KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Suasana Pagi Pertama


__ADS_3

Reta beringsut pelan semakin merapat ke tubuh mamanya yang masih tertidur lelap.


Matanya tak henti menatap Satrio yang juga tengah tidur di sampingnya.


Reta tadi kaget saat bergerak dari tidurnya dan mendengar dengkuran halus seperti suara kakeknya.


Seingatnya mamanya nggak mendengkur.


Karena penasaran Reta kemudian membuka mata dan melihat wajah Satrio di sana.


Tentu saja Reta kaget mendapati Satrio tidur bersamanya dan mamanya.


Dengan pelan Reta menepuk- nepuk lengan mamanya agar segera bangun.


Setelah dilihatnya tubuh mamanya merespon,Reta bergegas berbisik ke telinga mamanya.


"Kok Om Rio tidur sama kita, Ma? Memangnya boleh cowok tidur sama cewek?" tanya Reta keheranan.


Adis yang masih dalam usaha mengumpulkan nyawanya hanya tersenyum.


Dilihatnya Satrio yang nampak tidur lelap.


Tidur aja kece gitu wajahnya ya Allah....


"Mama malah senyum- senyum gitu...Om Rio cakep ya,Ma kalau tidur." bisik Reta sambil terkikik.


Adis menatap Reta tak percaya.


Udah tau orang cakep aja....


"Om Rio kok boleh tidur disini, Ma? Nggak di marahin Papi sama Kakek?" tanya Reta lagi.


Adis cuma menggeleng kemudian memeluk Reta erat.


"Kan udah menikah sama Mama. Lupa ya?" tanya Adis.


"Oh iya! Aku lupa! Berarti aku sekarang udah boleh panggil Ayah ya, Ma?" tanya Reta.


"Panggilnya ayah aja, Sayang. Nggak usah pakai om lagi ya...Yang boleh kamu panggil om ya Om Wira." Satrio menyahut walau matanya masih terpejam.


Reta dan Adis saling pandang kemudian saling tersenyum.


"Selamat pagi anaknya Ayah." kata Satrio sambil membuka mata namun masih dengan terbaring sambil merentangkan sebelah tangannya meminta Reta memeluknya.


Dengan secepat kilat Reta bergerak mendekat dan menubruk dada Satrio.


"Selamat pagi, Ayah." kata Reta yang kemudian menangis.


Satrio menatap Adis yang juga nampak menahan tangis.


"Kok malah nangis..." kata Satrio sambil membelai kepala Reta lembut.


"Aku seneng banget...Akhirnya aku punya Ayah yang masih hidup." kata Reta semakin mengeratkan pelukannya.


Hati Satrio trenyuh mendengarnya.


Punya ayah yang masih hidup.


"Ayah harus janji ya, akan hidup terus. Jagain Mama sama aku dan adik Bian." kata Reta masih sesengukan di dada Satrio yang kini malah ikut baper.


Sepagi ini di todong janji seberat ini....Tolong mampukan hamba ya Allah...Kuatkan hamba...


"Reta doakan ya, biar Ayah sehat terus, panjang umur biar bisa jagain kalian semua terus..." kata Satrio setelah berhasil menelan keharuannya.


"Aamiin..." gumam Adis yang terdengar oleh Satrio.


Satrio menatap mesra ke arah Adis sambil memajukan bibirnya seperti sedang mengecup, membuat Adis membuang muka malu.


Satrio terkekeh tanpa suara melihat Adis tersipu- sipu seperti itu.


Bahkan saat melihat kekehan Satrio, wajah Adis semakin memerah.


Melihat ekspresi wajahnya yang merah padam seperti itu sepertinya Adis malu setengah mati pada Satrio.


Dan Satrio tahu pasti apa yang membuat istri imut- imutnya itu menahan malu.


Apalagi kalau bukan kejadian di kamar mandi beberapa jam lalu.

__ADS_1


"Yuk bangun yuk. Reta belum sholat subuh lho. Nanti keburu kesiangan." kata Adis mengalihkan suasana pink- pink yang tercipta diantara dirinya dan suaminya.


"Sama Ayah juga belum sholat subuh." kata Reta sambil beranjak duduk di samping Satrio yang masih terbaring miring beralaskan sebelah tangannya yang menyangga kepalanya.


"Ayah udah dooong...Tadi. Terus Ayah tidur lagi." kata Satrio penuh kemenangan.


Reta merengut.


"Kenapa aku nggak dibangunin, Ma?" tanya Reta sambil menatap protes pada mamanya.


"Tadi udah dibangunin. Tapi susah. Ya udah deh." jawab Adis santai.


"Udah ayo cepet ambil wudhu, nanti keburu mataharinya nongol." kata Adis memotong acara protes Reta yang sepertinya masih ingin berlanjut.


Reta kemudian beringsut turun dan keluar kamar setelah berpamitan pada Satrio.


"Aku keluar dulu ya, Mas. Nggak enak kalau pagi- pagi nggak keliatan." pamit Adis sambil memakai jilbab instantnya.


"Aku nyusul sebentar lagi, cuci muka dulu. Nggak enak juga baru jadi mantu sehari belagu, bangun kesiangan." kata Satrio sambil beringsut turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Setelah merapikan tempat tidur mereka, Adis bergegas keluar kamarnya.


"Nah ini dia manten barunya." suara Bu Katarina yang pertama kali menyambut kedatangan Adis di dapur.


Adis tersenyum malu melihat mertuanya sudah ada di rumahnya bahkan sudah masuk dapur.


"Maaf, Ma kesiangan bangunnya." kata Adis malu sambil mengisi satu gelas air putih dan meminumnya sambil duduk.


"Ya nggak papa. Nggak tiap hari ini.Nikmati aja masa-masa awal nikah dengan sesenang- senangnya. Kami sih maklum- maklum aja ya, Jeng?" kata Bu Katarina tersenyum simpul sambil menatap Bu Hendarwan.


Bu Hendarwan hanya tersenyum saja sambil menatap anak perempuannya.


"Tapi sepertinya masa pengantin baru kami dulu lebih nyaman dibanding kamu, Dis. Maaf ya..." kata Bu Katarina sambil mendekat ke arah Adis dan mengusap- usap sayang pundak Adis.


"Maaf kenapa, Ma?" tanya Adis tak mengerti.


"Kamu yang katanya pengantin baru tapi ujug- ujug udah harus ngasuh bayi aja...bayi orang lain pula..." kata Bu Katarina sedih.


Adis dan mamanya saling berpandangan kemudian tersenyum.


"Bian kan anaknya Mas Satrio, suamiku. Ya udah harus mau sepaket dong Ma nerimanya. Aku malah seneng ada Bian. Aku jadi ngerasa nggak 'curang' sama Mas Satrio. Aku membawa satu anak juga dalam pernikahan ini, Ma. Dan Mas Satrio sayang banget sama Reta. Sudah seharusnya aku juga begitu sama Bian.Dia sekarang anakku, Ma. Dan aku juga sayang sama dia." kata Adis sambil tersenyum menenangkan.


Entah bagaimana ceritanya kalau Satrio menikah dengan perempuan selain Adis.


"Mama dan Papa doakan perkawinan kalian akan selalu rukun, tenang, bisa saling memperbaiki dan menguatkan. Mama mohon kuat dan sabarlah menemani Satrio ya..." kata Bu Katarina sambil tersenyum haru.


"Aamiin...Inshaa Allah Ma, kami akan bisa terus bersama." kata Anin sambil tersenyum.


Suasana haru di dapur langsung pudar saat didengar dari arah ruang makan suara bayi yang merengek- rengek.


"Kita cari Mama saja biar cepet aman kamu." terdengar suara Satrio mulai menguasai udara dan tak lama sudah muncul di depan pintu dapur dengan Bian yang merengek- rengek.


"Itu Mama...Itu..." kata Satrio sambil mengarahkan pandangan Bian ke arah Adis yang berjalan mendekat sambil tersenyum.


"Nyariin Mama ya? Kangen gitu sama Mamanya?" tanya Adis sambil menciumi perut Bian yang masih ad di gendongan Satrio.


Tangan Bian menggapai- gapai sambil merengek ke arah Adis yang sengaja menjauh.


"Main sama Ayah dulu aja ya....Mama mau main sama Oma dan Nenek dulu...." kata Adis menggoda Bian yang seolah seperti sudah mengerti dan langsung menangis karena di tolak.


Semua malah tertawa melihat reaksi Bian itu.


"Ciwik- ciwik malah ngetawain ada anak cakep nangis ya...?" hibur Satrio sambil menciumi pipi Bian yang masih menangis.


"Udah kalian ke depan sana, atau bawa jalan- jalan Bian biar dapat udara pagi. Kasian itu Bian,Dis, nangis gitu minta gendong kamu." usir Bu Hendarwan.


Adis segera mengulurkan tangannya pada Bian yang langsung meredakan tangisnya.


"Kami tinggal dulu ya, Ma." pamit Adis yang diikuti Satrio yang masih sempat mengerlingkan matanya pada mamanya yang langsung mengangkat pisau di tangannya.


"Bocah nakal." gumam Bu Katarina sambil tersenyum.


Adis yang ternyata diikuti Reta membawa Bian ke taman kecil di samping rumah yang pagi ini sudah terkena sinar matahari yang belum terlalu terik.


Adis bercengkrama ramai bersama Reta yang nampak senang sekali bermain dengan Bian yang nampak gampang dibuat tertawa.


Satrio yang mengintip sebentar tersenyum, sebelum akhirnya milih ikut ngobrol bersama kedua papanya di teras depan.

__ADS_1


Mas Didit sudah pulang sejak semalam.


"Wira nggak ikut kesini,Pa?" tanya Satrio pada Papanya.


"Udah kabur dari jam enam tadi." jawab Pak Susilo santai.


"Pasti mau nganter Widuri." gumam Satrio sambil mencibir.


"Kamu cuti berapa hari, Sat?" tanya Pak Hendarwan setelah menyesap jeruk nipis angetnya.


"Tinggal hari ini doang, Pa. Dadakan soalnya cutinya. Besok juga ada kerjaan yang nggak bisa digantiin yang lain." jawab Satrio.


"Kerjaan apa?", tanya Pak Susilo kepo.


"Dampingin calon buyer. Orang Jepang. Kebetulan di kantor yang bisa bahasa Jepang aku doang." jawab Satrio santai.


"Kamu bisa bahasa Jepang, Sat?" tanya Pak Hendarwan dengan nada kagum.


"Bisa di bilang begitu." jawab Satrio malu- malu.


"Keren ternyata mantuku." kata Pak Hendarwan sambil terkekeh.


"Keren banget malah, karena dia nggak cuma bisa bahasa Jepang aja." kata Pak Susilo sambil terkekeh setengah meledek walau dari tatapannya nampak dia juga bangga pada Satrio.


"Bisa bahasa apa saja kamu, Sat?" tanya Pak Hendarwan penasaran.


"Bahasa Korea,Prancis, dan Inggris tentu saja. Bahasa Jawa dikit- dikit sudah mulai bisa. Bahasa tubuh,bahasa kalbu...."


"Mulai... ngaconya mulai....." potong Pak Susilo sambil menyepak telapak kaki Satrio yang duduk di samping depannya.


Pak Hendarwan tertawa mendengarnya.


"Kemampuan bahasamu itu bisa kamu ajarkan ke anak- anakmu nanti." kata Pak Hendarwan seperti memberi ide pada Satrio.


"Iya juga ya..."


"Apalagi Bian kan belum belajar ngomong. Kamu mulai aja ngajak ngomong dia pakai bahasa asing. Kalau Reta suka ngomong pakai bahasa Jepang. Suka nonton kartun Jepang dia. Aku sering nggak ngerti dia ngomong apa." kata Pak Hendarwan sambil tertawa malu.


"Mau aku coba deh itu. Biar jadi anak- anak internasional mereka nanti." kata Satrio.


"Adis yang bagian ngajarin bahasa Inggris. Dia lancar kok bahasa Inggrisnya. Dulu selalu jadi wakil lomba debat bahasa Inggris pas SMA." cerita Pak Hendarwan.


"Adis bisa debat juga? Anak anteng gitu..." tanya Pak Susilo sambil tersenyum.


"Waaah, dia aslinya ceriwis, Mas." kata Pak Hendarwan sambil tertawa.


"Kayak petasan cabe kalau udah mau ngomong." sambung Satrio sambil tertawa.


Pak Hendarwan semakin tertawa mendengarnya.


"Kamu sudah ngobrolin sama Adis belum, kalian ke depannya mau tinggal dimana?" tanya Pak Susilo mulai sedikit serius.


"Belum, Pa." jawab Satrio pelan. Pak Susilo berdecak kesal.


"Kamu tuh gimana sih?!"


"Ya kan sementara ini kami sudah ada yang ditinggali, Pa. Nanti kalau rumahku sudah habis masa sewanya, baru aku tanya ke Adis, dia mau tetap tinggal disini apa mau pindah ke rumahku." bela diri Satrio.


"Kalau kami sih maunya kalian pindah ke Jakarta aja. Mumpung Reta juga baru mau masuk SD kan..." kata Pak Susilo sambil menatap Satrio dan Pak Hendarwan bergantian.


"Tapi kan kerjaan aku disini, Pa..." dalih Satrio.


"Serius kamu mau ngasih makan istri dan dua anakmu dengan gajimu yang segitu doang?! Kamu mau bikin istri dan anak- anakmu hidup prihatin?" tanya Pak Susilo telak.


Satrio menunduk resah.


"Udah waktunya kamu mikir bukan hanya menuruti egomu, Sat. Kamu sudah minta anak orang dari kenyamanan dan perlindungan orangtuanya lho. Bisa nangis mertuamu kalau liat anaknya nggak lebih nyaman hidupnya." kata Pak Susilo keras.


"Insyaa Allah Satrio nggak akan membiarkan Adis dan anak- anaknya hidup kekurangan,Mas. Biar nanti masalah itu mereka berdua pikirkan dan atasi bersama. Mereka anak- anak yang bertanggung jawab dengan pilihan hidup mereka. Kita hanya bertugas mendoakan saja." kata Hendarwan menenangkan suasana yang mulai memanas.


Pak Susilo nampak langsung menyurut emosinya. Ia kemudian mengangguk- angguk.


"Ya sudah. Terserah kamu saja. Maaf tadi Papa kebablasan." kata Pak Susilo sambil menatap Satrio yang kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Makasih, Pa." kata Satrio.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


Coba nanti sore tengok kesini lagi ya...siapa tahu aku up lagi 😅


__ADS_2