
Adis melempar pandangannya kembali ke jalanan di seberang pagar rumahnya. Entah untuk ke berapa kali.
Seperti sore- sore biasanya, dia selalu ada di halaman depan untuk menyapu dan mengurusi kebun bunga mungilnya.
Dan biasanya, si Bapak kucing itu akan lewat dengan membunyikan klakson motornya bila dia baru pulang kerja, atau membunyikan bel sepedanya dengan heboh bila akan ke taman kompleks. Bahkan kadang berhenti sebentar hanya untuk meledeknya.
Tapi ini sudah hari ke sepuluh Satrio tidak membuat matanya bisa melirik kesal.
Cowok itu seperti hilang dari atmosfir hidupnya bagai di telan bumi secara tiba- tiba.
Biasanya Mbak Yanti juga walau cuma sekali dalam sehari pasti menyebut nama Mas Satrio dalam ceritanya. Tapi sejak Reta balik dari sini, tak ada sekalipun Mbak Yanti bercerita soal Satrio.
Nama Satrio terakhir disebut Mbak Yanti saat dia mendapati ada kardus yang masih rapi ada di atas meja makan.
"Ini apa, Mbak?" tanya Adis dengan tatapan penasaran saat dia baru sampai rumah seusai melakukan penerbangan dari Sulawesi guna mengantar Reta pada kakek neneknya yang tak lain orangtua Adis.
"Oleh- oleh titipan dari mamanya Mas Satrio katanya, Mbak. Kemarin sore dianter sama Mbak Puji." jawab Mbak Yanti sambil mendekat karena sesungguhnya dia juga penasaran isi kardus itu apa.
Entah mengapa saat itu ada sedikit kecewa terselip di hatinya saat dia tahu bukan Satrio yang mengantar oleh- olehnya.
Biasanya cowok itu suka ngadi- ngadi nyari moment hanya untuk bertemu dengannya walau ujung- ujungnya seringnya hanya membuatnya kesal.
Adis mendudukkan dirinya di kursi taman yang menempel di tembok.
Tempat yang cukup tersembunyi dari pandangan luar, namun bisa melihat jalan di depan dengan leluasa.
Adis yakin, Satrio sekarang pasti sudah tahu kondisinya dari kasak- kusuk Mbak Yanti dan Mbak Puji.
Kenyataan bahwa dia bukan seorang gadis. Tapi seorang single mother.
Selama ini memang Mbak Yanti belum tahu kenyataan itu.
Mbak Yanti baru beberapa tahun bekerja menjaga rumah ini.
Dan sebelum memutuskan tinggal disini, baru dua kali Adis bertemu Mbak Yanti dan itupun tak lama serta hanya beberapa hari saja kalau dia liburan, dan itupun tak pernah membawa Reta.
Dia tahu Mbak Yanti sangat kaget saat tempo hari Adis mengatakan pada Mbak Yanti kalau anaknya akan datang.
Saat itu Adis berpikir pasti Mbak Yanti akan langsung bercerita pada Mbak Puji dan Adis sudah bersiap- siap hati untuk menerima perubahan sikap orang- orang di sekelilingnya.
Tapi nyatanya Mbak Yanti dan Mbak Puji, bahkan Satrio tak berubah sikap padanya.
Mereka tetap bersikap seperti biasanya padanya.
Bahkan Satrio sangat asik tiap berbincang dengan Reta.
Seolah Kenyataan soal statusnya yang baru mereka tahu bukan hal yang penting untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Lamunan Adis terusik oleh getar ponsel dari sakunya.
Sebuah pesan datang dari Panji.
Adis tak berniat membukanya.
Malas sekali menanggapi orang itu.
Dia memilih beranjak untuk masuk dan mandi sore saat tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan Satrio dari seberang pagar rumahnya.
Cowok itu tak berhenti dengan sepedanya yang melaju pelan.Tak membunyikan bel sepedanya dengan berisik seperti biasanya.
Hanya menyunggingkan seulas senyum yang....dia sendiri bingung menyebut itu senyum apa.
Nampak kikuk. Nampak sedih. Nampak bingung.
Adis hanya mampu terpaku dengan mata yang terus mengikuti arah sepeda Satrio yang kian menjauh dari pandangannya tanpa mampu membalas senyum itu.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Satrio merasakan hatinya berdebar kencang saat dilihatnya dari jauh Adis nampak diam termenung.
Kamu lagi mikirin apa sih, keliatan gelisah gitu?
Dan dia gelagapan saat tiba- tiba Adis beranjak berdiri sambil melemparkan pandangan ke arahnya.
Mata mereka bertemu. Dan Adis hanya terpaku tanpa raut wajah sebelnya, atau senyum samarnya.
Seperti membeku menatapnya.
Satrio yang salah tingkah karena merasa tertangkap basah sedang menatap Adis dan memikirkannya, hanya mampu tersenyum kikuk dan bingung.
Pikirannya langsung melayang pada kenyataan kalau Adis ternyata bukan seorang perempuan lajang.
Dia seorang ibu.
Dan rasanya nggak pantas mencandai seorang ibu dengan kelakuan absurdnya seperti yang sudah- sudah.
Ada wibawa dari seorang Ibu yang harus dijaga dan dihargainya.
Dan Satrio memilih membisu melewatkan moment yang sesungguhnya selalu sangat disukainya itu.
__ADS_1
Dia memilih tak menyapa Adis dan terus mengayuh sepedanya walau dia merasa punggungnya masih dipandangi oleh Adis.
Entahlah.
Dia malah bingung sendiri sekarang.
Kenyataan tentang Adis yang bertubi- tubi diketahuinya membuatnya kaget dan.....kecewa.
Dia kecewa pada kenyataan kalau Adis sudah punya kekasih.
Dia kecewa karena dugaannya selama ini kalau Adis masih single adalah salah.
Dia kaget karena ternyata diusia Adis yang masih muda sudah memiliki anak sebesar Reta.
Dia pasti sudah hamil di usia yang masih sangat muda.
Dan sembilan puluh lima persen Satrio yakin Adis MBA alias married by accident.
Apakah dulu Adis termasuk anak badung, sama seperti dia?
Sejauh apa kenakalan Adis di masa lalu?
Lalu dimana ayah Reta sekarang?
Apakah mereka langsung bercerai waktu itu?
Atau malah lelaki itu tak mau bertanggungjawab atas keberadaan Reta?
Dan Panji.
Lelaki hebat seperti apa yang berhasil memiliki hati Adis sekarang ini?
Tapi kenapa waktu itu Reta berbisik padanya kalau dia nggak suka Om Panjinya?
Apakah lelaki itu hanya mau menerima Adis tapi keberatan dengan keberadaan Reta?
Dasar lelaki egois. Padahal Reta anak yang sangat manis.
Aaaaaaahhhh......
Satrio tanpa sadar membanting sepedanya yang baru berhenti karena kepalanya penuh dengan pertanyaan- pertanyaan yang dia sendiri bingung harus mencari tahu jawabannya dimana.
Dengan gerakan malas dia meraih toples berisi makanan kucing yang menggelinding dari stang sepedanya yang terkapar karena di banting walau dia sadar sepeda itu tidak salah apa- apa.
Beberapa kucing langsung mendekat dan mengelilingi kakinya.
Mengeong dengan harapan segera diberi makanan oleh Satrio.
Sapaan beberapa Ibu- Ibu muda kompleks yang sedang memberi makan anak mereka sambil bermain di taman, hanya di balas dengan senyum lesu oleh Satrio.
Bahkan kegiatan beberapa cewek kompleks yang seperti sengaja melakukan senam di dekat tempat duduknya sama sekali tak menarik hatinya untuk melirik barang sedikit.
Tak bertemu dan berhenti meledek Adis sangat menyiksanya selama sepuluh hari ini.
Tapi pertemuannya barusan ternyata malah membuatnya semakin nggak karuan dan blingsatan sendiri.
Dia merasa tak berdaya pada kenyataan yang ada.
Bukannya dia tidak menerima kenyataan tentang Adis. Tentu saja bukan begitu.
Sampai detik ini dia hanya masih shock. Tak menyangka.
Itu saja.
Bahkan sampai sekarang pun - sesuai penuturan Mbak Puji- Mbak Yanti belum tahu cerita detail tentang asal muasal adanya Reta.
Mbak Yanti hanya tahu kalau Reta adalah anak Adis. Itu saja.
Keberadaan Reta yang beberapa hari di dekat Mbak Yanti juga tak membuatnya tahu di mana ayah anak itu.
Adis tak pernah jauh dari Reta selama anak itu ada disini.
Masih dengan lamunan panjangnya, Satrio mengelus lembut kucing yang tiba- tiba naik ke pangkuannya.
Dengan reflek tangannya meraih pakan kucing di sebelahnya untuk memberi makan kucing di pangkuannya.
Tapi telapak tangannya yang telah terbuka dan berisi makanan kucing bergegas dia katupkan saat kilauan kalung kucing itu mengusik matanya, membuatnya memejamkan matanya sebentar karena silau.
Dia baru seperti disadarkan akan situasi sekitarnya saat kembali membuka mata.
Tristan ada di pangkuannya.
"Haduuuh. Bisa- bisa aku dilaporkan polisi sama emakmu kalau aku sampai ngasih makan kamu pakai ini." kata Satrio sambil menaruh makanan kucing di genggamannya ke dekat kakinya.
Satu tangannya memeluk erat Tristan agar tidak turun dan ikut makan.
"Kamu pasti kabur kan dari rumah? Jadi cowok jangan suka kabur- kaburan. Kamu kan tugasnya jagain cewek- cewek di rumah. " kata Satrio sambil menguyel- uyel tengkuk Tristan yang asik terpejam- pejam.
"Kamu udah pernah ketemu pacarnya emakmu belum, Tris? Keren nggak orangnya?" tanya Satrio dengan kepala yang menunduk penuh untuk memainkan kalung Tristan.
__ADS_1
"Kamu nggak nakal kan waktu ketemu Mbak Reta? Kamu juga harus jagain dia. Dia tuan putri kecilmu. Inget itu ya. Kalau Mbak Yanti nggak usah dijagain nggak papa. Udah gede dia." kata Satrio lagi.
Dia nggak menyadari sama sekali kalau ocehan absurd nya dengan Tristan sangat di dengar dengan jelas oleh Adis yang telah berdiri di belakang punggungnya sejak tadi.
Hanya berjarak dua langkah di belakangnya.
Mengetahui kalau Tristan ada di pangkuan Satrio membuat Adis bingung harus bagaimana memintanya.
Entah mengapa tiba- tiba dia sungkan untuk bertatap muka dengan Satrio.
Dia malu karena dia yakin, Satrio sudah tahu statusnya kini.
Satrio pasti akan berubah bersikap padanya.
Nggak akan lagi jahil dan suka modus.
Dan entah mengapa, Adis nggak suka bila itu benar- benar terjadi.
Keberadaan Adis yang dalam posisi senyap akhirnya diketahui Satrio karena ponsel Adis berbunyi.
Sebuah panggilan masuk tak hendak Adis angkat saat dilihatnya nama Panji di layar ponselnya.
Dia memilih memasukkan kembali ponsel itu ke saku tuniknya dan membiarkan ponsel itu terus berdering.
"Lhoh Dis? Kamu sejak kapan disini?" tanya Satrio nampak sangat kaget.
"Barusan. Mau ngambil Tristan." kata Adis bedusta sambil menunjuk Tristan yang sedang menatapnya dengan mata mengantuk di gendongan Satrio.
Matanya tak mau menatap wajah Satrio yang nampak khawatir.
Satrio khawatir Adis mendengar ocehannya pada Tristan barusan. Kan malu....
"Ini. Aku nggak ngasih makan dia kok. Tenang aja." kata Satrio dengan senyum kikuk sambil menyorongkan Tristan ke pelukan Adis.
"Makasih." kata Adis pelan.
"Ya." jawab Satrio kaku.
Lalu hening.
Adis dengan tatapan di ujung sandalnya, dan Satrio dengan tatapan di jilbab hitam bermotif polka warna- warni milik Adis.
Sangat eye catching namun terlihat berkarakter dan nggak berlebihan.
"Makasih buat oleh- olehnya." kata Adis kemudian dengan senyum kecil.
"Ngomong sendiri aja kalau soal oleh- oleh. Itu yang ngasih Mama." kata Satrio sambil merogoh saku celananya cepat kemudian mengulik ponselnya tak kalah cepat.
"Eh?!"
"Hallo Ma....Ada yang mau bilang makasih nih sama Mama." Satrio sudah mulai bicara di ponselnya dan memaksa Adis tetap di tempatnya dengan tatapan mengintimidasi nya.
"Ya....Nih." kata Satrio sambil mengulurkan ponselnya pada Adis yang kaget dan langsung kelimpungan.
"Kenapa harus....." Adis tak jadi melanjutkan protesnya karena dia segera tersadar kalau layar ponsel sudah di depan mukanya dan melihat wajah manis seorang perempuan paruh baya di sana.
"Adis ya?" tanya Bu Katarina sambil tersenyum senang menatap Adis.
"I...iya, Tante. Saya Adisty." jawab Adis dengan wajah merona.
Matanya melirik Satrio tak tenang.
"Suka oleh- olehnya? Maaf ya cuma ngasih itu. Mas mendadak ngomongnya kalau mau ngasih Adis juga." kata Bu Katarina dengan fitnah yang jelas terdengar oleh yang difitnah.
"Lhoh?! Kok jadi aku yang di fitnah?" protes Satrio dari samping Adis yang meliriknya keheranan dan salah tingkah.
"Suka yang mana oleh- olehnya, Dis? Biar besok kalau Mas balik lagi Tante banyakin bawainnya." kata Bu Katarina dengan riang tanpa memperdulikan protes anaknya.
"Nggak usah repot- repot Tante. Terimakasih sebelumnya, tapi jangan." kata Adis salah tingkah.
"Nggak ada repot- repot. Repot apa sih cuma oleh- oleh doang." sahut Bu Katarina.
"Oke....sudah dulu ya ,Ma. Adis cuma mau bilang terima kasih kok. Bye!" kata Satrio kemudian langsung memencet gambar gagang telpon berwarna merah di sudut kanan bawah ponsel.
"Sorry segera aku putus. Kalau nggak segera diakhiri dikhawatirkan akan semakin banyak fitnah keluar dari mulut Mama yang akan bikin
malu anaknya ini." kata Satrio sambil nyengir dan menerima ponselnya kembali.
Adis hanya menatapnya kebingungan.
"Ya udah, aku pulang dulu." kata Adis kemudian.
"Ya." jawab Satrio pelan.
Dan dia benci pada sikapnya barusan yang membiarkan Adis berlalu begitu saja tanpa ada daya untuk meledeknya dulu dan membuat Adis menatapnya dengan wajah sebal.
Ah, dia kangen di cemberutin Adis.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1
Sekali- sekali puanjaaaaaangggg 😀
Selamat hari Senin semuanyaaaaa.....💖💕