KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Membongkar Tabungan Luka


__ADS_3

"Panji....dia tahu statusmu?" tanya Satrio lembut.


Adis mengangguk pelan.


"Justru statusku itu yang jadi senjata dia untuk menekanku. Dia seolah- olah merasa dia adalah orang yang sangat berjasa karena mau menerima aku yang janda anak satu ini jadi kekasihnya. Dia pikir aku harus merasa sangat berhutang budi padanya karena 'kebaikan' hatinya itu." kata Adis pelan mirip gumaman.


"Kamu mencintai dia?" tanya Satrio lagi dengan hati deg- degan.


Bersaing dengan almarhum agar bisa di hati Adis aja jelas sudah berat, apalagi kalau di tambah harus menggusur si banci itu dari hati Adis.


Nambah kerjaan hidupnya aja kan?


"Nggak! Aku sudah berusaha menerima dia selama ini. Tapi semakin kesini bukannya semakin nyaman, malah semakin muak sama kelakuannya." jawab Adis tanpa ada keraguan di suaranya.


Diam- diam Satrio tersenyum lega.


Dengan mendengar jawaban Adis barusan, setidaknya dia semakin tidak ragu untuk melakukan sesuatu agar cowok brengsek itu lenyap dari kehidupan Adis untuk seterusnya.


"Jadi kalau aku lakuin sesuatu agar dia bisa pergi dari kehidupanmu, kamu nggak keberatan?" tanya Satrio menegaskan.


Adis menatap Satrio dengan tatapan khawatir.


"Aku usahakan tanpa kekerasan sedikitpun." kata Satrio seperti mengerti kekhawatiran Adis.


"Yang penting tidak menyulitkan siapapun di kelak kemudian hari. Aku hanya ingin dia nggak ganggu hidupku dan keluargaku lagi. Aku ingin orang tuaku bisa melihat siapa Panji sebenarnya. Itu sudah lebih dari cukup untukku." kata Adis penuh harap.


Satrio mengangguk mengerti.


Obrolan mereka terjeda oleh kehadiran pramusaji yang membawa pesanan mereka.


Satrio menatap antusias ke piring yang di sodorkan Adis padanya.


Ada nasi yang di cetak, sepotong ayam ingkung , lalapan mentimun dan kubis, sambal yang sepertinya tiga jenis, juga kuah ingkung dalam mangkuk yang lebih afdol disiramkan ke atas potongan ayam ingkung sebelum di santap walaupun ada juga yang mencocolkan suiran ayam ke dalam kuah ketika akan menyantapnya.



"Hmmmm.... yummy....." kata Satrio riang ldengan hidung yang mengembang sempurna untuk bisa menangkap harumnya sego gurih ( nasi uduk) dan kuah ingkung di depannya.


Telapak tangannya saling menggosok kuat seperti atlet angkat besi yang mau mengangkat beban saja.


"Cuci tangan dulu! Tuh di situ." kata Adis saat melihat tangan Satrio sudah terulur hendak menjamah ayam sambil menunjuk sudut tembok.


Dengan wajah dibuat kesal, Satrio beranjak menuju sudut tembok di sampingnya, di mana ada tempayan dan kran tempat cuci tangan.


"Kamu juga cuci tangan, Dis. Kan mau nyomot tahu." kata Satrio masih berdiri di samping tempat cuci tangan.


Adis meringis malu sambil beranjak mendekat ke tempat cuci tangan.


"Enak banget!" kata Satrio begitu mengunyah untuk pertamakali campuran nasi, potongan ayam, timun, dan sambel bawang.


"Sambelnya itu tiga jenis. Sambal bawang, sambal kacang, sama sambel gepeng. Enak semua kalau di kombinasikan ke nasi." kata Adis sambil mengunyah tahu crispy nya.


Satrio membuktikan ucapan Adis dengan mecoba ketiga jenis sambal secara bergantian.


"Harusnya nasinya dua nih.Mantap!" kata Satrio di tengah kunyahannya.


"Pesen nasi lagi aja kalau masih mau." kata Adis solutip.


"Nggak ah. Besok aja kalau kita kesininya siang- siang. Aku mau makan nasi double." kata Satrio sambil mengerling.


Adis hanya menatapnya tak bereaksi.


"Reta kesini lagi kapan?" tanya Satrio mencoba mencairkan suasana lagi.


"Rencananya dua bulan lagi kami bisa kumpul lagi. Dia mau aku cariin SD disini. Sekarang kalau mau pindah nanggung, TK nya sebentar lagi lulus." kata Adis sambil menerawang.


"Udah mau tujuh tahun dia?" tanya Satrio dengan nada surprise.


"Baru enam tahun. Masuk SD negeri kayaknya sulit kalau pakai standard umur. Harus tujuh tahun kan kalau masuk SD negeri?" kata Adis.


"Nggak negeri juga nggak papa kan? Udah nyari- nyari sekolahannya belum?" tanya Satrio seolah mendapat Ilham peluang jadi sosok berguna buat Adis.

__ADS_1


"Tetangga dan temen udah ngasih beberapa referensi. Ada dua sekolah yang menurutku bagus. Masih mempertimbangkan pilih yang mana. Harus mikir jarak juga. Kalau kejauhan kasihan anaknya juga kan?" kata Adis yang di sambut anggukan Satrio.


"Ada baiknya Reta juga di dengar pendapat dan keinginannya. Kan dia yang bakal ngejalani. Orang tua cuma punya hak buat mengarahkan, bukan memutuskan." saran Satrio tenang.


Adis mengangguk mengerti.


Diam- diam Adis mulai menilai Satrio dari sudut pandang yang berbeda.


Ternyata kalau lagi ngomong serius, sikap Satrio sangat bertolak belakang dengan sikapnya kalau lagi santai.


Saat serius gini Satrio terasa sangat bijaksana dan hati- hati dalam bersikap. Juga terlihat sangat berwibawa namun hangat.


Membuatnya merasa tenang karena merasa diayomi.


Beda jauh dengan sikapnya saat santai. Sangat menyebalkan,cuek dan kesannya nggak perduli dan sesukanya membuka mulut untuk mencerca orang lain.


"Kenapa senyum- senyum gitu? Sedang melihat nilai plus ku ya? Aku keliatan sangat bijaksana dan hangat ya?" tanya Satrio sambil terkekeh congkak.


Adis mendecih kesal, lebih kepada dirinya sendiri.


Apa sejelas itu ya pandangannya terlihat oleh Satrio sampai cowok ini bisa berlagak congkak di depannya seperti itu karena merasa dikagumi?


Eh, kagum?!


Adis menjejalkan potongan tahu crispy ditangannya ke mulutnya sendiri dengan gerakan kesal.


Dia kesal dengan yang baru saja terlintas di pikirannya.


Dia mulai mengagumi Satrio?! Yang bener saja,Dis!


Satrio hanya tertawa- tawa saja melihatnya.


Dia masih asik menikmati makan malamnya yang dirasanya sangat luar biasa.


Selain karena menunya cocok di lidahnya, tentu saja karena siapa sosok yang menemani makan malamnya kali ini.


"Kalau kapan- kapan Reta kesini kita ajak makan disini ya, Dis?" pinta Satrio sambil menatap Adis tenang walau Adis bisa melihat ada tatapan berharap di tatapan mata Satrio.


Adis tak berani menjawab karena dia ragu dengan situasi saat ini.


Apalagi bila masih berurusan dengan manusia bernama Panji.


Adis yakin masih harus berjuang keras untuk membuat Panji pergi dari hidupnya agar hidupnya tenang.


"Kita beresin masalah Panji pelan- pelan. Kita harus pinter- pinter mencari celah agar bisa mendapatkan bukti yang bisa meyakinkan orangtuamu kalau Panji nggak layak jadi mantu mereka." kata Satrio setelah menangkap kegelisahan di tatapan Adis.


Adis menunduk. Mendadak merasa gelisah dengan perasaannya sendiri saat ini.


Kenapa Satrio bisa tiba- tiba masuk sejauh ini dalam masalah pribadinya hanya dalam waktu beberapa jam ini?


"Kamu kenapa jadi begini?" tanya Adis tiba- tiba.


"Ha?" tanya Satrio bingung dengan pertanyaan Adis yang ambigu.


"Kenapa kamu jadi masuk terlalu jauh dalam urusan hidupku?" tanya Adis kemudian.


Satrio menangkap kilatan tatapan kesal, namun juga kelegaan dan pengharapan di mata Adis.


Membuatnya tersentuh.


Satrio terpaku.


Dia juga nggak tahu kenapa bisa begini.


Dalam beberapa jam saja mereka berdua bisa sedekat ini karena kebrengsekan Panji.


Apakah dia harus mengucapkan terimakasih pada Panji suatu hari nanti bila mereka bertemu lagi karena telah membuatnya dan Adis menikmati kenyataan saat ini?


"Karena aku telah jatuh cinta sejak sentuhan pertama. Pada pelukan hangat di tubuhku oleh tangan mungil yang melingkari tubuhku. Karena aku telah jatuh cinta dan bisa merasakan rindu dadaku disandari oleh kepala mungil gadis kecil yang ternyata mamanya jutek." kata Satrio sambil menatap Adis lembut dengan bibir yang tersenyum dengan lengkung sempurna.


"Aku jatuh cinta pada tatapan mata yang dinaungi alis seperti lengkungan sayap burung camar. Yang mencari kucingnya di taman dan memarahiku di kali pertama bertemu." lanjut Satrio lagi sambil tetap tersenyum menatap Adis yang menunduk dan tak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar.

__ADS_1


"Aku ingin selalu menjaga kalian. Hanya itu yang ada di kepalaku. Aku nggak tahu apa alasan lainnya kalau kamu tanya lagi." kata Satrio lagi.


Adis semakin dalam menunduk. Tak kuasa lagi menahan derai airmatanya.


Dia tak percaya kenyataan indah yang baru saja di dengarnya.


Ada orang yang ingin melindunginya dan Reta.


Dia dan Reta.


Mereka berdua.


Bukan hanya dia saja atau Reta saja.


Benarkah ini?


Kenyataankah ini?


Ah Ben, aku kangen kamu.


Cuma kamu yang bisa begitu kan pada kami berdua?


Menginginkan dan mencintai aku dan Reta sama besarnya?


Ben, aku mau kamu saja yang begitu pada kami berdua.


Bukan dia.


Bukan dia, Ben.


Dan Adis semakin tergugu saat dirasanya ujung jari tangannya disentuh lembut. Sangat lembut.


Diakah orangnya, Ben?


"Aku hanya menjawab apa yang kamu tanya. Dan aku menjawab sesuai dengan apa yang aku rasa. Jangan jadikan apa yang aku katakan tadi beban buatmu, Dis. Aku tahu ini akan jadi hal yang nggak mudah buat kamu. Buat aku juga. Tapi setidaknya kamu tahu aku bisa kamu andalkan kalau kalian berdua butuh pelindung, kapanpun itu. Setidaknya aku sudah jujur dengan apa yang aku rasa." kata Satrio tenang.


Dia mau jadi pelindung buat kami berdua kapanpun kami butuh. Benarkah, itu Ben?


Sebaik itukah dia?


"Aku tahu kamu masih mencintai papanya Reta. Aku bisa rasakan itu. Dan rasanya nggak mungkin aku akan menang bila harus bersaing dengan kenangan tentangnya." kata Satrio tersenyum pasrah.


Entah mengapa tiba- tiba dia merasa kalah sebelum bertanding.


Menyedihkan.


"Namanya Beni." kata Adis pelan setelah berhasil menenangkan tangisnya sendiri.


Satrio menatap penuh atensi pada Adis.


"Papanya Reta namanya Beni. Dia cinta pertama dan satu- satunya kekasih di hatiku. Entah akan sampai kapan. Kami saling support. Kedua orang tua kami juga merestui hubungan kami karena mereka melihat pacaran kami nggak pernah melewati batas. Hingga hari itu. Kami melakukan dosa besar. Dan semua mimpi masa depan kami hancur oleh tangan kami sendiri." Adis kembali bergetar menahan tangis.


"Kami sadar kami berdosa besar. Aku selalu memohon ampun untuk dosa kami itu, bahkan sampai kini. Aku selalu khawatir, apakah dia akan tetap dihukum atas dosa itu walaupun dia telah bertobat dengan sungguh- sungguh saat masih hidup dulu?" Adis menatap Satrio dengan tatapan sedih, merana, dan ketakutan.


Hati Satrio merasa diremas begitu kuat karena dia tak bisa membantu apapun walau dia sangat ingin.


"Dia teman yang baik dan menyenangkan untuk semua yang mengenalnya. Anak yang baik untuk keluarganya. Kekasih yang sangat baik untukku. Ayah yang baik sekali bagi Reta. Dia baik, Mas. Sangat baik." tangis Adis kini meledak tak terbendung lagi.


Satrio hanya mampu terpaku.


Adis sedang menumpahkan kerinduannya pada Beni.


Kerinduan yang mungkin telah dia tahan sendirian bertahun- tahun ini.


Kerinduan yang mungkin telah dia coba untuk kesampingkan dan kubur dalam- dalam sendirian.


Ya Tuhan, sekuat apa perempuan ini menahan kesedihan dan kerinduannya sendirian selama ini?


Dan sekarang di depan Satrio, di hadapan pria asing dalam hidupnya, Adis tak kuasa menyembunyikan semua itu.


Semua tabungan kepiluan hatinya dia buka di hadapan Satrio tanpa sisa.

__ADS_1


Apakah aku istimewa baginya?, tanya batin Satrio dengan tatapan ragu pada Adis yang masih sibuk menyeka airmatanya.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2