
Satrio lebih memilih melanjutkan mengamati photo kue yang dikirim Adis padanya.
Cakep- cakep bener kuenya.
Tapi apa bedanya kue- kue ini? Cuma beda warnanya aja kan?
"Ngeliatin apa sih,Bang serius banget gitu? Gambar por no ya?" tebak Widuri yang baru datang, ngasal.
"Pale lu, pagi- pagi liat begituan?" sungut Satrio tanpa mengurangi kesibukan jarinya membesarkecilkan photo di ponselnya.
"Punya mulut sekate- kate jadi orang. Pale lu pale lu." balas Widuri sambil menghidupkan komputernya.
"Kamu yang asal jeplak." jawab Satrio cuek.
Widuri cuma nyengir.
"Mau beli kue? Bingung milih?" tanya Widuri setelah bisa mengintip apa yang dilihat Satrio dengan cara berdiri di belakang Satrio yang sudah duduk menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
"Udah bel masuk po?" tanya Satrio tanpa mengalihkan pandangannya dari kue dengan toping berwarna merah.
"Belum. Kurang enam menit lagi." jawab Widuri.
"Ini bedanya apa sih, Wid? Kue pake beda- beda warna gini?" tanya Satrio dengan lugunya.
Widuri hanya menatapnya dengan tatapan kaget tak percaya.
"Kenapa?" tanya Satrio saat mendapat tatapan itu.
"Itu karena yang jual punya banyak pensil warna. Daripada mubadzir makanya kuenya diwarnain. Gitu aja nggak tahu sih." kata Widuri kemudian terkikik kembali ke kursinya.
"Nih bocah ditanyain serius juga!" sungut Satrio putus asa.
"Itu di kuenya ada deskripsinya. Dibaca." kata Widuri akhirnya karena melihat wajah putus asa Satrio.
"Nggak ada deskripsinya. Ini gambar doang ngirimnya." kata Satrio dengan bersungut- sungut.
"Hadyeeeeh!" Widuri menepuk dahinya.
"Yang warna coklat biasanya rasa coklat. Yang warna merah biasanya kalau nggak red Velvet ya strawbery, warna ijo kalau nggak matcha ya pandan. Yang kuning kalau nggak rasa original ya rasa keju. Yang biru biasanya rasa blueberry." Kalau ada ungu biasanya rasa taro atau ubi ungu." terang Widuri membuat Satrio meringis.
"Trus bedainnya red Velvet sama strawberry gimana? Sama- sama merah?" tanya Satrio dengan tatapan bingung.
"Astagfirullahaladzim, Baaaaaang! Tinggal tanya aja sama yang jual, dia punya varian apa aja. Nggak usah pusing ngeliatin gambar. Kayak orang buta huruf aja lu." seru Widuri saking gemasnya dengan kelakuan Satrio.
Masak iya sih ada anak gaul Jekardah nggak ngerti varian kue dari warnanya? Ngadi- Adi banget.
"Kamu pernah makan kue kan?" tanya Widuri dengan tatapan penuh selidik.
Ya siapa tahu kan Satrio nggak doyan kue?
"Pernah lah! Sering." jawab Satrio merasa terhina.
"Harusnya kamu tahu dong masalah remeh kayak warna kue begitu." kata Widuri kemudian.
"Ya maaf....aku nggak pernah perduliin warna kue. Makan ya makan aja." kata Satrio sambil nyengir kuda.
Widuri hanya mendengus prihatin.
"Ya udah, sekarang tanya aja sama yang jual, dia bikin varian apa aja." kata Widuri yang sudah nggak ngegas lagi.
"Malu." jawab Satrio cepat.
"Kalau malu, pilih aja yang rasa original sama coklat atau pandan." kata Widuri solutif.
"Kalau kamu suka yang rasa apa?" tanya Satrio sambil menoleh pada Widuri.
"Aku pecinta keju. Kalau suruh milih ya yang rasa keju " kata Widuri sambil terkekeh.
"Ya udah, aku pesen DO rasa keju aja buat kita ngemil. Sama nyobain rasanya." kata Satrio masih tetap asik dengan ponselnya.
Widuri menatap Satrio kaget.
Wajah cewek itu mengungkap berbagai tanya, namun Satrio tidak melihatnya.
__ADS_1
Cowok itu sedang asik melakukan pemesanan layan antar untuk mencoba rasa kue tiwul yang dipengenin Wira.
Kebetulan Adis menyertakan profil lengkap toko kue referensinya.
"Buset, ongkirnya nyaris sama dengan harga satu kue." gumam Satrio pelan.
Tapi nggak apalah. Sekali- sekali.
Akhirnya Satrio memesan lima kue. Tiga untuk penghuni kantor, satu untuk satpam, dan satu untuk Adis sebagai ucapan terimakasihnya karena sudah memberi tahunya toko kue tiwul.
Akan dia berikan nanti sambil mampir sepulang kerja.
"Bang, ada kurir nyari kamu di depan." kata Widuri setelah satu jam berselang dari bel masuk.
"OK." kata Satrio kemudian melesat turun dari ruangan untuk ke pos satpam.
Tak lama dia sudah masuk membawa satu tas daur ulang berisi tiga dus kue pesanannya.
Dua dia turunkan di meja Mbak Ema agar bisa dinikmati semua penghuni lantai satu.
"Waaaah, makasih lho Sat.....enak ini. Ulang tahun ya?" seru Mbak Dwi yang tadi langsung merapat ke meja Mbak Ema.
"Enggak Mbak. Sekalian order aja tadi. Pengen ngicip." kata Satrio sambil berjalan menuju tangga dan hanya tersenyum senang mendengar celoteh riang teman- temannya yang langsung menyerbu meja Mbak Ema.
"Ladies. ayo keluar sebentar. Kita makan kue." kata Satrio sambil melongokkan kepalanya ke ruangan keuangan yang dia lewati.
Ketiga perempuan di ruangan itu langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Satrio yang menenteng tas.
"Siap!" jawab Bu Bebeb semangat.
"Diwakilin Bu Bebeb aja deh. Nanggung nih." kata Fenty yang di sambung anggukan Nur.
"Bisa." jawab Satrio kemudian berlalu menuju meja Widuri.
"Tolong potongin buat kita." kata Satrio sambil menurunkan satu kardus warna merah dengan kue -yang bisa diintip dari bagian atas kemasan yang berupa plastik bening- dengan toping yang ada parutan kejunya.
"Alhamdulillah ya Allah.....rejeki hari ini sungguh sweet." kata Widuri riang setengah berseru sambil bergegas membuka bungkusan kue kemudian dengan luwes memotong sama besar sekotak kue itu.
Pak Cahyo hanya tersenyum melihatnya.
"Semua cewek bisa kaleeee...." kata Widuri dengan wajah keheranan pada kekaguman Satrio untuk ketrampilan tangannya.
"Emangnya kamu cewek?" ledek Satrio yang langsung mendapat balasan gerakan tusukan pisau plastik di pinggangnya yang tadi digunakan Widuri untuk memotong kue.
"Dasar bar- bar." omel Satrio sambil mengibas- ngibas bajunya yang tadi tersentuh pisau plastik.
"Aku ambil jatah ya." kata Bu Bebeb sambil tersenyum senang.
Di tangannya sudah membawa satu piring kecil cantik untuk wadah kue.
"Kok cuma empat potong?" tanya Satrio keheranan.
"Iya. Anak- anaknya dikasih satu- satu, dia makan dua." seloroh Pak Cahyo yang sedang mengambil sepotong kue kemudian menggigitnya santai.
"Mbahmu! Si Nur nggak doyan yang berbau keju- keju. Jadi ini buat aku sama Fenty saja. Nggak papa kan aku ambil empat?" tanya Bu Bebeb ragu, takut kebanyakan ngambilnya.
"Tambahin lah dua lagi. Jatah Nur bagi dua buat kalian." kata Widuri sambil mencomot dua potong lagi kemudian dia letakkan di piring Bu Bebeb.
"Alhamdulillah....." kata Bu Bebeb sambil terkikik.
"Di bawah aku tadi nurunin yang rasa coklat sama red velvet." kata Satrio santai.
"Waaaaa nggak ngomong. Aku tukerin ke bawah aja deh. Aku suka red Velvet. Si Nur suka coklat." kata Bu Bebeb kemudian meluncur ke lantai satu dengan piringnya.
Sungguh, hati Satrio sangat hangat dengan keriangan yang tercipta dari sekotak kue yang dia beri.
Dia merasa memiliki keluarga baru. Bahkan saudara baru seperti Lukas dan Widuri.
"Mas Lukas doyan banget sama yang aroma keju." kata Widuri kemudian memanggil Lukas dengan aiphone di mejanya agar naik ke lantai dua.
"Cieeeee.....yang perhatian sama Mas Lukas." ledek Satrio yang disambut tawa Pak Cahyo dan disambit tipe ex oleh Widuri.
"Itu namanya nggak lupa teman pas lagi seneng." kata Pak Cahyo meredam api pertikaian yang baru akan tersulut di antara dua bocahnya itu.
Tak lama dari panggilan Widuri lewat aiphone tadi, Lukas sudah berjalan ke arah meja Satrio sambil membawa sepiring kue yang sama dengan rasa coklat dan red velvet.
__ADS_1
"Nih kalo mau ngerasain yang di bawah. Tuker sama yang keju empat potong aja." kata Lukas dan dengan tanpa permisi mengambil empat potong kue rasa keju setelah menurunkan seisi piring ke kardus kue.
Satrio menggelegas.
Ya ampun, se care ini satu sama lain timbang rasa roti aja.
"Di bawah cuma makan sepotong- sepotong?" tanya Satrio melihat beberapa potong kue dari piring Lukas.
"Enggak. Ada yang dua, ada yang tiga. Rata pokoknya." jawab Lukas kemudian menggigit kue rasa keju yang dicomotnya dari kardus.
"Jangan dihabisin kejunya!" seru Widuri sambil melotot pada Lukas.
"Ya ampun Sayang, mana mungkin aku tega ngabisin. Cuma ngambil satu doang." kata Lukas membuat Pak Cahyo tersedak.
"Kalian pacaran?" tanya Pak Cahyo setelah menelan minumnya.
Matanya menatap Widuri dan Lukas bergantian.
"Enggak!" jawab Widuri dan Lukas berbarengan.
"Alhamdulillah.....kirain...." kata Pak Cahyo lega.
"Kirain pacaran?" tanya Satrio sambil menatap Lukas meledek.
"Kirain si Tomboy sudah bisa move on." kata Pak Cahyo yang mendapat cengiran dari Widuri.
"OTW, Be....OTW." kata Widuri sambil tertawa sedih.
Ketiga lelaki di ruangan itu kemudian saling tatap karena wajah Widuri langsung berubah sendu walau masih berusaha mengeluarkan tawa.
"Kenapa lu jadi melow gitu? Patah hati?" tanya Satrio sambil menatap Widuri.
"Kayaknya sih iya. Nggak ada harapan lagi, Bang." kata Widuri sedih.
Kepalanya kini sudah dia letakkan di atas lengannya yang bertumpu di meja.
"Mau nikah si akhi pujaan hatimu itu?" tanya Lukas lembut dengan rasa iba.
Widuri hanya mengangguk kecil.
"Berarti dia bukan jodohmu. Udah jangan sedih lama- lama. Yang kamu sedihin aja lagi bahagia mau nikah. Kamu harusnya ikut bahagia buat dia. Biar kebahagiaannya nular ke kamu. Biar semangat nyari yang baru." kata Pak Cahyo yang disambung anggukan Lukas dan Satrio.
"Iya,Be. Tapi aku patah hati." kata Widuri kemudian menyembunyikan wajahnya.
Satrio yakin cewek itu sedang menangis.
Dilihatnya Lukas menatap Widuri dengan sorot mata sedih dan iba.
"Nggak usah lama- lama nangisnya. Pendekar kok cengeng. Kesandung cinta masih mewek." kata Satrio kemudian.
"Pendekar kan juga manusia. Lagian kalian juga mancing- mancing sih." kata Widuri sambil cemberut dan menghapus airmatanya.
Pak Cahyo tersenyum.
"Dah, makan roti itu. Habisin. Aku nggak minta lagi." kata Pak Cahyo seperti membujuk anak kecil.
"Aku juga nggak minta lagi deh. Buat kamu aja." kata Lukas ikut- ikutan.
"Kalau kurang besok aku beliin lagi. Yang penting jangan mewek lagi." sambung Satrio membuat senyum Widuri kembali terukir.
"Janji ya kalian. Ini semua buat aku ya." kata Widuri dengan riangnya.
Tak ada lagi raut sedih di wajahnya.
"Yang rasa keju buat kamu semua. Aku masih pengen ngicipin yang merah sama coklat, satu- satu doang." kata Pak Cahyo sambil tertawa.
Widuri tertawa.
"Iya deh. Yang keju buat aku semua. Lainnya buat kalian." kata Widuri senang.
...π§π§π§ b e r s a m b u n g π§π§π§...
Yuk yang belum update aplikasi birunya, di update dulu biar bisa komen di tiap paragraf kayak di aplikasi oren itu.....π biar tambah ngena komennya π
Jangan lupa sajen buatku ya......βΊοΈπ
__ADS_1
Happy reading....ππ