
Satrio tersenyum melihat video yang dikirimkan Adis padanya.
Nampak Pak Susilo sedang berguling- guling di atas karpet dengan Bian yang terus mengejarnya dengan merangkak.
Lihat kan, bahkan papanya nggak ngabarin dia kalau saat ini sudah main dengan cucunya. Yang sedang diajak main itu anaknya lho!
"Balik ke Jakarta kapan Bang?' tanya Widuri setelah melirik ke kiri dan ke kanan mematikan mereka hanya berdua di ruangan itu.
"Nggak jadi!" jawab Satrio dengan wajah kesal mengingat kelakuan Papanya yang dirasanya akan mencuri istri dan anaknya.
"Lhoh, kok nggak jadi?! Nggak jadi resign kah?" tanya Widuri kaget.
"Nggak!" jawab Satrio. cepat.
"Nggak jadi resign?" tanya Widuri meyakinkan lagi.
"Nggak tahu! Udah diem dulu lu! Kesel gue." kata Satrio dengan wajah kesal.
Widuri menatap Satrio kebingungan.
Kesel kenapa?
Kesel sama siapa?
Dan percakapan keduanya memang akhirnya terhenti karena Pak Cahyo sudah muncul dari ujung tangga.
Pak Cahyo menatap kedua 'anaknya' dengan wajah cerah begitu dia duduk di kursinya.
"Lama amat, Pak meeting nya...Dari pagi sampai hampir jam tiga sore. Gilaaaa...." kata Widuri.
"Iya. Sekalian pisah sambut." kata Pak Cahyo menjawab.
"Pisah sambut gimana maksudnya?" tanya Widuri agak bingung.
"Tadi kan pemberitahuan resmi dari pemilik lama kalau perusahaan sudah resmi ganti pemilik per hari ini. Lha tadi kan terus di sambung dengan acara pelepasan Boss lama dan penyambutan Boss baru. Rencananya akhir minggu ini akan ada acara perkenalan dengan semua karyawan. Acara ramah tamah lah istilahnya." terang Pak Cahyo.
"Tapi nggak akan ada PHK massal kan Pak?" tanya Widuri khawatir.
"Nggak...nggak akan. Tadi kedua Boss sudah membuat kesepakatan dan pernyataan kalau tak akan ada perombakan apapun di perusahaan. Benar- benar hanya ganti pemilik saja. Lagian Boss baru juga tetap mempercayakan perusahaan ini sementara masih dijalankan dengan minta bantuan Boss lama. Nggak ada yang akan berubah, tenang saja." kata Pak Cahyo meyakinkan.
"Yang beli orang Indo juga, Pak?" tanya Widuri penasaran.
"WNA sih, tapi blasteran Indo- Prancis. Ganteng pol, Wid! Masih muda pula. Besok kalau ketemu bisa- bisa cewek- cewek termehek- mehek liat Pak Boss baru." kata Pak Cahyo sambil tertawa- tawa membayangkan kehebohan dan kasak- kusuk yang akan terjadi.
Widuri bergegas mengecek ponselnya. Berharap sudah ada kiriman photo Boss baru di WAG rumpi cewek kantor.
Dan benar saja. Beberapa menit lalu Bu Rista ternyata sudah membagi satu photo hitam putih dengan caption 'boss baru kita genks 😍😍😍 Namanya Mas Antoine. Vitamin ye kaaan? 😂 bolehlah ya kalau kita berdoa beliau ngantor tiap hari minimal 8 jam sehari 😀😀😀'.
Adis heran dan tertawa hati, sempet aja Bu Rista nyari akun medsos Pak Boss baru.
Dan tak terbantahkan memang. Cakep dia.
__ADS_1
"Berarti akhir minggu ini produksi off? Ada acara perkenalan itu kan? Jadi kegiatan produksi libur kan hari itu? Diganti acara ramah tamah?" tanya Satrio sambil menatap Pak Cahyo sekilas namun kemudian lebih intens menatap Widuri yang senyum- senyum dengan ponselnya.
Lagi digombalin siapa tuh bocah?
Pak Cahyo tertawa.
"Ya enggaklah! Kita semua tetap kerja seperti biasa. Tapi mungkin hanya akan off satu atau dua jam saja untuk beramah- tamah. Lagian barang kita untuk kontener minggu depan masih kurang lumayan banyak. Kacau kalau produksi off kelamaan." jawab Pak Cahyo.
Satrio mengangguk membenarkan juga perkataan Pak Cahyo.
"Kamu beneran jadi resign, Sat?" tanya Pak Cahyo mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, Pak. Masih ada tiga minggu lagi dari waktu yang ku bilang ke Bu Rista sih. Kenapa? Udah ada penggantiku?" tanya Satrio serius.
Pak Cahyo menggeleng.
"Susah Sat nyari yang sekelas kamu. Apalagi yang bisa beberapa bahasa asing kayak kamu." kata Pak Cahyo sedih.
Satrio hanya tersenyum menanggapinya.
"Ya nggak harus kayak aku, Pak kalau susah nyarinya. Minimal bisa lancar bahasa Inggris. Bisa menghandle kerjaan PPIC..." kata Satrio kemudian.
"Tadi kami juga sempat ngobrolin kamu sama Pak Antoine. Beliau bilang pengen ketemu kamu secepatnya. Mungkin lusa kalian bisa ketemu karena katanya beliau akan mengusahakan kesini lagi sebentar sebelum ke Turki." kata Pak Cahyo pada Satrio.
"Ketemu aku mau ngobrolin apa, Pak?" tanya Satrio penasaran.
"Ya tepatnya kurang tahu aku. Tapi mungkin akan merayumu untuk tetap disini." kata Pak Cahyo sambil tersenyum.
"Weiiisss...maaf Abangku....kali ini ketampananmu tertandingi sama Mas Antoine. Cakep beneeeer Bossku ini..." kata Widuri sambil kembali menatap ponselnya.
Pak Cahyo dan Satrio saling pandang keheranan.
"Memangnya kamu sudah tahu Pak Antoine, Wid?" tanya Pak Cahyo penasaran.
"Udah dong! Udah tau ig nya juga. Edaaaan, cakep bener ini sih..." kata Widuri semakin menyebalkan.
"Liat secakep apa Si Mas Antoine..." kata Satrio penasaran sambil mendekat ke meja Widuri untuk melihat photonya.
Widuri langsung menyodorkan photo di ponselnya sambil tersenyum- senyum genit.
"Adik gue masih beranilah saingan sama dia..." kata Satrio sambil tersenyum lebar.
Widuri langsung merengut.
Mas Wira teruuuusss dibawa- bawa!
🧚🧚🧚🧚🧚
"Nanti jam delapan kamu temenin Papa ketemu rekan bisnis Papa ya, Sat." kata Pak Susilo saat mereka berdua menikmati sore di teras depan rumah Satrio.
Satrio mengira saat dia pulang kerja Papanya sudah balik ke Jakarta. Ternyata masih ada di rumahnya.
"Kok ngajak aku, Pa?" tanya Satrio keheranan.
__ADS_1
"Rekan bisnis baru. Masih calon sih. Dia lagi liburan disini. Tadi lewat sekretaris nya bilang kalau lusa mau ketemu Papa mumpung di Indonesia. Dia tahunya Papa di Jakarta. Waktu Papa bilang Papa saat ini di Jogja, beliau malah ngajak ketemu nanti. Masalahnya saat ini dia nggak ngajak sekretaris nya yang bisa bahasa Inggris. Sedang beliau nggak bisa bahasa Inggris dengan bener. Pusing Papa kalau ngomong bahasa Inggris sama dia. Makanya mending Papa ajak kamu yang bisa bahasa Jepang." kata Pak Susilo sambil tersenyum- senyum.
"Ada upahnya nggak nih jadi penerjemah?" tanya Satrio sambil nyengir.
"Iyaaaa! Nanti kalau sampai terjadi kesepakatan antara kita sama dia, usahanya kamu yang handle." kata Pak Susilo mantap.
Satrio mengerjapkan matanya sambil mencerna maksud ucapan Papanya.
"Perlu Papa perjelas?" tanya Pak Susilo yang melihat Satrio seperti kebingungan.
Satrio mengangguk asal.
"Kita sedang merintis usaha baru. Komoditi charcoal. Tadi Papa sudah mengadakan pertemuan dengan orang- orang yang sudah berkecimpung cukup lama di usaha charcoal dan membantu kita menjalankan usaha ini. Progresnya sangat bagus. Mumpung usaha ini baru merintis, Papa berpikir kamu bisa mulai belajar untuk memegang dan berusaha membesarkan perusahaan ini nantinya. Anggap saja ini kado pernikahanmu dari Papa yang bisa kamu jadikan bekal untuk menghidupi keluargamu nantinya." kata Pak Susilo dengan wajah serius nyaris tegang.
Terus terang saja dia nggak siap kalau Satrio sampai menolak pemberiannya yang ini.
"Sudah berapa lama kita punya usaha ini?" tanya Satrio terdengar tenang bahkan santai.
"Belum ada setahun. Tadinya Papa juga nggak terlalu yakin bisa jalan. Diluar prediksi ternyata malah hasilnya lumayan. Sudah bisa rutin eksport tiap bulan sejak empat bulan lalu. Dan ini masih sangat bisa kamu kembangkan nantinya." kata Pak Susilo dengan nada yang malah seperti membujuk.
"Dan kita nanti akan bertemu dengan calon buyer atau rekan bisnis untuk memperbesar usaha?" tanya Satrio kemudian.
"Ngajak kerjasama memperbesar usaha ini. Dia mau menawarkan modal berupa mesin usaha." jawab Pak Susilo.
Satrio terdiam berpikir.
Secara dia blank sama sekali soal charcoal, apalagi sampai mesin produksinya.
Dan ini sudah nggak ada waktu buat belajar secara agak lebih detail soal itu.
Bisa- bisa bunuh diri dong kalau ketemuannya sebentar lagi.
"Untuk meeting kali ini kamu cukup benar- benar jadi penerjemah saja. Soal lainnya nanti Papa yang akan handle. Tapi setelah ini Papa harap kamu mau mulai memikirkan untuk menerima tawaran Papa soal perusahaan charcoal ini. Kamu mulai belajar. Gimana?" tanya Pak Susilo penuh harap.
Entah mengapa mendengar suara dengan nada seperti itu dari Papanya Satrio merasa tersentuh dan nggak tega.
"Iya. Aku akan pegang perusahaan ini, Pa. Makasih ya, Pa." kata Satrio kemudian dengan hati yang sangat haru.
Satrio semakin merasa trenyuh saat melihat rona bahagia dan lega di wajah Papanya yang tersenyum sambil mengangguk padanya.
Ya Allah, ternyata cukup dengan menuruti keinginannya saja sudah bisa membuatnya sebahagia itu.
Dan senyum dari Papanya itu sanggup membakar semangat Satrio untuk memulai kembali lembaran kisah hidupnya sebagai seorang lelaki.
Aku akan berusaha sebaik mungkin membesarkan perusahaan ini, Pa. Aku akan buat Papa bangga memilikiku sebagai anak.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Charcoal atau lebih tepatnya activated charcoal adalah bubuk halus berwarna hitam yang memiliki daya serap tinggi. Charcoal bisa berasal dari kayu, gambut, batu bara, atau batok kelapa yang dipanaskan dengan suhu tinggi. Dari proses pemanasan inilah, charcoal memiliki khasiatnya dalam menyerap racun dan beberapa manfaat untuk kesehatan lainnya dan juga untuk kecantikan (sebagai masker wajah).
Sumber: www.alodokter.com
__ADS_1