
Widuri membelalakkan matanya tak percaya sambil melebarkan photo yang baru saja dikirim Wira padanya.
Eh beneran mereka nikah! Alhamdulillah, Bang...
Dari pagi tadi sebenarnya Widuri dan Lukas sudah mengirim banyak pesan dan juga menelpon ponsel Satrio karena penasaran dengan cuti mendadak yang diambil Satrio kemarin.
Tapi sampai malam ponsel Satrio nggak aktif.
Karena sangat penasaran dengan Satrio yang kemarin secara mendadak mengambil cuti selama tiga hari, Widuri kemudian menghubungi Wira.
Dan balasan Wira cukup mengagetkan bagi Widuri.
Kenapa kesannya Satrio mendadak dan ingin menutupi pernikahannya?
Dan kenapa nikahnya malem- malem gini?
Widuri tak sabat menunggu jam bergulir ke arah lebih malam.
Tadi Wira janji mau menelponnya setelah jam sebelas malam ini.
Dan jam sebelas masih tiga jam lagi.
Sebenarnya Widuri ingin sekarang juga menghubungi Lukas untuk membagi kabar soal pernikahan Satrio.
Tapi tadi Wira minta padanya untuk keep dulu soal ini.
Biar nanti Satrio sendiri yang membagi kabar bahagianya nanti.
Panggilan Ibunya dari depan pintu kamar memaksa Widuri meninggalkan acaranya berenang indah di atas kasurnya.
"Bisa anter ibu ke swalayan sebentar nggak? Sabun cucinya habis ternyata. Ibu lupa nitip kamu tadi." kata ibunya begitu Widuri muncul dari balik pintu.
"Ya udah aku aja yang beli sendiri." kata Widuri kemudian berbalik lagi ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan jaket.
Dengan cepat dia memakai jilbab instant abu muda yang tercantol di samping jaketnya.
"Ibu pengen ikut. Mau cuci mata." kata ibunya yang sudah rapi dengan jaketnya sambil terkekeh.
Widuri meringis.
"Ya udah ayo." kata Widuri sambil tersenyum.
Dalam hati ada penyesalan Widuri karena selama ini dia belum pernah mengajak ibu dan adik semata wayangnya benar- benar merasakan piknik yang sebenarnya.
Memanjakan mereka berdua walau cuma sehari agar bisa menikmati nyamannya hidup.
Biasanya Ibunya pergi ke tempat- tempat wisata hanya bila rombongan pengajian masjid atau rombongan perkumpulan ibu- ibu kampungnya mengadakan rekreasi bersama.
Belum pernah mereka sekeluarga merasakan liburan keluarga.
Bukannya tidak mau. Tapi memang kondisi keuangan yang tak berlebih membuat Widuri dan ibunya membuang jauh agenda liburan keluarga dalam catatan prioritas hidup mereka.
Tapi harusnya sekarang mereka bisa melakukan liburan keluarga itu walau cuma dua atau tiga hari.
Widuri sudah memiliki uang banyak sekarang.
Pak Susilo mentransferinya ratusan juta sepulang dia dari Jakarta tempo hari.
Katanya itu sebagian dari uang yang dihasilkan oleh perusahaan peti kemas yang dimiliki oleh Widuri.
Sedang uang lainnya ada di rekening lain yang langsung dipindahnamakan dari atas nama Pak Susilo ke atas nama Widuri.
Ada dua kartu kaku nan sakti yang di miliki Widuri sekarang.
Satu kartu yang tetap disimpannya rapat dan tak dia sentuh dengan uang di rekeningnya berisi tiga milyar.
Sedang satu kartu ATM tetap dia bawa kemana pun dompet pergi sebagai ATM yang dimilikinya sejak pertama kali dia bekerja dulu.
Bedanya dulu saldonya selalu hanya bisa menyisakan beberapa ratus ribu tiap habis gajian tapi sekarang ATM nya berisi ratusan juta dan membuatnya sekarang sangat protektif dengan dompetnya, wkwkwk...
Pertama melihat saldo terakhirnya- setelah Pak Susilo mengabari kalau mengiriminya uang untuk jajan- Widuri gemetar saking nggak percayanya.
Mana pernah dia jajan bawa uangnya lima ratus juta?!
Biasanya bawa uang lima ratus ribu di dompetnya aja dia sudah merasa begitu kaya raya.
__ADS_1
Widuri berpikir sudah saatnya dia menyenangkan ibunya.
Walaupun bukan ibu kandungnya, namun selama ini beliaulah yang menyayangi dan mengurusnya dengan kasih sayang sebagai seorang ibu kandung.
"Bu, sebulan lagi kita piknik yuk." ajak Widuri saat keduanya sedang duduk menunggu pesanan kebab mereka sepulang dari swalayan.
Sebelum kakak dan ibunya pergi tadi, Alfian, adik Widuri minta dibelikan kebab.
"Kita siapa aja?" tanya ibunya bingung.
"Kita bertiga aja. Aku, ibu, sama Fian." kata Widuri penuh semangat.
"Kemana?" tanya ibunya kemudian.
"Kemana aja yang ibu mau deh." kata Widuri riang.
Bu Darsih tersenyum geli.
"Ibu pengennya piknik ke Bali. Tapi nggak mungkin kan?" tanya Bu Darsih dengan senyum meledek.
"Beneran pengen ke Bali?" tanya Widuri.
"Pengen. Dari dulu bahkan. Tapi ya cuma pengen doang. Kesananya mimpi aja. Gratis." kata Bu Darsih sambil tertawa riang.
"Ya udah. Besok kita ke Bali aja. Tapi aku cuma bisa ngambil cutinya tiga hari. Nanti kita bikin list tempat mana aja yang mau kita datangin." kata Widuri enteng.
"Ngimpinya nanti kalau udah tidur, Nduk. Durung turu kok wis nglindur kowe ki ( belum tidur kok udah ngigau kamu tu)." kata Bu Darsih sambil menepuk pelan lengan Widuri.
Widuri hanya terkekeh.
Sudah dia duga kalau ibunya pasti menganggap dia bercanda.
"Tenanan iki, Bu. Serius aku le ngajak piknik. ( Beneran ini, Bu. Serius aku ngajak pikniknya)." kata Widuri.
"Aku udah kaya sekarang." bisik Widuri dengan wajah jenaka.
Bu Darsih tersenyum walau matanya tiba- tiba sedih.
"Ibu lupa kalau kamu itu tuan putri." kata Bu Darsih sambil tertawa menahan haru.
"Jadi ya ke Balinya? Aku kan belum pernah ke sana juga,Bu..." kata Widuri setengah merengek.
"Nggak usah. Sayang uangnya." jawab Bu Darsih.
"Usah aja. Pokoknya usah!" kata Widuri ngotot, membuat ibunya tertawa geli.
"Usah aja...usah aja...bahasa apaan itu?" kekeh Bu Darsih.
"Ke Bali.Titik! Kalau udah ke Bali kapan- kapan Ibu ku ajak ke Jakarta nengokin mama. Mau nggak?" tawar Widuri.
"Nenggok Bu Melly? Mau! Mau dong!" kata Bu Darsih penuh semangat.
"Makanya...Kita ke Bali ya?" pinta Widuri lagi.
"Ya udah iya...Tapi Ibu nggak keluar modal lho ya!" kata Bu Darsih cepat.
"Iya! Bawa badan sama baju aja." kata Widuri riang.
🧚🧚🧚🧚🧚
Satrio membalikkan badan untuk bergegas masuk ke dalam rumah Adis setelah menyalami tamu terakhir yang pamit pulang.
"Mau kemana woy? Baru jam sembilan cuy!" seru Wira sambil terkekeh meledek.
"Mau ke kamar mandi bentar. Gue nahan pipis dari tadi." seru Satrio dengan langkah setengah berlari.
"Jangan salah masuk kamar lu!" seru Wira sambil terkekeh.
"Ba cot lu!" umpat Satrio kesal.
Keluar dari kamar mandi, Satrio celingukan mencari keberadaan Adis tapi nggak ada.
"Mbak Adis lagi bersih- bersih di kamar, Mas." suara Mbak Yanti dari arah belakangnya membuat Satrio kaget.
"Astaga....ngagetin aja!" seru Satrio sambil mengelus- elus dadanya.
__ADS_1
Mbak Yanti tertawa melihatnya.
"Nyari Mbak Adis kan?" tanya Mbak Yanti sambil menunjuk Mas Satrio.
"Iya! Kenapa? Masalah?" sungut Satrio kesal.
"Buatku nggak masalah sama sekali. Palingan juga Mas Satrio yang bakal nemu masalah." sahut Mbak Yanti sambil tersenyum penuh misteri.
"Masalah apa?" tanya Satrio penasaran.
"Mau tahu banget bakal nemu masalah apa?" tanya Mbak Yanti dengan senyum meledek.
"Iya! Apa?!" sergah Satrio mulai kesal.
"Jangan mengkhayal bisa menikmati malam pertama ya malam ini..." kata Mbak Yanti berbisik.
Satrio terlonjak kaget.
"Kenapa?" tanya Satrio dengan tatapan protes.
Enak aja nggak ada malam pertama! Gue udah sah nikahin dia. Udah sah jadi istri gue. Siapa yang mau ngelarang?!
"Ketahuan nggak ada acara ngobrol heart to heart sama Mbak Adis. Ih nyebelin!" sentak Mbak Yanti kesal.
Satrio keheranan melihatnya.
Kenapa pula ini kesal gini sama gue?
"Dah deh nggak usah drama! Ngomong aja deh to the point. Ada apa?" tanya Satrio mulai kesal.
"Mbak Adis kan lagi nggak sholat..." kata Mbak Yanti dengan wajah kesal.
"Oooo...." jawab Satrio santai.
"Kok cuma O?!" sergah Mbak Yanti kesal.
"Emang aku harus gimana?" tanya Satrio dengan wajah bingung.
"Ya shock kek atau minimal wajahmu keliatan kecewa. Ih beneran deh,Mas Satrio nih ngeselin! Pantes Mbak Adis dulu kesel banget sama kamu, Mas!" seru Mbak Yanti semakin kesal.
Satrio semakin bingung dengan reaksi Mbak Yanti.
Ini orang kesurupan apa sih?
"Kenapa aku harus shock? Kenapa harus kecewa? Karena Adis nggak sholat itu?" tanya Satrio masih dengan wajah bingungnya.
"Mas Satrio ngerti nggak kapan perempuan itu nggak boleh sholat?" tanya Mbak Yanti kesal.
Eh malah ngajak mbahas kek ginian ni orang. Hadyeeeeh!!!
"Ya tahulah! Pas datang bulan dan pas masa nifas abis lahiran" jawab Satrio dengan wajah sotoy.
"Nah itu tau!" kata Mbak Yanti senang.
"Trus kenapa?" tanya Satrio masih dengan culunnya.
"Astagfirullah....!!! Nyesel aku Mas jadi tim suksesmu dulu.Nyeseeeel banget, sumpah! Aku nggak nyangka ternyata kamu tu se Lola ini." seru Mbak Yanti kesal.
Satrio semakin merasa salah tingkah disebut Lola sama Mbak Yanti.
Dia kembali mencerna obrolannya tadi bersama Mbak Yanti.
Adis sedang nggak sholat. Itu artinya dia sedang datang bulan kan?
OK.Berarti Adis sedang datang bulan.
Wait...wait...
WHAT??? DATANG BULAN???
" Oh very f*cki*ng s**t!" seru Satrio tiba- tiba begitu menyadari arti omongan Mbak Yanti.
Satrio menatap Mbak Yanti dengan wajah memelas.
"Yang sabar, tabah dan tawakal ya,Mas." kata Mbak Yanti sambil tertawa geli dan berlalu dari depan Satrio.
__ADS_1
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...