KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Suasana Pagi


__ADS_3

Satrio memasuki area parkir dengan masih tersenyum- senyum tanpa sadar.


Untung kaca helmnya berwarna gelap, jadi kelakuan miringnya yang terus saja tersenyum- senyum sendiri sedari keluar rumah tadi tak jadi perhatian orang- orang di sepanjang jalan.


Pagi ini benar- benar pagi yang indah dirasakan oleh Satrio.


Sangat indah dan istimewa bahkan.


Bagaimana tidak coba?


Sebelum raganya sarapan, batinnya sudah sarapan yang saaangat istimewa selepas subuh tadi.


Biar dikata Adis berstatus bukan lagi seorang gadis, bahkan sudah punya satu anak, tapi nyatanya percintaannya tadi adalah percintaan tersulit namun juga termantap bagi Satrio.


Atau hukum halal dan haram tadi sedang bekerja?


Apa karena yang dijalaninya tadi adalah sebuah ibadah, jadi indah dan sakralnya sangat terasa di tiap detiknya?


Bahkan seusai semua berlalu pun indahnya masih ngefek di suasana hatinya.


Satrio kembali melebarkan senyumnya saat kembali teringat pada tingkah Bian yang nggak mau dipamitinya kerja tadi.


"Ayah kerja dulu ya...Di rumah sama Mama dan Mbak Novi ya..." pamit Satrio sambil mengenggam tangan mungil Bian yang diajari salim padanya oleh Adis.


"Ja....ja..." jawab Bian sambil tertawa riang.


"Iya. Ayah kerja buat beli susu ya..." jawab Satrio sambil beranjak menaiki motornya.


Tadinya anak itu nampak senang- senang saja melihatnya. Bahkan nampak sangat bahagia saat Satrio mulai menyalakan mesin motornya.


Tapi giliran Satrio sudah memakai helm dan dadah padanya, Bian langsung menangis kencang.


"Ya...ya....ya....ya...." teriak anak itu sambil mengarahkan tubuhnya ke arah Satrio.


"Nggak boleh ikut kalau Ayah mau kerja, Sayang. Nanti sore Ayah udah pulang kok." bujuk Mbak Novi yang melihat Adis kebingungan dengan tangisan Bian.


Satrio yang sudah tinggal putar gas jadi nggak tega ngeliatnya.


Dimatikannya lagi mesin motor dan Bian langsung berhenti menangis dan kembali tertawa mengira Ayahnya tak jadi pergi.


"Maunya ditungguin Ayah terus?" tanya Satrio sambil menowel- nowel pipi Bian yang tertawa riang.


"Ya...ya..." kata Bian sambil mengulurkan kedua tangannya minta gendong pada Ayahnya.


"Ayah mau kerja,Nak. Nanti lagi ya minta gendong ayahnya? Sekarang sama Mama aja ya?" bujuk Adis lembut.


Bian kembali menangis.


"Waduh, Nak. Kok Jadi gini ya...?" gumam Satrio gusar.


"Coba gendong aja sebentar, Mas. Atau ajak keliling sebentar naik motor." usul Mbak Puji yang baru muncul di gerbang dan melihat keributan kecil buatan Bian itu.


"Kamu pengen naik ini? Biar keren?" tanya Satrio sambil tertawa melihat Bian.


"Ngung...ngung..." gumam Bian senang.


Satrio dan lainnya tergelak mendengar Bian mengucapkan itu.


"Ngung...ngung...gitu bunyi motornya?" tanya Satrio riang. Bian mengangguk- angguk riang.


"Ayo, Ma. Coba ajak Bian bonceng." ajak Satrio pada Adis karena penasaran dengan saran Mbak Puji.


Adis segera naik ke boncengan motor bersama Bian yang nampak sangat gembira.


Anak itu bahkan tidak mau didudukkan.

__ADS_1


Jadilah Bian berdiri menempel tubuh Ayahnya dengan dipegangi sangat erat oleh Adis.


"Yang anteng ya kalau bonceng Ayah..." kata Adis sebelum Satrio menjalankan motornya dengan sangat pelan untuk berjalan melewati dua rumah tetangga lalu berbalik lagi ke rumah mereka.


"Udah sampaaaai...Yuk turun yuk...Udah ya..." kata Adis lembut dan memeluk Bian erat.


"Daaah....Dadah dulu sama Ayahnya, cah Bagus..." kata Mbak Puji sambil menatap sayang pada Bian.


Bian mengikuti gerakan Satrio yang melambaikan tangannya dan tak lagi menangis saat melihat ayahnya berlalu.


"Berarti tiap pagi ini akan jadi agenda rutin sebelum ayahnya kerja. Harus bonceng dulu." kekeh Mbak Puji diikuti tawa Adis dan Mbak Novi.


"Waduuuh...pinternya boss kecil ini..." kata Mbak Novi sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil alih Bian dari gendongan Adis.


"Kecandak kowe...( ketangkep kau...)!!" Satrio kaget saat tiba- tiba dia digelandang dengan paksa oleh Lukas lalu di pojokkan di sudut ruang bawah gedung pengawas.


"Kowe ki ngopo e, bro?( kamu tu kenapa sih, bro? )" tanya Satrio sambil terkekeh dan berusaha melepaskan diri dari pitingan Lukas di lehernya.


"Jelaskan ini sekarang!" kata Lukas sambil mengulik ponselnya sebentar lalu menyodorkan ke depan muka Satrio.


Satrio menatap sejenak photo yang ditunjukkan Lukas.


Photo dirinya yang sedang menggendong Bian memakai hips **s**eat sedang tertawa saling menatap dengan Adis.


Dia ingat jelas, itu pas mereka pulang dari bandara lalu mampir ke swalayan.


Satrio langsung ingat kalau dia ketemu dengan ibu- ibu karyawan pabrik.


Edaaaan, persiapan bikin beritanya all out beneeer. Pake photo juga, cuy....


"Dapat darimana lu photo ini?" tanya Satrio santai.


"Dari orang produksi lah! Kemarin tuh dari pagi sampai pulang kamu jadi trending topic, tahu nggak?!" sungut Lukas. Satrio terkekeh.


"Itu gimana ceritanya? Katanya itu anakmu dan istrimu." tanya Lukas kembali ke pertanyaannya.


"Ya nggak papa! Kaget aja aku. Setahuku kamu kan lagi pacaran sama Adis. Kok ujug- ujug jadi beritanya kayak gini. Kamu udah ada anak sama Adis. Malah beritanya anakmu udah dua. Bayi itu anak keduamu?" tanya Lukas penasaran.


"Iya." jawab Satrio lugas.


Lukas nampak kaget dan bingung.


"Sik...Sik...( bentar....bentar...) kok bingung aku, Sat." kata Lukas gusar.


"Kamu sama Adis nikahnya kapan? Kok ujug- ujug ada dua anak? Mereka anak kalian apa anak pungut sih? Tapi kalau bayi ini wajahnya mirip kamu banget, masak anak adopsi? Anak selingkuhanmu ya?" tuduh Lukas dengan tatapan curiga. Satrio nyengir saja mendengarnya.


"Mesakke ( kasihan) Adis,Sat." gumam Lukas prihatin.


"Kasian kenapa?" tanya Satrio nggak paham.


"Anak hasil selingkuhmu kamu suruh Adis yang ngerawat. Kan kasihan dia." tukas Lukas kesal.


"Lambemu ( bibirmu), Kas. Itu bukan anak hasil selingkuh." kata Satrio tegas.


Tapi hasil kenakalan gue, wkwkwk....


"Jadi anak kalian?" tanya Lukas kaget.


"Ya anak kami. Masak anakmu?" sahut Satrio cepat.


"Aslinya kapan sih kamu nikahnya sama Adis?" tanya Lukas bisik- bisik karena mereka kini sedang berjalan bersisian menuju kantor.


"Ntar siang gue ceritain semuanya ke elu! Berisik amat sih jomblo!" sergah Satrio kesal.


Lukas tertawa melihat ekspresi kesal Satrio.

__ADS_1


"Harusnya kamu ceritanya dari dulu. Bukannya baru nanti, Bapak- bapak!" ejek Lukas balik. Satrio mengumpat kesal dibuatnya.


"Tuh, silakan menikmati tatapan penuh luka dan airmata dari para fans mu." bisik Lukas sambil terkikik.


"Gue banting disini juga lu kalau masih banyak ba cot!" omel Satrio sambil mengeram kesal pada Lukas.


Sekilas saja Satrio menatap para gadis yang dia tahu menaruh perhatian lebih padanya selama ini. Dan dia memang melihat mata- mata yang terluka -seperti dikhianati-. tengah menatapnya dingin.


Serem gini yak suasananya....


Memasuki kantor, tak ada yang terlihat berbeda.


Semua teman- temannya menyapa seperti biasanya.


Apa berita di produksi nggak ada yang sampai di staff kantor ya? Baguslah kalau begitu.


"Yang cuti tiga hari, masuk kerja dengan tangan hampaaaaa...." celetuk Lukas membuat Satrio dan lainnya nyengir.


"Mohon maaf semuanya. Nanti siang ada sedikit nasi box buat temen- temen makan siang. Jadi kalau ada agenda makan keluar, bisa di cancel buat besok aja ya...." kata Satrio membuat cengiran jadi senyuman lebar semua temannya.


"Alhamdulillah...." seru mereka semua.


"Dalam rangka apa nih,Sat bagi- bagi maksi?" tanya Mbak Lia.


"Syukuran dong!" sahut Lukas sambil nyengir.


"Syukuran apa?" tanya Mbak Lia penasaran.


"Syukuran dia bisa berangkat kerja lagi setelah cuti tiga hari." seloroh Lukas ngasal.


Satrio tertawa mendengarnya.


Padahal dia sudah deg- degan kalau Lukas bakal bocor mulutnya.


"Berarti kamu sering- sering aja cutinya, Sat. Tapi dengan syarat habis cuti bagi maksi." seloroh Bu Bebeb yang masih ikut bergosip ibu- ibu lantai bawah.


"Waaaah, berat syaratnya." kekeh Satrio sambil berlalu menaiki anak tangga menuju ruangannya.


"Pagi Pak Satrio!" sambut Widuri sambil cengengesan.


Ruang atas belum ada penghuni lain selain mereka berdua.


"Pak...Pak...Lu pikir gue bapak lu?!" sungut Satrio..


"Cieeee yang barusan nikah sok bete...takut dikerjain niiih..." ledek Widuri sambil berbisik.


Satrio menoleh cepat menatap kaget pada Widuri.


"Lu tau?!" tanya Satrio tak percaya.


Widuri hanya mengangguk geli.


"Pasti Wira kan yang ngasih tahu?" tebak Satrio kesal.


Widuri kembali mengangguk sambil tertawa.


"Yang lain lu kasih tahu?" tanya Satrio dengan wajah khawatir.


"Ya enggaklah! Itu kan hakmu ngasih berita gembira itu." jawab Widuri cepat


"Syiip!!" sahut Satrio senang.


"Boleh deh kalau mau daftar jadi adik ipar gue." kata Satrio sambil tertawa.


"Idih!" sungut Widuri dengan wajah kesal.

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2