
Satrio melangkahkan kakinya dengan santai meninggalkan mobilnya di parkiran stasiun Tugu.
Mobil itu akan terparkir disana selama tiga malam dua hari ke depan.
Jum'at malam ini, setelah enam bulan meninggalkan Jakarta dan menjadi anak rantau di Jogja, Satrio akan pulang untuk merayakan ulang tahun mamanya.
Jadwal keberangkatan keretanya masih setengah jam lagi dan dia memutuskan untuk segera masuk saja ke area peron.
Setelah urusannya dengan petugas peron selesai, Satrio baru akan melenggang meninggalkan petugas ramah itu saat di dengarnya teriakan nyaring suara gadis kecil memanggilnya.
"Om Rioooo!" seru Reta yang sudah memeluk pinggangnya.
Suara gadis kecil itu mampu menarik perhatian beberapa pengunjung yang sekilas melihat ke arah mereka.
"Kamu disini? Sama siapa?" Satrio tersenyum senang menatap mata bulat anak ini.
"Reta...." suara Adis terdengar memperingatkan Reta yang terus memeluk pinggang Satrio.
Gadis kecil itu dengan berat hati menjauhkan diri dari Satrio dengan bibir manyun dan wajah menunduk kesal.
"Kalian mau nunggu atau habis nganter?" tanya Satrio keheranan dengan pertemuan yang kebetulan itu.
Kebetulan yang manis menurutnya.
Walau dia tahu keberadaan keduanya saat ini bukan untuk kepergiannya, tapi Satrio merasa keduanya mengantarkan kepergiannya.
Dan entah mengapa rasanya senang sekali.
"Habis nganter Om...."
"Temen." potong Adis cepat. Membuat Reta tak melanjutkan ucapannya.
"Om mau kemana?" tanya Reta kemudian.
"Mau pulang ke Jakarta." jawab Satrio sambil menatap Adis sekilas.
Samar Satrio melihat keterkejutan di wajah Adis.
"Nggak balik lagi?" tanya Reta lagi dengan wajah yang mulai sedih.
"Balik dong. Om kan kerja disini. Hari Minggu Om sudah disini lagi." jawab Satrio sekaligus berharap Adis mencerna kalimatnya.
Dan sepertinya situasi berjalan seperti harapannya.
Wajah Adis nampak lega.
"Hari Minggu aku udah balik. Nggak bisa ketemu lagi." kata Reta sedih.
"Kapan- kapan kita pasti bisa ketemu lagi." hibur Satrio sambil tersenyum.
"Om baliknya hari Minggu siang atau sore?" tanya Reta lagi.
"Kayaknya sampai sini malem deh." jawab Satrio penuh sesal.
"Yaaaaah." gumam Reta sedih.
Satrio mengelus rambut Reta lembut sambil tersenyum.
"Om ke Jakarta ngapain? Ada kerjaan?" tanya Reta lagi.
"Enggak. Ada perlu sama orang tua Om. Kenapa?" tanya Satrio sambil menatap Adis yang nampak terpaku dan Reta hanya menggeleng.
Adis hanya mampu terpaku menjadi penonton interaksi dua orang di depannya itu.
Kenapa Reta bisa bersikap semanja itu pada Satrio padahal anak itu bisa dibilang nggak gampang berinteraksi dengan laki- laki baru?
Dan Bapak kucing itu. Kenapa dia bisa semanis itu menghadapi anak kecil yang sedang merajuk di depannya?
Sebuah pemandangan yang janggal untuk Adis.
Satrio melihat jam tangannya.
Kurang sepuluh menit lagi keretanya datang.
Dilihatnya petugas yang tadi memeriksanya sudah berulangkali menatapnya.
"Om harus segera masuk biar nggak ketinggalan kereta." kata Satrio sambil menatap Reta yang malah sudah menunjukkan muka hendak menangis.
"Sini peluk dulu biar nggak manyun." kata Satrio kemudian menjatuhkan satu lututnya di lantai agar bisa memeluk Reta.
__ADS_1
Gadis kecil itu melepaskan genggaman tangan Adis kemudian menghambur ke pelukan Satrio.
"Baik- baik ya sama Tante Adis. Om pergi dulu. Kapan- kapan kita ketemu lagi." kata Satrio sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku nggak suka sama Om Panji. Aku sukanya sama Om Satrio." kata Reta dengan nada merajuk di pelukannya.
"Om Panji siapa?" tanya Satrio sambil menatap Adis yang kini mendekat dengan tatapan was- was.
"Pacarnya Ma...."
"Udah yuk Reta. Om Satrio harus cepetan masuk." kata Adis memotong ucapan Reta yang dengan gerakan enggan kembali mendekat ke arah Adis.
"Kalian hati- hati pulangnya. Tadi naik apa kesininya?" tanya Satrio pada Adis.
"Mobil." jawab Adis singkat, tanpa mau membalas tatapan penuh selidik Satrio padanya.
"Ya udah,aku jalan dulu. Bye Reta....Mana senyumnya?" pamit Satrio sambil melambaikan tangan pada Reta kemudian bergegas menuju peron.
Sambil melangkahkan kakinya menjauhi Adis dan Reta sesekali Satrio menoleh dan masih mendapati keduanya berdiri di sana.
Reta dengan riang melambaikan tangannya tiap kali Satrio menoleh ke arahnya.
Sedang satu perempuan dewasa di sampingnya lebih suka menunduk atau membuang muka bila tatapannya bertemu dengan mata Satrio.
Reta baru mau meninggalkan stasiun saat dia melihat Satrio naik ke kereta dan kereta itu berangkat meninggalkan stasiun.
"Sedih gitu mukanya." kata Adis saat mereka sudah di perjalanan menuju pulang.
"Untung tadi ketemu Om Rio di stasiun. Kalau nggak ketemu kan kami nggak bisa perpisahan." kata Reta sedih.
Adis terkekeh mendengar kata perpisahan versi Reta.
"Aku nggak suka sama Om Panji." kata Reta tiba- tiba sambil menatap Adis.
Adis memilih tak bereaksi.
"Aku sukanya sama Om Rio." kata Reta lagi.
"Kenapa?" tanya Adis akhirnya.
"Om Panji galak. Dia suka jahat kan?" tanya Reta sambil menatap Adis yang diam saja.
Adis merasakan dadanya tiba- tiba sesak.
Selalu seperti itu tiap kali Reta bicara tentang Papanya.
"Kamu kan juga tadi di peluk Om Panji." kata Adis akhirnya.
"Aku nggak suka..... Om Panji meluknya nggak enak. Nggak bikin nyaman kayak Om Rio." kata Reta membuat Adis menggeleng keheranan.
Bahkan bocah sekecil ini saja sudah bisa membedakan mana pelukan nyaman dan pelukan nggak nyaman. Yang berarti mana pelukan yang dilakukan tulus dari hati dan pelukan hanya pura- pura tulus.
Ya ampun......
Ponsel Adis yang ada di dashboard berbunyi saat mobilnya baru saja melewati pos satpam kompleks perumahan.
"Om Rio!" seru Reta saat dilihatnya wajah kece Satrio memenuhi layar ponsel.
"Angkat aja kalau Reta mau ngomong." kata Adis yang melihat wajah gembira Reta.
Anak itu langsung menyambar ponsel dan mulai berbicara.
"Hallo Om."
"Udah sampai rumah belum, Ta?"
"Udah sampai depan rumah."
"Oke. Ya udah kalau udah sampai rumah. Dah ya Om tutup telponnya."
"Iya."
Reta mengulurkan ponsel pada Adis dengan riang begitu mereka akan keluar dari mobil.
"Ngomong apa Om Satrio?" tanya Adis iseng.
"Tanya udah sampai rumah belum." jawab Reta tenang.
"Itu aja?" tanya Adis penasaran.
__ADS_1
"Iya."
"Oooo."
"Kenapa?" tanya Reta keheranan dengan nada kecewa di suara Adis padanya.
"Nggak papa. Udah yuk buruan bersih- bersih. Udah malem ini. Kita tidur." ajak Adis segera mengalihkan pembicaraan.
Ngapai juga mikirin orang itu, batinnya kesal.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Satrio memutar- mutar ponselnya dengan tak berhenti berpikir soal Om Panji yang di sebut Reta tadi.
Apakah dia kekasih Adis?
Kemungkinan besar sih iya.
Secara setahu Satrio, Adis hanya punya satu saudara, yaitu kakak lelaki yang kemungkinan adalah ayah Reta.
Panji.
Satrio berulang kali mengeja nama itu di hatinya.
Membuat dia sangat penasaran soal orang itu.
Seperti apa orang yang mampu menaklukkan si Emak kucing yang tukang ngajak debat itu?
Satu nada pesan masuk berbunyi.
Dari mamanya yang menanyakan dia sudah berangkat ke Jakarta belum.
Satrio membalas pesan itu dengan tersenyum jahil.
Maaf banget, Ma.....Mas ada kerjaan ke Jepara, dampingin buyer baru sampai hari Minggu.
Satrio terkikik- kikik sendiri membayangkan mamanya uring- uringan saat ini karena anak sulungnya tak pulang saat ulangtahunnya dan lebih berat dengan kerjaan recehnya.
Tapi dugaannya salah total.
Matanya melotot saat dibacanya pesan yang barusan masuk dari mamanya.
Kirim alamat kamu nginep di Jepara sekarang juga. Biar kami semua yang nyamperin kamu kesitu. Buruan!
Ya ampun emakkuuuu......
Satrio tak segera membalas pesan mamanya walau kemudian bom puluhan pesan masuk ke ponselnya.
Tentu saja pesan dari mama, papa,dan Wira yang menghujatnya sebagai anak durhaka.
Kurang ajar nih bocah....
Panggilan masuk datang dari papanya.
Mau tak mau Satrio harus mengangkatnya dari pada besok dia dikabari kalau sudah di coret dari kartu keluarga kan?
"Assalamualaikum, Pa...." Satrio menunggu beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara papanya.
"Wa'alaikumussalam..."
"Aku lagi OTW pulang kok. Belum keluar dari wilayah Jogja keretanya." kata Satrio langsung menjelaskan sebelum Papanya memnghujaninya dengan omelan.
"Bocah kurang ajar. Emakmu udah mewek tuh." sungut Pak Susilo sambil terkekeh.
Satrio meringis dengan hati menyesal.
"Besok minta tolong suruh orang buat jemput aku ya, Pa. Jam empatan pagi." kata Satrio.
"Ya. Besok ku suruh Nurdi jemput kamu. Ya udah. Papa cup- cupin emakmu dulu." kata Pak Susilo kemudian menutup telpon.
Satrio meringis bingung.
Bahasa apa pula itu cup- cupin?
Ngecup- ngecup mamanya?
Aiiiiiih.....dasar Papa rusuh.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1