KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Lukas sedih


__ADS_3

"Ma..! Pa...! Kami pulaaaang!" teriak Wira begitu melewati pintu yang segede gaban itu. ( BTW, ada yang tau gaban itu apa nggak?😀).


Widuri merasa kakinya sudah tak menapak di bumi begitu melihat isi dalam rumah itu.


Jelas barang mewah semua walau terlihat simple namun tak bisa menyembunyikan sisi sangat elegannya.


Mungkin harga meja console dan cermin yang terpasang di atasnya bisa untuk membuat satu unit rumah sederhana type 36.


Belum lagi sofa tamu yang jelas dari kulit premium dan segede- gede itu.


Lampu kristal segede parabola itu harganya berapa ya Allah...?


Masyaa Allah...


"Widuriiiii....!" sebuah suara dari perempuan tengah baya terdengar dari arah dalam.


Membuat fokus Widuri kembali ke kenyataan di depannya.


Dilihatnya seorang perempuan dengan style simple elegant berjalan cepat ke arahnya sambil merentangkan kedua tangannya, nampak sudah sangat tak sabar untuk segera memeluknya.


Widuri tiba- tiba merebakkan airmatanya.


Apalagi saat tiba- tiba dia sudah berada dalam pelukan tubuh wangi -yang sangat menenangkan namun membuat rasa riang di hati- itu, airmatanya luruh.


Dia merasakan pelukan sehangat pelukan ibunya kemarin, saat melepasnya pergi ke Jakarta.


Dia merasakan kesenduan yang sama dalam pelukan perpisahan dan pertemuan kembali ini.


"Kamu sudah setinggi ini, Nak... Cantik..." kata Bu Katarina setelah melepaskan pelukannya dan kini menangkup kedua pipinya dengan tatapan yang berkabut oleh airmata.


Widuri hanya bisa tersenyum.


Kikuk? Jelas.


Walaupun dia dengar dulu dia adalah princess di rumah ini, tapi dia tak ingat akan hal itu.


Jadi sekarang dia tetap merasa sebagai orang baru di rumah ini.


Dan mendapat sambutan seantusias ini oleh tuan rumah yang harus dipanggilnya Mama, dia jelas sangat canggung dan bingung harus bersikap wajar yang seperti apa.


"Mana princess nya Papa dulu?" suara Pak Susilo memaksa Widuri yang mukanya masih berada di dalam kekuasaan Bu Katarina hanya mampu mengalihkan pandangannya lurus ke arah depan, ke belakang Bu Katarina.


Dan disanalah, seorang Wira senior nampak tersenyum melangkah ke arahnya.


Widuri tahu kini. Dua macam wajah tampan yang jadi 'kakaknya' itu berasal dari mana saja.


Satrio berwajah mirip mamanya yang masih nampak jelas garis wajah Pakistannya, dan Wira sangat mirip dengan papanya dengan wajah lokalnya.


Bahkan sampai pembagian wajah pun sekeren ini...


Widuri bergegas mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Pak Susilo saat wajahnya sudah terbebas dari rangkuman tangan Bu Katarina.


Setelahnya entah mengapa dengan otomatis tubuhnya menggeser untuk menempel ke arah Bu Katarina.


Pak Susilo tertawa keheranan.


"Kok bisa kebiasaannya nggak berubah? Kayak yang otomatis gitu nggak sih?" tanya Pak Susilo sambil menatap Bu Katarina takjub.


"Eh iya!" kata Bu Katarina setengah berseru keheranan.


"Kebiasaan apa sih? Bikin bingung aja?" tanya Wira sedikit kesal dengan tingkah kedua orangtuanya.


"Hapsari ini, dulu kalau kesini ngeliat Papa langsung begini nih, salim, trus buru- buru nempel ke Mama atau ke Mamanya karena takut sama Papa. Ini udah gede juga tetep begitu." kata Papa keheranan.


Widuri dan Wira saling tatap tak percaya.


"Dulu dia takut sama Papa? Kenapa?" tanya Wira dengan senyum mengejek pada Widuri.


"Takut diciumin sama Papamu, hahaha..." jawab Bu Katarina langsung tergelak di sambut tawa keras Wira, cengiran kekinPak Susilo, dan wajah Widuri yang langsung seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Padahal banyak cewek yang pengen Papa cium lhoh, eh dia mau dicium malah ketakutan." kata Pak Susilo sombong.


"Ya mana nggak takut, orang kamu sekalinya nyium langsung kamu gigit pipinya!" sahut Bu Katarina sambil memukul pelan lengan Pak Susilo.


"What?! Hahahaha....." tawa Wira meledak tak terkendali membayangkan gimana takutnya Widuri saat pipinya digigit oleh papanya.


"Karena pipinya ngegemesin sih. Lagian anak cewek kan nurut mau dicium juga." bela diri Pak Susilo.


"Ya kali mau nurut kalau tahu mau digigit." sergah Wira.


Widuri hanya bisa pasrah menjadi bahan omongan di depan matanya sendiri.


Bahkan dia tak mampu berbuat apapun saat ketiga orang di depannya masih saja tertawa- tawa membicarakan dirinya di masa lalu.


"Sudah makan belum kalian?" tanya Bu Katarina mengalihkan pembicaraan.


Tatapannya menatap Widuri dan Wira bergantian.


"Sudah, Ma." jawab Wira dan Widuri bersamaan sambil mengangguk.


Bu Katarina tertawa melihatnya.


"Kenapa kalian juga masih sekompak dulu sih? Ngegemesin aja kalian tuh." kata Bu Katarina dengan tatapan gemas.


Wira dan Widuri saling melempar tatapan keheranan.


Mereka berdua kompak? Dan menggemaskan? Oh ayolah ....


"Kalau Satrio sampai tahu, habis kalian berdua diledekin sama dia." kata Pak Susilo sambil tersenyum.


Tiba- tiba sebuah ide terlintas di benak Bu Katarina.


"Eh, ayo kita photo berempat terus kita kirimin ke Mas biar dia iri." kata Bu Katarina sambil menyerahkan ponselnya pada Wira agar dia yang mengambil gambar karena dia yang paling tinggi disitu.


Mereka berempat bergegas mengatur posisi lebih merapat agar bisa masuk frame semua lalu beberapa kali Wira mengambil photo mereka berempat dengan berbagai pose.


Bu Katarina bergegas mengambil ponselnya dari tangan Wira karena sudah tak sabar untuk memilih photo mana yang akan dia kirimkan ke Satrio.


Satrio yang baru saja masuk rumah setelah keluar malam mingguan dengan Adis langsung tersenyum melihat photo itu.


"Si Tomboy kenapa malu- malu kucing gitu gayanya?" gumam Satrio sambil terkekeh.


Ada kelegaan dan kebahagiaan yang kini menyelinap perlahan ke dalam hati Satrio melihat Widuri berada kembali ke tengah keluarganya.


Ingatan masa kecilnya timbul perlahan- lahan tentang gadis kecil yang selalu dijahilinya bila sedang diajak orangtuanya berkunjung ke rumahnya.


Dulu gadis kecil itu pasti selalu bisa dibuatnya menangis.


Dan bila dia menangis, entah mengapa rasanya legaaaa sekali karena misi jahilnya terasa sangat berhasil.


Wira adalah Mas pelindung gadis kecil itu. Dia yang selalu menghibur dan bisa menghentikan tangisnya bila Satrio sudah membuatnya menangis sebelumnya.


Satrio menatap gambar wajah Wira dan Widuri bergantian.


"Keren juga kalau di jodohin ni bocah dua. Biar si Tomboy move on dari akhi- akhi nggak jelas itu." gumam Satrio dengan senyum setannya.


Lagian sejak ngeliat photo Widuri, kayaknya Wira ada niat mengadakan agresi kepada Widuri.


Pikiran Satrio yang baru mulai kelayapan harus terganggu dengan telpon dari Lukas.


Ngapain nih bocah? Ngerusak suasana aja.


"Ha...."


"Eh, si Widuri ke Jakarta ngapain?!" seru Lukas begitu mendengar telponnya diangkat.


"Ebuseeeet nih bocah! Hallo dulu kek." semprot Satrio kesal.


"Widuri ngapain ke rumahmu, Sat?" tanya Lukas tetap nggak perduli dengan protes Satrio.

__ADS_1


Kok si kulkas tahu Widuri di rumah gue?


"Kok lu tau kalau dia dirumah gue?" tanya Satrio penasaran.


"Barusan aku nelpon dia, trus katanya lagi di rumahmu yang di Jakarta. Kamu mudik sama dia?" tanya Lukas dengan suara yang terdengar panik dan curiga.


"Enggaklah! Gue disini, baru aja pulang pacaran." jawab Satrio sambil tersenyum manis pada pintu kaca di depannya.


"Trus ngapain Widuri ke rumahmu Jakarta?" tanya Lukas masih sangat penasaran.


"Nyamperin adik gue kali." jawab Satrio sambil terkikik.


Samar- samar dia mendengar Lukas seperti tersedak karena mendengar ucapannya barusan.


"Mampus!" kata Satrio sambil terbahak tanpa suara.


"Adikmu cowok apa cewek?" tanya Lukas setelah beberapa lama terbatuk.


"Cowoklah! Cakep pula.Dan yang pasti naksir Widuri. Mau tahu sekacep apa Adel gue nggak? Bentar gue kirimin photonya." kata Satrio semakin membakar Lukas.



"Widuri naksir adikmu juga?" tanya Lukas dengan suara was- was saat selesai melihat photo yang dikirimkan Satrio barusan.


Satrio semakin tertawa- tawa mendengarnya.


"Kayaknya sih gitu." jawab Satrio santai padahal bohong.


Bisa dia bayangkan bagaimana sakitnya hati Lukas saat mendengar hal tadi.


Tapi Satrio merasa harus melakukan itu untuk kesehatan hati Lukas ke depannya.


Dia ingin Lukas segera move on dari Widuri.Dari cinta mustahilnya itu.


Lukas berhak bahagia dan mendapatkan cinta yang benar.


"Tega kamu, Sat." gumam Lukas kemudian.


"Kok aku yang tega?" tanya Satrio nggak terima.


"Kamu tega ngomong jujur gitu sama aku. Aku kan jadi terluka. Hatiku hancur denger Widuri sama cowok lain. Apalagi sama adikmu." kata Lukas kemudian.


"Kalau hatimu yang isinya Widuri itu hancur, ganti hati lu dengan yang baru biar bisa terisi cewek lain " kata Satrio serius.


"Susah,Sat..."


"Susah kan bukan berarti nggak bisa! Tinggal tambahin usaha lu membuka hati untuk cinta yang lain. Kamu pasti bisa,Bro." kata Satrio tiba- tiba berubah jadi sok bijaksana.


"Aku tau...." kata Lukas sedih.


"Semangat dong! Saatnya lu menciptakan bahagia lu sendiri." kata Satrio lagi.


"Iya.Aku janji akan bahagia nanti. Sabar aja kamu nunggunya." kata Lukas membuat Satrio kesal saat mendengarnya.


"Ngapain gue harus nungguin bahagia lu?! Kurang kerjaan banget hidup gue." sungut Satrio kesal.


Di dengarnya suara tawa Lukas di seberang sana.


"Somplak lu!" kesal Satrio kemudian menutup panggilan telpon tanpa pamit.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Mohon maaf ya telat lagi up nya 🙈🙈🙈🙈🙈


Daripada kesel nungguin up besok ( dih sok laku...Kayak ada yang nungguin aja🙈) mendingan jangan di tungguin ya besok.


Kalau bisa ya aku up, kalau nggak bisa ya mohon maaf aku libur up 🙊🙈


My real life sedang butuh perhatian full mungkin sampai seminggu ke depan. Mohon maaf untuk ketidaknyamanan beberapa hari ini ya....🙏🙏🙏

__ADS_1


Sehat selalu gaeees....


Happy reading ya....💖💕


__ADS_2