duduknya. Memberi kesan lebih serius agar bisa diperhatikan dengan penuh oleh lawan bicaranya.
"Tadi ada perselisihan antara Saya dan Panji, Mas. Sempat pukul- pukulan juga." kata Satrio tenang.
Mas Didit menatap Satrio dengan seksama. Ada kekagetan yang Satrio tangkap walau kemudian berganti dengan tatapan santai.
"Kenapa lagi bocah itu?" tanya Mas Didit tanpa emosi.
"Dia kasar sama Adis,Saya nggak terima, dia marah trus bug!" jelas Satrio sambil memperagakan gerakan memukul.
"Dia cemburu atau kenapa?" tanya Mas Didit.
"Akumulasi kayaknya. Beberapa hari pesan dan telponnya aku cuekin. Pas dateng ke rumah ngeliat aku di bonceng Mas Satrio. Sudah di jelaskan malah emosi. Sampai menjambak jilbabku, aku mau kebanting. Untung ada Mas Satrio." kata Adis sambil menatap kakaknya yang menggeleng- gelengkan kepalanya saking kesalnya.
"Ba ji ngan itu memang seharusnya masuk ke RSJ." gumam Mas Didit dengan geram.
"Kamu udah cerita ke Mama Papa belum Dis tentang kejadian ini? Ini nggak bener lho, Dis. Kasus kekerasan ini." kata Mbak Desi dengan nada meninggi.
Adis menggeleng pelan.
"Percuma juga aku ngadu, Mbak. Nggak bakalan percaya mereka." kata Adis putus asa.
__ADS_1
Mas Didit menghela nafas sedih.
Dia tahu posisi Adis sulit. Dan dia tahu bagaimana bangganya orangtuanya melihat Adis 'diterima' oleh Panji dan keluarga nya dengan kondisinya yang janda dengan anak satu.
Belum lagi dia sangat tahu bagaimana pandainya Panji bermain topeng di depan keluarga mereka.
Mungkin kalau Didit tak tahu dan mengenal Panji sejak lama, dia pun akan tertipu dengan kemunafikan Panji.
Bukannya dia tak pernah memberi pengertian kepada orang tuanya tentang bagaimana Panji sesungguhnya, tapi memang orangtuanya benar- benar sudah terpukau oleh kepalsuan yang sangat sempurna di sajikan Panji.
Dia sangat iba pada Adis, tapi dia sendiri sudah kehabisan akal untuk menyadarkan orangtuanya.
"Saya berpikir saat ini Adis nggak aman kalau tinggal sendiri. Panji sewaktu- waktu bisa datang lagi dan nggak ada yang jagain Adis. Makanya Saya sarankan dia disini dulu. Katanya Panji belum tahu kalau Mas Didit tinggal disini." kata Satrio.
Didit mengangguk. Orangtuanya pun tahunya dia tetap tinggal di rumah yang ditempati Adis.
"Kerjaan kamu gimana, Dis?" tanya Didit kemudian.
"Bisa aku kerjakan dari rumah kok. Bisa lewat email. Nanti kalau terpaksanya harus ketemu klien ya aku pakai taksi aja kalau Mas Didit nggak bisa nemenin." kata Adis.
Dia sudah memikirkan semua itu.
"Nanti kalau aku nggak bisa nganter, aku minta Johan atau Deni nemenin deh." kata Mas Didit menyebut dua karyawan kepercayaannya.
Satrio sedikit lega mendengarnya.
"Sat, bisa kita ngobrol sebentar?" pinta Mas Didit sambil menatap Satrio serius.
Satrio mengangguk mantap.
"Mau ngomongin apa sih?" tanya Adis was- was.
"Rahasia." kata Mas Didit sambil membawa gelas minum milik Satrio dan miliknya sendiri.
"Kamu bawa toplesnya, Sat. Kita ngobrol di samping rumah aja sambil nyari angin." kata Mas Didit yang langsung dituruti oleh Satrio dengan wajah yang riang.
"Hati- hati." bisik Adis memperingatkan Satrio yang dibalas dengan kerlingan jenaka Satrio.
Adis khawatir Mas Didit berpikir aneh- aneh soal hubungannya dengan Satrio dan malah akan 'menghabisi' Satrio di luar.
Adis nggak mau itu terjadi.
Satrio hanya orang luar yang sedang berusaha untuk menolongnya. Menawarkan diri untuk melindunginya.
Jadi nggak seharusnya Mas Didit 'membantai' Satrio.
"Tenang saja. Aku ahli menaklukkan orang sejenis Mas Didit." bisik Satrio sambil mengikuti Mas Didit.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Maafkeun ya, kemarin nggak up tanpa pamit 😅
Anggap saja ini ganti up kemarin 😀
Selamat berhari Minggu semuanyaaaaa......
__ADS_1
💖💕