
Satrio mencium kening Bian setelah meletakkannya di box bayi yang terletak di sudut kamar tidur mereka.
Anaknya itu tertidur dengan cepat di pangkuannya tadi sambil memegang dotnya.
"Sehat selalu ya, Jagoan. Jadi anak yang baik ya..." bisik Satrio dengan tatapan haru dan perasaan sendu.
Seharusnya anak sekecil ini masih harus menikmati ASI nya, bukan mendekap botol susu sampai tertidur.
Tapi takdir anaknya ini berbeda.
Mama kandungnya yang memiliki ASI harus pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Walaupun begitu anaknya ini sangat beruntung karena selalu dikelilingi oleh orang- orang yang menyayanginya.
Dan kasih sayang Adis, semoga seterusnya bisa memenuhi semua kekosongan tempat seorang ibu bagi Bian.
Seperti halnya Satrio yang akan berusaha menjadi ayah yang sesempurna mungkin bagi Reta.
"Dari tadi kamu keliatan melow kalau ngeliatin Bian lama- lama. Kenapa? Inget mamanya?" tanya Adis yang kini berdiri di samping Satrio sambil ikut menatap Bian.
"Bukan. Bukan inget mamanya point nya. Cuma merasa kasihan aja sama Bian. Masih kepikiran gimana saat dia ada di kandungan dulu. Apa mamanya memperlakukan dia dengan baik dari awal. Apa dia sempat ingin dibuang sama Mamanya karena dia anak haram...."
Adis cepat menutup mulut Satrio dengan telapak tangannya,kemudian menyeret Satrio agar duduk di ranjang mereka
"Jangan sekali- kali mengucapkan kata itu pada anak- anak. Mereka nggak pantas mendapat julukan seperti itu. Yang haram itu perbuatan orang tuanya. perbuatan kita. Mereka nggak seharusnya mendapatkan julukan itu." kata Adis sedih.
Sebutir airmata bahkan sudah bergulir dipipinya.
Dia ingat Reta.
Anaknya itu tak jauh beda dengan Bian. Ada sebelum orangtuanya menikah.
Satrio memeluk erat tubuh Adis.
Terbayang di benaknya bagaimana nanti kalau Bian mendengar cibiran orang- orang bahwa dia anak haram? Anak hasil perbuatan tercela sepasang anak manusia yang tidak takut dosa.
Bagaimana dia akan membela diri di depan anaknya kelak kalau Bian menyalahkannya?
"Aku menyesal sekali...." kata Satrio dengan lirih dan suara pilu.
Adis hanya menepuk- nepuk lembut punggung suaminya itu.
Dia mengerti bagaimana perasaan Satrio saat ini. Diapun mengalami perasaan yang sama.
dia pun merasakan ketakutan yang sama.
Pun juga merasakan malu yang sama besarnya atas perbuatannya di masa lalu.
"Kita hanya bisa selalu bertobat, Mas. Lalu memberi pendidikan agama dan moral yang sebaik mungkin pada anak- anak.Cukup kita saja yang melakukan kebodohan itu. Mereka jangan sampai." bisik Adis lembut, berusaha menenangkan Satrio dan dirinya sendiri juga.
Satrio mengangguk pelan.
"Kamu lapar nggak?" tanya Adis setelah mereka diam sejenak.
Satrio mengangguk setelah dirasanya perutnya keroncongan.
Tadi Adis sudah menawarinya makan malam, tapi dia masih memilih asik bermain dengan Bian.
"Ya udah kita makan yuk. Udah malem ini." ajak Adis sambil menarik tangan Satrio.
Bukannya ikut berdiri, Satrio malah menarik Adis hingga tubuhnya terjatuh di pangkuan Satrio.
"Makan dulu...jangan bikin acara aneh- aneh kalau laper tuh..." kata Adis sambil menutupi wajah Satrio yang sudah tersenyumlah- senyum sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Adis.
Tangannya langsung nyelonong masuk ke dalam rok panjang Adis kemudian membelai paha mulus Adis, membuat Adis terpekik kaget dengan kelakuan itu.
"Ih,bikin merinding!" sungut Adis sambil memegang lengan Satrio agar berhenti mengelus pahanya.
Tapi bukannya berhenti, tangan Satrio berpindah ke paha sebelah dan membuat gerakan yang sama.
"Makan dulu, Mas." kata Adis sambil mencoba berdiri dari pangkuan Satrio tapi tentu saja tak bisa karena pinggangnya berada dalam tawanan sebelah lengan Satrio.
__ADS_1
"Kamu lapar?" tanya Satrio kemudian mencium pipi Adis.
"Lapar. Banget." jawab Adis sambil mengangguk.
"Ya udah kita makan dulu."
Adis tersenyum senang dan bergerak hendak bangkit dari pangkuan Satrio.
"Tapi aku mau cium dulu." kata Satrio yang langsung memarkir bibirnya di depan bibir Adis dengan sangat mepet karena ujung bibir keduanya sudah saling bertegur sapa.
Tanpa menjawab Adis menempelkan bibirnya ke bibir yang sudah mengucap salam kehadiran itu.
Mendapat respon seperti yang diharapkan, Satrio tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan perlahan namun pasti dikuasainya bibir segar serupa kelopak mawar di pagi hari.
Meski hasratnya sudah di ubun- ubun, Satrio berhasil menguasai dirinya agar tetap slow motion agar Adis tidak merasa tertekan apalagi sampai merasa di serang, yang ujung- ujungnya malah akan membuat Adis kembali merasa ketakutan.
Dan nyatanya buah dari ketelatennya memang sangat menyenangkan.
Tanpa protes sedikitpun Adis sudah terhanyut dalam pusaran gelombang hasrat yang dihadirkan oleh Satrio.
Mereka sudah tidak lagi duduk di pinggir ranjang seperti awal mereka berciuman tadi.
Mereka sudah memaksimalkan fungsi ranjang dengan sangat baik.
Rengekan manja Adis agar merasa lebih nyaman menikmati sesi percintaan mereka sudah Satrio turuti semuanya.
"Lampunya tolong matiin,Mas."
"Pintu kamar belum di kunci, Mas."
"Selimutnya jangan jauh- jauh."
Bawahanku jangan di buka."
Semua mau Adis dia turuti dengan senang hati.
Direlakannya semua bagian atas tubuhnya untuk memanjakan kekasih hatinya itu, tanpa menolak sedikitpun. Bahkan de sa han nya semakin membuat Satrio semakin bersemangat bekerja bukan hanya dengan tangannya saja, tapi juga dengan bibirnya.
Menyentuh setiap jengkal tubuh polos dengan kelembutan sentuhan dan ke cu pan panas bibirnya.
Satrio akan mencoba menggiring istrinya itu kepada kepuasan batinnya tanpa harus memasukinya.
Sedang hasratnya sendiri? Nanti tak apa.
Bila sang merpati cantik sudah merasa dipenuhi dengan cinta, maka cinta yang lebih besar akan dia berikan tanpa diminta.
Bila sudah merasa dipuaskan, maka memuaskan akan dia lakukan tanpa diminta bahkan pasti akan memberi lebih. Satrio yakin itu.
Dan misi Satrio memberi kepuasan pada istrinya nampaknya sudah akan mencapai garis akhirnya.
Nafas Adis terdengar semakin berat dan memburu. Bahkan dia mulai merengek meminta pendakian hasratnya tak terjeda oleh apapun.
Dengan skill tingkat tinggi Satrio bisa membuat Adis melenting hingga ke langit tertingginya meski hanya dengan menggunakan kecakapan bibir dan tangannya.
Luar biasa!!!
Di dekapnya tubuh Adis yang masih menggigil karena serangan hasrat yang menggila belum usai sepenuhnya.
Istrinya itu bahkan kini menyesapi dadanya dengan rakus.
Satrio ikut menikmatinya dengan tenang.
Dibiarkannya Adis cooling down dengan caranya sendiri.
"Suka?" bisik Satrio setelah dirasanya deru nafas Adis sudah mulai tenang di dekapannya.
Tubuh atas keduanya saling melekat tak berpenghalang seulas benangpun.
Satrio bisa merasakan kenyalnya hidden apple menempel cantik di dadanya.
__ADS_1
"Hmmm..." jawab Adis malu walau seketika darahnya kembali menghangat saat mengingat lautan kenikmatan yang dia rasakan beberapa menit lalu.
"Enak?" tanya Satrio lagi sambil menggigit gemas telinga Adis. Adis menggeliat kegelian dibuatnya.
"Banget! Kamu beneran pinter nyenengin cewek ya..." kata Adis antara memuji dan menghujat.
"Sekarang adanya nyenengin istriku aja. Apa aja buat kamu." kata Satrio sambil mengeratkan pelukan sebelah lengannya.
Tangannya yang bebas mulai kembali bergerilya mengitari hidden apple dengan lembut.
"Mau lagi nggak?" tawar Satrio sudah mulai mengecupi pundak putih yang wangi lembut itu.
"Sekarang giliran kamu yang aku senengin. Masak aku lagi." kata Adis sambil membelai sisi wajah Satrio yang terpejam menikmati sentuhan seksi itu.
"Sayangnya Juminten belum bisa ketemuan sama Paijo..." keluh Satrio namun matanya langsung melebar saat dirasakannya Paijo telah mendapat pijatan dan belaian lembut.
Bibirnya sedikit menganga seiring sensasi nikmat yang mulai menjalari perut dan seluruh sel tubuhnya.
Le ngu han lirih lolos begitu saja ketika puncak kecil di dadanya terasa dihisap dengan ritme yang cukup buas namun beraturan. Cukup kuat dan mampu meremangkan seluruh tubuhnya.
Hasratnya langsung melonjak sampai ke ubun-ubun.
"Oh dear...."
Adis yang menyadari kalau Satrio sudah begitu mendamba kepuasan darinya menggerakkan tangannya dengan lincah.
Semakin lama dirasanya tubuh yang setengah di tindihnya itu semakin menegang dengan e ra ngan lirih.
Dengan cepat dia bergerak naik dan menempelkan pucuk hidden apple nya ke bibir Satrio yang langsung menyambarnya dengan rakus.
Kini dua suara cukup berisik memenuhi kamar sepasang manusia itu.
"Dis..." panggil Satrio parau karena pendakiannya menuju puncak langsung terhenti begitu saja saat Adis tiba- tiba melepaskan diri dan melompat turun dari ranjang dan menyambar sesuatu dari meja.
Sepersekian detik kemudian Adis sudah kembali menyajikan hidden apple ke wajah Satrio dan kembali memanjakan Paijo dengan sentuhan dan pijatan lembutnya.
Satrio men de sah saat dirasanya sensasi licin nan nikmat menguasai Paijonya.
"Enak?" tanya Adis di telinganya yang hanya ingin dia jawab dengan anggukan.
Konsentrasinya sudah tak bisa lagi terkendali.
Yang sekarang menguasai pikiran dan tubuhnya hanyalah kenikmatan yang merayap menyergapnya semakin dalam seiring Paijo yang merasakan sentuhan dan pijatan lembut dan basah di bawah sana.
Entah Adis melumuri tangannya dengan apa.
"Kalau mau keluar bilang ya, Mas." bisik Adis yang mirip de sa han di telinga Satrio. Membuatnya semakin merasa terbakar.
"Tissue ...tis...sue..." gumam Satrio diantara de sa hannya. Tubuhnya sudah sangat menegang dan siap memuntahkan lahar nya.
Dia hanya langsung menggenggam apa yang Adis jejalkan ke tangannya lalu saat lahar itu sangat jelas terasa akan merangsek keluar, dengan cepat Satrio menutupi Paijonya dengan peredam agar lahar tak muncrat ke seantero ranjang.
Le ngu han panjang yang teredam hidden apple mengakiri ketegangan di tubuh Satrio.
Perlahan bahkan bibirnya mulai terlepas dari hidden apple.
"Makasih, Sayang." bisik Satrio kembali merengkuh tubuh Adis ke pelukannya.
Sementara di bawah sana Paijo meringkuk dalam balutan CD yang berubah fungsi jadi dam penampung ledakan lahar lokal, wakakakak.....
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Ngantuk dan kepanasan 🥵🥵🥵🥵🥵
Rencananya novel ini mau aku tamatkan di bawah 120 episode....jadi sekitar nggak lebih sebulan lagi udah the end ya....😄
Yang pasti happy ending....Atau paling buruk hanging ending lah 😅
Happy reading semuanyaaaaa....💖💕💕
Terimakasih banyak untuk jempol, bunga, kupi, dan votenya 😍🙏🙏🙏
__ADS_1