Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
10. Rencana pesta bujang


__ADS_3

Cengkling!!!


1 pesan masuk di ponsel Siska. Pesan itu dari nomor baru dengan foto profilnya bergambar Zidan yang tengah duduk trotoar jalan.


"Sorry, ternyata ada yang kena bawah tadi."


Cengkling!!!


1 pesan kembali masuk. Kali ini sebuah foto. Isi fotonya adalah sebuah tas jinjing kecil dimana didalamnya terdapat alat make up, dompet dan juga beberapa flashdisk.


Cengkling!!!


1 lagi pesan dari Zidan.


"Kalau lo butuh, bisa lo ambil di apartemen gue. Tapi inget, sekalinya lo melangkahkan kaki ke apartemen gue, lo gak akan bisa pulang."


Dan itulah kenapa Siska terlihat frustasi didalam kamarnya. Ya, karna Zidan tetaplah Zidan. Walaupun sudah ditendang selangkangannya tapi nyatanya sikapnya masih aja sama. Toxic!.


Semenjak kejadian tadi malam. Siska berangkat ke kantor dengan dandanan alakadarnya. Semuanya serba minim karna make up yang dikenakan harus leles dari sisa - sisa make up yang habis tapi masih bertengger dimeja riasnya.


Begitu pun juga uang. Semua uangnya ada didalam dompet beserta KTP, SIM, ATM maupun kartu kredit dan benda penting lainnya. Untungnya masih ada makanan sisa semalam yang bisa dihangatkan jadi pagi ini Siska tidak kelaparan.


Untuk urusan KTP, Siska bisa saja langsung membuat duplikatnya dan mengandalkan previlagenya karna kerja di dukcapil. Tapi kalau untuk yang lain, pastinya harus diurusi sesuai prosedur. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Dari pada masuk ke kandang macan lebih baik beberapa hari kedepan beribet - ribet ria. Huft.


Satu urusan sudah bisa dipecahkan, tinggal satu urusan lagi, yakni sang mama. Sedari subuh sang masih heboh dan terus saja melakukan videocall. Mamanya benar - benar melakukan inspeksi dadakan takut Siska benar - benar tidur dengan laki - laki. Sampai - sampai Siska diminta keliling rumah dengan mengarahkan kamera ponselnya keseluruh ruangan. Untuk membuktikan ucapannya. Pokoknya melelahkan sekali.


"Kenapa sih lo sedari pagi muka lo gak enak bener dipandang?. Mana muka polos banget lagi, timben lo gak pakai gincu sama bahan pewarna yang lain?" tanya Raya saat jam makan siang.


Malas menjawab pertanyaan. Karna memang suasana harinya masih galau. Siska menyodorkan ponselnya kehadapan Raya. Cukup itu saja, biar Raya membaca sendiri isi pesan dari Zidan dan juga sang mama yang terlalu over thinking sejak semalam.


"Oh My God, jadi lo semalam sama Zidan?."


"Iya, dia datang kerumah gue, tapi cuma sebentar." Jawab Siska malas.


"Terus - terus?"


"Ya, semalam tiba - tiba dia datang, dia marah - marah, tentang Suci. Si Suci bukannya ngedeketin Zidan tapi malah ngadu kalau gue nyuruh dia deketin Zidan. Dan disaat ada Zidan, mama videocall dan terjadilah hal - hal yang tak diinginkan." Cukup begini saja cerita dari Siska karna Raya pasti langsung paham.

__ADS_1


"Anjiirrr!! jadi mama ngira semalam lo lagi berduaan sama Zidan, gitu?."


"True!!."


"Hahaha, sumpah deh Sis, kisah lo berdua ini ada aja. Bikin gue ngakak jadinya."


"Iiishhh!!! lo ngakak, gue emosi sampek ubun - ubun!."


"Hahaha, eh, tapi lo emang beneran gak ada rasa sama Zidan? soalnya Zidan itu menurut gue, termasuk cowok yang bisa dibilang perfect. Coba lo perhatiin, fisik oke. Mulai dari tampang yang ganteng, badannya sixpack, kulit putih mulus, tinggi badan bak model. Keuangan, gak perlu diraguin lagi. Dia jadi arsitek ternama terus punya perusahaan, meskipun baru dirintis tapi katanya si Krisna udah berkembang pesat dan kemarin menang tender banyak. Termasuk kantor kita yang mau direhab, Itu PTnya Zidan yang pegang. Mangkannya kemarin sama Pak Kadin."


"Didunia ini cowok ganteng dengan keuangan stabil bikan cuma Zidan aja, Raya. Diluar sana masih banyak, bahkan bejibun."


"Ya tapi yang mau sama lo cuma Zidan."


"Ah, udah deh jangan bahas Zidan mulu. gedek gue!." Siska memotong pembicaraan, moodnya udah jelek jadi gak ingin semakin jelek dengan selalu ngomongin Zidan.


"Guys ... guys ... gue udah lo pesenin?" Suara Feby akhirnya terdenger setelah sepersekian menit. Dan dia berhasil merubah pembahasan tidak lagi membahas soal Zidan.


"Udah, nih, cepet makan keburu gak enak." Siska mendekatkan nasi goreng yang memang sedari tadi sudah dipesankan untuk Feby.


"Oke, thank you, ini lo pada udah makan 'kan?"


"Terus gimana? jadi gak nih lo kenalin sama Desta?" Siska menangih janji Raya soal perkenalan dengan teman sekantor Krisna.


"Lo masih minat?"


"Banget."


"Ya udah oke, entar malem lo ke rumah gue deh, kebetulan entar malem si Krisna ada lembur terus lemburnya pas dirumah, nanti selain ada Desta juga ada Luky, lo tinggal pilih tuh antara keduanya. Mana yang cocok sama lo."


"Ya, kok entar, jangan entar dong, besok aja. Entar kan gue harus nyelesaian masalah gue sama mama."


"Masalah? masalah apa? lo berantem sama mama?" Feby yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Siska menyela ditengah mulutnya yang penuh makanan.


"Ray, lo deh yang cerita, gue males ngulang cerita."


"Entar gue ceritain, sekarang lo makan dulu." Raya langsung menimpali Feby, sesuai ucapan Siska agar tak terlalu panjang.

__ADS_1


"Ya entar deh, gue kabari lagi." Raya menjawab obrolan tadi yang sempat terputus.


"Oke sip."


Kini, obrolan berganti seputar pernikahan Feby.


"Oh iya Feb, gimana persiapan pernikahan? aman?" tanya Raya yang ingin tahu perkembangannya.


"Aman sih sejauh ini, karna emang para sesepuh yang hendel. Tapi udah tinggal seminggu lagi, deg degan gue."


"Syukur deh kalau gitu."


"Eh, tapi guys, ada sesuatu yang pengen gue minta ke lo pada sebelum gue nikah di weekend ini."


"Hm, apa?"


"Ayo kita bachelorette party. Gimana? kalian mau 'kan?"


"Bachelorette party? pesta bujang gitu 'kan?" Mendengar kata party, jelas si Siska langsung moodboster. Maklumlah ya, semenjak Raya menikah dan Feby tunangan mereka sudah gak pernah lagi seneng - seneng.


"Uhmm, gue mau banget, udah lama gak party..." Raya pun juga satu server dengan Siska. Dia juga langsung semangat.


"Oke, but, dress codenya pakai rok mini dan atasan harus bener - bener yang kebuka. ekspos pundak sama belahan dada, kalau perlu perut juga sama punggung, gimana?" Feby melempar umpan. Terniat emang, karna nanti setelah menikah hal ini tak akan bisa dilakukan lagi.


"Iiihhh, Feby... lo, gila lo." Siska memukul lengan Feby manja, dia benar - benar suka dengan ide gila Feby.


"Waaww, gimana itu entar jadinya, ekspos badan. Astaga!! tapi kok gue jadinya suka ya, hahahaha." ungkap Raya ikut girang.


"Sip, gue tahu, kalau lo pada pasti bakal mau, hahahaha. Pokoknya weekend kita dandan yang seksi." Saut Feby.


Kapan lagi coba mereka gila. Bisa merasakan kebebasan, tebar pesona sana sini, hidup tanpa beban.


"Oke, deal, sabtu, kita pesta bujang, di karaoke rayhan." putus Feby.


"Lah, kok di karaoke? bukannya di bar atau diskotik?" tanya Siska, begitu juga dengan Raya yang dari wajahnya juga seolah sedang mengajukan pertanyaan yang sama.


"Gak diijinin kalau di bar, bolehnya di karaoke terus di private room."

__ADS_1


"Anjiirr, sama aja bohong dodol!!."


Kecewa deh akhirnya. Gatot deh rencananya, padahal pikiran 2 sahabat Feby itu sudah membayangkan sesuatu yang nakal dibenaknya. Dugem dan tebar pesona yang pasti.


__ADS_2