
Satrio menyusul Adis masuk ke kamarnya bermaksud untuk melanjutkan aksinya melancarkan rayuan pulau kelapanya.
Tapi ternyata saat masuk kamar sudah didapatinya Adis yang sudah ngobrol dengan Bian yang sudah duduk di atas ranjang.
"Waaah, dia udah bisa duduk?!" tanya Satrio takjub.
"Iya. Sayang sekali kita nggak tahu dia duduk untuk yang pertama kali. Tadi aku masuk kamar ternyata dia udah bangun dan udah duduk sambil mainan gulingnya." kata Adis dengan nada sesal.
"Maafin Mama ya, Nak..." kata Adis sambil tengkurap di samping Bian dan menciumi pipi Bian.
"Nggak papa. Sekarang ayo kita photo aja buat kenang- kenangan hari pertama Bian bisa duduk." kata Satrio sambil mengambil ponsel dari saku celananya.
"Sebentar...Aku pakai baju yang bener dulu." cegah Adis sambil bergegas bangun.
"Memangnya itu nggak bener?" tanya Satrio sambil menunjuk tampilan Adis.
"Ini udah bener. Tapi cuma buat pemandangan suaminya aja. Kalau buat pemandangan umum, ini terlalu murahan." kata Adis sambil terkekeh.
Satrio ikut tertawa. Dalam hati dia membenarkan ucapan Adis barusan.
Terlalu murahan kalau mengekspose tubuh mulusnya untuk gratisan semua mata.
Satrio menatap gerakan cepat Adis yang langsung memakai kerudung, rok panjang, dan outer abu- abu yang dia lapiskan di baju pendek yang dia pakai tadi.
"Siap photo yuk....Bisa kita kirim ke Oma dan Opa,sama Kakek nenek dan kakak Reta.Pasti mereka seneng ya, Bi..." kata Adis sambil menatap sayang pada Bian yang tertawa- tawa senang.
"Photo bertiga dulu ya..." kata Satrio sambil memposisikan diri agar bisa mendapat gambar yang cantik dengan posisi Bian yang terlihat duduk berjarak dengan kedua orang tuanya.
Saat gambar itu dikirim ke keluarganya, benar saja, para kakek nenek heboh. Mereka tidak terima kalau hanya dikirimi photo, tapi minta video bagaimana proses Bian sampai ke posisi duduk.
Jadilah senja itu Bian jadi obyek kamera Ayahnya dan bergerak sesuai arahan Mamanya.
Untungnya bayi itu sangat kooperatif dalam proses pembuatan video amatir itu.
"Kita bikinin Instagram sendiri aja gimana? Buat dokumentasi dia aja." usul Satrio.
"Ya nggak papa. Pokoknya isinya dia aja ya. Kita nggak boleh ikut nampang di akunnya." kata Adis.
"Sesekali boleh lah kita ikut nampang. Kalau pas moment- moment penting." usul Satrio lagi, berusaha menawar.
"Ya udah. Kalau pas moment penting ya..." kata Adis menyetujui.
"Sip!" sahut Satrio senang.
"Kita beli HP baru buat Bian yang murah aja dulu besok kalau kita gajian, biar Mbak Novi juga bisa merekam keseharian dia sama Bian kalau pas kita nggak sama Bian. Yang penting bisa buat merekam dan upload foto dan video aja. Gimana?" usul Satrio.
"Boleh. Ponsel murah juga ada yang kameranya bagus kok." kata Satrio mengangguk.
Ada sedikit sedih dan juga rasa tak rela saat Adis memberi usul untuk membeli ponsel murah karena 'hanya' akan dipakai untuk merekam kegiatan Bian selama bersama Mbak Novi dan untuk membuat akun.
Bagaimanapun Bian adalah anaknya. Darah dagingnya. Cucu dari salah satu crazy rich di negeri ini.
Kenapa Bian tidak bisa menerima segalanya dengan kualitas yang terbaik?
Tentu saja tidak bisa, karena penghasilan bapaknya tidak besar. Dan Adis harus realistis dengan keadaan ekonomi mereka bukan?
Maka bukan kesalahan Adis bila mengusulkan hal itu.
Kesalahan ada pada dirinya, kepala keluarga yang nggak bisa memberi apapun yang terbaik karena gajinya kecil.
__ADS_1
Tanpa sadar Satrio membuang nafas dengan sedih. Dan Adis tentu saja menangkap itu.
Dengan cepat dia mereview kembali sikapnya yang mana yang kira- kira membuat Satrio sedih. begitu?
Apa idenya membeli ponsel murah tadi?
Tapi masak itu saja bisa bikin Satrio sedih?
Atau Satrio berpikir Adis meremehkan Bian karena Bian bukan anak kandungnya?
Astagfirullahaladzim....
"Aku mandi dulu ya...." pamit Satrio mengagetkan lamunan Adis.
"Iya. Jangan lama- lama mainan airnya."jawab Adis sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Satrio sambil tersenyum menggoda.
"Mending main sama Bian aja, Ayah..." jawab Adis sambil menggendong Bian dan menghadapkannya pada Satrio.
"Ya....ya..yah....." celoteh Bian sambil mengulurkan tangannya dan mencondongkan tubuhnya kepada Satrio minta digendong.
"Ayah biar mandi dulu.Biar wangi dulu ya..." kata Adis lembut.
"Di....di...di..." sahut Bian riang.
"Ayah mandi dulu sebentar ya, Jagoan...." kata Satrio kemudian mencium pipi Bian sekilas sebelum berlalu ke kamar mandi.
Satrio mandi dengan cekatan karena merasa sangat gembira.
Mulai sekarang ada yang selalu menunggunya untuk bercengkerama.
Bukan hanya Adis, tapi juga Biannya.
Dia kira hanya pada Reta dia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi ternyata pada Bian pun begitu adanya.
Dan mungkin akan seperti itu lagi kalau dia dan Adis nanti memiliki bayi lagi.
Hmmmm, bayi lagi ya? Kita- kira Adis mau kapan ya punya bayi lagi?
Mau diajak langsung cusss sekarang, atau nunggu Bian agak gedean dulu?
Ini harus ditanyakan lebih detail sebelum dia tancap gas,hihihi....
Satrio keluar dari kamar mandi dan tak lagi menemukan anak dan istrinya di kamar.
Setelah bergegas berpakaian, dia menyusul Adis dan Bian yang asik bermain di atas karpet di depan tv.
"Nah, Ayah udah selesai mandinya. Mama ke kamar mandi dulu ya..." pamit Adis kemudian setelah melihat kehadiran Satrio kemudian bergegas berlari ke arah kamar mandi di dekat dapur.
Satrio langsung merebahkan dirinya di samping Bian yang sibuk dengan mengacak- acak mainan yang dibelikan Omanya kemarin.
"Bian tidurnya jam berapa sih, Dis?" tanya Satrio dengan Bian yang sudah duduk di atas perutnya dan memukuli dadanya dengan tangan mungilnya.
Adis datang bersama sepiring kue yang dia letakkan di meja dekat sofa.
Seperti biasa, Bian mulutnya tak berhenti berceloteh.
__ADS_1
"Jam tujuhan paling juga udah tidur. Kenapa?" tanya Adis sambil ikut kembali bergabung ke karpet di depan tv yang kini sudah menyala walau kenyataannya nggak di tonton juga oleh Satrio yang asik berebut mainan dengan Bian.
"TV dimatiin aja ya, Mas? Nggak ditonton ini." tanya Adis. Satrio mengangguk saja.
Lebih asik ngeliatin kelakuan absurd Bian daripada nonton tv.
"Ya bagus kalau dia tidurnya nggak malem- malem." kata Satrio dengan wajah senang.
"Aku tahu pikiranmu, Kisanak." kata Adis sambil terkekeh.
"Pikiran apa?" tanya Satrio sok malu.
"Mau menikmati malam ini sama mamanya kan? Makanya anaknya harus cepat tidur? Kebaca banget." cibir Adis sambil mengambil sepotong kue namun langsung diambil Satrio.
"Mau kue? Enak lho ini..." tawar Satrio pada Bian yang menatap penuh harap pada kue yang dipegangnya.
"Mam...mam...mam..." celoteh Bian dengan tangan terulur hendak meraih kue di tangan ayahnya.
"Boleh nggak sih dikasih?" tanya Satrio sambil menatap Adis karena nggak tega melihat wajah penuh harap milik Bian.
"Secuil kecil aja. Dia belum pernah nyoba kayaknya." kata Adis sambil kembali meraih sepotong kue untuknya sendiri.
"Dikit aja,Ayaaaah...Itu kegedean buat masuk ke mulut Bian." seru Adis melihat Satrio memotong seperempat kue di tangannya.
"Ini juga sedikit, Mama galak...." kata Satrio ngeyel.
"Nggak usah ngeyel deh! Udah sini,Bian sama Mama aja sini,Nak. Ayahmu rusuh gitu." kata Adis kemudian meraih tubuh Bian yang sedang nemplok pada ayahnya.
"Mam...mam...mam..." seru Bian kesal.
"Ini, Mama juga punya mamam nya...Nih kalau mau mamam..." kata Adis lembut sambil memasukkan sedikit cuilan roti di tangannya.
Mulut Bian langsung berdecak menerima cuilan roti itu. Dia langsung tertawa senang sambil bertepuk tangan dengan cepat.
"Enak Bi? Seneng gitu..." kata Satrio sambil tersenyum senang.
"Nya...nya..." jawab Bian dengan tawa.
"Enak dong, Ayah..." kata Adis mewakili Bian.
"Sekarang Bian yang enak. Nanti Emak sama bapaknya juga enak- enak." gumam Satrio sambil meringis.
Adis menatap galak pada Satrio.
"Kalau bicara tolong di jaga ya kalau di depan anak." kata Adis memperingatkan.
"Iya...maaf..." kata Satrio sambil nyengir.
"Tapi nanti bisa kan kita?" bisik Satrio nakal.
"Bisa apa?" tanya Adis sambil mengerutkan dahinya.
"Bisa senang- senang dong...Kan pengantin baru..." kata Satrio sambil tertawa mesum.
Adis ikut tertawa.
"Pengantin baru yang kehalang portal." kata Adis semakin keras tertawa.
Satrio tersenyum kecut saat dilihatnya Bian ikut tertawa- tawa sambil melihat Satrio.
__ADS_1
Kamu sih belum tahu rasanya gimana kesalnya kehalang portal, Bi....
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...