KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Fase


__ADS_3

Satrio menoleh sebentar ke samping saat di rasanya dibahunya telah bertumpu lengan Adis.


"Baru ngerjain apa? Serius banget wajahnya " tanya Adis sambil mengelus- elus pundak Satrio.


Matanya ikut menatap layar laptop di depan Satrio.


"Bikin surat pengunduran diri?" tanya Adis sedikit kaget.


"Iya. Kan kita mau bantuin Papa kan?" kata Satrio sambil membawa tubuh Adis -yang tadi duduk di tanganan kursi- ke atas pangkuannya.


Satrio memeluk sesaat tubuh wangi lembut Adis sekedar untuk kembali meneguhkan hati.


Sejujurnya berat sekali meninggalkan suasana kerja yang sudah sangat nyaman baginya.


Dari awal berusaha menulis surat pengunduran diri saja dia sudah setengah mati meneguh- neguhkan hatinya agar mampu walau kenyataannya matanya tetap saja berkaca- kaca saat membayangkan detik- detik dia nanti berpamitan dan menjabat tangan satu demi satu teman- temannya.


Cengeng banget gue .....


Adis mengelus lembut lengan Satrio.


"Berat ya mau resign? Kamu pasti udah nyaman kerja disana." kata Adis penuh pengertian.


"Berat banget. Tapi harus kan?" kata Satrio sambil berusaha tersenyum.


"Bismillah ya, Sayang. Allah pasti akan memudahkan semuanya karena kamu melakukan ini demi orangtua. Mumpung kita mampu dan masih diberi kesempatan untuk berbakti, Mas." kata Adis menguatkan.


Satrio mengangguk mengerti.


Ya, demi berbakti pada Papanya. Demi menyenangkan Mamanya.


Sudah teramat banyak dia mengecewakan dan menguji kesabaran dan pengertian orangtuanya selama ini.


Sekaranglah saatnya dia berhenti menyusahkan mereka.


Sekaranglah saatnya dia menunjukkan baktinya pada orangtuanya dan membuat mereka tak menyesal memiliki anak sepertinya.


"Bismillah... Boleh kamu menyingkir dulu, Mama cantik? Aku selesaikan ini dulu ya?" pinta Satrio meminta Adis berdiri dari pangkuannya.


Adis cemberut dibuatnya.


"Tadi yang bawa aku kesini siapa? Sekarang diusir." sungut Adis sambil memeluk leher Satrio erat.


Malah bikin acara baru nih orang....Bukannya bikin surat pengunduran diri malah bikin acara memajukan diri nih gue....


"Cepet selesaikan. Udah malem. Cepet tidur." kata Adis setelah mengecup pipinya kemudian berdiri dan berlalu menuju box Bian. Nampak dia menutup kelambu box kemudian menuju ranjang dan berbaring.


Satrio tersenyum mengikuti gerak- gerik istrinya itu.


"Nanti boleh sekali nggak, Yang?" tanya Satrio iseng.


"Enggak." jawab Adis sambil menyembunyikan senyumnya dibalik guling yang di peluknya.


"Kenapa?" tanya Satrio protes.


"Udah kamu ambil tadi pagi kan jatahnya?" goda Adis.

__ADS_1


"Tadi pagi bonus,Sayang. Bukan double." elak Satrio cerdik.


"Nggak ada promo bonus kayaknya." sahut Adis sambil tertawa.


Ada aja cara ngeles suaminya itu kalau urusan jatah.


"Ya udah, nanti deh bonusnya. Ekspress juga nggak papa. Enak juga kok. Yang penting dapet. Ya?" pinta Satrio memohon.


Adis tertawa mendengarnya.


Apa pula ekspress? Cepet- cepet gitukah? Bikin penasaran aja deh itu orang istilahnya....


"Iya deh. Ekspress ya, Mas." kata Adis yang membuat Satrio langsung tersenyum lebar.


Satrio tahu, Adis pasti penasaran dengan istilah ekspressnya tadi.


"Tunggu ya. Aku selesaikan bikin ini dulu. Nggak lama kok, Mama cantik." kata Satrio langsung bergegas memfokuskan pikirannya agar segera bisa merangkai kata- kata profesional untuk pengunduran dirinya.


🧚🧚🧚🧚🧚


Bu Rista cukup terkejut saat menerima surat pengunduran diri dari Satrio.


Beliau bahkan terdiam agak lama setelah membaca surat itu.


"Kenapa sebenarnya? Kelihatannya kamu nyaman disini lho, Sat." tanya Bu Rista lembut.


"Nyaman, Bu. Alhamdulillah. Tapi ya gimana lagi? Kalau saja bisa dibelah dua, mau Saya sebelah tetap disini dan sebelah di Jakarta." kata Satrio sambil tersenyum.


"Ini alasan yang real? Atau ada tawaran menggiurkan di Jakarta? Atau bisa kita evaluasi lagi soal salary mungkin?" tanya Bu Rista dengan tatapan penuh pengertian.


"Niat murni memang ingin membantu orangtua, Bu. Sepertinya memang sudah saatnya meringankan tugas Papa Saya mengelola usaha keluarga selama ini." kata Satrio meyakinkan.


Bu Rista menghela nafas pelan.


"Dengan berat hati aku terima suratmu ini, Sat. Tapi tolong beri waktu kami untuk nyari penggantimu ya. Atau kamu ada kenalan yang bisa kamu rekomendasikan? Boleh lho." kata Bu Rista penuh harap.


"Waktu Saya maksimal dua bulan lagi disini ,Bu. Saya harap sebelum dua bulan semoga sudah ada pengganti Saya. Atau kalau tiba- tiba besok atau seminggu lagi sudah ada pengganti, Saya siap langsung resign." kata Satrio serius.


"No....nggak mungkin besok atau seminggu lagi, Sat. Susah nyari yang sekelas kamu." kata Bu Rista sambil tertawa.


"Nanti Saya coba hubungi teman Saya kalau mungkin mau melamar kesini." kata Satrio kemudian.


"Ya, boleh! Makasih sebelumnya ya, Sat." kata Bu Rista gembira. Satrio mengangguk kecil.


"Ya sudah, Bu. Saya kembali kerja lagi ya. Terimakasih waktunya." pamit Satrio sambil beranjak berdiri kemudian keluar meninggalkan ruangan Bu Rista.


"Habis ngajuin resign?" tanya Lukas berbisik yang bertemu dengannya di depan pintu ruangan Lukas


"Iya." jawab Satrio sambil tersenyum kecil.


"Kowe tenanan to,Bro? ( Kamu beneran ya,Bro?) Sedih aku." kata Lukas dengan nada pilu.


"Jangan melas gitu wajahmu. Cuma bakal pisah tempat, bukan mau pisah alam kita." kata Satrio sambil menepuk pelan bahu Lukas.


Lukas mengangguk pelan.

__ADS_1


"Jangan pisah alam dulu lah, aku durung rabi.( aku belum nikah)." seloroh Lukas sambil nyengir.


"Kesuwen nunggu kowe rabi, Kas! Sakjane payu ora e kowe ki? ( Kelamaan nunggu kamu nikah, Kas! Sebenarnya laku nggak sih kamu tu?)" ledek Satrio yang mendapat tendangan yang mengarah ke betisnya.


Untung saja reflek Satrio bagus. Jadi tendangan Lukas hanya mengenai angin yang tak berdosa padanya.


"Wedus! ( kambing!)" umpat Lukas kesal. Satrio hanya terbahak sambil menaiki tangga menuju lantai dua kantornya.


🧚🧚🧚🧚🧚


Pak Susilo sedikit surprise mendengar cerita istrinya soal Satrio.


Tadi Bu Katarina bertelepon ria dengan Adis cukup lama.


Dari Adis Bu Katarina mendapatkan cerita kalau Satrio sudah mengajukan resign ke perusahaan tempatnya kerja walau mungkin baru bisa off dua bulanan lagi dan berniat bekerja di perusahaan papanya.


Adis juga bilang sempat melihat Satrio sangat sedih saat akan menulis surat pengunduran dirinya.


Bu Katarina juga bercerita tentang Widuri yang juga menceritakan hal yang sama padanya soal Satrio.


Walau Satrio bilang yakin akan memilih membantu Papanya, tapi Widuri melihat Satrio sedih walau Satrio nggak bilang.


"Kasihan Mas ya, Pa." kata Bu Katarina akhirnya.


"Karena sedih harus resign?" tanya Pak Susilo tepat menebak. Terlihat dari anggukan Bu Katarina sesudahnya.


"Lumrah itu. Jangan terlalu diambil hati. Semua orang pasti akan sedih meninggalkan tempat yang sudah membuatnya nyaman. Bukan hanya tempat kerja. Tapi juga lingkungan lainnya. Tapi semua itu salah satu fase yang harus dilalui oleh semua orang yang ingin bergerak maju. Satrio harus melewati itu." kata Pak Susilo tenang.


Bu Katarina mengangguk mengerti walau sedih.


Baginya, walau sudah menikah dan bahkan sudah punya anak, Satrio tetaplah anak manja kesayangannya. Pangeran kecil keluarga ini.


Ah,semua Ibu pasti berpikiran begitu pada anak- anaknya.


"Kamu harusnya bersyukur, Ma. Satrio berubah membaik secepat ini. Aku lega melihatnya. Kalau aku mati sewaktu- waktu, sudah nggak merasa sia- sia hidupku." kata Pak Susilo sambil tersenyum lega.


"Astagfirullahaladzim Papaaaaa....Ya jangan gitu juga ngomongnya! Aku nggak mau jadi janda muda!" seru Bu Katarina kesal.


Majalah yang ada di tangannya tanpa sadar dia banting ke samping.


Pak Susilo tertawa melihat istrinya yang cemberut.


"Dih, janda muda...Kamu tuh udah jadi nenek, Ma. Lupa umur?" ledek Pak Susilo yang membuat Bu Katarina tersipu malu.


"Habisnya kalau dekat kamu tu kayak merasa muda terus tau, Pa. Jadi lupa umur." kata Bu Katarina sambil terkekeh malu.


"Yang bener...? Happy dong hidup sama aku berarti?" tanya Pak Susilo sambil mendekat ke samping istrinya.


"Alhamdulillah iya. Aku bahagia sama kamu, Pa. Makasih ya..." kata Bu Katarina sambil merangsek ke pelukan suaminya yang membalas memeluknya erat.


"Sama- sama. Makasih juga nggak bosen sama aku yang cuek ini." kata Pak Susilo sambil terkekeh.


"Iya. Kamu nyebelin. Cuek sukanya ih." kata Bu Katarina seperti diingatkan pada sifat 'buruk' suaminya itu.


"Lhoh, kok kayak yang diingetin?" ledek Pak Susilo sambil terkekeh.

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2