KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Juminten dan Paijan


__ADS_3

Satrio datang setelah Adis baru saja selesai sholat isya', seperti yang dijanjikan Satrio saat tadi menelponnya.


Mbak Yanti sudah membawakan ke teras depan tas perlengkapan yang akan dibawa Adis.


Adis kemudian menyusul keluar nggak berselang lama.


Dia agak keheranan melihat mobil yang terparkir di seberang pagar rumahnya.


"Kamu bawa mobil itu?" tanya Adis sambil menatap mobil Range Rover yang BPKB nya bertuliskan nama Perwira Dwi Buwono, adik Satrio.


"Iya. Di garasi rumah adanya cuma itu." jawab Satrio sambil meringis malu.


"Cuma....." desis Adis keki.


Dia tahu itu mobil mahal.


"Mbak Yanti, ayo ikut sampai ke depan bawa pulang motornya Adis dari bengkel." ajak Satrio pada Mbak Yanti yang hendak masuk rumah lagi.


Adis meringis dalam hati. Dia malah lupa kalau motornya tadi dia tinggal di bengkel.


"Siap Boss." sahut Mbak Yanti kemudian bergegas mengunci pintu dan setengah berlari menyusul Satrio dan Adis yang sudah berjalan lebih dulu mendekati mobil.


Mbak Yanti masuk mobil setelah mengunci gerbang.


"Walah, akhirnya bisa ngerasain naik mobil baguuuuus walau cuma semenit." kata Mbak Yanti sambil terkekeh saat Satrio mulai menjalankan mobilnya.


Satrio tergelak, dan Adis tersenyum malu dengan ucapan Mbak Yanti.


Bikin malu aja Mbak Yanti nih.


"Biasanya cuma ngelus- elus bungkusnya aja, Mas kalau aku pas main ke rumah Mas Satrio." kata Mbak Yanti sambil tersenyum malu.


"Untung nggak keluar jinnya pas kamu elus- elus, Mbak." sahut Satrio sambil tersenyum usil.


"Medeni,Mas.( nakutin, Mas.)" kata Mbak Yanti sambil terkekeh.


Mereka bertiga turun dari mobil untuk mengambil sepeda motor Adis.


Tadinya Adis meminta Satrio menunggu di mobil saja. Tapi tentu saja Satrio menolak mentah- mentah keinginan Adis itu.


"Nggak! Aku bukan sopir ya." kata Satrio kemudian bergegas turun duluan diikuti Adis yang menarik nafas pasrah.


Sudah bisa dipastikan Satrio yang membereskan semua urusan di bengkel itu.


"Nggak usah main dulu, Mbak. Langsung pulang, kunci semua pintu. Kamu di rumah sendirian lho. Ati- ati kalau ada genderuwo dateng." kata Satrio sambil tertawa meledek.


"Rasah ngomong aneh- aneh to,Mas! ( Nggak usah ngomong aneh- aneh dong,Mas!)." sungut Mbak Yanti.


"Udah sana pulang, Mbak." usir Adis sebelum Satrio lebih serem ngeledekin Mbak Yanti.


"Ati- ati di jalan ya, Mbak. Jangan mau kalau di ajak berhenti makan sama Mas Satrio. Modus itu." kata Mbak Yanti sengaja membalas keisengan Satrio padanya tadi.


Adis terkikik.


"Mbak Adis mu ini pasti maulah di ajak makan aku. Ya kan, Mbak?" tanya Satrio sambil tersenyum mengerling pada Adis.


"Apaan sih?!" gumam Adis malu.


"Tuh kan Mbak...? Modus itu...." ledek Mbak Yanti yang sudah menghidupkan mesin motor.


"Udah sana pulang! Hus....! Hus....!" usir Satrio sambil mengibas- ngibaskan tangannya seperti mengusir lalat.


"Nanti kalau sudah sampai ngabari ya, Mbak." pinta Mbak Yanti yang dibalas anggukan mantap oleh Adis.


"Yuk." ajak Satrio yang ternyata sudah membukakan pintu mobil untuk Adis.


Adis hanya tersenyum kecil sebelum melewati Satrio dan masuk ke dalam mobil.


Cantiknyaaaa kalau mau senyum gitu, batin Satrio nyaris terpesona di tempat.


"Mau mampir makan malam dulu nggak?" tanya Satrio setelah beberapa lama mereka berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya.


Adis hanya menoleh ke arah Satrio tanpa ekspresi.


"Nggak maksa sih. Kalau kamu nggak mau juga nggak papa. Daripada nanti dikira modus." kata Satrio sambil nyengir.


"Kamu belum makan?" tanya Adis kemudian.


"Kalau makan malam belum. Biasanya jam segini aku baru nyari makan malam." kata Satrio.


"Memangnya nggak dimasakin Mbak Puji? Kok kalau makan harus nyari?" tanya Adis penasaran.


"Enggak. Aku yang nggak mau. Kadang aja dia masak kalau aku minta." jawab Satrio.


Adis mengangguk- angguk.


"Kenapa? Mau ngasih jatah makan malam buat aku?" tanya Satrio sambil tersenyum menggoda.


"Enggak." jawab Adis sambil membuang muka.


"Kirain mau baik hati ngasih makan aku." kata Satrio pura- pura sedih.

__ADS_1


"Mending ngasih makan kaum dhuafa, bisa dapat pahala." kata Adis datar.


"Weiiih, jangan salah. Kalau kamu ngasih makan kaum jomblo kayak aku, kamu dapatnya double. Dapat pahala, dan cinta." kata Satrio sambil terkekeh dan mulai melancarkan aksi menggombal.


Adis melengos malu.


"Kakakmu cowok apa cewek? Yang mau kita datengin." tanya Satrio kemudian. Mengalihkan pembicaraan.


"Kakakku yang cowok." jawab Adis.


"Kenapa kamu nggak tinggal sama kakakmu aja? Kan lebih aman." tanya Satrio.


"Tadinya sih nyari nyaman aja. Bukannya aku nggak nyaman sama mereka, tapi kan mereka pasangan muda, aku pikir mereka pasti lebih butuh banyak privacy walaupun di rumah sendiri. Kalau ada orang lain kan kurang all out privacy nya." jelas Adis.


Satrio mengangguk mengerti.


"Kakakmu masih pengantin baru?" tanya Satrio.


"Nggak juga. Mereka sudah punya anak umur sembilan bulan." jawab Adis.


"Rumah di kompleks itu kamu nyewa atau rumah sendiri?" tanya Satrio mulai lebih dalam menelisik.


"Rumahnya Mas Didit. Dibeliin Papa karena dia mantap mau tinggal disini. Tapi karena usahanya ada di Jalan Paris ( Parangtritis), jadi dia tinggal disana." kata Adis kembali menjelaskan.


"Di Jalan Paris dia ada rumah juga?" tanya Satrio berlanjut.


Adis mengangguk.


"Ruko sih. Tapi lumayan luas juga rumahnya." jawab Adis.


"Kakakmu usaha apa disana?" tanya Satrio mencoba mencari bahan untuk nanti ngobrol dengan kakaknya Adis.


"Bengkel motor dan mobil sama toko onderdilnya."


"Bidang otomotif ya...." gumam Satrio.


Adis hanya mengangguk walaupun Satrio tak melihatnya.


"Kakakmu galak nggak?" tanya Satrio tiba- tiba.


Adis terkekeh pelan.


"Tergantung sih. Dia orangnya mood nya susah di tebak." jawab Adis sambil tersenyum prihatin.


"Gitu ya....."


"Kenapa? Takut?" ledek Adis.


"Kalau nggak mau ketemu Mas Didit nggak papa. Aku nanti ngomong naik taksi aja. Kamu bisa langsung pulang." kata Adis serius.


Satrio menatap Adis dengan tatapan tak percaya sekaligus geli.


"Kapan ada taksi mobilnya Range Rover?" tanya Satrio sambil terkekeh.


"Oh iya! Aku lupa kalau ini mobil mahal." kata Adis sambil menepuk dahinya.


"Lagian aku memang pengen ketemu Mas Didit." kata Satrio santai.


"Mau ngapain?" tanya Adis khawatir sekaligus penasaran.


"Mau nanya alamat orang tuamu dimana." jawab Satrio santai


"Ngapain nanya alamat orangtuaku?" tanya Adis semakin keheranan.


"Mau ajak Papa Mamaku kesana." kata Satrio sambil tertawa.


Adis mendecih kesal.


Becanda terus ih!


"Kamu udah lama pacaran sama Panji?" tanya Satrio kemudian, dengan nada hati- hati.


"Setahunan lebih." jawab Adis lalu menghela nafas sedih.


"Sorry....Kita ngobrol yang lain aja." kata Satrio saat di dengarnya helaan nafas Adis.


"Pasti kamu mikir aku bodoh ya? Selama itu mau jadi pacar psikopat kayak dia." kata Adis sambil menatap Satrio.


"Psiko?!" tanya Satrio kaget.


"Aku berpikiran begitu soal dia. Sangat emosional, tak kenal ampun, tanpa pernah merasakannya bersalah. Dia... mengerikan." kata Adis pelan kemudian menunduk menyembunyikan raut wajah ngerinya.


" Lalu kenapa kamu masih bertahan sama dia?" tanya Satrio lembut.


"Aku nggak bertahan. Aku udah dari lama minta putus sama dia, tapi dia nggak mau. Dia sangat pandai memanfaatkan situasi. Orangtuaku sangat suka padanya. Dia sangat pinter main drama di depan orang- orang." kata Adis dengan nada lelah.


"Kamu bilang aja ke orangtuamu soal kekasaran dia sama kamu selama ini." kata Satrio.


"Mereka nggak percaya! Bukan cuma sekali dua kali aku ngomong soal sikap buruknya. Tapi orangtuaku malah bilang kalau itu hanya alasanku saja karena sebenarnya aku hanyak masih ingin sendiri." kata Adis cepat.


"Mereka harus di beri bukti." kata Satrio pelan seperti gumaman.

__ADS_1


"Aku udah pernah nunjukin bekas biru cengkeraman dia di lenganku ke Mama. Tapi mama tetap nggak percaya kalau Panji tega begitu." kata Adis sedih.


"Ya ampun....." desis Satrio sedih.


"Kayaknya kita memang perlu bukti rekaman soal kelakuan Panji itu." kata Adis sambil tersenyum sedih.


"Nanti aku coba pikirin gimana bikin buktinya." kata Satrio tenang.


Otaknya mulai berpikir tentang beberapa langkah beserta kemungkinan- kemungkinannya.


"Kalau Mas Didit gimana nanggepin masalahmu ini?" tanya Satrio lagi.


"Sepertinya percaya sama aku. Tapi nggak keliatan mendukung aku secara terang-terangan sih. Kayak nyari aman buat posisi dia di depan Mama Papa gitu. Tapi dia selalu berusaha mencegah aku hanya berdua sama Panji." jelas Adis.


Satrio mengangguk- angguk.


"Panji tinggal di kota ini juga?" tanya Satrio seperti baru ingat dengan pertanyaan itu.


"Setahuku sih enggak. Dia ada usaha di Surabaya saat ini. Kesini paling juga cuma mau ketemu klien."


"Pengusaha?" tanya Satrio lagi.


"Iya."


"Wah, kalah jauh dong aku! Aku cuma karyawan biasa." kekeh Satrio dengan malu- malu.


"Karyawan biasa yang punya mobil RR." sahut Adis sambil mencibir.


Satrio tertawa.


"Bukan punyaku ini. Liat aja STNK nya tuh di dompet.." kata Satrio sambil menunjuk sebuah dompet lipat kecil yang menggantung di area dashboard dengan dagunya.


STNK kayak nggak penting aja main di gangungin gini dompetnya, batin Adis.k


Iseng saja Adis meraih dompet kulit kecil itu lalu membukanya untuk mencari tahu nama pemilik mobil mahal ini.


Ternyata benar, bukan milik Satrio.


"Percaya kan kalau aku nggak kaya?" kekeh Satrio sambil menatap Adis jenaka.


"Nggak." jawab Adis cepat.


"Lhoh?" sahut Satrio kaget.


"Mbak Puji sudah terlanjur bicara semua curiculum vitae mu." kata Adis sambil tertawa geli mengingat tiap kali Mbak Puji membanggakan Mas Satrionya, Sang Putra Mahkota keluarga Buwono.


"Waduh!" seru Satrio kemudian tergelak.


"Putra mahkota sepertimu pasti calon istrinya sudah dipersiapkan sama orang tua. Ya kan?" tanya Adis sambil tersenyum meledek.


"Kamu kebanyakan nonton drama." sahut Satrio dengan wajah kesal.


"Memangnya kenyataannya enggak?" tanya Adis keheranan.


"Ada yang gitu juga sih, hehehe....."


"Nah kan bener!" sahut Adis senang.


"Tapi nggak semuanya begitu Jum!" sergah Satrio bersungut-sungut.


"Eh! Kamu manggil aku apa tadi?!" hardik Adis kesal.


"Jum! Juminten. Hahahaha......" Satrio terbahak- bahak sendiri.


"Dasar Paijan!" sungut Adis kesal kemudian memiringkan duduknya membelakangi Satrio.


"Eh, kamu panggil aku Paijan?!" seru Satrio nggak terima.


"Kamu manggil aku Juminten." sungut Adis kesal.


Satrio terkekeh.


"Ya udah. Aku panggil kamu Emak kucing aja." kata Satrio sambil menahan senyum.


"Nggak mau!" salak Adis.


"Ya udah kalau nggak mau. Maunya di panggil apa? Di panggil sayang, honey, sweety, sunshine, atau sweetheart?" tanya Satrio sambil tersenyum menatap Adis yang melirik kesal.


Idih! Panggilan apaan ituuuuu?, omel Adis geli sendiri.


"Adis aja. Kayak biasanya." jawab Adis kesal.


"Baiklah Jum." sahut Satrio kembali tergelak.


Adis semakin keras mendengus kesal.


Bibirnya sudah monyong- monyong ngedumel nggak karuan.


Dan Satrio semakin keras tergelak melihatnya seperti itu.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2