
Tapi harapan tinggal harapan dan rencana indah mereka tak sejalan dengan kenyataan yang harus mereka hadapi kemudian.
Jadwal datang bulan yang ditunggu Adis telah lewat dua minggu dari biasanya.
Ini bukan kebiasaan, bahkan belum pernah terjadi.
Menyadari telah melakukan hubungan badan tanpa pengaman sebelumnya, Adis langsung menduga kalau dia hamil.
Dengan bantuan alat test kehamilan yang dia beli di apotik dengan malu- malu, akhirnya apa yang dia takutkan terpampang di depan matanya pagi itu. Dua garis merah.
Dengan sangat panik dia membicarakan itu pada Beni yang nampak lebih terpukul darinya.
"Aku akan ngomong sama orang tua kita, Dis. Aku siap tanggung resikonya." kata Beni sambil tersenyum, mencoba meyakinkan Adis dan dirinya sendiri bahwa semua akan bisa mereka lewati dan akan berakhir baik- baik saja.
"Aku takut ngomong sama Papa Mama, Ben.Mereka pasti marah sekali." isak Adis ketakutan.
"Aku yang akan ngomong sama mereka. Tapi aku harus ngomong dulu sama orangtuaku." kata Beni.
"Kapan?" tanya Adis.
"Sekarang." jawab Beni mantap.
"Hah?! Se.... sekarang?!" tanya Adis kaget.
"Semakin cepat semakin baik, Dis. Semakin kita tunda, kita hanya akan semakin cemas dan panik sendiri. Kita harus segera mengaku kalau kita salah. Kita mohon ampun sama orangtua kita. Kalaupun harus dihukum, aku siap menanggungnya asal kamu baik- baik saja. Kamu yang kuat ya, Dis. Maaf udah bikin kamu begini." kata Beni penuh sesal.
Adis hanya mampu tergugu.
Dunianya terasa gelap kini.
Masa depannya telah hancur di tangannya sendiri.
Bagaimana nanti perasaan orang tuanya kalau mereka tahu dia telah melanggar kepercayaan mereka selama ini dan kini bahkan tengah hamil?
Akan semurka apa mereka nanti padanya dan Beni?
"Aku takut, Ben." kata Adis sambil menyembunyikan wajahnya yang penuh airmata diatas lututnya.
"Aku juga takut, Dis. Tapi kita harus hadapi ini. Kita hadapi ini sama- sama ya. Kamu nggak sendirian. Aku akan selalu lindungi kamu. Kamu nggak akan kenapa- napa. Aku janji." kata Beni menenangkan.
Dan yang bisa Adis lakukan hanya mengangguk pasrah.
Setidaknya Beni mau bertanggung jawab.
Setidaknya dia tahu dia tak sendirian menghadapi ini.
Dan kedua anak yang selama ini adalah anak- anak baik di depan semua orang dan keluarganya kini dengan wajah pucat pasi dan gemetar menghadap kedua orang tua mereka untuk membuat pengakuan dan memohon ampun atas perbuatan mereka.
Beni harus merasakan hatinya hancur saat melihat ibunya menjerit histeris lalu pingsan di pelukan ayahnya yang hanya mampu menatapnya dengan tatapan kosong dan kecewa.
Tak ada pukulan dan sumpah serapah dari keduanya. Dan itu malah membuat Beni semakin merasa berdosa pada orang tuanya.
"Kita bicara nanti,Ben" hanya itu yang ayahnya ucapkan sebelum menggendong ibunya yang pingsan ke dalam kamar, tanpa berkata apa- apa lagi.
Beni hanya berani mengangguk dengan airmata di sudut matanya.
Mungkin bila ayah ibunya murka dengan pukulan atau sumpah serapah, Beni tak akan sesesak ini menanggung rasa bersalahnya.
__ADS_1
Tapi orang tuanya hanya diam dengan tatapan kecewa yang sangat dalam.
Itu hukuman paling berat yang pernah Beni rasa.
"Kapan kita ke rumah Adis?" tanya ayah Beni malam harinya pada Beni.
"Secepatnya, Yah. Kapan Ayah bisanya?" tanya Beni dengan tatapan luruh.
Dia tak sanggup menatap wajah sedih dan putus asa Ayahnya.
Sedang Ibunya masih mengurung diri di kamar walau kata Ayahnya sudah mulai tenang kembali.
"Maafkan Beni,Yah. Beni sudah bikin malu keluarga." kata Beni lagi dengan gemetar.
Sesalnya rasanya bertambah- tambah tiap menit.
Ayahnya hanya mengangguk pelan.
"Setidaknya kamu mau jujur dan bertanggung jawab untuk kesalahanmu. Itu masih bisa sedikit membanggakan Ayah. Kamu sudah bersikap sebagai lelaki sejati. Yang penting sekarang kita siapkan mental menghadapi kemarahan keluarga Adis karena kenakalanmu. Kamu siap kalau nanti dihajar papa dan kakaknya Adis?" tanya Ayah sambil tersenyum getir.
"Harus siap bukan?" jawab Beni sambil meringis ngeri mulai membayangkan dirinya akan dihajar oleh papa Adis dan Mas Didit nanti.
Tapi setidaknya dia tahu, dia menghadapi semua ini tak sendirian.
Ada ayah ibunya yang masih sudi untuk meringankan hati mereka menemaninya menghadap kepada keluarga Adis dan ikut menanggung akibat kebodohannya.
"Maaf ya Bu, Yah. Beni nyusahin Ayah dan Ibu seperti ini." kata Beni sebelum mereka bertiga menuju ke rumah Adis.
Ibunya hanya menatapnya sesaat sambil menahan tangis di balik senyum yang dipaksakan di wajahnya.
"Ini sudah resiko jadi orang tua, Ben. Anak polah Bapa kepradah ( anak yang berbuat, orangtua ikut menanggungnya). Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua." kata Ayah sambil menepuk- nepuk bahunya pelan.
Beni diam tegak menerima dengan pasrah dua kali tamparan dari Papa Adis dan sekali tonjokan dari Mas Didit di depan orang tua dan kekasihnya.
Di dengarnya isakan tangis Ibunya yang teredam pelukan ayahnya.
Juga tangis Adis yang memeluk lutut mamanya.
Tidak benar kalau orang tua Beni rela anaknya ditampar dan di tonjok seperti itu.
Tapi mereka juga sadar kalau Beni pantas mendapatkan itu, bahkan kalau lebih dari tamparan pun Beni pantas menerimanya.
Mereka sebagai orang tua tahu bagaimana kecewanya dengan perbuatan anak mereka.
Anak lelaki mereka telah menodai anak gadis orang.
Anak lelaki mereka telah menghancurkan mimpi indah orang tua seorang gadis yang mungkin telah mereka tata sejak gadis itu belum lahir ke dunia ini.
Apalagi orangtua Adis yang tentu saja sangat menjaga dan menyayangi anak gadis satu- satunya. Putri cantik mereka.
Mereka sudah memberi kepercayaan kepada Beni tapi Beni menciderai kepercayaan itu, bahkan menghancurkannya berkeping-keping.
Dan tamparan hanyalah sebuah hukuman yang sangat ringan yang di terima Beni.
Setelah cukup lama kedua keluarga saling diam dalam suasana tegang, akhirnya Ayah Beni mulai berbicara lebih dalam.
"Saya pribadi sebagai Ayah Beni mengaku salah kurang pintar mendidik Beni dalam menahan diri dan menghargai sebuah kepercayaan. Saya mohon maaf untuk itu. Dan walaupun Saya tahu ini tidak mengobati kekecewaan dan luka hati yang Bapak dan Ibu rasakan, kami menghadap kali ini untuk bertanggung jawab atas kesalahan anak kami pada Adis. Dengan segala kerendahan hati, kami meminta Adis untuk anak kami Beni agar mereka bisa segera menikah sebelum kehamilan Adis semakin besar." kata Ayah Beni dengan tenang namun tegas.
__ADS_1
Papa Adis yang berulangkali menarik napas panjang tidak segera menjawab.
Dia sangat murka dan malu. Tapi dia juga menyadari, setengah kesalahan ada di tanggung anak gadisnya karena mereka melakukan perbuatan terlarang itu murni karena khilaf, bukan Beni yang memaksa.
Adis bukan korban pemaksaan Beni.
Lagipula bertahun- tahun mengenal Beni, anak itu selalu bersikap baik bukan hanya di depan keluarganya, tapi dimanapun anak itu berada.
Ditatapnya Adis yang menangis ketakutan di pelukan mamanya dengan tubuh gemetar. Itu membuat hatinya melemah.
Anak gadis kesayangannya yang selalu manja dan patuh padanya baru kali ini tak berani menatap wajahnya.
"Dis...."
Adis mengangkat wajahnya takut- takut menatap Papanya.
"Kamu tahu apa yang akan kamu jalani setelah ini? Kamu hamil. Beberapa bulan lagi perutmu akan membesar. Merepotkan gerakmu saat kamu akan bertingkah seperti sebayamu. Kamu akan sanggup kuliah dengan perut besarmu nanti?" tanya Papanya dengan tatapan sedih.
Adis terpaku dengan airmata yang semakin menganak sungai dipipinya.
"Adis nggak usah kuliah aja, Pa. Adis nggak mau Papa Mama tambah malu kalau orang lain tahu Adis sudah hamil. Adis akan di rumah aja ngerawat anak Adis. Yang penting Mama dan Papa maafin Adis dan mau menikahkan Adis dan Beni." kata Adis pelan.
Semua yang ada di ruangan itu menatap iba pada Adis.
Bahkan gadis itu langsung mematikan semua cita- citanya karena ingin menebus rada bersalah pada orang tuanya yang telah dia sadari.
"Baiklah. Pak Yoga, Saya terima niat baik Bapak sekeluarga untuk anak perempuan Saya. Kita nikahkan mereka berdua secepatnya. Saya juga mohon maaf karena kurang mampu menjaga anak perempuan Saya hingga mungkin akan membuat rencana masa depan Beni yang telah disusun sejak awal akan berubah karena dia harus menikahi anak Saya secepat ini." kata Papa Adis dengan tenang.
"Alhamdulillah. Terimakasih banyak Bapak dan Ibu Hendarwan berkenan menerima niat baik anak kami." jawab Ayah Beni dengan raut wajah lega.
Satu masaalh besar telah bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan tak perlu harus menambah luka baru dalam kehidupan mereka.
Adis dan Beni menikah seminggu kemudian dan mereka berdua 'dipaksa' hidup mandiri berdua di paviliun rumah keluarga Adis yang sangat luas itu.
Adis dan Beni ' dipaksa' belajar jadi Ibu dan Bapak rumah tangga setelah mereka menikah.
Dan mereka menerima itu dengan lapang hati.
Toh memang seharusnya begitu.
Mereka sudah menikah, punya keluarga sendiri, maka sudah seharusnya mengurus rumah tangga mereka sendiri tanpa bantuan dan campur tangan orang tua.
Beruntung Beni selama ini sudah bisa mencari uang dengan menjadi MC dan penyiar radio.
Walau tak banyak,setidaknya dia bisa 'belajar' menafkahi istrinya.
Itulah konsekuensi dari perbuatan dan keputusan yang telah mereka ambil.
Tak ada sikap marah apalagi kebencian untuk mereka berdua dari orang tua saja sudah sebuah kebahagiaan tak terkira.
Kedua orangtua mereka tetap merengkuh mereka saja sudah sebuah keberkahan untuk mereka.
Dan saat pendaftaran mahasiswa baru, hanya Beni yang mendaftar kuliah.
Adis berencana kuliah tahun depan setelah anak yang dikandungnya lahir.
Walaupun orangtuanya tetap mengijinkan Adis kuliah di tahun itu juga, tapi Adis tetap memilih menundanya.
__ADS_1
Setidaknya satu tahun ke belakang dia akan bisa fokus di kehamilan dan ASI eksklusif anaknya nanti.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...