
Widuri langsung mendekat ke arah Satrio yang baru muncul dari arah tangga.
"Gimana, Bang? Are you OK?" tanya Widuri yang kini menjajari langkah Satrio yang berjalan santai menuju meja kerjanya.
Pak Cahyo hanya memperhatikan keduanya dari tempat duduknya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di atas meja.
Terus terang saja dia khawatir dengan nasib Satrio selanjutnya.
Satrio jelas melakukan ' kesalahan", dan konsekuensi untuk kesalahan itu sudah jelas.
"Bang...?" tanya Widuri lagi masih berdiri di samping meja Satrio.
"I'm OK. Nggak ada apa- apa. Kenapa sih lu cemas gitu?" tanya Satrio sambil cengengesan santai. Sengaja agar Pak Cahyo dan Widuri tak menatapnya dengan pandangan tegang dan iba seperti itu.
Memangnya dia semenyedihkan itu ya sampai harus mendapatkan pandangan iba seperti ini? Yang benar saja!
"Maaf ya,Sat kalau aku nggak bisa belain kamu." kata Pak Cahyo yang sudah mendekat ke mejanya kemudian menyentuh bahunya pelan.
"Njenengan sudah membelaku dengan maksimal, Pak. Maaf ya malah njenengan yang harus repot membela keegoisanku. Harusnya aku mikir hal itu juga sebelum dulu memaksa bikin MRP bayangan. Malah jadi merepotkan banyak orang gini." kata Satrio merasa bersalah.
"Terus terang saja aku iri sama keberanian kamu itu. Aku terlalu takut kehilangan pekerjaan ini sampai memilih membiarkan saja yang selama ini terjadi." kata Pak Cahyo dengan tersenyum getir.
Sungguh dia malu karena merasa tak berdaya bahkan hanya untuk sekedar memastikan bahwa posisi Satrio akan baik- baik saja ke depannya.
Seharusnya perusahaan memiliki karyawan seperti Satrio ini. Yang cepat tanggap terhadap masalah dan cepat menelaah masalah yang terjadi kemudian dengan cepat dan berani mengambil keputusan.
Karyawan yang dinamis dan optimis.
"Santai saja, Pak. Keep calm. Aku tadi nggak diapa- apain sama Pak Boss. Tapi kalau nanti tiba- tiba aku di PHK, ya berarti rejekiku disini sudah selesai. Harus pindah tempat untuk rejeki yang baru.Udah,nggak usah dipikirin. Aku kan belum ada tanggungan,Pak.Jadi nggak ngeri- ngeri amat kalau jobless juga." kata Satrio santai.
Pak Cahyo hanya tersenyum sedih.
"Aku sedih kalau harus kehilangan kalian nantinya." kata Pak Cahyo sudah dengan wajah memerah menahan tangis.
"Nggak usah kejauhan mikirnya. Udah..." sahut Satrio cepat karena nggak tega melihat wajah sedih Pak Cahyo.
"Pak, ayok." suara Bu Bebeb membuat suasana melow disekitar Satrio menghilang seketika.
Ibu kepala keuangan itu menatap Pak Cahyo agar segera mendekat.
"Ayok kemana?" tanya Pak Cahyo bingung.
"Dipanggil ke joglo sama Bu Bebeb." kata Widuri yang baru saja membaca chat group.
"Oh....Ya..." kata Pak Cahyo sedikit linglung.
"Jangan mikir macem- macem, Pak. Pak Ardi kan nggak galak ." kata Satrio saat melihat wajah panik dan cemas Pak Cahyo.
"Iya." jawab Pak Cahyo yang masih terlihat gusar dan bergegas menyusul Bu Bebeb turun.
Widuri mengintip dari jendela di samping meja Pak Cahyo yang bisa melihat jalan setapak dari batu putih yang menghubungkan kantor dan joglo.
"Beneran eh mereka ke joglo." kata Widuri saat melihat Pak Cahyo dan Bu Bebeb berjalan beriringan menuju bangunan joglo tempat kantor pak Ardi berada.
"Bikin rusuh ya gue,Tom?" tanya Satrio sambil nyengir.
" Kamu itu bakal jadi pahlawan reformasi." kata Widuri sambil menatap Satrio bangga.
"Mati dong gue?! Ogah! Belum jadi kawin." seru Satrio kesal.
Widuri mendecih kesal.
"Kawiiiiiiin terus yang dipikirin!" sungut Widuri kesal.
__ADS_1
"Komentar lu sama kayak Wira. Mengandung aroma iri dengki." kata Satrio dengan wajah kmencibir.
"Iri dengki apaan?! Enak aja!" sergah Widuri nggak terima.
"Wira udah nembak lu belum?" tanya Satrio sambil tersenyum meledek pada Widuri yang langsung cengar- cengir malu.
"Apaan sih?" kata Widuri kemudian.
"Udah belum?" tanya ulang Satrio lagi.
"Rahasia!" jawab Widuri cuek.
"Dih! Gaya lu main rahasia- rahasiaan. Ntar tau- tau mewek- mewek nangisnya sama gue. Awas aja lu!" ancam Satrio dengan wajah kesal.
Widuri hanya nyengir kuda.
"Emangnya Mas Wira beneran nggak punya pacar, Bang?" tanya Widuri setelah nampak berpikir beberapa saat.
"Rahasia!" jawab Satrio sengaja membalas kelakuan Widuri tadi.
"Nyebelin!" sungut Widuri kesal.
Satrio tergelak melihatnya.
"Enak kan kalo kita nanya serius tapi di jawab 'rahasia' gitu?" kata Satrio sambil melirik sinis.
Widuri hanya mendengus kesal.
"Bang, kalau kamu besok di pecat, kamu mau balik ke Jakarta?" tanya Widuri setelah keduanya sejenak terdiam.
"Belum tahu. Liat nanti aja." jawab Satrio santai.
Sebenarnya, kalau dia dipecat dari sini sih sama sekali nggak masalah.
Dia bahkan bisa dipastikan jadi direktur atau CEO nya, tinggal pilih posisi aja, bukan lagi hanya staff seperti sekarang ini.
Tapi yang mengganggu hatinya dari tadi adalah bagaimana nasib teman- temannya yang lain sebagai dampak dari kenekatannya membuat MRP bayangan selama ini.
Pak Cahyo apakah akan baik- baik saja?
Bu Bebeb apakah juga akan tetap aman posisinya? Walaupun dia perempuan, ternyata Bu Bebeb juga jadi tulang punggung keluarganya.
Satrio akan sangat merasa bersalah kalau mereka semua menjadi tumbal.
Entah mengapa dia merasa jahat dan egois sekali kali ini walau dia tahu apa yang dia lakukan juga nggak salah secara keuangan.
Jadi walaupun mengubah item bahan yang dibeli, tapi tidak mengubah budget keuangan terlalu drastis. Bahkan lebih murah beberapa puluh ribu. Seharusnya itu aman kan?
"Bang..." Widuri kembali mengusik lamunan Satrio.
"Apa?" tanya Satrio kemudian.
"Kata Papa aku lebih baik belajar pegang perusahaan." kata Widuri pelan.
Ya, kedatangan Pak Buwono tempo hari memang selain untuk ngaruhke ( bersilaturahmi) keluarga yang merawat Widuri selama ini, juga untuk 'mengarahkan' Widuri ke posisi yang lebih baik.
Ternyata selama ini Pak Buwono berhasil mengambil alih salah satu perusahaan milik Pak Bagus Adipati dan sengaja 'disimpannya' untuk anak Pak Bagus, yaitu Widuri.
Perusahaan itu tadinya langsung dikuasai oleh kakak Pak Bagus. Tapi dengan kepintarannya, Pak Buwono bisa membuat perusahaan itu collaps dan akhirnya dijual dengan harga murah pada Pak Buwono.
Setelah perusahaan ada di tangannya, Pak Buwono mulai mengembangkan perusahaan itu dengan baik hingga hari ini.
Semua keuntungan perusahaan itu selama ini utuh masuk ke dalam rekening yang kemudian diserahkan pada Widuri.
__ADS_1
"Gimana, Bang?" tanya Widuri minta pendapat.
"Ya nggak papa. Punya lu juga. Kalau lu stay di Jakarta kan lu bisa dekat sama mama lu, bisa ngerawat beliau." kata Satrio.
"Tapi aku kan buta untuk usaha peti kemas." elak Widuri.
"Ya belajar! Magang dulu lu di perusahaan lu. Belajar sebanyak mungkin. Bilang sama Papa biar diatur posisi lu disana." saran Satrio.
Widuri menunduk sedih.
"Berat rasanya ninggalin Jogja." kata Widuri dengan bertopang dagu. Wajahnya sedih menatap area produksi dari balik kaca bening di depannya.
"Berat ninggalin keluarga lu disini, atau berat ninggalin akhi- akhi itu?" tanya Satrio meledek.
"Keluarga lah! Dan semua yang ada di dalam Jogja ini." jawab Widuri kemudian.
"Berarti termasuk akhi pujaan lu itu dong?!" sahut Satrio cepat.
Widuri menghela nafasnya dengan sedih.
"Baru ada sedikit kemajuan di hubungan kami. Masak aku harus pergi sih?" keluh Widuri.
"Kemajuan apaan nih? Dia mau ta'arufan sama lu?" tanya Satrio penasaran.
"Ya nggak gitu juga!" sergah Widuri kesal.
"Trus kemajuan apaan?" tanya Satrio nggak sabar.
"Aku dapat nomer ponselnya." kata Widuri sambil tersenyum lebar.Wajahnya langsung terlihat berseri- seri bahagia.
"Dih, gitu doang lu bilang kemajuan. Heh Sri, nomer ponsel mah bukan hal sulit. Kalian kan pasti punya group chat SMP, cari disitu pasti kan ada." sungut Satrio kesal.
"Masalahnya group nya baru seminggu ini dibikinnya!" seru Widuri kesal karena merasa dianggap oon oleh Satrio.
Satrio hanya mengangguk- angguk kemudian
"Dia juga nyimpen nomerku. Statusku dia selalu baca. Seneng deeeeeh." kata Widuri semakin berseri- seri dan bergerak- gerak gemas.
"Trus lu tetep mau nungguin akhi- akhi es balok itu? Nggak pengen gerak?" tanya Satrio kesal.
"Nggak tahu." jawab Widuri sambil menggelengkan kepalanya.
Satrio mendecih kesal.
Masalah hati emang kadang bikin kesalnya nggak ketulungan.
"Sat." Satrio dan Widuri kompak menoleh ke arah tangga saat terdengar suara Pak Cahyo.
Pria paruh baya itu berjalan ke arah keduanya dengan wajah santai.
Ada kelegaan di hati keduanya saat melihatnya.
"Kamu dipanggil Pak Ardi sekarang." kata Pak Cahyo sambil menepuk bahu Satrio pelan.
Satrio dan Widuri saling pandang sebelum Satrio mengangguk.
"Semangat Abangkuuu...!" seru Widuri sebelum Satrio mencapai tangga untuk turun.
"Brisik lu,Bocah!" seru Satrio kesal.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Maaf ya...lagi- lagi up nya telat 🙈 RL nya nggak bisa ditinggalin dari pagi 😀 Jangan ngambek ya....😅🙈
__ADS_1