KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Tentang Reta


__ADS_3

Satrio kembali ke Jogja Minggu malam.


Sengaja dia memanfaatkan sepanjang hari Minggunya untuk mencari lebih banyak info dari orang- orang yang sekiranya bisa memberi pencerahan soal keberadaan keluarga Widuri.


Keberangkatannya ke stasiun diantar oleh Wira dan Bu Katarina yang masih baper dengan cincin hadiah ulang tahunnya kemarin.


Dan kembalinya ke Jogja dibekali dua kardus lumayan besar berisi makanan sebagai oleh- oleh untuk teman kantornya dari Mamanya.


Semalam mamanya bertanya berapa jumlah teman di kantornya.


Nggak nyangka ternyata dia akan dibekali oleh- oleh sebanyak ini.


Beruntung dia membawa mobil saat ke Stasiun Tugu hingga bawaan itu tak akan membuatnya kerepotan nanti.


"Yang ini khusus buat Adisty." kata Bu Katarina yang menyerahkan satu kardus dengan ukuran lebih kecil pada Satrio yang menatap mamanya gusar.


Lagian dia heran. Mamanya nyebut nama Adisty pakai nada sayang. Kayak udah kenal aja.


Ngeliat aja belum.


"Ngapain sih Ma harus khusus- khususan?" protes Satrio malu.


"Kan dia cewek specialnya Mas." kata Bu Katarina sambil tertawa kecil.


"Special apaan sih? Dia itu sudah punya pacar, Ma." kata Satrio kemudian.


"Yang penting bukan calon suami." kata Bu Katarina sambil tersenyum.


"Mama nih.... Aku ngomong gimana besok ngasihnya?" tanya Satrio sambil cemberut.


"Ngomong aja dari calon mertua." jawab Bu Katarina santai sambil mengerling.


Satrio hanya mendengus kesal.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Satrio menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur begitu masuk ke kamarnya.


Badannya butuh di regangkan setelah semalaman dalam posisi tidur yang kurang nyaman di kereta api.


Tadi dia sudah minta tolong pada Mbak Puji - yang sengaja datang lebih pagi- untuk mengurusi oleh- oleh yang dibawanya dari Jakarta.


Setelah berkali- kali mengguling- gulingkan tubuhnya lalu meregangkan semua otot tubuhnya di atas kasur, Satrio bergegas mandi.


Mulutnya terus menyenandungkan lagu Sunday Best, lagunya Surfaces selama melakukan ritual mandi agar semangat menyambut hari Seninnya nggak kendor.


Setelah berpakaian untuk ke kantor - yang menurutnya ala kadarnya- Satrio bergegas turun.


Tadi Mbak Puji bilang mau membelikannya bubur gudeg untuk sarapan.


"Sarapan dulu Mas Boss." kata Mbak Puji yang sedang memainkan kain pel di area ruang keluarga.


"Mas Boss....Mas Boss...." omel Satrio sambil mengamati beberapa paper bag yang tertata rapi di atas meja makan, di samping sarapannya.


"Kok kamu punya tas kecil- kecil gini,Mbak?" tanya Satrio dengan wajah heran.


"Itu udah kayak gitu dari Jakarta. Aku buka kardus udah di tas i begitu." kata Mbak Puji menjelaskan.


Satrio menghitung jumlah paper bag itu. Sama dengan jumlah temen kantornya.


Satrio tersenyum geli saat menyadari kalau ini pasti ide mamanya.


Pinter sekali mamaku....


Tapi Satrio kembali cemberut saat berpikir bagaimana caranya membawa paper bag segitu banyaknya ke kantor.


Nggak mungkin dia membawa Range Rover nya ngantor.



Bisa heboh seisi pabrik nantinya.


Lukas!, seru batinnya setelah berpikir sejenak.


Satrio bergegas menelpon sahabatnya itu.


"Bisa bawa mobil ke sini nggak, Kas?" tanya Satrio to the point.


"Kesini kemana?" tanya Lukas nggak mengerti.

__ADS_1


"Ke rumahku sekarang. Ke kantor bareng kita ntar. Tapi kamu bawa mobil. Aku order mobilmu buat ke kantor buat bawa oleh- oleh." kata Satrio panjang agar Lukas segera mengerti kemudian bergegas meluncur ke rumahnya.


"Nggak bisa, Bro. Mobilnya dipinjam orang dua hari ini." jawab Lukas cepat.


Satrio berdecak kesal.


"Ya udah,aku nyari taxi aja deh." pungkas Satrio cepat.


"Sip!" sahut Lukas dari seberang.


"Kamu udah ngambil jatahmu sama buat kiri kanan kan, Mbak?" tanya Satrio pada Mbak Puji yang sedang melap- lap lemari kaca di belakang Satrio duduk.


"Udah. Itu mau buat siapa?" tanya Mbak Puji sambil menunjuk barisan paper bag di meja.


"Tolong masukin lagi ke kardus, Mbak. Mau kubawa ke kantor." kata Satrio.


Mbak Puji bergegas ke belakang untuk mengambil kembali kardus yang tadi jadi wadah oleh- oleh itu.


"Mau di masukin mobil sekalian nggak, Mas?" tanya Mbak Puji sambil menata oleh- oleh itu ke dalam kardus.


"Bawa ke depan aja. Aku nanti naik taksi aja ke kantornya." kata Satrio kemudian menyuap lagi sarapannya.


"Kok nggak bawa mobil sendiri aja?" tanya Mbak Puji.


"Mobil itu nggak pantes dibawa ke kantor sama seorang karyawan biasa. Bisa- bisa dikira aku nyolong mobilnya orang kalau ke kantor bawa itu." kekeh Satrio.


Mbak Puji ikut tertawa.


Dia lupa kalau tuan mudanya sedang menyamar.


"Isinya apa sih?" tanya Satrio seperti pada dirinya sendiri lalu mengintip isi salah satu tas oleh- oleh di depannya.


Satrio tersenyum- senyum melihat bingkisan oleh- oleh itu. Jajanan khas Betawi nyaris ada semua.


Mamanya memang the best.


Ada kue kembang goyang, kue putu mayang, kue biji ketapang, kue akar kelapa, pencok Betawi, dodol Betawi, kue semprong, geplak Betawi, marguerite naugat, bahkan juga ada roti buaya versi mini.


Masing- masing makanan itu di kemas dalam ukuran kecil, jadi memang berasa banget nuansa oleh- olehnya.


Bahkan Satrio menemukan magnet kulkas bergambar ondel- ondel dan gantungan kunci miniatur Monas di tiap paper bag itu.


"Yang buat Adis tolong nanti dianterin ya, Mbak." kata Satrio sambil menatap Mbak Puji yang hampir selesai mengemas oleh- olehnya.


Satrio keheranan dalam hati saat dilihatnya Mbak Puji nampak salah tingkah saat dimintanya mengantarkan oleh- oleh untuk Adis.


Biasanya orang itu akan penuh semangat kalau dia ada nyebut nama Adis.


Perempuan itu kini bahkan menatapnya dengan sorot mata resah.


"Kenapa?" tanya Satrio masih tatap- tatapan dengan Mbak Puji.


"Mbak Adisnya lagi nggak ada dirumahnya. Katanya balik besok." kata Mbak Puji.


"Emangnya dia kemana?" tanya Satrio santai.


"Nganterin Reta pulang. Mas udah kenal Reta kan?" tanya Mbak Puji yang kini duduk di seberang Satrio yang masih asik dengan gudeg buburnya.


"Udah. Udah kenal. Kemarin kami malah VC rame- rame serumah." kata Satrio riang.


"VC serumah? Serumahmu VC sama Reta?" tanya Mbak Puji kaget.


"Iya. Kenapa kaget gitu? Emang kenapa kalau keluargaku tahu Reta?" tanya Satrio semakin penasaran dengan reaksi Mbak Puji.


"Kamu sudah tahu Reta itu siapa, Mas?" tanya Mbak Puji dengan hati- hati.


Satrio menghentikan makannya


Kayaknya serius nih.....


"Belum sih. Bukan ponakannya Adis?" tanya Satrio penasaran.


Mbak Puji menggeleng.


"Trus dia siapa?" tanya Satrio yang mulai was- was dengan kelebatan pikirannya sendiri yang tiba-tiba datang.


Mbak Puji menarik napas berat.


Dia yakin Satrio setidaknya pasti akan kaget kalau dia nggak shock.

__ADS_1


"Siapa Mbak?" tanya Satrio lagi.


Mbak Puji hanya tersenyum sedih.


"Yanti juga baru tahu soal Reta saat anak itu datang. Dia mau cerita juga ragu. Baru kemarin akhirnya dia ngomong kalau Reta itu bukan ponakannya Mbak Adis." kata Mbak Puji sambil menatap Satrio sedih.


Satrio semakin yakin dengan dugaannya saat melihat wajah sedih Mbak Puji itu.


"Trus Reta itu siapanya Adis?" tanya Satrio setelah nunggu Mbak Puji nggak juga ngomong lagi.


Perempuan itu hanya berulangkali menarik napas berat.


Dia nggak tega membayangkan Satrio patah hati.


"Kamu suka beneran ya Mas sama Mbak Adis?" tanya Mbak Puji serius.


"Emangnya kenapa?" tanya Satrio nggak suka Mbak Puji berusaha menggeser arah pembicaraan.


"Tinggal jawab aja...." kata Mbak Puji pelan.


"Soal perasaanku itu nggak penting dibahas sekarang. Kita lagi ngomongin Reta sekarang." kata Satrio tegas.


Mbak Puji hanya membuang nafasnya pelan.


Soal Reta kan juga bakalan mempengaruhi kelanjutan perasaan Satrio ke depannya.....


"Jadi, Reta itu siapanya Adis?" tanya Satrio lagi.


Mbak Puji hanya tersenyum sedih dan tak juga menjawab.


Meresahkan!


Menyebalkan!


"Reta bukan anaknya kakaknya Adis?" tanya Satrio kemudian.


Mbak Puji menggeleng.


"Reta anaknya Adis?" tanya Satrio lagi, karena Mbak Puji nggak juga ngomong.


Sebuah pertanyaan yang sangat tidak ingin dia ucapkan tapi dia merasa harus sekalian menanyakan juga. Kepalang tanggung.


Dan Satrio hampir tersedak salivanya sendiri saat dia melihat Mbak Puji mengangguk pelan dengan wajah sedih dan prihatin.


"Ooooo.....Reta anaknya Adis ternyata." kata Satrio santai setelah dengan cepat mampu mengatur debaran di dadanya ke ritme biasanya.


Mbak Puji tentu saja kaget dengan reaksi santai itu.


"Kok gitu reaksinya?" tanya Mbak Puji dengan nada kecewa.


"Emangnya kamu ngarep aku bereaksi gimana? Pingsan? Atau shock?" tanya Satrio sambil cengengesan.


Mbak Puji nggak tahu aja gimana dadanya terasa panas dan sesak tadi.


"Nggak papa kalau Mbak Adis udah punya anak?" tanya Mbak Puji.


Kali ini wajahnya sudah kembali ke mode normalnya. Mode kepo.


"Ya nggak papa. Emang kenapa? Nggak ada hubungannya sama aku juga kan?" kata Satrio tetap santai.


"Mas Satrio tetap mau walau Mbak Adis udah ada anak?" tanya Mbak Puji lagi.


Kali ini wajahnya sudah dengan tatapan penuh harap dan kepo.


"Dia itu udah punya pacar. Atau malah mungkin calon suami. Nggak usah ngarep dia sama aku, Mbak. Ntar kamu patah hati." kata Satrio sambil meledek.


"Apa iya? Tahu dari mana kalau Mbak Adis udah punya pacar? Kok Yanti nggak cerita?" tanya Mbak Puji semakin kepo.


"Ada dueeeeeeh...." jawab Satrio kemudian bergerak cepat menuju kamarnya lagi untuk mengambil tas ranselnya sekaligus melarikan diri dari kemungkinan cecaran pertanyaan Mbak Puji soal oknum pacar Adis.


"Mas Satrio nggak asik! Bikin aku kepo!" teriak Mbak Puji sambil cemberut dan menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.


"Nggak usah dilaporin sama Nyonyamu soal ini!" teriak Satrio dari depan pintu kamarnya.


"Iya!" jawab Mbak Puji ikut teriak.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Gimana? Udah plong setelah tahu siapa Reta? 😀😅

__ADS_1


__ADS_2