KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Syarat


__ADS_3

Kedatangan keluarga Buwono yang mengantar Reta pulang sekalian beranjangsana di sambut ramah oleh keluarga Hendarwan.


Setelah makan malam bersama dengan menu yang sengaja disajikan seadanya saja - dan keluarga Buwono senang- senang saja menikmatinya- dua keluarga itu kini terpecah menjadi tiga kelompok.


Dua ibu- ibu beserta dua cucu asik bercengkerama di meja makan sambil sesekali ditimpali tingkah lucu Reta dan Cleo membicarakan tentang keseharian masing- masing.


Dua bapak- bapak senior sudah memposisikan diri di teras depan dan siap siaga di dua sisi lapangan catur dengan obrolan yang cenderung serius.


Kubu generasi kedua kumpul di depan televisi sambil haha hihi dengan tema pembicaraan acak dengan sesekali memperhatikan dua bocil yang sedang dalam kekuasaan neneknya.


Malam itu hangat dan lebur.


Tak ada kecanggungan dan jarak yang tercipta di antara kedua keluarga itu.


Dan itu sangat melegakan Adis. Membuatnya merasakan keharuan yang sangat dalam di hatinya.


Melihat mamanya dan Bu Katarina bercengkrama dengan hangat dan seru seolah mereka adalah sahabat lama membuat Adis diam- diam tersenyum lega.


Melihat langsung interaksi Reta pada Bu Katarina dan Wira yang baru pertama kali mereka bertemu namun Reta begitu tanpa jarak dan sungkan, itu juga membuat Adis keheranan dalam hati.


Anaknya itu terlihat begitu nyaman saat tadi berada di tengah keluarga Satrio.


Ya Allah, apakah ini benar kebahagiaan untuk kami berdua? Penerimaan senyaman ini?


Adis rasanya bermimpi mendapati kenyataan di depan matanya ini.


Menjelang pukul sepuluh, dua senior kembali masuk ke dalam rumah dan membuat yang lain mendekat.


Saatnya untuk berpamitan pulang rupanya.


Reta dan Cleo sudah nyenyak di peraduan mereka sejak tadi


"Kita duduk dulu sebentar. Sebelum pamit ada yang ini kami sampaikan dulu." kata Pak Susilo sambil menatap Pak Hendarwan dengan tersenyum.


"Saya saja yang ngomong ya,Pak?" tanya Pak Susilo meminta ijin pada Pak Hendarwan yang kemudian mengangguk mempersilakan.


Satrio sudah mulai deg- degan melihat gelagat Papanya yang tadi sempat ditangkapnya saling pandang dengan mamanya seperti memberi kode.


Wira yang duduk bersedekap di sampingnya dengan usil menusuk- nusuk pinggang Satrio dengan telunjuknya. Membuat Satrio pengen membanting adiknya itu di atas matras.


"Alhamdulillah, hari ini dua keluarga kita bisa berkenalan dengan formasi lengkap. Benar- benar sebuah ketidaksengajaan yang rasanya kebetulan banget. Nah mumpung kita bisa ketemu semua, ngumpul komplit begini,nggak ada salahnya kita sama- sama memikirkan sepasang insan yang membuat dua keluarga ini akhirnya bisa berkenalan." kata Pak Susilo sedikit berputar namun intinya menunjuk pada Satrio dan Adis.


Satrio semakin deg- degan.


Ini jelas nggak ada dalam skenario kunjungan mereka ke sini malam ini.


Ditatapnya Adis yang kini menundukkan wajahnya.


"Tadi papa cuma baru ngobrol aja, Sat, belum berani membicarakan secara serius soal kamu dan Adis. Nah sekarang kami mau tahu dari kalian berdua, kalian punya rencana ke pernikahan nggak? Atau cuma mau begini- begini aja sampai Reta gede?"" tanya Pak Susilo sudah mulai menunjukkan wajah usilnya.


Satrio mendengus dalam hati.


Bener kan, begini akhirnya....


Satrio melirik ke kanan dan ke kiri melihat tatapan semua orang di sekitarnya yang nampak tersenyum- senyum menatapnya tak sabar.


"Kalau aku punya,Pa. Pengen nikahin Adis.Tapi terus terang saja,kami berdua belum pernah membicarakan itu secara serius." jawab Satrio akhirnya sambil melirik Adis yang nampak mengatupkan bibirnya erat.


"Kalau kamu punya bayangan pengen jadi istrinya Satrio nggak,Dis?" tanya Pak Susilo sambil menatap Adis yang semakin dalam menunduk.


Hening.

__ADS_1


Semua mata menatap ke arah Adis yang malah sibuk menautkan jari- jemarinya di atas pangkuannya tanpa henti.


"Dis..." bisik mamanya sambil menyentuh lengannya karena sudah beberapa menit berlalu dan Adis tak juga menjawab.


Adis mengangkat wajahnya dan menatap Satrio yang ternyata menatapnya penuh kecemasan dan pengharapan.


Adis tersentuh melihat tatapan itu.


Menjadi istri pria usil itu? Menghabiskan sisa umurnya disisi pria yang mampu memberinya rasa aman dan nyaman seperti papa dan mas Didit?


Pria tengil namun lembut hati.


Lelaki yang sebelumnya pernah menikmati banyak tubuh perempuan.


Sanggupkah dia mengimbangi pria itu kelak?


Bisakah dia terus membuat nyaman pria itu disisinya?


"Sepertinya Adis keberatan dengan pembicaraan ini. Sebaiknya tidak perlu kita lanjutkan lagi." kata Satrio akhirnya dengan tersenyum.


Semua wajah nampak tegang dan kecewa walau tak ada yang ingin bersuara.


Wira merasakan iba pada kakaknya itu.


Mungkin si mantan Casanova kali ini merasakan terluka hatinya.


Adis menangkap sorot mata terluka di tatapan Satrio padanya walau bibir itu nampak tersenyum riang.


"Bukan seperti itu. Saya tadi hanya ingin meyakinkan hati Saya dulu. Maaf kalau terlalu lama." sahut Adis sebelum terjadi salah paham dan kekecewaan.


Wajah- wajah tegang dan kaku yang baru saja tercipta langsung mengendur begitu Adis berbicara.


Ditatapnya putri kesayangannya itu dengan sayang.


Putri kecilnya yang harus mengalami kenyataan pahit diusianya yang masih muda.


Putri kesayangannya yang membuatnya terus berdoa agar segera dipertemukan dengan seseorang yang akan melindungi dan menyayanginya seperti dia melindungi dan menyayangi dengan segenap jiwa raganya.


"Saya ingin bisa mendampingi hidup Mas Satrio suatu hari nanti." kata Adis lirih sambil menunduk.


Satrio menatap Adis tanpa bersuara.


Tanya sadar airmata menetes menyusuri pipinya.


Semua hanya mampu menatap haru pada keduanya.


Wira kemudian menepuk- nepuk bahu Satrio yang bergegas menghapus airmatanya.


Bisa dipastikan nanti Wira akan menghabisinya mati- matian.


"Baik kalau begitu. Kita sudah tahu arah pasti hubungan kalian berdua. Kami semua hanya mengawal dan menunggu kapan kalian siap menikah. Kalau kami orangtua sih maunya sesegera mungkin saja. Biar Satrio semakin terkendali sih." kata Pak Susilo sambil terkekeh.


Memangnya aku kuda, harus terkendali?


"Kita sudah terbuka semuanya ya? Soal keadaan Adis kami sekeluarga sangat tidak mempermasalahkan. Dan terimakasih juga keluarga Pak Hendarwan mau menerima keburukan Satrio di masa lalu yang mungkin saja akan ada imbasnya di masa depan." kata Pak Susilo yang disambut anggukan penuh pengertian oleh keluarga Adis dan tatapan bingung Satrio.


*Maksudnya apa nih, 'keburukannya di masa lalu dan mungkin ada imbasnya di masa depan?'


Jangan bilang kalau keluarga Adis tahu kenakalannya di masa lalu ya*...


Tapi tepukan Mas Didit di pahanya sepertinya memberi jawaban 'iya' pada dugaan Satrio.

__ADS_1


Oh my God!


"Kami tidak menginginkan pertunangan. Kalau kalian berdua sudah yakin ingin menikah, langsung menikah saja. Buang- buang waktu saja pakai tunang- tunangan segala. Nggak ada ajarannya juga di agama kita." kata Pak Hendarwan sambil menatap Pak Susilo mencari dukungan yang dibalas anggukan oleh Pak Susilo.


"Tapi Om punya syarat buat kamu, Sat." kata Pak Hendarwan sambil menatap Satrio yang langsung menambah tegak duduknya.


"Sebelum kamu melamar resmi Adis, kami ingin kamu harus mengkhatamkan Qur'an dulu." kata Pak Hendarwan membuat Satrio terpaku.


Khatam Qur'an? Setebal itu? Masih inget nggak ya gue sama huruf Arab?


"Sanggup nggak?" tanya Pak Hendarwan kemudian.


Satrio mengangguk mantap begitu saja.


"Berapa lama waktu saya harus mengkhatamkan Qur'an, Om?" tanya Satrio kemudian.


"Terserah kamu saja. Cepat boleh, santai boleh." jawab Pak Hendarwan santai.


"Laporkan bacaan tiap juz nya pada Didit." kata Pak Hendarwan kemudian.


Satrio dan Didit kemudian mengangguk.


"Syarat lainnya ada lagi?" tanya Pak Susilo.


"Ada." jawab Pak Hendarwan cepat.


"Apa?" tanya Satrio takut- takut.


"Yakinkan kami kalau Adis dan Reta akan selalu aman dan nyaman bersamamu." kata Pak Hendarwan kemudian.


Satrio mengangguk mantap.


"Akan Saya pastikan itu,Om." kata Satrio tenang namun mantap.


"Selebihnya kami hanya ingin kalian bisa hidup saling berdampingan dan saling menguatkan. Tak ada yang direndahkan dan dimuliakan. Kalian saling melengkapi dan saling memperbaiki." kata Pak Hendarwan yang mendapat anggukan Adis dan Satrio.


"Oke! Selesai urusan kalian berdua. Kita bisa bubar sekarang." kata Pak Susilo kemudian.


Semuanya berdiri dan saling mengucap kata perpisahan dan terimakasih untuk kebersamaan malam itu.


"Kami pamit pulang dulu, calon besan." kata Pak Susilo sambil tertawa, yang disambut tawa renyah tuan rumah.


""Alhamdulillah sudah punya gelar baru. Calon besan." kelakar Pak Hendarwan sambil mengiringi tamu special keluarganya malam ini keluar dari rumahnya.


"Assalamualaikum calon istri." bisik Satrio sambil melewati Adis yang meliriknya malu.


"Wa'alaikumussalam." jawab Adis pelan.


"Nggak pakai calon suami?" ledek Wira yang berdiri di belakang Satrio.


"Nggak usah." jawab Adis sambil tertawa malu.


"Malu ya punya calon suami bentukannya kayak dia?" ledek Wira membuat Satrio mendelik kesal dan Adis tertawa.


"Nggak. Aku suka punya calon suami keren kayak dia." jawab Adis sambil menatap meledek pada Satrio yang tersipu malu.


"Dih, dia tersipu- sipu! Menggelikan!" ejek Wira menatap jijik pada Satrio.


"Gue hajar lu!" bisik Satrio sambil menatap Wira dengan tatapan membunuh.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2