
Adis mengeram kesal dalam hatinya sendiri kali ini.
Matanya benar-benar tak mau di atur rupanya.
Selalu saja mencuri pandang ke arah gazebo di seberangnya yang hanya berjarak jalan yang ditanami rumput gajah mini dan bebatuan sebagai pijakan langkah diantara rumput yang hijau rapi.
Si Bapak kucing itu sedang nampak serius berbicara dengan gadis berambut cepak yang nampak tak ceria.
Adis ingat itu gadis yang ada di video tempo hari.
Apakah mereka pacaran?
Sejak kedatangan keduanya tadi Adis selalu melihat interaksi mereka.
Kayaknya mereka sedang berbicara serius.
Tadi keduanya terlihat lama saling membisu.
Si cewek hanya sering menunduk sedih dan si Bapak Kucing itu kelihatan bingung dan salah tingkah.
Mereka lagi berantem kah?
"Kamu ngapain sih, Dis kepo gini?" omel Adis pada dirinya sendiri.
Bakso yang menyerupai bentuk kerucut di depannya, yang sedari pagi tadi memenuhi otaknya, kini dia makan tanpa bisa menikmatinya.
Hanya asal potong dan masuk ke mulutnya.
Mata dan konsentrasinya terampas penuh oleh sepasang pengunjung di seberang tempatnya duduk yang sedari tadi terlihat sedang sangat serius bicara.
Sedari tadi di otaknya hanya berisi pertanyaan 'apakah mereka pacaran?' dan 'kenapa nggak ada kontak fisik di antara dua orang itu, sekalipun hanya tautan jari kelingking'.
Mungkin mereka termasuk pasangan yang sopan. Yang tak mau mengumbar kemesraan di depan umum.
Adis baru bisa melihat kedua orang itu tersenyum setelah mereka mulai menikmati isi mangkuk mereka.
Gesture tubuh keduanya juga terlihat lebih santai.
Nggak berantem ternyata..... Mungkin tadi sedang ada pembicaraan serius banget.
Mata Adis baru menunduk pada makanannya setelah tanpa dia sadari dia menyuap kuah yang masih di dominasi oleh sambal yang tadi dituangnya.
Dia hampir tersedak karena kepedasan.
Matanya menatap putus asa pada bakso gunung yang sudah hilang setengah itu.
Merasa sayang nggak bisa menikmati setengah perjalanan makannya tadi gegara lebih fokus ngepoin si Bapak kucing.
"Dah ketularan Mbak- Mbak kompleks aku. Tukang kepo." gumam Adis prihatin pada kelakuannya sambil kemudian menyuap baksonya.
"Fokus sama baksomu, Dis.... Fokus sama gunung di depanmu....." gumam Adis mengingatkan dirinya sendiri.
Dan perhatian Adis benar- benar teralih dari si Bapak kucing di seberang sana karena kini dia sedang asik menatapi kiriman photo- photo yang masuk ke ponselnya.
Dia tak berhenti- berhenti menggoreskan senyum di wajahnya tiap kali menggeser layar ponselnya untuk melihat photo selanjutnya.
"Kangen banget sama kamu...." gumam Adis sambil mengelus layar ponselnya.
"Dis....?!" seruan Satrio mengagetkan Adis yang langsung terlonjak di tempat duduknya.
Dilihatnya cowok itu sudah berdiri di depannya dengan senyum manisnya.
Cewek di sebelahnya juga tersenyum manis padanya.
"Sendirian sampai sini kamu?" tanya Satrio dengan keheranan.
"Iya." jawab Adis singkat.
Dia tidak berani mengangkat pandangannya. Hanya sesekali melirik malu- malu pada cewek manis di sebelah Satrio.
Widuri yang menangkap lirikan penasaran dari sudut mata Adis berinisiatif maju mengenalkan diri.
"Kenalin, aku Widuri. Temen kerjanya Bang Satrio. Kami berdua satu divisi. Udah kayak adik kakak tanpa Ibu, cuma punya bapak di kantor." kata Widuri panjang sambil mengulurkan tangannya yang dengan malu di sambut oleh Adis.
Satrio nyengir mendengar penuturan Widuri soal kakak adik tanpa ibu.
"Adis." kata Adis singkat.
"Gitu aja?" tanya Widuri sambil tersenyum menggoda.
"Ha?" tanya Adis bingung.
"Aku udah ngenalin diri panjang lebar, masak kamu cuma Adis doang, nggak ada keterangan nya." kata Widuri sambil tertawa pelan.
" Keterangan apa?" tanya Adis bingung.
"Kamunya aja yang kebanyakan ngomong." sambar Satrio sambil menatap Widuri sebel.
__ADS_1
"Nggak usah dipikirin omongannya." kata Satrio sambil menatap Adis lembut.
Adis hanya mengangguk kecil.
"Kan biar nggak ada salah paham, Bang." kata Widuri membela diri.
"Salah paham apa?" sungut Satrio.
"Ya siapa tahu kan ada yang salah sangka kalau kita ada hubungan cinta....."
"Dih! Kamu aja yang ke GR an!" sahut Satrio ngegas.
"Dia yang nuggetnya kamu makan tempo hari." kata Satrio menjelaskan.
Widuri menepuk tangannya sendiri dengan keras.
"Nah kan bener! Kalau aku nggak menjelaskan dengan benar, pasti akan ada huru hara asmara diantara kalian berdua." seru Widuri dengan jelasnya.
"Huru hara pale lu!" sahut Satrio jengkel dengan wajah tersipu malu.
Widuri hanya terkekeh sambil menatap Adis yang nampak salah tingkah
Jadi type- type pendiem penuh misteri gini yang disukai Bang Satrio....
"BTW makasih ya, Dis nuggetnya tempo hari. Enak beneran itu. Kamu nggak coba bikin buat dijual?" tanya Widuri dengan serius seperti ngobrol dengan kawan lamanya.
Adis hanya tertawa kecil.
"Enggaklah. Enggak berani. Nggak sanggup menerima complain dan hujatan customer." kata Adis sambil tertawa malu.
Satrio hanya diam menatap tawa Adis.
Duh Dis kenapa kamu keliatan imut- imut banget sih kalau tertawa malu gitu....?
"Kalau gitu bikin buat dimakan gratis aja. Aku bantuin makan lagi." kata Widuri kemudian tertawa tanpa malu.
Adis ikut tertawa.
Kali ini sudah tidak terlalu malu- malu.
Si kutu loncat ini emang bisa aja kelakuannya.
"Kapan- kapan kalau aku bikin lagi aku titipin Mas Satrio." kata Adis sambil tersenyum.
Padahal hatinya tiba- tiba sangat menyesal menyebut Satrio dengan memakai embel- embel MAS. Panggilan itu terlalu istimewa menurutnya.
"Mendadak puyeng denger kamu ngoceh." sahut Satrio sewot.
Adis meringis mendengarnya.
Si Bapak kucing ini kenapa ngegas terus kalau ngomong sama Widuri?
Widurinya juga nggak ada jengkel- jengkelnya di jutekin gitu sama Satrio.
"Kamu dari mana siang- siang gini sampai disini?" tanya Satrio lembut pada Adis.
Beda banget saat ngomong sama Widuri tadi.
"Ada kerjaan di dekat sini. Sekalian mampir maksi, nyobain bakso gunung." jawab Adis kaku walau nampak berusaha menerbitkan senyum.
"Kamu kerja di mana?" tanya Widuri mewakili kekepoan Satrio.
"Freelance aja. Jasa akunting." jawab Adis yang disambut anggukan Widuri dan Satrio.
"Waaah, keren tuh. Bener kamu Bang kalau naksir Adis. Kelak dia bisa mengendalikan keborosanmu." seloroh Widuri yang mendapat pelototan Satrio dan tatapan kaget Adis.
"Canda....canda...." kata Widuri sambil tertawa salah tingkah saat menyadari reaksi keduanya.
"Udah yuk Bang, cabut. Bentar lagi masuk." ajak Widuri sengaja agar dia tak merasa semakin terpojok.
"Ya." jawab Satrio pelan.
"Kami balik dulu ya, Dis. Kalau aku butuh bantuanmu boleh minta nomermu ke Bang Satrio nggak?" tanya Widuri serius.
"Ya. Boleh." jawab Adis setelah bertukar pandang sebentar dengan Satrio.
"OK. Makasih ya. Ayok, Bang." ajak Widuri sambil melenggang duluan setelah melambaikan tangan pada Adis.
"Aku balik kerja dulu." pamit Satrio pelan.
"Ya." jawab Adis tanpa melihatnya.
"Kamu kalau pulang nanti hati- hati bawa motornya." kata Satrio lagi.
Adis mendongakkan kepalanya.
Ngapain nih orang ngomong gitu? Emang harus ya ngomong gitu sama aku?
__ADS_1
"Ya. Pasti." jawab Adis akhirnya, dan langsung merasa menkhianati nalarnya barusan.
"Ya udah. Aku pergi." pamit Satrio kemudian berbalik dan bergegas melangkah cepat ke parkiran tanpa menoleh lagi.
Adis menatap punggung tak terlalu lebar namun tegap berbalut kemeja putih bermotif pola simetris yang berjalan menjauhinya itu.
Tak ada perasaan yang gimana- gimana di hatinya.
Hanya ada sedikit rasa jengkel saja.
Eh, jengkel?
Ngapain juga aku jengkel sama dia?
"Kelamaan acara perpisahannya." kata Widuri dengan cemberut.
Satrio pura- pura tak mendengar cuitan Widuri dan lebih memilih langsung menaiki motornya dan menghidupkannya.
"Cantik ya, Bang." kata Widuri setelah menempatkan dirinya di belakang Satrio.
"Siapa?" tanya Satrio setengah berseru.
"Adis lah. Siapa lagi?" sahut Widuri ikut berseru. Melawan angin yang lumayan kencang menerjang mereka.
"Hmmm." gumam Satrio nggak terdengar.
Cowok itu lebih asik dengan ingatannya sendiri pada sosok yang baru dia tinggal beberapa menit lalu.
Seperti biasa. Cantik dengan tampilan sederhananya.
Tadi dia memakai pasmina warna broken white dengan aksen bunga merah kecil- kecil, bertunik warna mocca sebetis dengan celana Stretch hitam.
Sepatu coklatnya tadi imut.
Sesimple itu. Sebiasa itu. Tapi terlihat cantik dimata Satrio.
Wajah Adis selalu terlihat tenang, tidak berekspresi cuek atau dingin.
Tapi lirikan dan tatapan matanya saat merasa 'terganggu', akan sangat membuat jiper lawannya.
"Buseeet, diajak ngomong sampai berbusa nggak nyaut sekalipun. Kamu bawa motor sambil ngelamun ya, Bang?" semprot Widuri begitu motor sudah terparkir dan Widuri turun.
Satrio saja kaget tiba- tiba udah sampai parkiran.
Motornya seperti auto aja jalannya.
"Ngomong apaan emangnya?" tanya Satrio sambil tertawa.
"Udah angus!" dengus Widuri sambil meninggalkannya dan bergabung dengan cewek- cewek produksi yang sedang meninggalkan parkiran.
"Liatin aja terus sampai ntar jatuh cinta beneran." kata Lukas sambil berjalan mendekat ke arah Satrio yang masih nangkring di atas motornya.
"Heleh. Gitu aja cemburu lu!" sungut Satrio tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Wira baru saja membalas pesannya soal misi rahasia mencari alamat orangtuanya Widuri.
"Ngomongin apa tadi, Sat?" tanya Lukas tak sabar.
"Sorry, aku nggak bisa cerita apapun. Dia minta di keep. Yang pasti bukan masalah perasaan cinta." jawab Satrio nggak enak hati.
Lukas mengangguk mengerti, walau ada kekecewaan di wajahnya.
"Masalah keluarga?" tanya Lukas masih berusaha mencari tahu.
"Nanyain yang lain aja. Ngobrolin yang lain aja. Jangan ngomongin Widuri melulu. Bosen aku." sergah Satrio.
"Duniaku isinya Widuri semua. Mau ngomongin apa selain dia?" gumam Lukas sedih.
"Lebay lu!" sambar Satrio sambil menepuk keras lengan Lukas sampai cowok itu meringis karena merasa lengannya panas.
"Bang Sat lu!" sungut Lukas sambil meringis- ringis mengelus lengan yang tadi ditabok Satrio.
"Mam pus!" kata Satrio sambil terkekeh melihat Lukas.
"Kayak gadis kamu tu. Suka nabok." protes Lukas.
"Ben! ( Biarin!)" sahut Satrio cepat.
"Nanti Widuri manggil namamu jadi Ria aja. Bukan Rio." kata Lukas sambil tertawa.
"Kampret lu!" sungut Satrio kesal.
Adaaa aja akalnya Lukas tuh kalau berhubungan dengan namanya.
Apakah Lukas sebenarnya iri dengan nama gagahnya?
š§š§š§ b e r s a m b u n gš§š§š§
__ADS_1