
Satrio salah tingkah melihat Adis yang sudah menunjukkan wajah kesal dan kecewa.
Juga tatapan menghujam Didit padanya.
"Engg....enggak...Mas...." jawab Satrio cepat.
"Lha itu, yang dibilang Bu Tri....?" tanya Didit dengan tatapan penuh curiga.
Bu Tri yang merasa kelepasan menjadi ikut salah tingkah.
Apalagi saat dilihatnya wajah Adis yang tiba- tiba terlihat kesal namun menatap kecewa pada Satrio. Dia merasa benar- benar merasa bersalah pada Satrio karena menempatkannya pada posisi sebagai tersangka seperti ini.
Satrio menatap Bu Tri dengan tatapan memohon agar menjelaskan.
"Maaf Mas Didit.... Sebenarnya saya juga nggak tahu siapa cewek yang sering dibicarakan sama Mas Satrio kalau lagi sama Lukas. Soalnya nggak pernah nyebut nama. Bisa jadi Mbak Adis ini yang jadi bahan pembicaraan mereka selama ini." ucap Bu Tri mencoba membantu meluruskan dan memperbaiki keadaan.
Namun nyatanya aura ketegangan nggak mengendur juga dari ruangan itu.
Mampus....mampus......
Dasar mulut emak- emak....ramahnya kadang kelewatan....Saking lewatnya bisa bikin bencana kayak gini....
"Sebentar saya masuk dulu." pamit Bu Tri dengan wajah nggak enak hati.
Didit dan Satrio mengangguk kaku.
Dan sepeninggal tuan rumah, Satrio seperti terbakar oleh lirikan sadis Adis dan tatapan menginterogasi Didit.
Ya Allah gini amat rasanya dicurigai....
"Kamu suka ngobrolin siapa kalau disini? Pasti sampai heboh, Ibunya aja sampai denger." tanya Didit dengan wajah penasaran namun dengan tatapan mengintimidasi.
Satrio cengar- cengir sambil menunjuk Adis malu- malu.
"Emang ada yang menarik sampai kamu jadiin adikku bahan obrolan sama temenmu? Kamu nggak khawatir nanti temenmu itu naksir adikku?" tanya Didit membuat Satrio dan Adis kaget dan kesal.
"Lukas belum bisa move on dari cewek yang dia suka kok,Mas." dalih Satrio.
"Siapa tahu kan karena sering denger kamu cerita soal Adis, dia terus kepo, trus stalking.... Eh, kamu ngasih tahu sosmed Adis ke temenmu nggak?" tanya Didit semakin melebar kemana-mana.
Satrio menggeleng dengan wajah bo doh.
"Iiiiiih! Mas Didit ngapain sih?!" sentak Adis kesal dengan pertanyaan kakaknya itu.
"Jangan suka memamerkan pasangan kita ke orang lain apalagi medsos. Kalau yang kita umbar kebaikannya, sweet- sweetnya, berisiko jadi inceran kucing garong. Inget, barang bagus banyak yang pengen." kata Mas Didit sambil lekat menatap Satrio yang mwngangguk mengerti.
"Kalau yang kita umbar jeleknya, yang ada bukannya kita di beri solusi, yang ada kita di go blok- go blokin karena mau sama dia.Ibaratnya malah keliatan bo doh dan lemahnya kita." sambung Didit lagi.
Satrio kembali mengangguk mengerti.
"Apapun yang terjadi sama kita dan pasangan,cukup kita dan pasangan yang tahu. Mau muji atau bilang terimakasih, ngomong didepan orangnya langsung lebih jelas rasanya di hati.' kata Didit lagi.
"Malah kayak penataran pernikahan kan aku...." kata Didit kemudian sambil terkekeh malu begitu menyadari sudah nyerocos panjang.
Satrio meringis. Bingung mau bersikap bagaimana.
Sedang Adis cuma menatapnya dingin.
"Beneran kamu ngomongin Adis sama temenmu ini?" tanya Didit dengan suara sangat lirih pada Satrio.
Satrio mengangguk malu- malu.
"Ngomongin apanya? Juteknya?" tanya Didit sambil melirik Adis yang menatap keduanya dengan tatapan lasernya.
Satrio tertawa malu.
"Enggak. Suka cerita kalau masakan dia enak." kata Satrio sambil menatap Adis dengan tersenyum. Mencoba mengambil hati Adis dengan pujiannya.
Sayangnya Adis memilih membuang tatapannya ke arah pintu yang langsung bisa melihat ke arah luar rumah.
"Dia suka ngasih makan kamu?!" tanya Didit sambil berbisik.
__ADS_1
Udah deh,Adis semakin kesal saja dengan kelakuan dua lelaki di dekatnya itu.
Mereka kasak- kusuk persis emak- emak yang bergosip sambil nyari kutu.
Hellooooo......yang mereka gunjingkan ada di depan mata mereka lhoh...!!!!
"Masakannya enak kan?" tanya Didit lagi pada Satrio dengan suara bangga.
Satrio mengangguk cepat dengan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum dan melirik ke arah Adis yang masih saja cemberut menatapnya.
Dikedipkannya sebelah matanya, sengaja meledek Adis.
Dan nampaknya berhasil.
Walau Adis langsung melengos namun Satrio sempat melihat senyum tertahan Adis.
Ah manisnya kamuuuu.....
"Maaf....maaf.....harus nunggu lama....." tiba- tiba Lukas muncul dari arah dalam sambil membawa satu nampan berisi empat gelas teh hangat dan sepiring ubi jalar goreng.
Satrio bersorak riang dalam hati.
Ubi jalar goreng adalah cemilan kegemarannya sejak sering main ke rumah Lukas.
"Monggo diminum dulu Mas....Mbak...." kata Lukas sambil menurunkan gelas dari nampan ke depan masing- masing orang.
"Makasih Mas. Malah ngrepotin nih." kata Adis ramah.
Satrio menatap Adis sekilas sambil menahan senyumnya.
Kalau sama dia juteknyaaaaa......Sama Lukas bisa ramah gitu.
Jangan bilang kalau seneng sama Lukas ya.....Bisa di obrak- abrik itu tumpukan batako siap kirim di samping rumah Lukas.
"Nggak repot kok,Mbak....." kata Lukas sambil beranjak duduk di samping Satrio.
"Kenalin, ini Mas Didit, masnya Adis. Dan ini Adis." kata Satrio sambil menunjuk pada Didit dan Adis.
Lukas mengulurkan tangannya pada Didit dan mengangguk sopan pada Adis.
"Kok bisa rombongan kesininya?" tanya Lukas keheranan.
"Tadi Satrio jemput Adis ke rumahku. Adis nginep di rumahku kemarin. Trus denger dia mau beli mobil. Aku penasaran mau liat kondisi mesinnya." terang Didit yang membuat Lukas mengangguk- angguk.
"Harganya nggak berubah kan?" tanya Satrio kemudian.
"Enggak..... Kamu nggak nyoba nawar dulu? Siapa tahu bisa turun tiga atau empat juta." kata Lukas.
"Liat nanti kondisi mesinnya dulu aja." kata Satrio kemudian.
"Ya udah. Terserah Mas Boss aja." kata Lukas berkelakar.
"Kita coba liat mesinnya sekarang aja gimana,Mas?" tawar Satrio pada Didit setelah mereka menikmati minuman dan ubi goreng.
"Oke!" kata Didit sambi langsungl beranjak berdiri diikuti ketiganya keluar menuju halaman.
Adis hanya menatap ketiga lelaki yang mengerubungi bagian depan mobil itu dengan santai.
Dia memilih duduk di kursi teras sambil memainkan ponsel miliknya.
"Mesin beneran masih oke nih. Nggak perlu keluar biaya banyak lagi untuk membuat tampilannya prima." kata Didit setelah beberapa lama meneliti mesin,menghidupkan,bahkan kemudian mencoba membawa keluar mobil itu.
"Ya udah kalau gitu. Kita bayarin aja ,Kas." kata Satrio kemudian.
Nggak nawar dulu?" tanya Lukas keheranan.
"Nggak usah lah. Harganya juga nggak kemahalan." kata Satrio.
Tadi Satrio sempat berdiskusi soal harga yang ditawarkan pemilik mobil dengan Didit saat ikut mencoba menaiki mobil itu.
"Ya udah. Manut wae aku ( nurut aja aku)." kata Lukas pasrah.
__ADS_1
Tentu saja dia nurut aja. Yang beli juga Satrio. Pakai uang Satrio semua.
"Tolong mintain nomer rekening yang bisa ku transfer ya,Kas." kata Satrio pada Lukas.
"Siyaaap!" kata Lukas cepat kemudian bergegas mengirim pesan pada pemilik mobil.
"Besok pagi- pagi mau di anter kesini semua surat- suratnya, Sat. Termasuk kuitansi jual belinya. Malam ini dia masih di rumah sakit." kata Lukas tak lama kemudian.
"Ya udah kamu yang urus besok ya. Uangnya aku transfer ke kamu dulu?" tawar Satrio pada Lukas.
"Nggak usah! Besok aja kamu yang langsung transfer begitu aku nerima dokumennya. Aku bagian tanda tangan kuitansi aja." kata Lukas sambil terkekeh.
"Oke." jawab Satrio santai.
Adis hanya menyimak percakapan Satrio dan Lukas dari tadi.
Melihat gesture dan cara bicara Satrio barusan seolah mengeluarkan uang puluhan juta bukan hal besar untuk Satrio.
Malah seperti kalau kita ngeluarin uang buat bayar parkir saja.
Sebenarnya Satrio ini siapa?
Walau Mbak Yanti bilang Satrio ini anak pengusaha, tapi Adis nggak tahu sekaya apa Bapak pengusaha yang jadi orang tua Satrio ini.
Apa harus nanya Mas Didit?
Ahhhh, yang ada nanti malah diledekin habis-habisan sama kakaknya itu.
*Atau nanya langsung sama Satrio aja? Dih, memangnya dia siapanya Satrio harus tanya detail soal orang itu?
Yang ada nanti Bapak kucing itu merasa GR dan merasa dia kepo.
Dih, ogah*!!!
"Mau pulang sekarang atau masih mau ngelamun lagi?" tepukan Didit di bahu Adis membuat Adis terlonjak dan harus menutup wajahnya karena malu dengan tatapan geli Satrio padanya.
"Mas Didit ih! Bikin kaget aja." omel Adis kesal dengan suara mengeram pada kakaknya yang nyengir saja.
"Aku tahu Satrio itu tampan dan menawan....tapi ya nggak gitu- gitu amat juga kali menatapnya Dis.....bikin Satrio tersipu- sipu tauuuu...." ledek Didit pada Adis dan Satrio berbarengan.
"Diiiih.....apaan!" sanggah Adis dan Satrio bersamaan. Membuat Lukas dan Didit saling tatap sambil menahan tawa.
"Kompak ya mereka?" tanya Didit sambil menatap Lukas.
"Iya....bisa samaan gitu ngelesnya...." jawab Lukas ikut meledek.
"Awas lu!" ancam Satrio sambil mengacungkan tinju pada Lukas yang terkikik- kikik di belakang bahu Didit.
"Dah, pulang yuk!" kata Didit kemudian.
"Ibumu udah sare ( tidur) belum, Kas? Mau pamit nih." kata Didit pada Lukas.
"Sebentar aku liat dulu,Mas." kata Lukas kemudian bergegas masuk namun segera keluar lagi.
"Udah tidur,Mas. Maaf ya." kata Lukas sedikit menyesal.
"Ya udah nggak papa. Emang udah malem juga ini." kata Didit maklum.
"Kalian langsung pulang ya! Ke rumah masing- masing!" kata Didit tegas sambil menunjuk Adis dan Satrio yang sudah berdiri di samping motor Adis.
"Iyaaaa!" jawab Adis dan Satrio kembali kompakan, membuat Didit dan Lukas kembali saling pandang dan tertawa meledek.
"Yang namanya sehati emang nggak bisa di tahan ya damage nya...." kata Lukas yang membuat Adis mendecih malu dan Satrio mengacungkan kepalan tangannya.
"Ngiri bilang, Boss!" kata Satrio sombong.
"Ayo kita pulang, Sayang." kata Satrio dengan tersenyum sambil mengulurkan helm pada Adis yang langsung melotot kesal padanya.
"Wuaaaaah......makin vulgar aja....." kata Didit sambil tertawa.
Lukas terkekeh- kekeh sambil menunjuk- nunjuk Satrio keki.
__ADS_1
SATRIO DILAWAN..... 🙊😀😀😀
🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚