KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Bertamu Sebentar


__ADS_3

Semua mata menatap penuh tanya dan cemas ke arah Didit yang langsung menatap Satrio tanpa ekspresi.


Mampus gue.....Mampus gue....


"Sini bentar, Sat." panggil Mas Didit yang langsung mendapat tatapan semakin kepo dari yang lain.


Satrio bergegas mengikuti Didit yang mojok di sudut kulkas.


"Gimana, Mas? Adis udah bisa tenang?" tanya Satrio cemas.


"Udah." jawab Mas Didit sambil tersenyum. Raut lega dan bahagia langsung muncul di wajah Satrio.


"Alhamdulillah..." gumamnya.


"Nggak nyangka si Panjul sesadis itu merlakuin Adis. Aku rasanya pengen ngebunuh dia." gumam Mas Didit dengan wajah merah padam menahan marah dan tangis.


"Adis tadi mau cerita dia diapain aja?" tanya Satrio penasaran.


Selama ini Satrio memang sangat menahan diri untuk tidak bertanya soal kekerasan yang pernah dilakukan Panji pada Adis karena dia nggak tega nanyanya.


"Iya. Aku pancing dengan pertanyaan dia akan takut kalau diapain aja. Dia bilang takut di tarik, takut di dorong, takut di cekik...Ya Allah..." kata Mas Didit dengan gemetar.


Satrio merasa hatinya hancur saat ini.


Adis sayang.....


"Katanya...dia...dia... takut kalau dipeluk terus di lempar ke dinding..." kata Mas Didit sudah dengan berlinang airmata.


Dia bahkan langsung melorot duduk berjongkok sambil menunduk dan terisak.


"Aku ini kakak macam apa sampai nggak tahu adikku diperlakukan sebiadab itu sama ba ji ngan itu?" ratap Didit sambil terisak- isak menyalahkan dirinya sendiri.


Tangannya mengacak kasar rambut dan wajahnya sendiri.


Satrio hanya mampu menepuk- nepuk pelan bahu Didit untuk mencoba menenangkan.


Dia mengerti sesedih dan semarah apa Mas Didit saat ini.


Dia sendiri diam- diam menyusut cepat buliran airmata yang merayapi pipinya.


"Adis masih di kamar?" tanya Satrio kemudian. Mas Didit menggeleng.


Dia hampir saja lupa maksud utamanya memanggil Satrio barusan.


"Dia nunggu kamu di taman belakang." kata Mas Didit setelah berhasil mengatur emosinya.


"Beneran? Nunggu aku?" tanya Satrio tanpa bisa menyembunyikan kegirangannya.


"Iya. Dia bilang pengen ketemu kamu. Tapi ada syaratnya." kata Mas Didit memudarkan senyum yang baru saja terbit di bibir Satrio.


"Apa?" tanya Satrio kemudian.


"Jangan mendahului menyentuhnya. Atau gunakan caramu yang sebelumnya, minta ijin dulu kalau mau menyentuhnya. Ya mungkin dengan seperti itu biar dia nggak akan kaget kalau ada warning dulu." kata Mas Didit. Satrio mengangguk mengerti.


"Tolong bersabarlah menghadapinya." kata Mas Didit dengan sorot mata memohon.


"Tentu saja. Trust me." kata Satrio meyakinkan.


"Ya udah sana kalau mau ketemu. Tapi ingat bener ya, Sat. Pelan- pelan." pesan Mas Didit serius.


Satrio mengangguk mantap.


"Para orangtua menunggumu untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Adis. Aku nggak bisa ngomongnya." kata Satrio sambil meringis keki.


"Ya. Memang sepertinya lebih baik semua diberi tahu agar lebih banyak yang bisa membantu memulihkan kondisi psikis Adis." kata Mas Didit bijak. Satrio mengangguk setuju.


Satrio segera melesat menuju taman mungil di belakang rumah Adis.


Ini pertama kali dia akan berada di taman belakang rumah itu saat malam hari.


Suasananya sangat temaram. Bahkan nyaris gelap karena hanya ada satu lampu di sudut pagar sana.


Biasanya dia dan Adis hanya duduk ngobrol di teras depan atau kadang di depan tv di ruang tengah bareng Mbak Yanti.


Satrio menghentikan langkahnya di depan pintu saat dilihatnya Adis memeluk lututnya yang nangkring di atas sofa rotan elastis.


Satrio segera memasang senyum saat Adis menoleh ke arahnya begitu menyadari ada seseorang di arah pintu.


Dengan langkah santai Satrio mendekat.


Adis nampak sedikit salah tingkah melihat Satrio yang nampak bersikap biasa- biasa saja.


"Udah tenang?" tanya Satrio lembut sambil berdiri di depan Adis yang mendongak melihatnya. Kedua tangannya dia sembunyikan di saku celananya agar nanti tak nyelonong tanpa sadar menyentuh Adis.


Adis mengangguk pelan.


Satrio tersenyum senang dan haru saat tiba- tiba Adis melingkari pinggangnya dengan kedua lengannya.


Wajahnya bersandar di perut Satrio.


"Kenapa ini?" tanya Satrio meledek sambil mengelus lembut pipi Adis.


Sumpah, Satrio kaget sendiri saat dirasanya bulu- bulu di tubuhnya langsung meremang saat jemarinya mengelus pipi Adis.


Wah, norak nih gue....Payah nih kalo kayak gini...Cuma ngelus pipi doang udah oleng gini pikiran gue....


"Maaf ya, Mas..." kata Adis pelan.


"Iya. Nggak papa. Aku yang harusnya minta maaf karena sembrono tadi. Bikin kamu takut.Maaf ya..." kata Satrio sambil mengelus pelan kepala Adis.


"Kamu nggak marah aku usir tadi?" tanya Adis sambil mengangkat wajahnya dari perut Satrio.


"Enggak. Kenapa? Takut ku tinggal pulang ya?" ledek Satrio.

__ADS_1


"Enggak." jawab Adis santai.


"Eh,nggak takut ku tinggal nih?" tanya Satrio tak terima.


"Takutnya nggak boleh ketemu Bian." kata Adis sambil tersenyum.


"Bohong tuh! Bian kan mirip bapaknya ini. Aslinya takut aku tinggalin tuh..." ledek Satrio sambil menowel- nowel pipi Adis dengan telunjuknya.


"Enggak iiih!" sahut Adis malu kemudian menyambar telunjuk Satrio dan menggigitnya.


"Awww....awwww....Sakit iniiii!" teriak Satrio sambil meringis kesakitan.


"Ih lebay banget! Orang aku nggak gigit pakai gigi tadi." kata Adis sambil menepuk lengan Satrio tanpa tenaga.


"Geli tau!" bisik Satrio sambil menunduk ke dekat telinga Adis.


Pipi Adis merona saat dirasanya hembusan nafas Satrio menyapa pipinya.


"Bian rewel nggak ya tadi?" tanya Adis setelah Satrio beringsut duduk di sebelahnya.


"Kurang tahu. Dari tadi aku belum nanya susternya." jawab Satrio malu- malu.


Bapak macam apa dia ini?!


"Astagfirullahaladzim..... Orangtua macam apa kita ini,Mas?! Seharian nggak ngurusin Bian sama sekali lhoh! Coba tolong telpon Mbak Novi sebentar,Mas." kata Adis panik.


Satrio melongo melihatnya.


Memangnya emak- emak harus seheboh itu ya kalau menyangkut anak?


"Besok aja. Ini udah malem. Palingan juga udah tidur semua mereka." kata Satrio santai.


Adis mendengus kesal.


"Nanti kalau Bian rewel gimana? Kasihan." kata Adis sedih.


"Dia kan ada Suster yang jagain. Susternya juga udah pro kok. Tenang saja. Hari ini kita libur dulu ngurusin Bian. Ini kan hari besar kita." kata Satrio bergaya mengingatkan.


"Mana ada libur jadi orangtua?! Ngawur aja." sahut Adis cepat dengan wajah kesal.


Satrio meringis salah tingkah.


"Ya udah....Nih kalau mau nelpon." kata Satrio sambil mengulurkan ponselnya pada Adis.


Adis hanya menatap keheranan pada Satrio dan tak juga menerima ponsel itu.


"Kok malah dikasihin aku? Kamu aja yang nelpon,Mas. Kan ponselmu." kata Adis akhirnya.


"Kamu aja. Males tengah malem nelpon cewek. Udah berumur pula." kata Satrio sambil nyengir.


Adis hanya mencibir lalu menerima ponsel itu.


"Dikunci..." kata Adis sambil menatap Satrio.


Adis segera melakukan panggilan setelah menemukan nama yang disebutkan oleh Satrio.


Tak perlu menunggu lama, panggilan segera diangkat.


"Assalamualaikum, Mbak." kata Adis saat di dengarnya sapaan dari seberang.


Adis tersenyum saat samar- samar di dengarnya celotehan Bian.


"Iya. Ini nomernya Mas Satrio. Bian belum tidur?" tanya Adis kemudian.


"....."


"Tapi beneran nggak rewel kan?" tanya Adis lagi.


"....."


"Alhamdulillah kalau gitu. Sebentar lagi aku ambil Biannya." Satrio menolehkan kepalanya ke arah Adis yang tak perduli.


Kok malah punya ide ngambil Bian malem ini sih?


"......."


"Serius besok pagi aja? Nanggung resiko nggak tidur lho..." kata Adis sambil mengulum senyum.


"......"


"Ya udah kalau gitu. Titip buat malem ini aja ya, Mbak. Ya udah kalau gitu. Makasih. Assalamualaikum." Adis tersenyum lega sambil mengulurkan ponsel ke arah Satrio.


"Ternyata Bian anak yang baik banget. Dia nggak rewel sama sekali katanya. Susternya aja langsung jatuh cinta sama dia." kata Adis sambil tersenyum menerawang membayangkan Bian yang berceloteh riuh nggak jelas.


"Bapaknya aja sebaik ini kok. Like son like father you know?" kata Satrio sambil mengerling.


"Aamiin untuk kebaikannya. Untuk hal jeleknya jangan." kata Adis sambil tertawa mengejek


"Oh iya! Jangan sampai niru kalau yang jelek-jelek. Bisa mewek- mewek nanti mamanya ini." kata Satrio sambil mengerling genit.


"Ish...apaan sih?!" sungut Adis malu- malu.


"Boleh pinjam tangannya, Mama Adis?" tanya Satrio sambil mengulurkan tangan kirinya.


Adis tersenyum kemudian mengulurkan tangan kanannya.


Satrio menggenggamnya lembut.


"Mulai hari ini sampai salah satu dari kita pulang, janji ya, kita akan selalu begini setiap malam. Saling menggenggam tangan." kata Satrio sambil menatap lembut pada Adis.


"Walau lagi marahan?"


"Iya. Walau lagi marahan nggak boleh nolak kalau mau di genggam tangannya." kata Satrio.

__ADS_1


"Janji?!" tanya Adis menuntut.


"Janji!" jawab Satrio sambil mengangguk.


"Aku suka kalau digenggam seperti ini." kata Adis sambil menatap tangan mereka yang saling menaut.


"Kenapa?"


"Merasa selalu di temani. Merasa aman dan dilindungi." kata Adis sambil tersenyum.


"Aku juga suka bergenggaman seperti ini denganmu. Aku merasa dimiliki,dan merasa pulang yang sesungguhnya. Pulang kepadamu seutuhnya." kata Satrio sambil tersenyum.


"Mau peluk suamimu nggak?" tanya Satrio sambil merentangkan tangannya.


Adis mengangguk namun matanya masih terlihat ragu dan khawatir.


"Kamu yang peluk aku..." kata Satrio sambil tersenyum mencoba meyakinkan Adis.


"Jangan kenceng peluknya. Nanti aku takut." kata Adis setelah memasukkan dirinya sendiri kepelukan Satrio.


"Enggak...Aku nggak peluk kamu. Kamu aja yang peluk aku. Aku kan memang pelukable." kata Satrio tenang sambil merangkul pinggang Adis lembut.


Adis mencubit kecil pinggang Satrio sampai suaminya itu meringis kesakitan walau tetap tak melepaskan tangannya yang merengkuh pinggangnya lembut.


"Maaf ya Mas kalau aku nanti selalu nyusahin kamu." kata Adis pelan.


"Memangnya kamu punya rencana mau nyusahin aku gimana?" tanya Satrio sambil terkekeh.


"Ya nggak ada rencana! Tapi kan aku kayak gini sekarang. Pasti akan nyusahin kamu nanti kalau traumaku tiba- tiba muncul kayak tadi atau lebih serem lagi." kata Adis.


"Emang pernah lebih serem dari tadi?" tanya Satrio sambil mengangkat dagu Adis lembut agar bisa menatap matanya.


"Enggak." jawab Adis sambil menggeleng.


Terlihat lucu karena dagunya masih dikuasai oleh jemari Satrio.


"Berarti tidak akan pernah ada yang lebih serem lagi. Dan tidak akan ada lagi rasa takut selama kamu selalu percaya kalau kamu sekarang ada bersama orang- orang yang akan selalu menjagamu. Dan aku akan selalu jadi penjaga utamamu sampai aku mati nanti." kata Satrio lembut.


Adis mencoba membalas tatapan lembut dan semakin sayu itu.


Entah karena cuaca malam yang semakin dingin, atau karena perasaan aneh yang tiba- tiba melingkupi hatinya. Adis merasakan sekujur tubuhnya meremang.


Sesuatu terasa bergolak resah di ulu hatinya.


"Kamu cantik sekali ternyata." gumam Satrio tanpa berkedip.


Adis meluruhkan pandangannya karena malu.


Namun usapan lembut ibu jari Satrio dibibirnya membuatnya kembali menatap mata lelaki yang telah jadi suaminya.


Badannya terasa panas dingin sekarang. Rasanya ingin melepaskan diri dari pelukan hangat lengan Satrio. Namun anehnya dia merasa tak punya daya.


Senyum lembut dan seperti tak berdaya itu membuatnya tak sampai hati bila harus meninggalkan lelaki itu sendirian menikmati kehangatan ini.


Tak sampai hati atau dia tak mau? Entahlah.


"Apakah boleh aku bertamu sebentar disini?" tanya Satrio dengan suara bergetar. Jarinya mengelus lembut kedua bibir Adis yang nampak gemetar gelisah.


"Boleh?" tanya Satrio lagi.


Dengan jantung berdegup ketakutan, tanpa sadar Adis mengangguk.


Isi perutnya serasa diaduk sebelum bibir Satrio menyentuh bibirnya sangat lembut.


Amat sangat lembut.


Tanpa tekanan sama sekali.


Dan ajaibnya semua rasa mual dan perut yang terasa diaduk tadi berganti menjadi lautan kupu- kupu.


Satrio menge cup bibir Adis dengan lembut beberapa kali. Untuk memastikan tak ada penolakan untuk tindakannya.


Setelah dia yakin Adis tak menolak aksinya, dengan keahliannya yang telah bergelar master dalam hal membuai perempuan , Satrio mulai intens me lu mat gerbang mungil ke nyal berwarna oranye lembut itu.


Satrio bertindak sangat lembut. Sangat pintar membuat Adis merasa nyaman dan bisa menikmati.


Setelah cukup lama mereka ber pa gu tan, Satrio dengan lembut melepaskan bibirnya.


Dengan sangat jelas Satrio bisa menangkap sorot kecewa di mata Adis.


"Malam ini segini dulu ya. Aku takut nggak bisa nahan yang di bawah." kata Satrio lembut sambil menunjuk dimana pusakanya berada.


Adis mengangguk malu, membuat Satrio terbahak penuh kemenangan di dalam hati.


"Suka?" tanya Satrio sambil menatap Adis riang.


"Apa?" tanya Adis bingung.


"Ci u manku... Suka nggak?" tanya Satrio berbisik.


"Suka." jawab Adis sangat pelan sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Satrio yang langsung tertawa.


Ini baru opening, Dis....Bisa kupastikan kamu nggak cuma akan bilang suka kalau kamu sudah menikmati main menu bersamaku.


"Dan kamu bisa mendapatkannya kapan saja kamu mau kalau kamu suka." kata Satrio sambil mengelus- elus bahu Adis.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Puanjaaaaaaaang yaaaaaaa.....😄😄😄😄


Nggak kerasa nulis sambil cengar- cengir sampai 1940 kata untuk part ini.


Semoga yang baca nggak ngantuk deh 🙈

__ADS_1


Happy reading semuanyaaaaa....💖💕


__ADS_2