KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Tentang Mereka


__ADS_3

Adis melajukan motor sport putih itu dengan kecepatan lumayan tinggi karena mengejar jam janjian ketemuannya dengan klien barunya.


Tubuh semampainya nampak mungil mengendarai motor putih bersih itu.


Hatinya masih belum kembali berdetak normal karena sepenggal kalimat Satrio tadi.


Jangan seperti itu, Adisty.....


Kalimat itu dulu bagai mantra bagi Adis.


Marah dan kesalnya pasti akan luluh bila dia sudah mendengar kalimat bernada putus asa itu.


Selalu seperti itu.


Dulu.


Setitik airmatanya terbit tanpa bisa dia tahan lagi.


Aku kira hanya kamu yang akan bisa mengucapkan kalimat itu untuk membujukku.


Kenapa dia bisa mengucapkan kalimat saktimu itu?


Dia tahu dari mana kalimat itu?


Siapa yang ngasih tahu?


Siapa sih dia sebenarnya?


Hati Adis terus bertanya dengan kalut. Dia terus membiarkan airmatanya mengalir menemaninya mengendarai sepeda motor yang pemiliknya telah mengacaukan ketenangan batinnya yang sebenarnya belum damai sepenuhnya.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


"Motor siapa ini, Bang? Cute banget." tanya Widuri saat keduanya sudah ada di parkiran untuk pulang dan Satrio berhenti di depan motor milik Adis.


Widuri nampak penasaran meneliti motor yang terkesan girly yang telah di custom berwarna tosca yang imut.


Belum lagi ada sticker hello Kitty di body motor itu.


Dan tawa Widuri langsung pecah saat dia mendapati jok motor itu ternyata full bercorak hello Kitty.


"Ini motor siapa, Bang yang kamu colong?" tanya Widuri masih dengan tertawa- tawa meledek.


"Punya cewek lah!" jawab Satrio santuy, tak perduli dengan tatapan Widuri yang meledeknya.


"Punya cewekmu ya?" tebak Widuri.


Satrio hanya tersenyum simpul. Tak hendak menjawab.


"Jadi tadi yang mogok motor ini? Sampai dibela- belain berangkatnya telat?" suara Pak Cahyo sudah nimbrung aja dari balik punggung Satrio.


"Ho o, Be. Punya cewek kan ini ya? Hello Kitty semua." kata Widuri mencari dukungan.


"Kayaknya sih iya. Udah punya pacar ya sekarang? Cieeee...." ledek Pak Cahyo.


"Apaan sih pada? Berisik amat ya!" sungut Satrio.


"Weiiiihhh....Satria Madangkara naik hello Kitty....!" pekik Bu Rosiana yang ikut nimbrung gabung meledek Satrio dan membuat yang disitu tertawa.


"Cakep banget motornya....." puji Bu Rosiana atau lebih sering dipanggil Bu Bebeb itu.


"Ini kalau yang naikin cewek, pasti keliatan imut banget." kata Widuri sambil mengelus- elus spion motor itu.


Mata Satrio awas menatap tangan Widuri, jangan sampai spion itu tahu- tahu patah karena tenaga Widuri.


"Tergantung ceweknya juga. Kalau yang naikin kamu tetep aja nggak keliatan imut." sanggah Satrio sambil tersenyum meledek pada Widuri.


"Emang kenapa? Aku kan juga cewek. Dan imut." kata Widuri dengan gaya narsis.


"Imut dari mane?! Manly gitu." sangkal Satrio.


Ya, penampilan Widuri memang jauh dari kata imut- imut.


Lihat saja tampilannya hari ini.


Celana jeans belel yang robek di lutut, sneaker yang juga tak kalah belel, kaos oblong yang dilapisi kemeja flanel warna hitam bergaris kuning.


Di kepalanya yang berambut cepak bercat coklat bertengger topi softball warna kuning yang dipakai terbalik, dengan moncong di belakang.


"Aku kalau dandan juga cantik. Belum tau aja kalian." cicit Widuri malu- malu.


"Nunggu pengen ngeliat kamu dandan, udah kayak ngarep ketemu UFO." sahut Pak Cahyo sambil terkekeh.


"Aku dandannya besok, kalau udah punya pacar halal alias suami." kata Widuri tenang yang mendapat dengusan prihatin para senior.


"Kelamaan! Harusnya kamu dandan tuh sekarang untuk menggaet para kumbang." sahut Bu Bebeb yang dibalas anggukan setuju Pak Cahyo dan Satrio.


"Kumbang yang terjerat oleh tebalnya make- up akan menangis dikemudian hari." kata Widuri malah berfilosofi.


"Kenapa?" tanya Bu Bebeb penasaran.


"Kumbang itu kaget saat melihat wajah pucat istrinya saat nggak ber make- up. Lalu kemudian dia akan complain dengan tampilan istrinya yang bak zombie itu. Lalu istrinya akan menuntut uang make- up agar terlihat glowing lagi. Anda siap memenuhi uang make- up istri agar selalu terlihat syantik?" tanya Widuri sambil menatap Satrio yang hanya menggelegas.


Soal wajah sepucat zombie milik cewek yang selalu dandan, Satrio membenarkan dalam hati.


Dia tentu saja sering melihat 'tampilan wajah alami' di pagi buta beberapa gadis yang sehari- harinya selalu terlihat syantik dan glowing.


Saat dia menikmati masa mudanya dengan menghabiskan malamnya dengan perempuan- perempuan cantik yang mau diajaknya meramaikan ranjang besarnya.


Dan Satrio nggak suka saat pagi tiba dan melihat tampilan polos mereka yang tanpa make- up. Terlihat pucat dan menyeramkan.


Dan Satrio setuju dengan tampilan wajah polos seperti keseharian Widuri selama ini.


Tanpa blush on, concealer, eye liner, apalagi eyeshadow.

__ADS_1


Satrio hanya melihat Widuri memakai bedak dan lipstik tipis saat pagi hari dan akan hilang seusai jam makan siang dan tak pernah touch up sampai jam pulang kerja.


Tetap PD dengan wajah polosnya.


Dan ya, harus diakui, gadis itu tetap terlihat manis tanpa sedikitpun make- up diwajahnya.


"Ini calon istri jurusan pengiritan yang kayak gini nih." seloroh Bu Bebeb sambil tertawa.


Widuri hanya meringis saja.


"Palingan juga karena nggak bisa makai alat make- up dia tuh." ledek Satrio.


"Enak aja! Aku juga bisa dandan kali, Bang." sergah Widuri tak terima.


"Nggak percaya kalau nggak ada bukti." sahut Satrio cepat.


"Serah!" kata Widuri sambil berlalu menuju motornya diikuti yang lainnya.


Satrio bergegas ikut bersiap memutar tuas gas motor matic imut berwarna tosca itu untuk meninggalkan area parkiran, namun terhenti karena di dengarnya suara Lukas berteriak memanggilnya.


Satrio keheranan saat dilihatnya Lukas berlari cepat dan tergopoh- gopoh menuju ke arahnya.


"Kenapa lu?" tanya Satrio khawatir.


"Untunglah kamu belum pulang....." kata Lukas sambil ngos- ngosan di sampingnya.


"Emang kenapa? Ada apa?" tanya Satrio penasaran.


"Aku mau pinjem uang kalau kamu ada uang nganggur. Urgent, Bro." kata Lukas tanpa basa- basi.


"Buat apa? Tumben." tanya Satrio.


"Ponakanku jatuh dari atas pohon barusan, dan katanya tangannya retak. Aku tinggal punya uang seratus ribu di kantong. Bisa nggak kamu nolongin aku?" tanya Lukas penuh harap dan cemas.


Satrio tercekat dalam hati.


Manusia di depannya ini bisa terlihat hidup tenang hanya dengan selembar uang merah di kantongnya dalam beberapa hari? Tak bisa dia bayangkan kalau dia yang harus menjalani.


"Berapa?" tanya Satrio sambil mengeluarkan dompetnya.


Lukas melongo bingung.


Dia juga nggak tahu harus sedia uang berapa untuk biaya keponakannya itu.


"Berapa? Malah bengong." kata Satrio sambil meringis.


"Aku nggak tahu kira- kira berapa habisnya." kata Lukas sambil nyengir.


"Ya udah, ayo ke rumah sakitnya aja." kata Satrio memutuskan cepat.


"Jadi bisa minjemin uang nih?" tanya Lukas dengan wajah berseri- seri.


"Hmmm." jawab Satrio.


Satrio keheranan dalam hati. Sebegitu pentingnya ya bantuannya sampai Lukas terharu gitu?


Lukas bergegas berlari menuju motornya terparkir lalu dalam hitungan detik sudah berada di dekat Satrio.


Keduanya lalu beriringan menuju klinik yang lumayan jauh.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di klinik tempat keponakan Lukas menerima perawatan.


"Kamu pakai motor siapa, Sat? Imut banget gitu." tanya Lukas saat mereka sudah memarkirkan motor di area parkiran klinik.


Lukas baru sadar kalau Satrio tak memakai motornya sendiri setelah mereka jalan cukup jauh tadi.


"Temen kompleks." jawab Satrio santai sambil melepas jaketnya.


"Udah dapat cewek kompleks aja nih...." ledek Lukas sambil terkekeh.


Satrio hanya memunculkan senyumnya.


Kenapa orang- orang mengira aku punya hubungan khusus sama Adis sih?


"Ayo buruan kemana kita nih?" ajak Satrio sambil menarik siku Lukas agar cepat bergerak dari parkiran.


Lukas bergegas menerima panggilan telepon sambil berjalan menuju lobby klinik.


Dia bilang kalau sudah sampai di depan klinik dan akan menuju ke tempat si penelpon.


"Gimana ponakanmu?" tanya Satrio setelah Lukas memasukkan ponsel ke saku celananya.


"Masih ditangani. Yang nelpon tadi ibuku." kata Lukas menjelaskan.


Satrio mengangguk mengerti.


Yang ada di pikirannya kini adalah, orangtua bocah itu kemana? Apa keduanya kerja jauh, sampai anaknya kecelakaan saja nggak bisa langsung datang?


Ingin bertanya pada Lukas, tapi Satrio masih menahan diri.


"Itu ruangannya." tunjuk Lukas sambil menunjuk ke depan.


Keduanya kemudian menunggu di samping pintu ruang penanganan dengan gadget masing- masing.


Dari dalam terdengar suara tangisan gadis kecil dan suara seorang ibu yang menenangkan anak itu.


Pasti itu suara keponakan Lukas dan ibunya Lukas.


"Kamu bawa uang berapa, Sat?" tanya Lukas berbisik, dengan nada khawatir.


"Kenapa?" tanya Satrio melihat wajah cemas Lukas.


"Aku takut nggak cukup. Aku bener- bener nggak punya uang ini." bisik Lukas lagi.

__ADS_1


"Tenang aja. Ada ATM ini. Kalau kurang, nanti aku utang Ibuku." kata Satrio sambil terkikik.


"Walah, malah ngrepotin keluargamu dong nanti." kata Lukas dengan wajah nggak enak hati.


"Kan kalau kurang. Tapi mudah- mudahan nggak kurang." kata Satrio menenangkan.


Lukas mengangguk pasrah dengan tetap berdoa di dalam hati semoga uang Satrio benar- benar cukup.


Satrio bergegas ikut berdiri saat Lukas dengan lincah bergerak menuju seorang Ibu yang tengah menggendong seorang gadis kecil yang masih menangis.


"Om....." rengek gadis kecil itu saat melihat Lukas.


Tangannya terulur ke arah Lukas minta di gendong.


Dengan tersenyum Lukas mengambil alih anak itu dari gendongan Ibunya.


"Masih sakit?" tanya Lukas lembut sambil membelai permukaan gips yang membungkus tangan kiri keponakannya.


"Dikit. Senut- senut." jawab gadis kecil berambut seperti mie instant itu.


Mata bening anak itu kini tengah menatap Satrio dengan tatapan penasaran.


"Ini namanya Om Satrio. Temen Om." kata Lukas.


"Hallo anak cantik. Namanya siapa?" tanya Satrio sambil mengulurkan tangannya yang disambut dengan malu- malu oleh anak itu.


"Sabina." jawabnya pelan kemudian menyembunyikan wajahnya di pundak Lukas.


"Bu, kenalkan ini Satrio. Temen kerjaku yang dari Jakarta itu." kata Lukas beralih pada seorang perempuan paruh baya berwajah lembut dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.


Terlihat rapi dan bersih walau berpenampilan sangat sederhana.


"Kenalkan Mas, saya Ibunya Lukas. Panggil saya Bu Tri, jangan Tante." kata Bu Tri sambil tersenyum lebar.


"Sing arep ngundang Ibu 'tante' ki yo sopo? Ra wangun wong penampilane we ra gaul kok.( yang mau manggil Ibu 'tante' tu siapa? Nggak pantes, orang penampilannya aja nggak gaul kok.)." seloroh Lukas sambil tertawa prihatin atas keGRan ibunya.


Satrio ikut tertawa melihat Bu Tri tertawa berderai dengan olokan Lukas.


"Sabina sama uti dulu ya? Om mau beli obatnya Sabina sebentar." kata Lukas pada Sabina yang kemudian duduk di samping neneknya.


"Saya ikut Lukas dulu, Bu." pamit Satrio pada Bu Tri yang mendapat anggukan dari Bu Tri.


Keduanya beriringan ke bagian kasir yang bersebelahan dengan bagian penebusan obat.


Lukas melihat total nominal angka yang harus dia bayar pada kertas yang tadi diserahkan seorang suster padanya,setelah ibunya keluar menggendong Sabina yang telah menggendong tangan kirinya.


"Berapa?" tanya Satrio.


Lukas menatap Satrio dengan cemas setelah melihat nominal yang harus dibayarnya.


Satu juta empat ratus empat puluh ribu.


Itu sudah dengan obat yang bisa dia ambil setelah dia membayar biaya sebanyak itu.


"Berapa?" tanya Satrio lagi.


"Banyak e, Sat." kata Lukas sedih sambil mengulurkan kertas yang dipegangnya pada Satrio.


Satrio kemudian bergegas ke arah kasir setelah menerima kertas itu.


Dia menyerahkan kertas bersama kartu ATM nya.


Setelah menerima bukti pembayaran, Satrio kemudian memasukkan kertas resep ke bagian farmasi untuk mendapatkan obat yang harus diminum Sabina.


"Kamu ada uang segitu, Sat?" tanya Lukas sambil menyusul duduk di samping Satrio.


Mereka duduk tepat di depan loket pengambilan obat.


"Ada." jawab Satrio santai.


"Puji Tuhan...... Makasih banyak ya, Sat." kata Lukas dengan suara bergetar.


"Hmmmm...." jawab Satrio sambil pura- pura sibuk dengan ponselnya.


Sejujurnya dia nggak suka dengan sikap Lukas yang menurutnya terlalu sangat berterimakasih padanya.


Biasa aja kan nggak papa.


"Aku balikin kalau kita gajian ya, Sat?" tanya Lukas pelan.


"Pakai dulu aja kalau kamu belum ada. Nggak buru- buru juga aku." kata Satrio membuat Lukas nampak sangat lega.


"Beneran?" tanya Lukas dengan riang.


"Iya." jawab Satrio santai.


"Aku balikin tiga bulan lagi boleh?" tanya Lukas dengan wajah was- was.


Satrio menatap Lukas tak percaya.


"Lama amat." seloroh Satrio sambil tertawa geli.


"Aku sisihin dari gaji limaratus ribu tiap bulan. Biar keluargaku bisa tetap makan, Bro." terang Lukas sambil tersenyum kecil.


"Ya udah. Tiga bulan balikin." kata Satrio kemudian.


"Makasih, Bro. Makasiiiiiih banget." kata Lukas dengan terharu.


"Heh, makasihmu itu kalau bisa diganti sama es teh, aku udah tenggelam saking banyaknya." sergah Satrio dengan kesal.


Lukas hanya terkikik.


Sungguh, kalau saja nggak lebay, Lukas ingin memeluk Satrio saking berterimakasih nya.

__ADS_1


...🧚🧚🧚b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2