Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
107. Godaan Siska


__ADS_3

"Sialan!."


"Huh!!."


Siska jengkel setengah mati di dalam kamar mandi. Berani sekali Zidan menggodanya seperti itu. Sengaja membangkitkan gairahnya dan berakhir dengan menertawakannya. Sekarang harga dirinya jadi jatuh begitu saja rasanya.


Oke, kalau itu yang Zidan mau. Jadi, lihat saja apa yang akan Siska lakukan demi membalas dendamnya. Jangan salahkan Siska kalau nantinya Zidan akan kelimpungan. Karna Siska sudah menekadkan diri.


Bau segar dan wangi terendus bersamaan dengan Siska yang baru keluar dari kamar mandi. Zidan yang sedang sibuk membuat kopi di pantry seketika menoleh ke sumber baunya.


"Wow. Amazing."


Sungguh pemandangan yang indah baru saja dihadirkan Siska di depan mata Zidan. Matanya jadi terkontaminasi dengan kemolekan tubuh sang istri yang meluber - luber karna baju seksi yang dikenakan.


"Mau balas dendam ya neng?." Zidan jelas tahu apa yang ada di otak Siska.


Siska datang mendekat. Wajahnya menyeringai dengan tatapan mata sinis yang mengintimidasi tapi terlihat seksi sekaligus anggun. Satu jarinya pun bekerja menyentuh dagu Zidan untuk memprovokasi.


"Menurut kamu?." Suara berat Siska terdengar, didepan wajahnya, hingga deru nafas wanita itu terasa panas menyapu bibir hingga dagunya.


Sejenak Zidan serasa jatuh pada pesona Siska, tapi dengan cepat Zidan mampu menguasai diri


"Oh, mau balas dendam ya? Gitu aja kamu sakit hati. Udah sini, aku buatin kopi, kita ngopi bareng." Zidan menanggapi situasi dengan tertalu enteng. Tak mau sedikit pun dia ambil pusing.


Tapi apa yang terjadi. Siska malah melangkah ke arah lemari gantung yang ada diatas pantry. Dibukanya lemari itu. Dan dikeluarkan juga sebotol wine yang selama ini disimpan Siska disana.


"Dari pada ngopi, mending malam ini kita minum ini."


Keberadaan wine itu jelas sedikit membuat Zidan jadi kaget. "Sejak kapan kamu nyimpen wine disana? kamu minun diam - diam ya tanpa sepengetahuan aku?."


Bukannya menjawab. Siska malah menyiapkan dua gelas di meja. Membuka winenya. Dan kemudian menuangkannya. Serta mengangkat salah satu gelasnya.Lalu memainkan sejenak secara memutar sebelum akhirnya meneguk sedikit.


"Tiba - tiba aja aku pengen memenuhi keinginan kamu." celetuk Siska kemudian. Wajah Siska begitu tegas saat bilang ini. Gayanya seperti wanita penggoda yang seksi tapi berkelas. Zidan sampai melongo dibuatnya. Padahal tadi rasanya mau ngamuk karna Siska yang diam - diam menyembunyikan wine.


"Malam ini aku mau godain kamu. Terus kalau kamu udah tergoda aku mau buang kamu. Aku pengen kamu berakhir dikamar mandi sendirian." Siska menggaungkan keinginannya.

__ADS_1


Sedikit speechlees sebetulnya saat Zidan mendengar kalimat Siska itu. Tapi sedetik kemudian, Zidan malah tertawa mengejek. Merasa gemes dengan kelakuan istrinya ini.


"Aku gak bakalan tergoda, yang. Aku sendiri juga udah bertekad, biar gak gampang tergoda sama kamu."


"Oh ya?."


"Kamu tahu 'kan kalau aku udah tekad semua orang pasti gak akan bisa menghalangi tekadku?."


"Oh, gitu." Siska angguk - angguk. Dia kemudian kembali meneguk winenya dengan cara berkelas.


"Okelah kalau gitu. Aku gak jadi godain kamu." Dan diletakkanlah gelas wine yang tersisa sedikit itu diatas meja. Siska lalu bergerak mendekati Zidan dan mulai menyandarkan dirinya ke dada bidang suaminya ssmbari memberi sapuan lembut disekitar dadanya juga.


"Karna kamu udah tekad gak akan tergoda sama aku. Jadinya aku kok pengen godain orang lain ya, yang. Aku tiba - tiba pengen pergi ngeclub. Dugem disana sambil ngelirik - lirik cowok ganteng. Kalau beruntung, aku juga bisa ngobrol sedikit terus hangout bareng. Sayang banget 'kan, aku dari tadi sore udah on, tapi kamu anggurin."


Jelas ucapan Siska itu bikin Zidan jadi meledak. Ingin marah, kesal. Bisa - bisanya Siska ngomong seenaknya begitu. Tapi, shi*t!. Zidan hanya menghela nafasnya kasar sebagai bentuk kekesalannya. Karna diam - diam tangan Siska sedang mengunci pergerakannya. Tangan yang sedari tadi mengusap dadanya, nyatanya dengan lembut bergerak turun dan bertengger diatas serta mengusap - ngusap hingga akhirnya membuat sesak.


"Aish! Kamu jangan aneh - aneh!."


Itu kalimat yang dikeluarkan Zidan dengan hanya lirikan masam dan mata yang secara perlahan berubah sayu. Harus diakui cara Siska menggoda bukanlah berlagak seperti wanita penghibur yang pamer tubuh telanjang, pose sensual atau joget erotis. Tapi langsung menyerang sisi sensitifitas. Benar - benar liar dan meresahkan.


"Stop Sis, kamu belajar dari mana kayak gini?." Oke, Zidan harus mempertahankan kewarasannya yang cuma tinggal 5% kalau masih ada. Jadi dia mendorong Siska dan bergerak menjauh.


"Belajar dari kamu, tadi kamu main - main sama aku." Siska bertingkah sok polos.


"Kamu kenapa jadi sakit hati banget sih, aku kan tadi cuma bercanda." Zidan jadi merengek frustasi. Dia sudah mulai kelimpungan sendiri. Dan Siska semakin tertawa puas dalam hati.


"Bercandanya gak asik, digodain kayak tadi itu gak enak tahu rasanya. Udah on tapi habis itu ditinggal. Rasanya kayak aku lagi dicampakkan. Kayak diriku ini gak berharga dan gak menarik sedikit pun di mata kamu. Padahal aku udah berusaha tampil cantik didepan kamu, tampil seksi juga. Tapi kamu hempasin aku gitu aja." Sedikit lebay memang, tapi masa bodoh. Yang penting tujuannya tercapai. Dan saat ini Siska juga sengaja menurunkan sedikit gaunnya hingga belahan dadanya semakin luber.


"Aish!." Sekali lagi Zidan mendengus. Siska tak pernah bisa membiarkan dirinya sebentar saja tenang.


"69, padahal tadi aku pengen coba gaya itu."


Wow. Zidan terpengarah dan langsung menelisik wajah Siska. Gaya yang sangat menggiyurkan. Sampai Zidan langsung menelan ludahnya karna langsung punya fantasi liar di otaknya.


"Aish! kamu menang. Aku gak tahan!."

__ADS_1


Dan sedetik kemudian. Zidan langsung melesat meraih tubuh ramping Siska dan melayangkan ciuman yang menggairahkan.


"Aahh! Awas! Aku gak mau!." Siska mencoba melepaskan diri. Tak mau disentuh. Enak aja.


"Gak ada penolakan!." kata Zidan dengan tegas, tak membiarkan Siska lolos dan kembali menciumnya.


"Ini curang namanya!." Siska protes setelah ciuman itu terlepas.


"Gak ada yang curang, aku udah ngaku kalah." Sekali lagi Zidan mencium Siska lagi. Kali ini ssdikit menekan dan juga sedikit lama.


"Kalau gitu kamu harus nurutin semua keinginanku." Dengan nafas tersenggal - senggal Siska mengingatkan upah akan taruhan mereka.


"Apapun, for you yang penting sekarang kamu layanin aku, hari ini gaya 69 seperti kata kamu." Zidan menatap lamat - lamat Siska.


"Kalau gitu aku mau, semua harta kamu kamu ahliin jadi nama aku, rumah baru, mobil, apartemen, aset - aset kamu, gedung kantor kamu juga sama uang yang ada direkening kamu transfer semuanya ke aku."


Gak ada hujan gak ada badai. Tiba - tiba tiba Siska malah meminta harta benda Zidan. Membuat Zidan jadi memutar otak tak percaya.


"Kenapa kamu jadi tiba - tiba minta semua harta bandaku?."


"Mau ngamanin posisi, soalnya diluar sana banyak pelakor. Terus kamu tadi bilang udah gak tergoda lagi sama aku. Jadi kalau seandainya kita pisah aku bisa jadi janda kaya, siapa tahu nanti ada brondong numpang idup sama aku."


Zidan jadi tergelak. Tawanya tiba - tiba pecah. Kadang otak istrinya ini emang aneh.


"Terserah kamu. Ambil semuanya pada dasarnya aku kerja juga buat kamu." Tak perlu diambil pusing.


"Sama gaji kamu juga. Kalau bisa langsung masuknya ke rekening aku. Nanti kamu kalau kemana - mana kamu bawah uang secukupnya aja. Dompet isi 200 ribu kan cukup buat beli bensin."


Kali ini bukannya tak ambil pusing, tapi Zidan malah jadi pusing. "Yang bener aja? Kamu punya niat mau miskinin aku ya?."


"Ember, biar kamu gak laku. Sekalian juga kalau berangkat kerja jangan ganteng - ganteng."


"Aish!." Zidan mendengus kesal. Dan Siska tertawa puas.


Begitulah kehidupan rumah tangga Siska dan Zidan. Selalu dipenuhi dengan drama pertengkaran kecil. Pertengkaran besar. Tapi pada akhirnya keduanya saling melengkapi.

__ADS_1


__ADS_2